Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
124



"Akan ku bantu mengeringkan rambutmu, setelah ini makan lah, agar kau bisa beristirahat." kata Angga lagi mengambil hair dryer yang ada di meja itu.


"Aku bisa sendiri, ini sudah malam, pulang lah. Setelah ini aku ingin tidur, biar aku tidur sendiri malam ini. " kata Bella mengambil hair dryer dari tangan Angga, merampas tepatnya.


Angga merasa Bella menolaknya, dan ada perasaan di mana Bella mengusirnya. Kenapa dengan Bella?, Angga mengerutkan dahinya.


"Kau marah padaku? " kata Angga


"Untuk apa aku marah? Itu hanya perasaanmu.1" kata Bella bahkan tidak memperhatikan Angga.


Angga menaikkan sedikit sudut bibirnya, dia tahu benar Bella sedang marah padanya. Jadi dia hanya memperhatikan tingkah Bella dari belakang.


Karena rambutnya cukup pendek, kegiatan mengeringkan rambut itu cepat selesai, Bella juga tidak terlalu mengeringkannya dengan baik. Dia lalu melihat kaca, ada darah segar merembes keluar dari perban di dahinya, sepertinya lukanya terbuka lagi.


Dia mencoba membukanya perlahan, Angga yang ada di belakangnya memperhatikan dengan lebih seksama, ingin secepatnya membantu Bella.


"Judy! " kata Bella memanggil Judy. Namun Judy tidak menyaut, mungkin Angga menyuruhnya untuk keluar, Bella mengigit bibirnya, sedikit takut melihat lukanya sendiri.


"Kemarilah, aku akan membantu mu, tidak bisa menganti perbannya sendiri." kata Angga dengan halus, seolah-olah tahu apa salahnya.


Angga mengerti perasaan Bella saat ini, wanita ini pasti sedang sangat marah karena Angga mengabaikannya dari tadi siang, Angga juga akan sangat marah jika Bella melakukan hal yang sama padanya. Tapi Angga tak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Bella.


Bella menatap Angga, wajah pria ini sayu, matanya menatapnya dengan tatapan lembut, namun rasa hati Bella masih belum juga membaik. Karena itu dia cepat-cepat menurutkan padangannya. Tak ingin lagi terbui oleh tatapan itu, tatapan palsu, karena di hati Angga hanya ada Mika. Bella menahan dirinya untuk tidak menangis, karena itu dia hanya mengepalkan tangannya.


Angga membersihkan luka Bella perlahan, menatap wajah putih wanita yang sekarang ada di hatinya, dia menutup luka itu dengan kassa dan plaster, setelah itu dia kembali menatap Bella, Bella yang dari tadi menunduk, merasa Angga sudah selesai menganti perbannya, juga melihat mata Angga.


Menatap mata hitamnya yang seluas dan semisterius orangnya, tak berdasar dan susah di tebak, dan hal itu membuat Bella menjadi bertambah muak.


"Aku minta maaf. Tidak menepati janjiku menemanimu hari ini." kata Angga


"Untuk apa minta maaf, toh kau tidak melakukan apapun." kata Bella berdiri, bagaimana Angga hanya berpikir Bella marah karena dia tidak menemaninya hari ini, kalau hanya karena itu Bella tak mungkin semarah ini dan sesakit ini, saat Bella ingin melangkah pergi, tangannya dengan cepat di tarik oleh Angga.


"Dengarkan dulu penjelasanku." kata Angga memelas.


"Tidak ada yang harus aku dengarkan, aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu, aku sudah cukup tahu, aku sudah melihat semuanya." kata Bella menatap Angga dengan tatapan suram, tatapan Bella itu membuat hati Angga nyeri.


"Apa yang kau lihat?" kata Angga. Bella menatap tangan Angga dengan perban berwarna merah tua, darahnya sudah mulai menghitam, itu sudah cukup sebagai pengingat Bella untuk tidak mudah percaya lagi.


"Aku melihat semuanya, dan aku rasa aku lebih percaya apa yang aku lihat dari pada yang aku dengar darimu nanti." kata Bella lagi.


"Bella, Mika sudah ada di hidupku dari aku kecil, selain wanita yang aku sukai, dia juga sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri. Jadi aku tak bisa menahan emosiku ketika mengetahui apa yang terjadi, aku hanya ingin tahu kebenarannya, aku mencari Daihan untuk mendapatkan penjelasan darinya." kata Angga langsung, dia tahu Bella tidak bisa lagi menerima penjelasan apapun lagi.


Dia pernah jatuh cinta, pernah pula di kecewakan, di duakan di depan matanya sendiri, mencoba menyatukan hatinya yang hancur, mencoba menerima lagi akan datangnya cinta, namun sialnya, dia kembali lagi seperti ini.


"Pergilah, aku mohon, aku ingin tidur, aku benar-benar lelah hari ini, pulang lah. Aku rasa kita butuh waktu untuk tidak berjumpa sekarang." kata Bella


"Aku tidak akan meninggalkanmu, terakhir kali aku meninggalkanmu, aku hampir kehilangan mu." kata Angga tegas, wajahnya suram, sorot matanya meredup, jauh dari binar biasa yang selalu mempesona.


"Kenapa kau harus selalu memaksa, kau selalu memaksa apapun yang kau inginkan, apa kau masih belum sadar, semua ini karena dirimu, kalau kau tidak selalu memaksa keinginanmu, apa mungkin Mika akan seperti ini? apa mungkin aku seperti ini? kau tak tahu sakitnya bagaimana, kau yang memaksaku untuk menjadi wanitamu, mencoba menerima cinta kembali, tapi apa? kau bahkan tidak tahu sakitnya bagaimana, siang tadi, kau bilang kau ingin Mika masih ada di sini, sekarang kau bilang kau tidak ingin meninggalkanku lagi. apa itu semuanya?" kata Bella sudah tidak tahan lagi menahan semua gejolak di hatinya, rasanya dia sudah ingin meledak saja. bahkan air mata yang di tahannya dari tadi tidak bisa lagi dibendungnya, rasa panas yang membakar sekarang benar-benar sudah membakar emosinya.


Angga terdiam, dia hanya melihat tangis Bella yang berderai, dia hanya bisa mengigit bibirnya, kata-kata Bella terngiang di pikirannya, benarkah ini semua salahnya? .


"Aku benar-benar lelah, aku ingin tidur, keluarlah." kata Bella memelas. Mendengar nada suara Bella yang begitu memohon, walaupun tak ingin, dia segera meninggalkan Bella.


Bella yang melihat Angga keluar, langsung ambruk ke lantai, pedih sekali, bahkan rasanya sangat pedih, padahal saat keluar dari kamar mandi tadi dia tidak ingin menangis lagi, tapi ternyata dia harus kembali menangis.


Angga keluar dari ruangan Bella, wajahnya benar-benar suram, tangannya mengepal, dia tidak tahu harus apa lagi, rasanya hari ini benar-benar menguras seluruh emosinya, dia bahkan belum tidur dengan benar beberapa hari ini, dia ingin masuk lagi, namun takut Bella kembali menolaknya, dan membuatnya lepas kontrol.


"Jofan, di mana kau sekarang?" kata Angga menelepon Jofan.


"Aku masih di markas, ada apa lagi?" kata Jofan yang kepalanya mulai pusing karena hal-hal yang terjadi hari ini.


"Bisakah aku menginap di kamar yang ada di sebelah kamar Bella? "


"Tidak ingin menginap di Mess ku saja? di sana rumah sakit, peralatannya juga hanya seadaanya. Hanya ruangan Bella yang peralatannya lumayan, yang lain sangat tak layak." kata Jofan yang tahu bagaimana standar dari Angga selama ini.


"Tidak, aku hanya ingin tidur di samping kamar Bella."


"Baiklah, apa kalian bertengkar?"


"Ya."


"Hah, aku sudah tahu pasti begitu, Bella tadi menangis saat melihatmu memukul tiang itu, apa lagi kau katakan jika Daihan menolong Mika, Mika pasti masih ada di sini, aku yakin dia sangat terpukul mendengar itu. " kata Jofan baru ingat soal yang di lihatnya tadi siang.


Angga terhenti, terdiam beberapa saat, pantas saja Bella begitu marah, wanita itu pasti merasakan sangat sakit.


"Kenapa ku tidak mengatakan padaku tentang ini secepatny?!" kata Angga tak percaya Jofan tidak memberitahunya.


"Easy Bro, dengan semua ini, aku tak bisa berpikir dengan baik. Rayulah dia, aku yakin dia akan mengerti." kata Jofan


Angga marah, dia memutuskan panggilan teleponnya, Bella bukan wanita yang gampang untuk dirayu. Sekarang bisa-bisa Bella tak akan pernah lagi mempercayainya. Kepala Angga bertambah berat, ah! bingung harus melakukan apa.