
Angga dan Bella mundur ke belakang,
"Bella, lari!" kata Angga.
"Tapi ... " kata Bella.
Belum selesai Bella bicara, pria itu langsung menyerang Angga, dia mengambil pisau yang di bawanya, Angga langsung menangkisnya.
"Bella, pergi!" kata Angga yang melihat Bella masih terpaku, Bella yang sadar langsung melarikan diri, mencoba untuk meninggalkan Angga, namun dia tidak bisa, beberapa kali berhenti hanya untuk melihat Angga, namun Angga kembali memberikan gestur untuk Bella pergi dari sana.
Angga yang tadi melihat Bella menjadi tak siap, pria itu langsung memukulkan kepalanya ke kepala Angga, membuat Angga tersungkur, pisau yang di bawa pria itu kembali dihunuskan ke arah Angga, untungnya Angga melihat itu dan langsung menangkisnya hingga membuat pisau itu jatuh dari tangan pria itu, namun pria itu dengan cepat menendang ulu hati Angga dengan lututnya, dan memukul bagian belakangnya, membuat Angga tersungkur jatuh.
Pria itu segera menarik tubuh Angga, lalu mencekik lehernya dengan keras, Angga mencoba melawan, dia memukul bagian tangan pria itu, namun tenaga Angga tak cukup, mungkin karena belum makan dan memang tubuhnya sedang tidak fit, Angga harus kalah tenaga dari pria ini.
Dor!
Suara tembakan mengelegar, membuat Bella kaget dan terhenti, tanpa dia sadar, dia kembali berlari ke arah Angga, dia tidak peduli bagaimana dengan nasibnya, hanya ingin melihat, apakah Angga selamat? apakah dia tertembak? atau bagaimana? Bella hanya ingin melihat Angga, walaupun itu jadi hal terakhir kali yang bisa di lihat.
Bella terdiam, melihat Angga yang tergeletak di tanah, di atasnya tubuh pria itu terkulai lemas, darah merembes dari dada kanannya, seorang pria berbaju tentara lengkap dengan senjata yang masih siaga mendekati Angga dari arah berlawanan dari Bella, Bella gemetar melihat keadaan di depannya, tak tahu darah siapa yang bergenang bercampur dengan lumpur di sekitarnya.
"Tuan Xavier?" kata Tentara itu.
Angga mengangguk lemah, mengambil napas panjang.
Tentara itu langsung membalikan tubuh pria yang menyerang Angga, dia tampak sudah tak sadarkan diri, Angga juga tampak masih kesusahan bernapas, tentara bersenjata itu membantu Angga berdiri, saat Angga berdiri dia langsung melihat Bella, Bella yang melihat Angga masih bisa berdiri langsung memeluknya, memeluknya erat sekali, seolah pria ini baru bangkit dari kematian, air matanya turun tak terbendung, hampir saja dia kehilangan suaminya, untunglah dia selamat.
"Aku tak apa-apa, ayo kita pulang," kata Angga mencoba menenangkan Bella dengan mencium pipinya.
"Saya sudah menemukan Tuan Xavier, siapkan mobil dan semua kebutuhan, satu orang tewas," kata tentara itu melaporkan keadaan.
"Mari Tuan, kita harus waspada," kata Tentara itu mulai berjalan. Melihat itu Angga melepaskan Bella, mengenggam lagi tangannya dengan erat dan mengikuti tentara itu dari belakang.
Mereka menyusuri huran itu dengan perlahan dan waspada, tak lama, 1 tentara lagi bergabung dengan Angga dan Bella menjaga mereka dari belakang.
Ternyata cukup jauh perjalanan mereka hingga sampai di jalan keluar, Jofan yang ada di sana langsung menyambut mereka.
"Senang melihat kalian selamat," kata Jofan menatap Angga yang bentuknya sudah compang-camping, dia melihat Bella yang tampak gemetaran di belakangnya. Hanya melihat itu saja, Jofan tahu apa yang sudah di lewati Angga dan Bella.
"Cepat masuk ke dalam mobil," kata Jofan langsung mengarahkan Angga dan Bella, demi mereka, Jofan jadi duduk di depan, salah satu tentara membawakan selimut tebal berwarna coklat untuk Angga dan Bella, setelah itu mobil mereka melaju dengan cepat dan pengawalan yang ketat.
"Untuk sementara, tinggallah di markas militer," kata Jofan pada Angga.
Angga hanya menangguk sambil menyelimuti Bella.
"Minumlah, kalian pasti belum minum dari kemarin," kata Jofan memberikan air mineral pada Angga dan Bella, Angga langsung membukakan air mineral itu, dan memberikan pada Bella, Bella meminumnya, malah tak bisa minum banyak karena dia langsung merasa mual dan kembung, mungkin karena perutnya terlalu kosong. Angga minum setelahnya.
"Aku sudah menyediakan tempat kalian di sana, dokter juga sudah siap sedia, kalian jangan khawatir," kata Jofan lagi.
Jofan hanya melihat Angga yang penampilannya carut marut, baru kali ini seumur hidupnya melihat Angga begitu, dia pasti sangat mencintai Bella, hingga rela seperti ini. Jofan jadi salut melihatnya.
Tak lama mobil mereka memasuki area markas militer, setelah melakukan pemeriksaan, mereka masuk dan langsung di sambut oleh tim dokter, Asisten Jang dan Judy.
Dokter segera menangani Angga dan Bella, Judy dan Asisten Jang segera menyiapkan segala keperluan Angga dan Bella.
Jofan dan Jendral Indra segera mendatangi Angga ketika Angga selesai melakukan pemeriksaan, untungnya semuanya baik-baik saja. Bella juga sudah selesai melakukan pemeriksaan, lukanya hanya luka kecil, selebihnya keadaannya baik-baik saja.
Angga melihat Jofan dan Jendral Indra langsung bangkit dari duduknya.
"Di mana kami akan tinggal?" kata Angga melirik Bella.
"Di kediaman khusus pedana mentri, sudah aku siapkan semuanya, kalian bisa tinggal di sana, dan Nona Bella, atau sekarang aku harus memanggilmu Nyonya Angga, Selamat atas pernikahan kalian, walau pun aku agak sedikit kesal karana aku mengetahuinya dari orang lain, Angga kau masih menganggapku sahabat tidak sih? bahkan menikah juga tak memberitahuku? " kata Jofan dengan tingkahnya, sedikit mencairkan suasana yang tegang, mendengar itu Bella cukup terhibur, membuatnya sedikit tersenyum.
"Kami memang belum ingin memberitahukannya pada siapa-siapa dulu, ternyata tetap saja bocor," kata Angga di akhir kata-katanya, nadanya tampak serius.
"Ya," kata Jofan agak berat.
"Bella, pergilah ke kediaman yang di katakan Jofan, aku akan segera menyusul, makan lah sedikit, jika ingin istirahat, istirahatlah dulu, Judy, tolong urus semua kebutuhan Nyonya," kata Angga dengan senyum manis, Bella mendengar itu mengerti, pasti ada hal yang ingin di bicarakan oleh Angga, Jofan dan Jendral Indra, Bella mengangguk, perlahan turun dan segera keluar dengan Judy, beberapa tentara mengikuti mereka.
"Jadi bagaimana?" kata Angga langsung berubah sikap, wajahnya serius dan dingin.
"Kami masih melacak mereka, salah satu dari mereka tewas, dan dari sana kami tahu mereka pembunuh bayaran yang cukup terkenal," Kata Jofan juga berubah 180 derajat dari yang tadi.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan informasi untuk menuntaskan kasus ini," kata Jendral Indra menambahkan informasi dari Jofan.
"Keterlibatan Aksa di kasus ini bagaimana?" kata Angga tampak berpikir.
"Belum bisa di pastikan, walau pun sangat jelas, namun kita tidak punya bukti, Aksa sudah bermain lebih halus sekarang," kata Jofan lagi.
"Bagaimana dengan misi kerjaan?" kata Angga menatap Jofan.
"Sudah di jalankan, dia masuk dengan baik, mungkin kekurangan fisiknya cukup membantu, hingga pihak kerajaan menerimanya dengan baik, kita hanya perlu menunggu informasi darinya," kata Jofan.
"Itu kabar bagus, aku ingin secepatnya menyelesaikan masalah ini, setelah mendapatkan bukti keterlibatan Raja Leonal dalam pembunuhan keluargaku, aku akan berhenti," kata Angga lagi, matanya menerawang jauh, mengingat wajah kedua orang tuanya dan permintaan Bella agar dia tak lagi berurusan dengan pihak kerajaan.
"Ya, aku harap dia bisa mendapatkan bukti itu dengan cepat," kata Jofan lagi
"Aku dengar satu-satunya saksi yang mengetahui pembunuhan itu masih di penjara di dalam istana," kata Angga melihat ke arah Jofan.
"Benarkah? baiklah aku akan mengarahkannya ke sana," kata Jofan lagi dengan tegas.
"Baiklah, aku harus kembali, istriku menungguku," kata Angga.
"Haha, lucu rasanya mengingat di antara kita ternyata kau yang duluan memiliki istri, baiklah , serahkan semuanya pada kami," kata Jofan mencoba mengoda Angga, namun Angga tak terpancing, hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya. Angga keluar, Asisten Jang lansung mengarahkan Angga ke kediaman khusus Pedana menteri.