
Rauangan tangis Sania mengema di seluruh ruangan itu, menyayat hati siapapun yang mendengarnya, untungnya hanya Bella yang ada di sana, dan Bella pun sudah menangis tersedu-sedu, tak kalah sedih dengan Sania. Menyadari hal ini adalah karenannya, Bella makin tak bisa membendung tangisnya. Ingin rasanya dia sekarang keluar dan menghukum dirinya sediri.
Aksa dari ruang kontrol hanya mengamati mereka berdua, menatap nanar namun juga tak melakukan apapun, bahkan seperti ini pun, hatinya tak lagi tersentuh.
Mata Jofan sedikit berkabut, melihat adegan yang hanya ada di film, tapi ini dia melihatnya langsung, walaupun dia orang yang keras, suka main wanita, tapi dia juga termasuk pria yang sentimentil, entah kenapa dia menjadi sangat iba pada Sania.
Aksa terus melihat CCTV itu, namun Bella tidak melakukan apapun yang mencurigakan, dia mengigit bibirnya.
"Pisahkan mereka. " kata Aksa.
"Baik Tuan. "kata para penjaga.
Pintu ruangan itu terbuka, membuat Bella dan Sania terkejut, mata mereka masih sama-sama basah, Bella langsung segera menghapus air matanya. Pengaja itu langsung menarik lengan Sania dengan kasar, bahkan tidak mengijinkannya menyeka kedua matanya, Sania melihat Bella, Bella pun melihat Sania, Sania sedikit tersenyum, sebelum menghilang di bawa oleh penjaga itu.
Setelah Sania pergi, Aksa masuk ke ruangan itu, Bella langsung memandang pria itu dengan tatapan dingin dan angkuhnya. Aksa duduk di sana.
"Anda menangis begitu keras Nona Mika, tidak aku sangka pertemuan kalian begitu mengharukan." Kata Aksa tenang saja.
"Tuan Aksa, apakah Anda tak punya hati, lihatlah, dia wanitamu dulu, tidak ada sedikitpun rasa iba, kalian dulu bersama." kata Bella lagi dengan emosinya. Bella tak menyangka hati Aksa begitu dingin bagai batu, Bella ingat dulu bagaimana Aksa begitu memperhatikan Sania seolah tak mengizin setitik pun debu mengotori kulit Sania, entah itu hanya demi membuat Bella panas dan menderita, tapi mereka pernah melewati masa-masa begitu manis, tidak adakah sedikit saja rasa itu tersisa hingga Aksa begitu tenangnya?.
"Ehm… apa yang kau akan lakukan jika wanitamu yang ingin membunuhmu?"
"Tak bisakah kau meringankan hukumannya? Tak perlu sampai membunuhnya."
Aksa memandang wajah Bella, matanya merah karena menangis, matanya basah hingga ke pipinya yang putih, hidungnya terlihat sedikit merah, mungkin karena dia membersihkannya terlalu kuat. Tetap saja terlihat begitu menarik.
"Aku akan meringankan hukumannya dengan 1 syarat, yaitu kau harus jadi wanitaku Nona Mika, "kata Aksa tersenyum mengoda.
Bela terhenyak, dia terdiam, tidak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh Angga, seumur hidupnya yang tersisa, dia tidak akan ingin lagi berurusan dengan pria ini, apa lagi kembali jadi wanitanya, tidak akan!.
Bella berdiri dengan kasar, membuat kursi yang di dudukinya saja hingga berderit mundur ke belakang. Amarah tampak di wajah, pria ini benar-benar tidak punya malu.
"Apa Anda sudah kehilangan akal Anda Tuan Aksa, bagaimana saya mau menukar hidup saya juga meninggalkan tunangan saya hanya untuk bersama Anda?, Anda terkadang terlalu konyol, " kata Bella mendengus marah, lalu dia keluar dari ruangan itu terburu-buru, tidak ingin lagi berurusan dengan Aksa, jika Sania memang harus di hukum, Bella siap untuk menanggung akibatnya kelak, bahkan rasanya penjara itu lebih baik dari pada di sisi Aksa.
Aksa melihat kepergian Bella dengan sunggingan senyum sinis, semakin wanita itu berontak malah semakin bergairah dia mendapatkannya. Hanya tinggal tunggu tanggal mainnya saja, pikir Aksa, dia berdiri lalu keluar dari sana.
Bella berjalan terburu-buru keluar menuju mobil Angga, Angga pun sudah keluar untuk menemuinya, begitu melihat Bella, Angga segera menghampirinya. Bella tampak kesusahan mengatur napasnya. Angga membantunya untuk secepatnya masuk ke dalam mobil, begitu mereka masuk, supir langsung menekan pedal dengan keras, meninggalkan areal penjara itu.
Tubuh Bella bergetar menahan takut dan amarah, napasnya terasa terburu, tanpa bisa di cegahnya, dia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Angga melihat itu segera memeluk Bella, merasa lega wanita itu ada di sini sekarang, juga merasa masih ada ketakutannya yang tertinggal.
"Aku di sini, kita sudah bersama, jangan takut lagi." kata Angga mencium kepala Bella.
Bella tak menjawab, dia hanya menumpahkan seluruh rasa yang ada di dalam dirinya, cemas, kesal, marah, takut, sesal, semuanya, tumpah dalam tangisnya.
"Kita pulang ya." kata Angga lembut. Bella hanya mengangguk.
____________________________________________
Hallo, hanya sedikit catatan dari Author...
boleh ya minta di like, di share, klo boleh di vote ya kakak2! kalo ga juga gpp.. udah seneng di baca mah...
Maaf karna beberapa hari ini tak pake qoute2an... karena lagi mencoba menulia cerita ini hingga bs up 2 x sehari.. ( serasa di tunggu2 amat) wkwkkw....
Terima kasih sekali lagi sudah baca Love, Revenge and The sea ya...