Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
132



Angga baru saja terbangun, ternyata tanpa dia sadari dia ketiduran. Saat dia membuka mata, Bella tidak ada di ranjangnya, melihat itu dia langsung berdiri, terlihat cemas.


"Bella? " kata Angga sedikit keras


"Ya? " kata Bella membuka sedikit pintu kamar mandi. Angga melihat itu langsung menurunkan bahu dan membuang napasnya tanda dia lega, dia tidak bisa lagi kehilangan Bella.


"Ada apa? " kata Bella melihat Angga yang tampak cemas.


"Kenapa tidak membangunkanku? " kata Angga melihat Bella yang hanya kepalanya yang keluar dari kamar mandi itu.


"Kau tidur dengan sangat lelap, aku tidak tega membangunkanmu. " kata Bella lembut


"Sedang apa? "


"Mandi. "


"Mau mandi bersama? " kata Angga tersenyum sedikit nakal. Mendengar itu wajah Bella langsung memerah, dia ingat kejadian tadi siang.


"Tidak. " kata Bella menutup pintunya.


Angga yang melihat reaksi Bella hanya tersenyum senang, merasa lucu dengan kelakuan Bella.


" Tuan, permisi. " suara Asisten Jang terdengar berbarengan dengan ketukan pintu.


"Ya? masuk lah. " kata Angga.


Pintu terbuka, dan Asisten Jang langsung masuk mendekati Angga.


"Ada apa? " kata Angga


"Saya ingin memberitahukan ada Tuan Jofan di IGD Tuan. " Kata Asisten Jang


"IGD? Siapa yang sakit? " kata Angga lagi


"Seorang wanita, saya belum tahu pastinya yang ada di sana? " kata Asisten Jang lagi


"Wanita? " kata Angga sedikit mengerutkan dahinya.


"Ya. "


"Pergilah, mungkin Jofan membutuhkanmu. " kata Bella kembali mengeluarkan kepalanya.


"Masuk! " Perintah Angga sedikit keras dan tegas, dia tidak suka Asisten Jang melihat Bella di dalam kamar mandi itu. Bella yang di perlakukan seperti itu hanya terlihat manyun dan segera masuk ke dalam kamar mandi lagi, Asisten Jang hanya mengaruk2 hidungnya, tak sengaja melihat bahu putiu Bella.


" Aku akan pergi sebentar, Judy akan menemanimu. " kata Angga lagi setelah Bella kembali munutup pintunya.


"Baiklah, hati-hati. "kata Bella dari dalam kamar mandi.


Angga segera keluar, melihat Judy yang membawa makan malam untuk Bella.


" Jaga Nona, di sini penuh dengan pasukan, jadi kalian tidak perlu takut. "kata Angga serius.


"Baik Tuan. "kata Judy.


Angga melanjutkankan perjalanannya menuju ke IGD, dia bertanya siapa wanita yang sekrang bersama Jofan, kalau Jofan kembali dengan sifatnya yang suka main-main itu, bisa jadi boomerang bagi mereka, pikir Angga


Jofan menunggu dengan cemas di daerah IGD, kadang dia duduk, kadang dia berdiri dan berjalan menyusuri lorong itu. dia tidak sadar dia sanat cemas, padahal sebelumnya tak pernah seperti itu.


"Siapa yang kau bawa ke sini? " kata Angga melihat seluruh lorong itu di jaga oleh tentara yang menjaga Jofan.


"Eh, ya, wanita yang kita selamatkan waktu itu. " kata Jofan menatap Angga, tidak mungkin mengatakan namanya di sini. Angga yang mendapatkan tatapan itu segera mengerti.


"Bagaimana keadaanya? " kata Angga


"Dokter masih menanganinya, aku menemukan dia pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah. "


"Aku rasa efek lukanya masih ada, bukannya lukanya saat itu sangat parah?"


"Yah. Aku tidak tahu hati pria itu terbuat dari apa, hingga bisa melakukan ini pada seorang wanita. " kata Jofan geram, ada amarah terpancar dari matanya, Angga yang melihat itu sedikit terkejut dan heran, Jofan tak pernah seperti ini.


"Kita tunggu saja. " kata Angga seperti biasa dingin


"Bagaimana keadaan Bella?"


"Maaf, menganggu kesenagan kalian tadi. "kata Jofan sedikit tertawa mengoda Angga, akhirnya dia bisa tertawa juga.


"Sekali lagi kau menyinggungnya, akan ku bekap kau. " kata Angga kesal


"lagi pula dia masih sakit, jangan terlalu terburu-buru bro, seperti tidak pernah melakukannya saja. " kata Jofan tertawa kecil


"Kami belum pernah melakukannya. "kata Angga tenang, dingin, serius, hanya menatap ke arah depan, dan melipat tangannya, tanda dia sedang memasang pertahannya.


"Kau bercanda? "kata Jofan tak percaya berbulan-bulan bersama, masa belum pernah melakukannya?


"Menurutmu? "kata Angga lagi menatap Jofan dengan lirikkan tajam.


"Jangan bilang seumur hidupmu, kau belum pernah melakukannya. "kata Jofan, tidak mungkin ada pria 27 tahun hidup sendiri, bebas, punya kekuasaan, wanita manapun bisa di dapatkannya, tidak pernah melakukan itu.


Angga hanya membuang pandangannya, wajahnya sangat dingin dan serius, Jofan langsung tahu jawabannya. Jofan langsung geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil


"Jadi kau dan Mika melakukan apa saja selama 5 tahun? Aduh, pantas saja dia mencari kehangatan yang lain, wanita juga butuh belaian, dan aku juga! memangnya tak pernah punya hasrat begituan, ah? apa jangan-jangan ada kelainan padamu?." kata Jofan


"Aku akan benar-benar membekapmu kalau kau melanjutkannya. "kata Angga dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.


"Haha, easy bro, tapi benar, kau harus mulai mencobanya. "


"Aku tidak sepertimu yang bisa melakukannya dengan sembarang gadis. " kata Angga lagi


"Fine, kalau begitu lakukanlah dengan Bella, dia wanita yang kau sukai kan, kalau tidak ingin terlalu terbuka, nikahi dia saja, itu akan lebih baik, untuk apa menunggu lama-lama, yang ada Aksa akan kembali mengambilnya. Lagi pula Bella wanita dewasa, dia juga pasti menginginkannya, kecuali kalian sama-sama punya kelainan. " kata Jofan setengah becanda namun setengah lagi serius.


Angga mengigit bibirnya, benar juga, kenapa tak mengajak Bella menikah? Toh dengan begitu Bella akan menjadi miliknya seutuhnya, Daihan dan Aksa tak akan bisa lagi merebut Bella.


Dokter keluar dari ruangan IGD itu, melihat itu Jofan langsung menghampirinya dengan cepat, Angga melihat itu hanya menatapnya heran, Angga tahu Jofan orang yang sangat-sangat santai, dia pintar, namun untuk urusan wanita, dia selalu meyepelekannya, tapi kenapa sekarang?


"Bagaimana keadaanya? " kata Jofan tergesa-gesa.


"Nona? maaf kami belum tahu namanya? " kata dokter itu.


"Iva, namanya Iva. " kata Jofan


"Oh, ya, keadaan Nona Iva cukup serius, lukanya memang menyembuh di luar, tapi di dalam, keadaannya belum stabil. Terlihat sepertinya dia kelelahan sebelumnya. "kata dokter itu.


"Ya, dia tinggal sendiri, pasti sangat kelelahan. "kata Jofan memandang ke segela arah, memikirkan kemungkinannya.


"Ya, jadi saya sarankan untuk membiarkannya istirahat, mungkin 2 atau 3 hari keadaannya akan lebih stabil. "kata dokter.


"Baiklah. terima kasih dokter. "kata Jofan lagi.


"Dia tidak mungkin bisa ada di sini, tempat ini tempat umum, walaupun sekarang dia berubah, tetap saja tidak aman baginya di sini. "kata Angga lagi


"Benar. Aku akan memindahkannya perawatannya ke rumahku, bisa kau mengaturnya. "kata Jofan


"Akan aku lakukan segera. "kata Angga


"Baiklah. terima kasih. "kata Jofan masih terlihat cemas


"Ada apa dengamu? "kata Angga


"Ha? Kenapa? "kata Jofan yang masih terlihat memikirkan banyak hal


Angga menekuk dahinya, selama ini dia tahu Jofan orang yang selalu fokus, sekarang kenapa jadi seperti ini?


"Jagalah dia. "kata Angga lagi


"Baik. " kata Jofan.


Tak lama Sania keluar sambil di dorong beberapa perawat. Jofan mengikutinya dari belakang, Angga memanggil Asisten Jang,


"Urus semua yang di perlukannya dan Jofan. Laporkan padaku segera. "kata Angga


"Baik Tuan. " kata Asisten Jang yang langsung pergi mengikuti Jofan


Angga yang melihat kepergian mereka tak lama mengikuti mereka, kembali ke ruang rawat Bella.