Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
220



Sepanjang perjalanan, Angga memeluk tubuh Bella, tangannya tak lepas mengenggam tangan Bella, serasa ingin menghentikan waktu untuk sementara, agar bisa menikmati masa-masa berdua ini lebih lama.


Bella pun terus mendekap manja Angga, menikmati hangat dan aroma tubuh Angga yang begitu dia rindukan, terus menatap wajah Angga, seolah dia benar-benar tak ingin wajah ini, tubuh ini pergi lagi pandangannya, walaupun banyak pertanyaan di kepalanya, tapi dia tak ingin dulu bertanya, hanya ingin bisa ada di dalam pelukan ini, jika ini memang hanya mimpi, bolehkah Bella terperangkap di sini saja?.


Mobil tentara itu memasuki areal hutan, lalu mereka segera berhenti di gubuk tua, pintu masuk tempat perlindungan itu, Angga segera melihat Bella yang masih saja tak mau lepas dari suaminya.


Ayo, kita sudah sampai, Angga mengeluarkan gestur untuk bahasa isyarat, masih tidak bisa mengatakan kata yang terlalu panjang.


Bella yang melihat itu segera mengangguk, sedikit mengeryitkan dahinya, kenapa Angga harus menggunakan bahasa isyarat, toh mereka tidak berbicara rahasia atau pun sedang marah.


Angga membantu Bella perlahan untuk turun, Bella melihat kesekeliling, menatap heran, hanya ada gubuk kecil dan hutan lebat yang mengitarinya, Bella menatap ke wajah Angga, Angga ingin menjelaskan, namun dia sadar, itu agak susah di lakukannya sekarang.


"Ayo, " kata Angga menarik tangan Bella menuju ke gubuk kecil itu.


"Kita tidak pulang ke rumah? " tanya Bella lembut, namun dia hanya mengikuti Angga. Angga melihat ke arah Bella sebentar, di antar cahaya bulan, matanya yang dulu terlihat redup, kini kembali bercahaya, Angga sudah kembali menemukan cahaya hidupnya, dia hanya sedikit tersenyum sambil menggeleng.


Bella membalas senyuman Angga, benar-benar banyak pertanyaan di kepala Bella sekarang, namun semua di tahannya, di luar sini bukanlah tempat yang pas untuk bertanya.


Mereka masuk ke dalam gubuk itu, dan segera memasuki lift tersembunyi, Bella melihat yang ada di dalam gubuk itu sedikit terkejut dan kagum, tempat apa ini sebenarnya?, Angga segera menekan tombol lift itu dan mereka segera turun ke bawah, tak sedetik pun tangan Angga lepas dari genggaman Bella, seolah kali ini mereka akan ada seterusnya bersama apa pun yang terjadi.


Lift mereka segera berhenti, pintu lift itu perlahan terbuka, saat mereka melihat ke arah dalam tempat perlindungan itu, mereka kaget, semua jajaran orang-orang di sana berbaris menanti mereka, Jofan pun sudah ada di sana, Daihan dan Nakesha juga sudah menunggu mereka dengan tatapan begitu senang.


Bella tentu terharu melihatnya, dia bahkan tidak bisa menahan air matanya, melihat semua teman-teman dan keluarganya berkumpul di sana, bahkan Angga saja tak menyangka mereka berkumpul semua. Mereka segera keluar dari lift itu, Jofan, Daihan dan Nakesha segera mendekati mereka.


"Kakak! " kata Nakesha memeluk erat Bella, bahkan dia seperti melompat masuk ke dalam pelukan Bella, Nakesha menangis terharu, dia sangat merindukan Bella, dan tahu bagaimana perjuangan Angga untuk bisa menjemput kakak angkatnya ini, karena itu dia tidak bisa membendung rasa harunya, Cinta mereka berdua memang boleh dijadikan panutan.


Bahkan saat seperti ini, Angga terus mengenggam tangan Bella. Membuat Bella hanya bisa membalas pelukan Nakesha dengan sebelah tangan.


"Akhirnya, kau membawanya pulang," kata Jofan menepuk pundak Angga sebelah kanan, tepat di bagian tangan Angga yang masih cidera, membuat Angga  sedikit meringis kesakitan, namun dia segera tersenyum.


"Terima kasih,"kata Angga seadanya.


"Hahaha, Bella, selanjutnya kau tidak perlu takut jika Angga jadi cerewet saat tua nanti, dia akan lebih pelit bicara dari sebelumnya,"kata Jofan melihat Bella.


"Kenapa? " kata Bella bingung.


"Nanti kalian bicarakan berdua saja, " kata Jofan melirik Angga yang wajahnya sudah berubah sedikit dingin.


Daihan menatap Bella, melihatnya dalam-dalam, rambut Bella sudah memanjang, wajahnya masih seperti biasa, namun terlihat dia sedikit lebih berisi sekarang, sepertinya keadaanya baik-baik saja, Daihan sebenarnya ingin memeluk wanita ini, namun dia sudah berjanji di dalam hatinya, untuk merelakan Bella pergi.


"Bagaimana kabarmu? "kata Daihan dengan senyuman hangat menyambut Bella, Melihat itu Angga menjadi waspada.


"Baik kak, bagaimana keadaan kakak? "kata Bella membalas senyuman Daihan dengan sangat manis.


"Kalian … "kata Bella menatap Nakesha dan Daihan secara bergantian.


"Yah! Selama kau pergi banyak yang terjadi di sini Bella, Angga nanti akan menceritakannya atau memperagakannya mungkin,"kata Jofan melirik Angga yang hanya diam saja, tentu dia tidak bisa dengan leluasa berbicara seperti Jofan dan Daihan.


"Nyonya, Anda Baik-baik saja? maafkan aku, "kata Shella dari balik tubuh Daihan dan Jofan, Bella yang kenal sekali dengan suara itu langsung melihat ke arah suara, Jofan dan Daihan juga segera menyingkir.


"Shella? Kau di sini? "kata Bella senang, Shella berjalan dengan perlahan mendekati Bella.


"Ya, aku menemuinya di rumahmu di pulau Amaris, aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri, jadi ya aku bawa saja dia kemari, " kata Jofan enteng, dia hanya bisa bicara dan tertawa lepas seperti ini di sini,  jika di luar, dia harus menjaga semua tingkah lakunya.


"Terima kasih Tuan Jofan,"kata Bella tersenyum manis.


"Tidak masalah, Oh, ya! congratulation Bro, tak aku sangka kau akhirnya akan jadi seorang ayah! Kenapa selalu dia duluan, menikah ya dia duluan, sekarang memiliki anak juga dia duluan,"kata Jofan ceplas-ceplos diiringi tawa yang lepas.


Angga yang mendegar itu langsung mengerutkan dahinya, wajahnya cukup kaget, namun tetap dengan kesan dingin yang mempesona, dia langsung melemparkan pandangannya ke Bella, Bella juga memandang Angga dengan lembut, ya Angga belum tahu kalau sekarang Bella mengandung anaknya.


"Hamil? "kata Angga.


"Ups, kau belum memberitahunya? Maafkan aku Bella,"kata Jofan yang sudah merasa membocorkan kejutan besar ini. Daihan dan Nakesha juga terkejut mendengarnya namun mereka langsung merasa senang.


Bella menarik tangan Angga, dia meletakkanya pada perutnya yang mulai terasa membuncit, Angga yang merasakan itu langsung tersenyum senang namun juga tak percaya, dia akan menjadi ayah?.


Wajahnya yang tadinya dingin langsung berubah penuh raut kebahagian, lengung pipinya yang dalam langsung terlihat, Bella benar-benar merindukannya, tanpa aba-aba Angga langsung memeluk Bella dengan erat, hari ini penuh dengan kejutan untuk Angga, dia sangat senang hingga rasanya tidak bisa di lukiskan. Angga melepaskan pelukkannya, dia mencium dahi Bella dengan penuh perasaan.


Shella yang memperhatikan itu langsung tahu, pria ini lah yang selalu di bicarakan Nyonyanya, dari pancaran cinta di mata Bella yang belum pernah di liatnya, Shella mengerti bagaimana Bella tidak bisa melepas pria seperti Tuan Angga ini, semua wanita pun tak akan rela.


"Wah, lanjutannyal ke kamar saja, " Canda Jofan, membuat Angga melihatnya dengan lirikan, melihat lirikan Angga, Jofan tertawa keras.


“Selamat kak, sudah berapa bulan? "kata Nakesha begitu senang,


" 20-22 Minggu,"kata Bella lembut.


Angga juga ingin tahu sudah berapa usia kandungan Bella, namun dia takut dia akan kesusahan mengatakan kata-kata itu, jadi dia ingin menunggu hingga mereka nanti berdua, dan mereka akan saling bertukar cerita.


“Sudah tahu laki-laki atau perempuan? " kata Nakesha lagi penasaran, dia lalu mengelus perut Bella dengan lembut, merasa gemas dengan buncitan kecil itu.


"Haha, belum, mungkin beberapa bulan lagi,"kata Bella.


Laki-laki atau perempuan, itu tidak masalah, Angga memberikan gerstur bahasa isyarat pada Bella. Bella melihat ke arah Angga, kenapa tidak menagatakannya saja secara langsung? Kenapa harus pakai bahasa isyarat.


"Iya benar, ibunya sangat cantik, ayahnya tampan, ntah bagaimana anaknya nanti," kata Nakesha dengan gayanya, dia juga belajar bahasa Isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Angga.