Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
176



Handphone Nakesha berdering, melihat sederet angka yang muncul di sana, dia segera meletakkan pembentuk kue kering dengan cepat, mencuci tangannya yang berminyak sekaligus bertepung karena dia memang sedang membentuk adonan kue kering agar tampak lucu.


Dia segera mengelap tangannya yang basah dan menyambar handphonenya.


"Halo, siapa ini?" jawabnya dengan suara riang karena memang hari ini dia sangat bersemangat.


Dari sana tidak langsung menjawab, Nakesha menekukkan dahinya, melihat sambungan itu, masih tersambung.


"Bukannya aku sudah memberikan nomor handphoneku padamu?" suara itu terdengar familiar.


"Oh, kak Daihan?" kata Nakesha lagi.


"Kak?" kata Daihan.


"Ya, kan Bella saja memanggilmu Kak, aku juga harus memanggilmu Kak juga kan, Maaf, aku tidak tahu cara menyimpan nomor handphonemu, handphone ini terlalu canggih, aku bahkan jarang sekali mengunakannya," kata Nakesha jujur saja.


"Kau tak tahu cara mengunakannya?" kata Daihan sedikit tersenyum, dia ingat dulu pun saat Bella pertama kali memiliki Handphone, Bella meminta Daihan untuk mengajarinya.


"Ya."


"Baiklah, nanti aku akan mengajarimu, kau sedang sibuk? aku ingin membayar hutangku meneraktirmu makan es krim," kata Daihan tersenyum manis.


"Oh, maaf aku tak bisa sekarang, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan sekarang," Suara Nakesha terdengar sungkan, Nakesha melirik adonan kue dan meja dapurnya yang masih berantakan, makan es krim masih bisa lain kali kan.


"Benarkah? sayang sekali, padahal aku sudah di depan apartemenmu?" kata Daihan lagi.


"Ha? kakak di depan? kenapa tak mengetuk saja," kata Nakesha bergegas menuju pintunya, dan bergegas membukanya, tak ingin membuat Daihan menunggu lama, dan benar saja, Sosok tampan dengan senyuman manis itu terlihat di depan pintunya, terlihat selalu rapi dengan pembawaannya yang terlihat dewasa.


Daihan memperhatikan Nakesha, dia mengikat rambutnya dengan ikatan rambut cepol lalu mengunakan bandana kain berwarna hijau toska yang membuat kulit wajahnya makin terlihat putih, anak-anak rambutnya yang sedikit bergelombang jatuh dengan alami ke wajahnya. dia memakai cemlemek putih dengan motif bunga kecil, tampak imut bagaikan anak kecil.


"Kak, kenapa? masuklah,"Kata Nakesha.


"Oh, ya, baiklah, "kata Daihan, dia memperhatikan Apartemen yang tertata sangat rapi, jauh berbeda dengan awal Nakesha ke mari, penuh dengan nuansa feminim, bunga tertara indah di setiap sudutnya.


" Aku tak bisa keluar dulu, dapurku sedang kacau," kata Nakesha berjalan dahulu ke arah dapur, memang apartemen itu tak terlalu besar, dapur langsung kelihatan jika kita masuk ke ruang tengah.


"Kau sedang memasak lagi?" kata Daihan.


"Tidak, aku sedang membuat kue kering," kata Nakesha yang tanpa segan langsung kembali pada urusannya, Daihan memperhatikan adonan kue yang sudah ada di meja, di bagian lain sudah ada beberapa toples kue kering lain.


"Itu buatanmu?" kata Daihan menunjuk toples kue kering.


"Ya," kata Nakesha, mencetak dan meletakkannya di atas loyang panggangan, teliti sekali.


"Kenapa membuat begitu banyak, ibumu kan tidak akan bisa menghabiskannya," kata Daihan duduk di kursi di depan meja tempat Nakesha mencetak kuenya.


"Aku tidak membuatnya untuk ibuku," kata Nakesha yang tak memperhatikan Daihan yang dari tadi mengamati apa yang dia lakukan.


"Lalu?"


"Di ujung koridor, ada seorang ibu tunggal, dia orang pertama yang menyapaku saat aku ada di sini, dia punya dua orang anak yang masih kecil, ayah mereka sudah meninggal, karena itu ibunya membanting tulang bekerja apapun, kadang aku melihat kedua kakak beradik itu hanya duduk di ujung menunggu dengan sabar ibu mereka pulang, karena perkerjaannya tak menentu, ibunya juga pulang tak menentu, kadang jika ada tetangga yang melihat mereka akan di panggil masuk, tapi mereka terlalu takut, jadi aku membuatkan kue ini untuk mereka, mungkin bisa jadi cemilan untuk mereka, mereka akan pulang sebentar lagi," Jelas Nakesha panjang lebar sambil melakukan pekerjaannya dengan sangat cekatan.


"Ada apa kak?" kata Nakesha yang tak mau 'kege-eran' gara-gara Daihan menatapnya,beberapa hari yang lalu pria ini dengan tegas mengatakannya agar dia tidak memiliki perasaan apa pun padanya, Nakesha orang yang tak mau banyak ambil pusing, karena itu dia juga akan membatasi dirinya.


"Tidak apa-apa, boleh aku mencicipi sedikit," kata Daihan


"Tentu, sebentar," kata Nakesha yang sudah selesai menata kuenya, memasukkannya loyang kuenya ke dalam oven, dan segera mengatur suhu dan waktunya. Dia lalu mengambil toples kue yang lain, ada 3 toples dengan kue kering yang berbeda, sudah di hias dengan sedemikian rupa, bahkan tampak sayang untuk di makan.


Daihan mengambil satu, Nakesha tampak tak memperdulikan Daihan di sana, dia sibuk membersihkan dapurnya yang berantakan.


"Apakah enak?" kata Nakesha melihat Daihan mengambil lagi kuenya.


"Ya, ini sangat enak, kau seharusnya membuka toko kue saja," kata Daihan tersenyum, kue ini benar-benar enak.


"Wah, ide bagus," kata Nakesha tersenyum sambil menaruh beberapa alat dapur yang kotor di westafel.


"Mari sini aku bantu?" kata Diahan mebuka jasnya, meletakkannya di kursi, lalu berjalan menuju Nakesha sambil membuka kancing tangan kemeja hitamnya, dia mengulungnya naik hingga sebatas lengan, Nakesha hanya mengerutkan dahi.


"Kakak mau apa?" kata Nakesha yang terpaku melihat Daihan mulai mengambil alat dapur yang kotor itu, membuka keran dan mulai mencucinya. Nakesha hanya diam saja, terpaku, tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Daihan, seorang Tuan yang kaya raya ini, mencuci piring?.


Daihan tersenyum manis melirik Nakesha yang hanya diam di sebelahnya, membuat Nakesha langsung memalingkan wajahnya,bingung harus melakukan apalagi, jadi dia hanya mengelap westafel yang satunya lagi dengan asal, Daihan berdiri percis di sebelahnya, bahkan bahu Nakesha beberapa kali bersentuhan dengan lengan Daihan, wangi tubuh Daihan yang menenangkan tercium oleh Nakesha,Ah, kalau begini terus, bisa-bisa pertahanannya jebol juga, curang sekali, pikir Nakesha. Daihan menyerahkan alat yang sudah di cucinya pada Nakesha.


"Kau yang tahu di mana tempatnya," kata Daihan tersenyum, bisakah jangan tersenyum begitu manis? pikir Nakesha yang melihat itu.


"Oh, ya baiklah," kata Nakesha mengambil piring dan mangkuk yang di sodorkan oleh Daihan. Mereka lalu menyelesaikannya dengan cepat.


"Wah akhirnya, terima kasih kak, aku bisa menyelesaikannya dengan cepat, aku tak menyangka seorang bos sepeti ini bisa juga mencuci piring," kata Nakesha mengoda Daihan.


"Kau mengejekku ya? aku membantumu agar kita bisa cepat makan es krim," kata Daihan sambil mengelap tangannya dengan serbet yang di sediakan.


Belum Nakesha menjawab, suara bel pintu terdengar.


"Itu pasti mereka," kata Nakesha, dia dengan riang menuju ke kulkas, Daihan melihat itu hanya memperhatikan. Nakesha mengambil 1 botol susu,meletakkanya ke meja, lalu setelahnya menuju ke pintu utama.


Dia langsung membukanya, melihat seorang anak laki-laki berumur 7 tahun dan satu lagi anak perempuan imut berumur 5 tahun, masih mengunakan saragam dan tas sekolah mereka.


"Selamat datang Rafi dan Sasa," kata Nakesha senang.


"Selamat siang kak Kesha," kata mereka serempak.


Daihan segera bergabung dengan mereka, kedua anak itu memperhatikan Daihan.


"Oh, ini Kak Daihan, Kak, ini Rafi, dan adiknya Sasa," kata Nakesha.


"Salam kenal Kak Daihan," kata mereka serempak.


"Salam kenal," kata Daihan dengan senyuman manis.


"Ayo masuk, kakak sudah siapkan susu di meja, yuk!" kata Nakesha dengan terampil mengambil tas mereka, mereka berlari ke meja makan, seolah sudah terbiasa ada di sana, Daihan kembali memperhatikan Nakesha yang dengan sabar menuangkan susu mereka ke gelas, mereka tampak kegirangan, melihat pemandangan ini, Daihan teringat Archie, pasti Nakesha akan bisa merawatnya dengan baik, dia yakin itu, karena itu dia jadi tersenyum.