
Tik... tik... tik...
Diam lah jam!, Kau tak perlu mengejekku begitu. Aku tahu aku bagai pengecut kecil yang tak mau mengaku tentang cinta dan rindu yang ada di kalbu.
____________________________________________
"Hah, di sini mulai panas,"kata Bella pada Daihan yang dari tadi menemaninya di taman.
"Ya, kau seharusnya masuk ke ruangan mu, jangan terlalu banyak terkena matahari, lagi pula ini sudah siang." Kata Daihan menatap wajah Bella yang memerah.
"Baiklah, aku akan ke ruanganku sekarang, kakak ingin ikut masuk?"
"Aku akan mengantarmu, tapi setelah itu aku harus kembali ke perusahaan, karena tadi langsung ke sini, aku belum sempat mengurusi beberapa hal di sana."
"Ya, tidak apa-apa, kakak melihatku saja aku sudah senang kok. " kata Bella tersenyum manis, yah walaupun bukan dia yang sebenarnya Bella inginkan, setidaknya ke datangan Daihan sudah membuat rasa tak enak di hatinya sedikit berkurang.
Daihan segera mengantar Bella kembali ke ruangan Bella, setelah membantu Bella naik ke atas ranjangnnya dan memastikan Bella sudah nyaman, Daihan tersenyum.
"Baiklah, Asistenku sudah menungguku, aku tinggal dulu, nanti malam aku akan datang lagi melihatmu di sini." Kata Daihan, dia memegang kepala Bella, Bella kira Daihan akan kembali mengelus kepalanya seperti yang biasa dia lakukan, namun ternyata tidak, Daihan malah mencium dahinya, membuat Bella terdiam dan kaget, wajahnya langsung memerah.
"Istirahatlah." kata Daihan tersenyum, Bella yang masih terpaku hanya bisa mengangguk. Daihan segera berjalan keluar setelahnya meninggalkan Bella, bahkan aroma tubuh Daihan yang selalu menenangkan itu masih bisa dia cium, tapi kenapa malah dia makin rindu ingin mencium wangi Angga?.
" Nona." Kata Judy membuat Bella yang terpaku jadi sadar.
"Ya?" kata Bella langsung.
"Saya tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak, tapi tadi Tuan Angga datang ke tempat Anda dan Tuan Daihan berbincang."
"Ha?" kata Bella kaget.
"Ya, tadi Tuan Angga ada di sini, namun dia menyuruh saya untuk tidak memberitahukan Anda, dia hanya diam, lalu dia pergi." Jelas Judy
Bella terdiam, kalau Angga ada di sana, dan melihat dia dan Daihan sedang mengobrol, pasti dia salah paham, terakhir kali Angga tahu dia sedang bicara dengan Daihan saja dia begitu marah hingga membuang handphone Bella, Apalagi sekarang melihat Bella mengobrol langsung dengan Daihan, wah...Angga pasti sangat marah, perasaan Bella jadi tidak enak kembali, ada rasa cemas tiba-tiba menyelimuti, dia segera mengambil handphonenya, dan menelepon Angga.
Nada sambung berbunyi sekali, tiba-tiba Bella ingat, kenapa dia harus menghubungi Angga? awalnya dia ingin menjelaskan keadaanya dengan Daihan, namun untuk apa? Toh dia kan bebas untuk melakukan apapun, Angga pun juga sudah tidak peduli dia ingin melakukan apa? Kenapa dia harus menjelaskan, yang ada akan terlihat sangat konyol, tiba-tiba dia menelepon Angga dan menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya dengan Daihan di sana, sementera belum tentu benar Angga marah atau peduli. Bisa saja dia datang hanya sekalian untuk mengunjungi rumah sakitnya, ini kan rumah sakit miliknya, benar tidak? pikir Bella sedikit memajukan bibirnya yang mungil.
Dengan cepat Bella mematikan panggilannya, dia menggenggam handphonenya dan di letakkanya di dadanya, menghirup dan menghembus napas dalam-dalam, rasa sesak dan tak enaknya malah makin bertambah, ah… apa sih maunya hati ini? pikir Bella, dia tidak sadar yang di inginkan hatinya adalah Angga.
Saat Bella masih menenangkan perasaannya, tiba-tiba handphonenya bergetar, dia sampai kaget, dan langsung melihat nama yang melakukan panggilan masuk, Angga.
Bella dengan cepat dan buru-buru mengangkat panggilan itu, dan sialnya, dia salah memilih tombolnya.
"Aaa!!!" Teriak Bella yang baru sadar dia salah menekannya.
Mata Bella terbelalak kaget, bagaimana bisa dia salah menekannya? Sekarang dia malah menolak panggilan Angga. Angga tak pernah meneleponnya, sekalinya dia menelepon, Bella malah menolaknya!.Ahk!!! bodoh sekali, pikir Bella menghakimi dirinya sendiri.
Judy yang mendengar teriakan Bella langsung keluar dari kamar mandi karena tadi dia sedang mencuci tangannya, dia kira terjadi masalah.
"Ada apa Nona?" kata Judy kaget.
"Judy, aku salah, seharusnya aku mengangkat telepon Angga, namun karena gugup aku malah menolaknya." Kata Bella dengan cemas dan wajah yang sedih.
Judy yang mengira ada sesuatu langsung sedikit lemas mendengar alasan Bella. Nona muda ini hampir membuat jantungnya copot.
"Anda tinggal menelepon Tuan Angga lagi Nona, saya rasa dia tidak akan marah pada Nona,"kata Judy tersenyum menenangkan Bella.
"Benarkan?"
"Ya."
Setelah nada sambung ke tiga, telepon akhirnya di angkat.
"Katakan apa yang kau mau katakan, aku sedang rapat." Terdengar suara Angga dari sambungan itu, Bella menangkap kesan marah, tegas dan tidak bisa di ganggu dari Angga.
"Oh, tidak apa-apa, nanti saja, maaf menganggu." Kata Bella sungkan, dia bahkan tersernyum-senyum kaku, padahal dia sedang menelepon, Angga tidak bisa melihatnya.
"Jika kau matikan, aku tidak akan pernah mengangkat teleponmu selamanya." Kata Angga nada suaranya serius. Bella jadi merasa serba salah.
"Apa kau tadi datang ke sini?" Tanya Bella dengan suara rendah, kembali mengigit bibirnya karena gugup.
"Ya." kata Angga tegas dari seberang sana.
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Untuk apa? lagi pula kau sudah punya teman ngobrol." kata Angga lagi.
"Tapi kan aku maunya… " kata Bella terputus, dia ingin mengatakan kalau dia maunya Angga yang menemaninya, tapi urung dilakukannya.
"Tapi maunya apa? mengapa berbicara terputus seperti itu? "kata Angga dengan nada seperti memarahi. Bella yang mendengar itu manyun, dia malah di marahi, apa si Angga yang super tidak peka itu tidak tahu perasaan Bella yang dari tadi uring-uringan karena tidak bisa bertemu dengannya.
"Tidak apa-apa, sudah aku tidak mau menganggu, tidak mengangkat panggilanku pun tidak apa-apa." kata Bella kesal, dia langsung mematikan teleponnya. Saat sudah mematikan itu dia malah menyesal, bagaimana kalau Angga memang serius tidak akan lagi mengangkat telepon darinya?, tapi kalau melepon lagi akan sangat memalukan, ah... apa ini yang dinamakan 'GALAU'? pikir Bella.
Tiba-tiba handphone Bella berbunyi lagi , dari Angga. dia langsung mengangkatnya lagi.
"Kalau kau rindu padaku bilang saja," Kata Angga, suaranya terasa sangat dekat, Bella sangat kaget saat melihat ke arah pintu, ternyata Angga mengucapkan itu sekaligus masuk ke dalam ruangannya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat, hingga handphoneya terjatuh.
Angga berhenti agak jauh darinya, memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya, lalu menatap Bella dengan wajah yang sangat dingin. Bella melihat Angga datang dengan gayanya itu merasa sangat senang, bahkan lupa baru beberapa detik yang lalu dia sedang kesal dengan pria di depannya ini, Bella bahkan tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak tersenyum. Ingin rasanya dia turun secepatnya dari ranjang itu, menghambur memeluk Angga, tapi untung saja dia masih bisa menahan diri, jadi hanya sebatas keinginan.
Angga yang melihat reaksi Bella saat melihatnya jadi ikut senang, dia hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit.
"Sejak kapan kau ada di sana?" kata Bella penasaran dan masih cukup kaget melihat Angga.
"Cukup lama untuk bisa mendengarmu teriak begitu keras." kata Angga.
"Benarkah?" kata Bella tak percaya Angga sudah ada di sana begitu lama, dia jadi malu, kalau Angga mendengar teriakannya, pasti dia tahu kenapa Bella berteriak, mungkin karena kulit Bella yang putih, jadi walaupun dia hanya tersipu sedikit, pipinya langsung merona. Melihat hal itu Angga kembali tersenyum tipis, dia tahu wanita ini memang merindukannya.
Angga mengerluarkan gestur agar Judy dan Asisten Jang keluar, mereka mengerti dan segera meninggalkan ke dua orang itu di ruangannya.
Angga mendekati Bella, mata Bella tidak bisa berpaling dari Angga, bahkan terus melihatnya, Angga mengambil kursi lalu di letakkan di dekat ranjang Bella. Dia lalu duduk di sana, dan tetap diam.
Mereka hanya terdiam, mata mereka beradu dan terpaut, sekedar untuk mencurahkan rasa rindu lewat tatapan, tak perlu kata-kata untuk menjelaskan, semua tersirat jelas, tak di sangka hanya tidak bertemu 1 hari, rasanya lebih dari itu. Bella mengamati mata hitam Angga yang selalu membuatnya terhipnotis, Angga pun hanya mengamati wajah Bella yang polos namun tetap cantik itu, rasa marahnya yang tadi hilang lenyap, menguap bersamaan dengan rasa rindu yang perlahan-lahan terobati.
"Bagaimana keadaanmu? "kata Angga menyibakkan rambut Bella ke belakang terlinganya agar dia bisa melihatnya wajahnya lebih jelas, kerinduan sangat dalam terpancar di matanya.
"Aku rasa aku baik-baik saja." Kata Bella masih tidak bisa berpaling dari wajah Angga.
" Apakah ada yang masih sakit? Mual atau bagaimana?" kata Angga dengan nada penuh perhatian, mendapati nada bicara Angga yang seperti itu, Bella merasa hangat. Lebih hangat dari sinar matahari yang tadi pagi mengenai wajahnya, sekarang dia sadar, yang di butuhkannya hanya Angga.
"Tidak, tidak ada apapun." kata Bella yang tersenyum manis.
"Baguslah, tapi apa yang terjadi padamu di sana? Kenapa bisa seperti ini?” kata Angga, ada nada ketakutan, seperti benar-benar hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, mendengar itu Bella merasa hatinya sangat nyaman.
"Aku hanya meminum minuman, dan aku pingsan,"kata Bella seadanya meningat apa yang dia lakukan.
“Gadis itu, aku akan melakukan perhitungan padanya!”kata Angga tampak geram, matanya memancarkan emosi, kemarin dia membuat Bella mabuk, Angga masih bisa mentolerir itu, tapi sekarang dia sangat berani meracuni Bella.
“Sebenarnya aku yang memasukkan racun itu,”kata Bella tenang.