
Pagi ini Bella terbangun, seperti biasa meraba tempat tidur Angga, tidak biasanya pria itu masih ada di sampingnya, Bella lalu membuka matanya sebelah, menemukan sosok tampan itu menatapnya, bukannya jam segini dia selalu sudah berkeringat di halaman belakang. Tapi hari ini pria itu masih dengan wajah bangun tidurnya yang tampak mempesona.
"Selamat pagi Nyonya Xavier, baru bangun?" kata Angga mencolek hidung istrinya.
"Ya ... tumben tidak berolah raga? " kata Bella lagi.
"Sedang tidak ingin, " kata Angga singkat.
"Oh, " kata Bella sedikit merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Hari ini aku harus bertemu dengan klien nanti malam … " kata Angga perlahan.
"Aku ikut ya, "kata Bella semangat.
"Tidak bisa, aku harus pergi ke sana sendiri, lagi pula itu akan menjadi makan malam yang membosankan, " kata Angga langsung melarang Bella.
"Yah, baiklah," kata Bella sedikit kecewa.
"Jika aku lama, jangan menunggu, makan dan tidurlah, aku akan pulang secepatnya,"kata Angga lagi lembut sambil memindahkan rambut-rambut Bella yang jatuh di wajahnya.
"Baiklah, "kata Bella lagi, merasa momen ini begitu indah, dia tidak ingin Angga pergi dari sana.
Namun tak lama Angga bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi, Bella dengan malas turun dan mengambil baju kerja suaminya, setelah selesai Angga segera bersiap-siap, Bella pun juga bersiap, mereka turun, sarapan dan Angga segera pergi.
Sebelum pergi sebuah ciuman hangat mendarat di dahi Bella, dia tersenyum manis sebelum masuk ke dalam mobilnya, tak biasa pria itu membuka jendela dan melambai padanya, Bella mengerutkan dahi
Setelah mobil Angga keluar dari rumahnya, Bella tetap merasa ada yang tidak beres, namun dia mencoba menepisnya, mungkin hanya perasaannya saja, dia lalu melakukan semuanya seperti biasa.
----***----
Malam ini malam yang cerah, bahkan awan malu menutupi bintang-bintang yang bertaburan di atas langit, cahaya rembulan saja sudah cukup terang menerangi sekitar bumi yang indah, Angga duduk di mobilnya dengan gugup, sebuah alat komunikasi sudah di pasang di dalam tubuhnya, rompi anti peluru dan perlengkapan semuanya sudah siap, dia kembali melihat jamnya, 7.45 malam, dan sebentar lagi dia akan sampai di tempat itu.
"Semua tentara sudah di siapkan, kami sedang mengamati semua gedung yang ada di sekitar restuaran itu, area di sana juga sudah kami bereskan," kata Jendral Indra dari alat telekomunikasi yang terpasang di telinga Angga.
"Baiklah, " kata Angga.
"Tenang saja, kau tidak akan kenapa-kenapa, " kata Jofan lagi dari sana, padahal dari suaranya dia sediri cemas, Angga memang akan di lindungi sebisa mungkin, namun setiap kemungkinan pasti ada.
Handphone Angga bergetar di sampingnya, dia melihat ke arah layarnya, itu telepon dari Judy, biasanya jika begini, Bella lah yang meneleponnya.
"Hallo? " kata Angga.
"Hallo? Sedang apa?" kata Bella
"Aku sedang menuju ke pertemuan bisnis, Ada apa?"
"Eh, langit di sini sangat cerah, sayang kau tidak ada di sini, aku ingin bilang cepatlah pulang,"kata Bella lagi terdengar manja, Angga sedikit tersenyum sambil mengigit bibirnya.
Jofan yang bisa mendengar pembicaraan Angga merasa sedikit miris, bagaimana jika …
"Aku sebentar lagi akan sampai, jangan terlalu banyak nonton film horor, tidur lah jika sudah mengantuk, jaga dirimu baik-baik ya," kata Angga lembut.
"Baiklah, aku menyayangimu," kata Bella tersenyum di sana sambil melihat langit bertabur bintang dari balkon kamarnya.
"Ya, aku juga," kata Angga.
Angga langsung mematikan Handphonenya, menarik napas panjang, mobil Angga memasuki jalan yang menuju ke Restoran Golden dragon yang terletak di jalan suatu daerah pinggiran di kota itu, restauran yang megah dengan arsitektur modern yang tampak cukup menjadi treadmark kota ini, 3 mobil mereka segera masuk ke dalam halaman restauran itu, 4 penjaga keluar dari mobil pertama, 4 lagi dari mobil yang ada di belakang mobil Angga, sedangkan dari mobil Angga, supir dan 1 penjaga keluar.
Asisten Jang yang menemani Angga di sebelahnya juga keluar, Asisten Jang juga sudah di persiapkan untuk hal ini, mereka juga serempak mengunakan pakaian yang sama dengan Angga, sedikit berusaha membingungkan para penembak jika mereka tidak terlalu teliti, Angga menarik napas panjang, pintunya di bukakan oleh Asisten Jang yang tampak gugup, Angga langsung keluar dari mobilnya. Dia melangkah, semua orang berkumpul di sekitarnya, seolah tidak memberikan jarak, dia segera disambut oleh orang yang ingin di temuinya.
Ketua operasi pengamanan ini mengamati dari jauh setiap gedung yang mungkin, dia melihat ke arah semua gedung dengan matanya yang awas, dia lalu melihat pergerakan mencurigakan dari salah satu gedung di sana.
"Gedung A7, rooftop, bergerak. "katanya pada alat komunikasi.
"Siap Ketua! "Jawab panggilan itu.
Mereka segera berjalan menuju yang di perintahkan oleh ketua mereka, perlahan-lahan mencoba untuk menyergap, mereka sedikit mengitip dan bisa melihat target, dengan sekali tendangan pintu itu terbuka, membuat orang yang ada di sana kaget, dia langsung mengangkat tangannya, menjatuhkan pistolnya, mereka segera mengamankannya.
Di gedung lain, penembak jitu A sudah bersiap, begitu Angga keluar dia akan melepaskan tembakannya, namun saat Angga keluar, dia langsung di kerumuni oleh penjaganya, menjaganya di setiap sudut.
"Sial, penjagaannya ketat, "kata salah satu penembak jitu A, mencoba membidik Angga namun karena terkerumuni orang-orang, dia tidak bisa membidiknya dengan baik.
"Jika ada kesempatan lepaskan saja, "kata suara yang ada di sana, penembak jitu B.
"Mereka sudah memakan umpan kita, Aku rasa rencana ini memang sudah bocor," kata penembak jitu A lagi tersenyum sinis.
"Kita harus cepat, mereka pasukan khusus, tak mungkin begitu mudah tertipu, "kata jawaban dari penembak jitu yang lain.
Tak lama, penembak jitu A mendengar suara langkah kaki yang gemuruh di sana.
"Aku ketahuan," kata penembak jitu A, segera melepaskan senapannya, dia segera melihat kesekelilingnya.
"Keluar dari sana, biar aku yang ambil alih," kata penembak jitu B.
Penembak jitu A itu segera bangkit, dia lalu membuka jendela, melihat kemungkinan dia turun dari sana, menemukan sebuah tiang yang bisa dia gunakan turun, dia lalu loncat dan mulai menuruni lantai 7 gedung itu.
"Target melarikan diri, arah jam 2 dengan pipa pembuangan, sergap dari bawah, "kata Ketua itu melihat dari teropongnya, mencoba mengendalikan suasana, perhatiannya kembali mengawasi, takut ini hanya sebuah pengalihan.
Penembak jitu B langsung membidik Angga, dia yakin lokasinya pun sudah di ketahui, apa lagi dia melihat temannya sudah terkepung, dia segera berkonsentrasi, posisinya sudah sangat rentan, dia membidik tepat ke leher Angga, dengan menahan napas, melepaskan tembakan secepatnya. Timah panas itu melaju dengan cepat, memotong angin lurus sesuai bidikannya.
JUB…
Suara timah panas itu halus saat menembus daging, suasana di sana seketika riuh, tampak panik dan tampak penuh dengan kengerian, darah berhambur, semua orang langsung mencoba melindungi, sebagian lagi mencoba meletakkkan tubuhnya ke lantai, memberikan pertolongan dasar.