Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
62



Maafkan aku dengan segala egoku, maafkan aku yang mengikuti emosiku, setelah banyak yang aku lalui, ternyata tangismu lah yang paling tidak aku sukai...


____________________________________________


Mereka lalu duduk berkumpul semuanya di dek belakang, Andrew memang menyiapkan banyak sekali kembang api, kembang api itu menyala begitu indah di atas mereka, terus menerus, mewarnai langit hitam malam itu, sinarnya terpantul indah di laut yang begitu tenang. Bella menatapnya sangat kagum, baru kali ini dia melihat kembang api begitu indah.


Angga yang berdiri tak jauh dari Bella tak menatap sedikitpun pada kembang api itu, hanya menatap pada wajah Bella yang di sinari oleh kembang api, sangat cantik.


Angga meneguk bir yang di berikan oleh Andrew, andrew tampak melucu di depan para pegawai di sana, membuat mereka terpingkal-pingkal, bakan Bella pun tertawa karenanya, Andrew memang pria yang lucu.  Saat ini dia mencoba untuk bermain sulap, dia lalu mencari relawan, ada beberapa yang mengacungkan tangannya, tapi dia malah mendatangi Bella.


"Bos, pinjam Nona sebentar ya,"kata Andrew yang belum tahu nama sebenarnya Bella. Angga mengangkat birnya, tanda setuju, Bella yang melihat tingkah Andrew dari tadi terlihat geli melihatnya, Bella di bawa ke tengah, tiba-tiba entah bagaimana dari tangan Andrew keluar sebatang bunga mawar, bagi yang sudah biasa melihatnya akan mengatakan sulap itu adalah sulap murahan, tapi bagi Bella yang baru melihat hal itu, dia sangat kagum, dia sampai benar-benar kelihatan kaget hingga bertepuk tangan , ekspresi Bella yang sangat polos itu membuat Angga tertawa.


Setelah itu Bella duduk di samping Judy, melihat dengan seksama sambil bertanya bagaimana Andrew bisa mengeluarkan barang-barang aneh dari tangannya. Tak berapa lama, Bella merasakan sesuatu yang bergetar di kantong gaunnya, dia melihat handphonenya, ada deretan angka, dia ingat itu adalah nomor Daihan.


Dia melihat kesekeliling, Angga sepertinya tidak memperhatikannya, dia lalu pergi dari sana, sedikit menjauh, tidak mungkin mengangkat telepon Daihan dengan tepuk tangan dan tawa mereka, Bella berjalan di sisi kapal.


" Halo? " kata Bella menjawab panggilan Daihan.


"Halo? Selamat tahun baru,"kata Daihan, suaranya sudah lebih terdengar ceria.


"Belum kak, sebentar lagi,"kata Bella tersenyum mendengar suara Daihan.


"Ya, tidak apa-apa aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakannya,"kata Daihan terdengar terawa.


"Baiklah, kakak memang menjadi orang pertama, "kata Bella menyusuri deck itu.


"Haha, senang mendengarnya, Kau sedang di mana? " kata Daihan.


"Sedang berlayar di laut yang biasa Mika datangi jika tahun baru,"kata Bella antusias menjelaskan.


Daihan di sana terdiam sesaat…


"Apa kau menyukainya? "kata Daihan lagi.


"Iya, aku suka, ternyata laut tak seburuk di pikiranku, "kata Bella lagi tersenyum


"Apa saja yang kau lakukan disana,"Kata Daihan tersenyum


"Aku snorkling, ternyata kalau di dalam laut sangat tenang, di dalamnya sangat indah, banyak ikan yang berwarna warni, kakak lain kali kau harus ikut untuk melihatnya,"kata Bella senang sekali menjelaskannya, dia berjalan, dan saat dia berputar melihat kebelakang, Angga berdiri dengan tegak di sana, Bella terdiam, kenapa tiba-tiba Angga ada disana, saking kagetnya Bella melihat Angga di sana, dia tidak mendengar lagi apa yang di katakan Daihan, padahal handphonenya masih ada di telinganya.


Tatapan Angga sangat tajam dan liar, matanya yang hitam kelam itu seperti lautan sekarang, luas dan tak berujung namun juga kelam, matanya tampak sedikit merah, sepertinya dia menahan emosinya, Angga dengan kasar mengambil handphone Bella, dan segera melemparkannya jauh ke lautan.


Blep, suara handphone Bella jatuh ke air laut, Bella yang mendapatkan perlakuan itu sangat kaget, apa yang di lakukan Angga? kenapa handphonenya malah di buang?


" Apa yang kau lakukan? "kata Bella melihat handphonenya yang sudah tak terlihat, dia masih benar-benar kaget.


Angga tak menjawab, hanya menatap Bella dengan matanya yang memerah, mencoba menahan dirinya agar tidak meledak di depan Bella, karena tadi dia minum beberapa botol bir, dia jadi sedikit terkuasai oleh alkhol itu, tidak dapat berpikir jernih, Bella begitu kelihatan panik.


" Kau ini, memangnya apa yang kau pikirkan? Melakukan hal semau hatimu! "kata Bella tampak sangat marah pada Angga.


"Kenapa? kan kau yang mengatakan aku boleh berhubugan dengannya dulu, "


"Sekarang tidak lagi,"kata Angga menatap tajam pada Bella.


"Kau memang pria yang kejam, aku tidak suka padamu! "kata Bella yang kesal sekali, hingga dia berteriak.


"Lalu siapa yang kau suka? Daihan? "kata Angga dingin. Sebenarnya dia tak mau mendengar jawaban Bella.


" Itu bukan urusanmu aku suka siapa? Kita semua ini Cuma pura-pura, aku memang perlu bantuanmu, tapi bukan berarti kau bisa bertindak sesukamu seperti itu,"kata Bella lagi.


"Aku akan membelikan yang baru,"kata Angga yang mulai tidak enak karena terlalu emosi dia tidak berpikir jernih, apa lagi dia sudah minum bir cukup banyak, jadi dia benar-benar tidak bisa berpikir rasioanal.


" Kau pikir semuanya bisa di beli dengan uang, dasar laki-laki tidak punya perasaan,"


" Kau! Kau ini sekarang adalah wanitaku, kau tidak boleh dekat dengan pria lain,apa kau tidak tahu itu?! "kata Angga yang tidak lagi bisa menahan dirinya untuk marah, suaranya keras dan berat, dia memegang lengan Bella dengan erat, membuat Bella merasa kesakitan.


"Aku bukan Mika, aku Bella, aku bukan wanitamu, Mika lah wanitamu! Aku bebas memilih dengan siapa aku dekat!” kata Bella dengan mata memerah, dia sekarang benar-benar marah.


Mendengar itu perkataan Bella itu, Angga benar-benar tidak suka, rasanya emosinya sudah sampai ubun-ubun, bagaimana Bella bisa bilang dia bebas untu memilih pria lain, Bella itu miliknya, dan tidak ada yang boleh memilikinya, itu saja yang terngiang di kepalanya.


Angga menarik tubuh Bella mendekat ke arahnya, dengan kasar tangannya menekan belakang kepala Bella, mengarahkan bibir Bella pada bibirnya, Bella yang dapat perlakuan itu tentu kaget, matanya sampai terbelalak, Angga menekan bibirnya pada bibir Bella begitu keras, seolah ingin menguhukum Bella karena sudah mengatakan hal yang dia tidak suka.


Bella berontak, namun tenaga Angga bergitu besar, sama sekali tidak terasa bagi Angga, setelah merasa cukup puas menyalurkan rasa emosinya pada bibir Bella, dia melepaskannya, menatap wajah Bella yang tampak kesal, juga terlihat sedih, ada air mata yang tampak mengumpul di sudut matanya, namun mungkin karena pengaruh bir yang di minumnya tadi, Angga malah menghempaskan tubuh belakang, hingga tubuh Bella bersandar ke dinding kapal itu, tidak terlalu keras, namun  membuat Bella terpojok, dia meletakkan satu tangannya bertumpu pada dinding yang tepat di samping kepala Bella, menatap Bella bagai binatang buas yang sangat kelaparan, dan Bella ada buruannya, Bella ketakutan melihat tatapan Angga itu, Angga benar-benar sudah terkuasai oleh emosinya.


" Katakan sekali lagi kau bukan wanitaku, "kata Angga dengan suara berat dan serak, bau bir menyeruak dari tubuh Angga, Bella tahu pria ini pasti mabuk.


Bella yang baru saja ingin membuka mulutnya untuk mengatakan bahwa Angga sedang mabuk, langsung terbungkam, saat bibir Angga kembali menutup bibirnya, karena tadi dia sedang membuka sedikit mulutnya, Angga sepertinya tidak mau melewatkan kesempatan itu, dia memainkan lidahnya liar pada mulut Bella menyapu semuanya.


Bau bir yang kuat terasa pada Bella, menusuk hidungnya, dia pasti tahu Angga melakakuan ini karena emosi dan mabuk, bahkan sekarang Bella merasa sangat susah bernapas, karena Angga menyedot semua napasnya, tangan Angga yang lain menyusup di sela-sela rambut Bella, tak mengijinkan sedikitpun Bella untuk bergerak agar tak menganggunya, Angga benar-benar menciumnya dengan ganas.


Bella belum pernah di cium  siapapun, bahkan dulu Aksa tak pernah menciumnya, namun kenapa sekarang pada ciuman pertamanya, dia malah di paksa begini, air matanya berkumpul di sudut bibirnya, dia tak tahu karena sedih ciuman pertamanya hilang, atau karena Angga melakukannya karena emosi.


Suara kembang api yang meledak tepat di atas kepala mereka membuat Angga sadar apa yang di lakukannya, dia sudah terlalu memaksa Bella, dia melepaskan ciumannya perlahan, menatap Bella yang tampak sedih, dia jadi merasa bersalah, salah satu kekurangannya memang adalah tidak bisa mengontrol emosinya. Saat penuh kesadaran saja dia susah mengontrolnya, apa lagi saat sedikit mabuk begini.


Wajah Bella memerah, tidak tahu menahan marah atau apa, bibirnya sedikit bengkak karena sedotan kencang dari Angga tadi, di antara cahaya kembang api yang berwarna warni itu, Angga hanya bisa menatap wajah Bella yang sedih.


" Selamat tahun baru bos! " kata Andrew yang akhirnya menemukan Angga dan Bella, karena itu Angga dan Bella terallihkan, menatap Andrew yang tampak sungkan sudah menganggu mereka.


"Maaf, lanjutkanlah,"kata Andrew yang berpikir Angga dan Bella sedang bermesraan, dia langsung nyelonong pergi.


Karena Andrew juga Bella langsung melepaskan diri, namun Angga langsung menarik tangannya, membuat Bella tak bisa pergi.


" Maafkan aku,"kata Angga


"Aku tidak akan memaafkanmu, Aku bukan Mika, kau tidak hak untuk sembarangan melakukan itu padaku, mungkin karena ini lah Mika meninggalkanmu! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!  "kata Bella ketus, tampak menahan tangisnya, menatap Angga dengan tatapan marah dan mata memerah, dia menghempaskan tangan Angga, Angga hanya terdiam mendengar kata-kata Bella, bagian ‘Aku tidak akan memaafkanmu’ lebih menusuk dari pada sisa kata-kata yang lain.