
Setelah melaporkan keadaan pada Jofan, Sania dengan buru-buru keluar dari kamarnya, dia lalu segera menuju kamar Ayana, dia berusaha agar tidak terlalu terlihat terburu-buru, penjaga melihat ke arahnya.
"Aku ingin membersihkan kamar ratu, saat ini dia pasti sudah tertidur karena pengaruh obat yang baru aku berikan, " kata Sania pada penjaga itu, penjaga itu melihat Sania, mereka hanya mengangguk-gangguk kecil, merasa alasan Sania benar juga. Mereka lalu membukakan pintu untuk Sania.
Sania lagsung masuk, dan segera menutup pintu itu, menguncinya dari dalam, Ayana yang melihat ke datangan Sania langsung menghampirinya.
"Bagaimana? " kata Ratu Ayana.
Sania memberikan gestur agar ratu Ayana diam, dia lalu membawa ratu Ayana menjauh dari pintu itu.
"Aku mengatakan Anda sedang tertidur, jika mendengar sesuatu aku takut mereka jadi curiga," kata Sania berbisik, Ratu Ayana mengerti, dia hanya mengangguk. " Aku sudah menyampaikan semuanya pada atasanku, mereka pasti sudah merencanakan sesuatu, sekarang Anda tenang saja ya."
Ratu Ayana tampak lebih lega, dia kembali menatap wajah Sania, dia lalu mwngapau tangan Sania dan menariknya ke salah satu lemari di sudut ruangan, lemari yang biasanya untuk menyimpan beberapa potong bajunya, kemudian Ratu Ayana tampak sibuk mengeser lemari itu, perlahan agar bunyinya tak terdengar, Sania pun langsung membantu, setelah lemari itu tergeser, Ayana berjongkok, mengotak- atik lantai, hingga tiba-tiba ada ruangan kecil di dalamnya, dari sana dia mengeluarkan sebuah kotak kayu usang.
Ratu Ayana langsung membuka kotak itu dengan semacam gembok berkode, dia lalu membukanya, ada bungkusan plastik di dalamnya, dia perlahan membukanya.
"Ini,"kata Ayana menyerahkan sesuatu pada Sania, seperti buku tulis kecil berwarna merah.
"Catatanku selama ini, sebelum mereka mulai memberikanku obat itu, aku mencatat apa pun di sini, jadi jika mereka bilang kesaksianku nanti tidak kompeten karena aku gila, aku sudah menulis semua yang aku tahu di dalam ini jauh sebelum aku gila, selain itu di dalamnya juga tersimpan rekaman percakapan dan beberapa video yang aku dapatkan, aku memasukkannya dalam sebuah CD, tolong serahkan semuanya, Iva … aku takut setelah ini kita berdua akan ketahuan, karena itu pergilah dari sini Iva, mereka bisa membunuhmu,"kata Ratu Ayana menatap lirih pada mata Sania, Sania bisa melihat kasih sayang dan kecemasan itu di mata Ayana, dia segera memasukkan buku kecil itu, ke sakunya, dia hanya mengangguk, tak ingin mengiyakan atau pun membantah, karena tujuannya kembali ke sini bukan hanya untuk ini, dia harus menyelesaikan misinya yang lain.
Sania lalu mengambil beberapa bunga yang mulai mengering dari sana, menutupi sebisa mungkin buku itu dengan bunga-bunga layu itu, dia lalu segera keluar dari sana, Ayana kembali mengambil posisi untuk tidur, sehingga ketika penjaga melihatnya, dia terlihat sedang tidur.
"Dia sedang tidur, aku harus membuang bunga-bunga ini, baunya mulai busuk,"kata Sania.
"Baiklah,"kata Penjaga itu lagi.
" Ini, "kata Sania menyerahkan buku itu dengan bunga-bunga layu menutupinya, pria itu langsung mengerti. "Madu sudah di dapatkan, lebah sudah bisa kembali," kata Sania pada pria itu. pria itu langsung sigap mengangguk.
"Rembulan akan muncul segera, bersiaplah, "kata Pria itu lagi.
Sania mendengarnya, dia hanya mengangguk, lalu pria itu segera pergi dari sana, Sania dengan cepat menutup pintunya sebelum ada yang mengetahuinya.
Malam menyergap dengan cepat, arti Rembulan akan muncul segera, bahwa dia akan di jemput segera dari sana, tapi dia belum bisa melepaskan dirinya dari hasratnya yang lain, dia harus segera menyelesaikan tugasnya, dia tidak akan bisa mati tenang jika tidak membalaskan dendamnya pada pria keji itu.
Sania mengambil sebuah gaun yang memang seganja dia bawa, gaun itu gaun favoritenya dulu, berwarna putih, warna kesukaannya, dia melihat tubuhnya yang jauh dari dahulu, terlalu kurus hingga gaun itu bahkan tak tampak cantik lagi baginya, namun dia tidak peduli.
Sudah hampir tengah malam, Dia lalu segera keluar, berjalan menuju jalan yang tadi pagi dia jalani, dia segera keluar dari istana utama itu, langkahnya mantap, dia lalu berjalan menuju tempat istana pangeran, untunglah saat dia sering datang ke sana, dia mengetahui pintu-pintu rahasia untuk masuk ke istana pangeran itu.
Dia berjalan pelan, sangat pelan hingga langkahnya pun tidak terdengar, dia tahu jam segini istana itu sudah mulai kosong, dulu dia suka marah karena pelayan dan penjaga di sana tampak begitu malas, sekarang dia bersyukur akan hal itu, jadi dia dengan leluasa bisa masuk ke dalamnya, dia masuk ke ruang perpustakaan dahulu, karena dia tahu di salah satu laci di meja yang ada di sana adalah tempat Aksa menyimpan salah satu pistolnya yang selalu sudah terisi amunisi, dan benar saja dia menemukan pistol itu, untungnya Aksa orang yang tidak suka memindahkan barang-barangnya.
Sania tersenyum sinis, dia cukup punya pengalaman mengunakan pistol, dia juga harus berterima kasih pada Aksa yang dulu sempat mengajarinya bagaimana mengunakannya, dia lalu perlahan keluar dari perpustakaan itu, 5 tahun bersama Aksa, Sania cukup bisa menebak saat ini dia ada di mana, pasti sedang duduk di taman tengahnya, bersantai dengan minuman kerasnya, tak bisa tidur tanpa belaian wanita, dan Sania tahu pasti, tak ada seorang wanita pun dengannya saat ini, belum bisa mendapatkan wanita yang cukup bodoh untuk mengantikannya kah.
Bagai hantu Sania berjalan pelan di lorong-lorong istana pangeran itu, penjagaan benar-benar tidak ada, tangannya yang kurus itu mengenggam pistol hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih, semilir angin yang terasa masuk ke dalam lorong-lorong itu tidak mengganggunya sama sekali.
Dia berhenti saat melihat Aksa yang sedang bersantai, di tangannya terlihat rokok yang asapnya menari-nari ke atas, di sampingnya sebotol minuman keras menemaninya, dulu … jika Sania melihatnya, dia akan belari dan memeluknya dari belakang, mencoba mengoda pria itu untuk menemaninya tidur, kali ini dia akan membuat Aksa tidur untuk selamanya.
Sania mengacungkan pistol itu ke arah kepala Aksa, tangannya bergetar keras, tak tahu karena apa? ketakutan kah atau karena menahan emosi yang tinggi! dia berjalan dengan segala emosinya semakin mendekati Aksa, di mata dan wajahnya penuh dengan kebencian, dia akan melakukannnya sekarang! akan membunuh iblis yang ada di dunia ini! pria yang paling dia benci seumur hidupnya!.
Tiba-tiba seseorang langsung membekapnya dengan susuatu, dia langsung di tarik menjauh, dia ingin menekan pelatuk pistolnya, namun pria itu segera mengambil pistol itu dari tangannya, Sania sempat melihat wajah pria itu sebelum dia kehilangan kesadarannya, Asisten Wan.