
Jofan kembali berjalan, Jendral Indra langsung menunjukkan jalan menuju sebuah asrama kecil di daerah militer itu, tempatnya sedikit ujung, sangat sederhana, dengan taman yang satu-satunya di tanami oleh bunga-bunga.
"Nona yang menanam bunga-bunga itu, dia mengatakan untuk melatih koordinasi tubuhnya." kata Jendral Indra menjelaskan karena melihat Jofan yang heran dengan bunga-bunga itu.
"Hmm..." kata Jofan mengiyakan dengan sedikit anggukan kecil.
Dia berjalan dengan penuh wibawa, menunjukkan kekuasaannya.
Jofan berdiri di pintu masuk asrama yang tertutup, Jendral Indra segera mempersilakannya.
"Silakan Tuan." kata Jendral Indra.
Jofan mengetuk pintu asrama dengan perlahan Kembali melihat suasana asrama yang sangat sederhana sekali, bahkan di temboknya banyak cat putihnya yang sudah terkelupas, entah kenapa dia merasa miris melihatnya.
"Sebentar." Suara wanita lembut dari dalam. Jofan tidak menjawab, entah kenapa jantung Jofan malah berdegub kencang mendengar suara itu. Berharap cemas, saat tak lama pintu itu terbuka.
Jofan menatap wajah wanita di depannya, wanita menggunakan semacam topeng putih penutup dibagian atas wajahnya.
Matanya yang indah menatap Jofan yang berdiri gagah di ambang pintu itu. Tak lama dia tersenyum, sebuah senyuman yang tampak kaku dan memberikan salam hormat pada Jofan. Jofan pun membalas senyumnya dengan senyuman tipis.
"Apa aku boleh masuk?" kata Jofan dengan sopan. Tak tampak aksi Don Juannya, seolah sangat menghargai wanita itu.
"Tuan, saya harus memimpin rapat, saya undur diri terlebih dahulu." kata Jendral Indra sopan, sebelum Jofan melangkah masuk.
"Baiklah, terima kasih." kata Jofan.
Jendral Indra segera berjalan meninggalkan Jofan, 2 orang tentara berjaga di ambang pintu luar, sedangkan Jofan masuk ke dalam asrama yang sangat sederhana itu, hanya ada ruang tamu kecil dengan tempat duduk seadanya, sebuah kamar yang sempit, dan toilet, ada dapur kecil yang terlihat sengaja di buat berada di halaman belakang.
"Silakan Tuan." kata wanita itu mempersilakan Jofan untuk duduk, Jofan duduk dengan gaya dan wibawanya, tapi matanya tak lepas melihat wanita di depannya itu.
"Anda ingin minum apa?" kata wanita itu lagi.
"Sudah cukup membaik, hanya sesekali masih terasa sakit pada kepala, tangan kiri saya juga sudah mulai bisa melakukan semuanya." kata wanita itu dengan sungingan senyum manis yang terlihat sedikit tidak simetris, bibirnya yang berwarna merah muda itu terlihat tipis, sorot matanya juga tampak lembut, hanya bekas cukuran rambut dan luka jahitan di sisi kepalanya yang tampak sedikit menganggu. Selebihnya bisa terlihat dia cukup cantik di tutupi oleh topeng itu.
Jofan melihat tubuhnya, luka sayatan-sayatan terlihat masih berwarna merah muda, ada cukup banyak menghiasi tangan dan kakinya. Jofan menatapnya suram, tampak sorot keprihatinan di matanya. Pria mana yang tega memperlakukan wanita seperti ini?. Namun, Jofan segera mengalihkan pandangannya, takut wanita itu merasa terganggu akan tatapannya.
"Baguslah, aku hanya ingin mengatakan padamu, mungkin dalam waktu dekat, kau akan segera melakukan aksimu. Tapi jika masih belum sanggup, kau masih bisa memulihkan dulu keadaanmu." kata Jofan mencoba untuk terlihat serius.
" Baiklah. Saya rasa saya akan siap kapan pun Anda minta." kata wanita itu lagi.
"Mereka akan menyesuaikan semua kebutuhanmu."
"Baik Tuan."
"Kalau begitu aku akan pergi dulu." kata Jofan bangkit, wanita itu pun bangkit, Jofan berhenti sebentar di ambang pintu. Menoleh sebentar pada wanita yang mengikutinya dari belakang.
"Nona Sania, Jaga dirimu." kata Jofan dengan senyum khasnya yang mengoda, membuat siapapun akan tertarik pada dirinya, Sania hanya terdiam sesaat, terlalu terhipnotis dengan senyuman Jofan, namun segera menunduk, siapapun yang melihatnya sekarang akan merasa jijik, itu perasaannya.
"Baik Tuan." kata Sania yang mencoba menutupi kegugupannya.
Jofan kembali tersenyum sebelum melangkah keluar, Sania memperhatikan langkahnya yang tegas, melihat punggung Jofan yang lama-lama menjauh dan menghilang.
Kepalanya kembali sakit, begitu kepalanya sakit, hidungnya langsung berdarah, dia cepat-cepat pergi ke kamar mandi, dia membuka topengnya, dan segera mencuci darah yang berbau anyir di hidungnya.
Dia melihat wajahnya. Wajahnya yang dulu begitu cantik, putih, mulus, sekarang bagaikan si buruk rupa, luka tembakan dan sayatan-sayatan kecil di wajahnya yang di berikan untuk menyiksanya tampak jelas. Timah panas itu mengenai sudut mata kirinya hingga menghancurkan tengkoraknya, membuat wajahnya sekarang tampak begitu aneh, bahkan dia sendiri ketakutan melihat wajahnya di cermin, dia langsung menutupinya dengan topeng kembali.
Sania menyeka air yang menetes di wajahnya, rasanya pipi sebelah kirinya mati rasa, senyumnya pun tak sama, Sania menguatkan dirinya, menerima efek buruk dari kerusakan saraf yang parah, awalnya dia bahkan tak bisa mengerakkan tangannya, namun sekarang perlahan-lahan dia sudah mulai membaik. Hanya beberapa bagian yang mati rasa.
Untunganya kemampuannya yang lain tidak bermasalah. Setidaknya, dia masih bisa di selamatkan. Itu sudah cukup. Begitu dia sadar, dia sudah ada di rumah sakit, mereka bilang Jofan yang mengatur agar dia bisa di selamatkan segera, dan merawatnya hingga bisa bertahan hidup.
Dia juga tahu apa yang di lakukan Angga pada keluarganya, Jofan sudah memberitahukannya semua. Karena itu sekarang dia merasa sangat berhutang budi pada mereka berdua dan setuju untuk melaksanakan rencana yang di susun oleh Jofan, lagi pula dia harus membayar semua sakit hati untuk Aksa. Kali ini apapun yang terjadi, pria itu harus mati!.