
Tak lama mobil Vallfire milik Angga datang, Judy langsung melaporkan keadaan itu pada Angga. Angga hanya mengangguk, lalu melihat Dorland dan Bella, mereka segera menuju ke mobil itu, tentu saja Angga berjalan duluan.
Angga duduk di tempat duduknya, Dorland memilih untuk duduk di belakang bersama Judy, sedangkan Bella duduk di samping Angga. Mobil berjalan, pemandangan kota malam hari lebih indah dari pada tadi siang, namun Bella sudah mulai bisa mengontrol dirinya untuk tidak terlalu tampak antusias, lampu-lampu gedung dan jalanan begitu indah, lebih indah dari pada yang dia lihat dari atas gedung waktu di rumah sakit.
Ternyata benar-benar banyak yang telah dia lewatkan selama ini, Jalanan tampak basah tersapu air hujan, rintik-tintik air hujan masih tampak, sangat halus bahkan seperti salju yang jatuh menimpa air, lampu jalan yang berwarna kuning menambah sendu suasana, tiba-tiba saja perasaan Bella seperti lebih mellow terbawa oleh suasana, di dalam juga hening, bahkan Dorland tidak lagi berbicara.
Bella tersenyum tipis, dia memikirkan hidupnya, sepanjang hidupnya dia tak pernah boleh melakukan apa yang dia kehendaki, semuanya di atur, bahkan ternyata setelah dia lepas dari belengu kerjaan itu, dia tetap harus hidup menjadi orang lain, apa memang Bella di lahirkan untuk menjadi orang lain?.
Angga diam-diam menatap Bella, sorot lampu jalan yang menimpa wajah Bella menyentuh perasaanya yang terdalam, dia memperhatikan Bella yang berbeda dengan tadi siang, rambutnya, penampilannya membuka kenangan Angga terhadap Mika, membuat lukanya yang awalnya sudah mulai mengering, sepertinya kembali berdarah, merebakkan rasa pedih di dalam dadanya.
" Mika, " kata Angga tanpa sadar, pelan, sangat pelan, hanya untuk menyalurkan rasa sedihnya.
Bella mendenger itu, melihat kearah Angga yang menatapnya dengan muram, Angga tampak sedikit kaget, namun segera mengalihkan pandangannya. Bella balik menatap Angga yang tampak diam menatap ke arah depan, wajahnya datar dan dingin, tapi di matanya terpancar kesuraman, kekosongan, kerinduan yang menjadi satu.
Pria ini? Apakah benar-benar mencintai Mika, atau benar kata Dorland bahwa dia merasa bersalah?.
Tak lama mereka sampai ke sebuah gedung yang sangat tinggi, tempatnya tampak unik seperti sebuah jarum yang berdiri tegak dengan gemerlap lampu, mobil langsung masuk ke basement khusus dan langsung parkir disana, begitu mobil terparkir, supir langsung membukakan pintu untuk Angga. Dengan wajah dinginnya dia segera keluar, Judy langsung mengikutinya, tinggalah Dorland dan Bella di sana.
" My Princess, jangan begitu muram, tersenyumlah, kau harus tersenyum agar telihat seperti Mika, " kata Dorland tersenyum aneh, membuat Bella yang menatap sedikit merasa geli.
" Baiklah, " kata Bella tersenyum.
Pintu di sebelah Bella terbuka, dia lalu turun, yah…benar? Jika di luar sini, dia bukan lagi Bella, tidak peduli seberapa kelam hidupnya, seberapa sakit dia menjalaninya, setiap dia menginjakkan kakinya di luar, dia sekarang adalah Mika. Gadis ceria, dengan hidup yang sangat berbeda dengan Bella, dan dia harus bisa menjalaninya, Bella mengenakan kembali kacamatanya tapi tidak dengan maskernya.
Angga yang menunggunya menatap kearah Bella, dia terdiam, melihat wanita yang berjalan kearahnya dengan begitu percaya dirinya, bukannya tadi di sana dia terlihat sangat muram, namun bisa langsung begitu berubah ketika sudah ada di luar. Angga merasa sedikit heran namun juga ada perasaan tidak enak di hatinya, sepertinya ada yang tidak benar di diri Bella, namun dia hanya diam saja.
Mereka segera naik ke lantai 27, pintu lift terbuka, dan terlihat dua orang wanita yang langsung menyambut mereka, Judy ternyata sudah memberitahukan mereka bahwa Angga datang, sehingga mereka sudah menunggunya.
" Selamat malam Tuan Angga dan Nona Mika, ruangan Anda sudah siap, " kata seorang pria dengan pakaian begitu rapi mendatangi Angga, di jas hitamnya tertulis Manager.
" Terima Kasih, " kata Bella dengan sangat lembut, wajahnya terus menyunggingkan senyum manis, membuat siapapun yang melihatnya menjadi terpana.
Angga tak merespon seperti biasanya, hanya berjalan menuju ke ruangan yang sudah di sediakan. Restauran itu bergaya sangat fancy, seluruh pemandangan kota itu dapat terlihat dari sana, dan seluruh tempat duduk di sana sudah terisi penuh. Tempat itu berbentuk bundar, dan tempat itu bisa berputar sehingga kita benar-benar diberi seluruh pemandangan kota. Bella memperhatikan Dorland yang bergaya dan berjalan layaknya model, dia jadi tertawa kecil melihat gaya Dorland, Dorland yang melihat tawa kecil Bella ikut tertawa, dia merasa berhasil membuat Bella tertawa.
Angga mungkin tak sadar, namun di manapun dia berada, dia selalu jadi pusat perhatian semua orang. Di restauran ini juga, dia berjalan dengan begitu angkuhnya, membuat semua mata melihat ke arahnya, ada yang berbisik-bisik sambil melihatnya. Bella memperhatikan itu, namun Angga selalu tak peduli.
Pintu ruangan khusus itu di buka kan oleh Manager itu, Angga masuk duluan, Dorland selanjutnya, Dorland langsung terkagum-kagum melihat ruangan itu.
" Wah! Memang beda kalo kita makan dengan pemiliknya, langsung dapat the best view begini, " kata Dorland dengan sangat senang.
Bella memasuki ruangan itu, melihat Angga sudah duduk di tempatnya, Dorland masih heboh berswafoto di dekat kaca dengan pemandangan kota, terlihat air mancur simbol kota itu dari sana, juga taman yang dengan indahnya memancarkan lampu berwarna-warni, sebenarnya Bella begitu kagum dengan pemandangan itu, tapi melihat Angga yang sudah duduk memesan makanannya, Bella langsung duduk di depannya.
" Duduklah di sampingku, Mika selalu begitu, " kata Angga tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu itu.
" Owh, baiklah " kata Bella lagi. Dia lalu pindah duduk di samping Angga.