Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
127



Bella tidak menjawab, hanya mencerna kata-kata Jofan dengan baik.


"Yakinlah, aku rasa dia bukan hanya menyukaimu, dia benar-benar mencintaimu, bahkan lebih dari Mika. Soal kemarin dia hanya kaget, dia benar-benar marah pada kami. Tapi saat Daihan meminta Angga menyerahkanmu padanya, Angga dengan tegas menolak, bahkan dia mengatakan tidak akan menyerahkanmu walaupun Daihan bisa membuat Mika kembali. "kata Jofan lagi.


Bella mengerutkan dahi, benarkah Angga mengatakan itu pada Daihan? Rasa gundah di hatinya sedikit menenang mendengarkan kata-kata Jofan, walaupun dia masih bertanya-tanya apakah yang di katakan Jofan benar atau tidak, karena bagaimana pun, Jofan pasti membela temannya.


"Kalau adikku melihat ini, dia pasti sudah menangis seminggu, haha, dari kecil dia mencoba merebut hati Angga, tapi kalau saingannya dirimu, aku juga akan pastikan dia kalah. "kata Jofan bercanda


Bella hanya tersenyum…


"Ehm, tapi sepertinya aku harus membangunkannya. "kata Jofan lagi melirik ke arah Angga.


"Kenapa? tidak bisa menunggu beberapa jam lagi, biar dia bangun sendiri. " kata Bella menatap Jofan, seolah melarang Jofan mengganggu Angga.


"Ada hal penting yang harus segera aku bicarakan dengannya, ini semua menyangkut kita. Lagi pula tak ada kata menunggu di dunia politik Nona Bella. " kata Jofan sangat serius.


Bella yang menangkap keseriusan di nada bicara Jofan. Bella lalu melihat ke arah Angga, dia mencoba kembali menarik tangannya, kali ini sedikit lebih keras agar Angga bisa merasakan Bella bergerak.


Karena hal itu Angga langsung terbangun, dia sedikit kaget, dia kira Bella bangun karena sesuatu hingga dia langsung berdiri.


"Ada apa? "kata Angga kaget.


Bella dan Jofan yang melihat itu juga kaget dengan reaksi Angga. Angga yang baru sadar langsung melihat ke arah Bella dan Jofan. Jofan yang melihat tingkah temannya itu hanya tersenyum lucu.


"Kenapa kau ada di sini? "kata Angga menatap Jofan yang sudah rapi begitu pagi.


"Ya, kau pergilah mencuci mukamu dulu, ada yang harus aku bicarakan padamu. "kata Jofan masih tidak bisa menutupi rasa lucunya melihat tingkah Angga, tak di sangka seorang Angga bisa begini.


Angga lalu mengalihkan padangannya pada Bella, menatapnya dengan tatapan sendu.


"Bagaimana keadaanmu? " kata Angga, bahkan bangun tidur saja terlihat begitu tampan.


"Aku sudah membaik. " kata Bella tak sedatar semalam, namun juga bukan nada ramah biasanya, dia masih belum bisa bersikap biasa dengan Angga.


Jofan melirik Bella, ternyata Bella bukan tipe wanita yang langsung bisa luluh, padahal Jofan sudah dengan gamblang menceritakan seluruh kebaikan Angga, Bella benar-benar wanita yang susah dirayu.


"Baiklah, aku ke kamar mandi dulu. "kata Angga melihat Bella dan melihat Jofan sekilas, sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandinya.


Jofan lalu duduk di salah satu sofa yang ada di sana, tak lama Judy datang membawakan makanan untuk Bella, dia meletakkannya di atas ranjang Bella.  Bella melihat makanan yang sudah disediakan, sedikit lebih menyelerakan dari pada makanannya kemarin.


Bella mengambil sendoknya, agak kesusahan karena hanya mengunakan 1 tangan karena tangan kirinya yang di infus itu sedikit nyeri jika digerakkan.


"Mau ku bantu? " kata Jofan yang memperhatikan.


"Tidak, tidak apa-apa, aku minta tolong Judy saja, " kata Bella tersenyum


"Yah, benar juga, kalau Angga lihat, bisa-bisa aku di hajarnya. "kata Jofan tersenyum.


Judy langsung membantu Bella untuk mulai memakan makanannya, masih terasa terlalu hambar, namun perutnya yang lapar lebih perlu di isi dari pada merasakan makanan itu.


Tak lama Angga keluar, masih mengunakan pakaian itu, ujung-ujung rambutnya masih terlihat basah, dan wajahnya jauh lebih segar, sangat tampan hingga tak bisa di pungkiri Bella jadi terpaku melihatnya, padahal kemarin Bella sangat tidak ingin melihat wajah pria ini.


Angga pun melihat ke arah Bella, tidak berpisah tapi dia sangat merindukan tatapan wanita itu, akhirnya tak sedingin kemarin, melihat itu hati Angga lumayan hangat.


"Mau aku bantu makan? " kata Angga mendekati Bella.


"Tidak. Jofan sudah menunggumu dari tadi. " kata Bella


"Mari bicara di ruanganmu. " kata Jofan berdiri, sikapnya yang santai langsung berubah penuh dengan wibawa.


"Tidak bisa bicara di sini? " kata Angga lagi.


"Tidak apa-apa, pergilah. Aku juga tidak ingin mendengarnya. "kata Bella langsung nyeletuk, dia tahu Angga pasti tidak ingin meninggalkannya karena merasa bersalah kemarin.


"Ya, lagi pula aku sudah menyuruh beberapa tentara melakukan penjagaan khusus untuk Bella, aku yakin walaupun Aksa datang, dia tidak akan sampai bisa menemui Bella. "kata Jofan lagi.


Angga kembali melihat Bella yang juga menatapnya, Bella lalu membuang mukanya, kembali sibuk dengan makanannya.


"Baiklah, ayo. " kata Angga dia berbalik dan segera menuju ke pintu, Jofan juga mengikutinya. Bella hanya melihat mereka menghilang dari balik pintu, wangi parfum Jofan tertinggal di sana.


Jofan duduk di seberang Angga,  Asisten Jang yang ada di sana diperintahkan Angga untuk menyiapkan baju dan beberapa keperluannya.


"Ada apa? " kata Angga dengan suara berat, auranya yang lembut tadi di kamar Bella berubah menjadi serius dan sangat berwibawa.


"Aku sudah mendapatkan file yang kita butuhkan. " kata Jofan menyodorkan sebuah flashdisk.


Angga mengerutkan dahi, dia lalu mengambil flashdisk itu segera membuka isinya, hanya ada 1 file video. Angga membukanya, video itu tentang malam saat Angga menolong Bella, disana terlihat Aksa yang menodongkan senjata pada Angga, juga bagaian dimana Angga mengatakan Aksa yang telah membunuh istirinya sendiri.


"Bagaimana kau dapat ini?" kata Angga.


"Dari kamera yang tersemat di bajumu, kau ingat kau membersihkan diri di rumahku, bajumu sebelumnya kami sematkan camera, untungnya semuanya berjalan lancar. " kata Jofan


"Lalu ingin kau apakan video ini? menyebarkannya lagi?" kata Angga


"Tidak, publik sudah cukup terkejut dan sudah cukup kekurangan simpati pada pihak kerajaan, namun aku tahu pihak kerajaan akan melakukan semua hal untuk menutupinya, kemarin mereka menutupinya dengan acara kemanusiaannya. Sekarang aku berencana untuk bertemu presiden saat makan siang nanti. Sedikit mengancamnya dengan ini. kau tahu dia adalah orang yang mendukung kerajaan bukan? Dengan bukti ini, aku yakin dia akan melepaskan dukungannya pada kerajaan. " kata Jofan menjelaskan panjang lebar.


Angga mendengarkan itu semua dengan seksama, dia hanya diam.


"Presiden tidak akan bisa bertahan dengan adanya video ini, dia juga akan berpikir untuk melanjutkan dukungannya pada pihak kerajaan jika video ini tersebar, bisa-bisa dia turun sebelum masa jabatannya berakhir. " kata Jofan lagi sedikit tersenyum licik


"Ya. " kata Angga seperti berpikir.


"Ayahku juga akan melakukan aksinya, kita akan mendesaknya perlahan-lahan untuk menghapuskan hak istimewa mereka. " kata Jofan.


"Kau yakin video ini saja cukup? Berhati-hatilah, aku yakin kerajaan juga tidak akan diam saja. pasti ada serangan balik yang akan kita terima. " kata Angga menatap Jofan serius.


"Aku sudah punya rencana yang lain. Tenang saja. " kata Jofan tersenyum tambah sinis.


"Ya, apapun rencanamu, lakukan dengan mulus, kalau tidak kau akan tamat. "


"Ya, kau juga harus berhati-hati, Aksa pasti akan melancarkan serangan lagi, bukan hanya untuk Bella, juga untukmu. "


"Aku tahu itu. " kata Angga masih tampak berpikir.


Tak lama  Asisten Jang datang dan membawa beberapa keperluan Angga yang langsung di letakkannya di tempat biasanya.


"Tuan, saya sudah mendapat laporan tentang Ibu Nona Bella." kata  Asisten Jang mendekati Angga. Jofan mendengar itu sedikit mengerutkan dahi .


"Benarkah? lalu bagaimana?" kata Angga tampak penasaran dan antusias, dia sudah menunggu hal ini.


Asisten Jang tampak ragu, Angga langsung segera mengerutkan dahinya.


"Mereka mengatakan bahwa ibu yang dimaksud itu mengalami sakit jiwa, dan sedang di rawat di rumah sakit jiwa di daerah itu." kata  Asisten Jang menyampaikannya dengan sungkan.