Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
58



Kita sama-sama pernah patah hati, pernah kacau dalam menjalani kisah cinta yang mati, jadi apa menurutmu kita bisa bersama menjalin hati? mana tahu kita bisa saling mengerti, menghargai, dan mencintai.


____________________________________________


Bella begitu semangat untuk liburan pertamanya, dia sudah menyiapkan semuanya tentu dengan bantuan Judy karena dia juga baru pertama kali pergi ke pantai ini.


Hari masih gelap ketika mobil mereka meluncur, Bella terus tersenyum, dia sudah membayangkan liburannya akan seperti yang dia tonton di video-video dan di TV.  Asisten Jang dan Judy ikut dalam liburan ini, mereka tetap bekerja melayani seluruh keperluan Angga dan Bella, yah, bekerja sekaligus berlibur.


Mobil mereka lalu berbelok menuju ke bandara, Bella lalu memasang wajah herannya, dia bingung, bukannya mereka akan pergi berlayar ke laut, tapi kenapa malah ke bandara? Masa kapalnya ada di bandara? Pikir Bella.


"Kenapa kita ke bandara? " tanya Bella pada Angga yang diam saja. Tapi Angga tak menjawabnya, tak lama mobil mereka berhenti di parkiran khusus, Angga segera keluar begitu  Asisten Jang membukakan pintu, Bella pun keluar ketika pintunya di buka oleh Judy.


Bella masih bingung hanya mengikuti Angga yang sudah berjalan duluan, dia lalu bertanya pada Judy.


"Kenapa kita ke bandara? Bukannya kita akan ke laut? "


" Laut favorit Nona Mika ada di luar negeri Nona, kalau ingin ke sana memang harus mengunakan pesawat," kata Judy menerangkan, Bella tampak mengangguk mengerti, wajahnya cukup kaget.


"Selamat pagi Tuan, Jet pribadi Anda sudah siap," kata seorang pria dengan baju yang rapi seperti menunjukkan jalan.


"Mm," kata Angga menjawab pria itu lalu mengikuti arahan pria itu.


Bella sedikit terkejut, wah, ternyata liburan mereka ini akan jadi liburan mewah, perginya saja naik jet pribadi, dan nanti mereka akan berlayar dengan kapal pesiar pribadi, wah, Bella tidak tidak bisa membayangkan dia akan berlibur seperti ini.


Mereka langsung di arahkan menju jet pribadi milik Angga yang sudah terparkir khusus di sana, Angga segera masuk ke dalam jetnya, dan duduk di salah satu sofa yang ada di sana, Bella yang baru pertama kali naik jet cukup kaget dengan keadaan di dalam jet itu, jet itu bahkan sangat mewah, interiornya bagaikan sebuah rumah, lantainya berlapis kapet, sofa-sofa yang tampak empuk berbalur kulit berkualitas berjajar, tampak juga beberapa televisi di sana, Bella hingga tercengang melihatnya.


Bella duduk di salah satu sofanya, cukup jauh dari Angga yang walaupun katanya libur tetap sibuk dengan laptopnya, dia tampak sedang berbicara serius dengan  Asisten Jang.


Beberapa pramugari sudah siap melayani mereka, kapten memberitahu mereka akan siap landas, mereka segera mengambil posisi lepas landas, Judy membantu Bella untuk mengetahuinya, kerena ini adalah penerbangan pertamanya, namun setelah di atas, Angga segera kembali ke posisinya di sofa yang lain tampak berbicara serius dengan  Asisten Jang kembali. Beberapa pramugari siap melayani Angga berdiri di dekatnya.


Bella tidak tahu dia harus apa, karena itu dia hanya duduk saja di sofa yang ada di sana. Seorang pramugari mendekatinya.


"Nona, jika Anda ingin beristirahat, saya bisa membawa Anda ke kamar tidur Anda,"kata pramugari itu begitu ramah.


Bella mendengarnya sedikit terkejut, pesawat ini punya kamar tidur?, Bella lalu mengangguk dengan cepat, dia penasaran bagaimana kamar tidur di pesawat itu, dan ternyata sama mewahnya dengan interior yang lain, sebuah ranjang cukup besar ada di sana, Bella bisa lupa jika ini semua ada dalam pesawat, bahkan ada kamar mandinya juga, Bella begitu terkesan. Angga memang bukan pria sembarangan, pikir Bella.


"Ingin istirahat? " tanya Angga yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar itu.


"Oh, tidak aku hanya ingin melihat-lihat,"kata Bella.


"Tidurlah, perjalan kita cukup panjang,  saat sudah sampai akan aku beritahu,"


"Ehm, baiklah kalau begitu,"kata Bella, Angga pergi dari sana, Bella melihat sekeliling sekali lagi, bagaimana bisa tidur jika dia saja masih begitu takjub dengan jet ini?.


Perjalan mereka tempuh memang cukup lama, sekitar 12 jam, dan setelah mendarat, mobil mewah sudah menunggu mereka, Angga dan Bella langsung masuk ke dalamnya, dan mereka mulai perjalanan mereka, tak lama mereka sampai di dermaga, mobil itu langsung terparkir dan Bella bisa melihat kapal pesiar pribadi milik Angga di sana, dia tidak menyangka melihat kapal pribadi yang tampak begitu besar.


Angga lalu masuk ke dalam kapalnya, Bella mengikutinya dengan perlahan, dalam satu hari dia ada di jet pribadi, lalu sekarang dia di kapal pesiar yang mewah, sama mewahnya dengan jetnya, kapal itu sungguh indah, punya dek khusus untuk bersantai, sebuah tempat sauna, kamarnya 10, tempat gym, bahkan ada landasan khusus untuk halicopternya, kali ini Bella benar-benar tercengang, dia sedang membayangkan perasaan Mika yang setiap tahun melakukan liburan seperti ini, pasti dia sudah biasa dengan semua ini, kalau hidupnya begitu mewah dan indah, kenapa dia harus bunuh diri ya?


Kapal itu mulai berjalan, karena mereka sedang berada di luar, kapal itu terasa lebih begoyang, Bella kehilangan keseimbangan, namun Angga dengan cepat memeluk pinggang kecil Bella, Bella yang di perlakukan seperti itu langsung terdiam.


"Karena baru jalan, akan bergoyang sedikit, sebentar lagi akan stabil,"kata Angga memberitahukan Bella yang baru pertama kali naik kapal seperti itu.


"Oh, baiklah,"kata Bella menutupi kegugupannya, setelah stabil, Angga melepaskan pinggang Bella.


Tiba-tiba handphonenya berbunyi, pesan dari Angga, dia mengerutkan dahinya, Angga tak pernah mengirimkan apapun padanya, menelepon pun tidak penah. Bella membukanya,


Keluarlah, matahari akan segera tengelam.


Pesan singkat itu membuat Bella tersenyum, dia lalu bersiap-siap, dan segera keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju ke arah deck depan kapal, di sana dia menangkap sosok Angga yang sedang menatap pemandangan, dan pemandangan itu sangat indah, rambutnya yang terbang tertiup angin, cahaya matahari yang keemasan yang menimpa membuat dia bersinar, wajahnya yang terpahat sempurna, benar-benar membuat siapapun terpana, dan pemandangan itu membuat jantung Bella tak tenang.


Angga lalu melihat ke arah Bella, dia lalu menaikkan sedikit sudut bibirnya, seperti menyambut Bella.


"Kemarilah, "kata Angga, Bella lalu mendekat, berdiri di samping Angga, angin yang berhembus, menerbangkan wangi tubuh Angga yang khas, Bella menyukainya, dia menghirupnya dalam-dalam, rasanya bagaikan sinar pertama matahari yang menyentuh rerumputan yang basah karena embun di pagi hari, benar-benar menyegarkan. Bella tersenyum.


" Di sini spot terbaik untuk melihat matahari terbenam, "kata Angga melihat pemandangan yang menakjubkan di depannya, tapi bagi Bella, Angga lah pemandangan menakjubkan itu.


Langit sore itu benar-benar indah, biru, putih dan jingga bersatu indah dengan laut yang mulai menggelap, matahari tampak malu-malu untuk segera terbenam, tertelan ujung lautan. warna jingganya menyebar, di pantulkan oleh permukaan laut yang bergelombang, semua pemandangan itu membuat hati tentram, Angga tampak sangat menikmati pemandangan itu, seolah benar-benar puas dengan pertunjukan yang di berikan oleh alam, dia tersenyum, menunjukkan lesung pipinya yang manis, Bella tak bisa berhenti memperhatikannya.


"Sudah lama sekali rasanya,"kata Angga masih menatap jauh, walaupun matahari hanya meninggalkan sedikit warna keemasan dan jingganya. Bella tidak berniat bertanya.


"Aku dan Mika selalu menikmati matahari terbenam seperti ini, tak terasa sudah 2 tahun tidak melihat pemandangan ini, dan rasanya masih sama, begitu indah," kata Angga tersenyum puas, matanya tampak menerawang jauh, wajah Mika yang manis itu terlintas di pikirannya, sudah lama dia tidak mendengar suara tawanya, memandang wajahnya yang tersenyum, wajah kesalnya, tiba-tiba perasaan Angga menjadi sendu, merindu itu memang menyakitkan.


Bella  mengulum senyumnya mendengar nama Mika, hatinya langsung tak enak, tak tahu apa namanya, namun dia merasa tak nyaman dengan perasaannya, padahal tadi dia sedang begitu senangnya melihat Angga, mungkin ini yang di sebut cemburu, tapi apa haknya untuk cemburu, dia hanya penganti.


Bella melemparkan pandangannya jauh ke air yang beriak di laut lepas itu, laut gelap itu membangkitkan kenangan menyedihkan di otaknya, di air gelap ini lah dulu dia di dorong, dia memperhatikan air yang ada di bawahnya, tampak kengerian di matanya, dia masih bisa merasakan cekikan dan sesaknya, membuat Bella mundur beberapa langkah, dia jadi kesusahan untuk bernapas.


Angga melihat itu menatap Bella, dia melihat Bella tampak begitu ketakutan, dia tampak panik dan juga kesulitan bernapas, Angga langsung tahu kalau trauma Bella akan laut malam itu bangkit, dia segera mendekatinya.


"Kau tidak apa-apa? Bernapaslah dengan teratur, coba tenang, tarik napas yang dalam, lalu keluarkan perlahan,"kata Angga mencoba menenangkan Bella.


"Aku mera…sa…se…sak,"kata Bella terbata-bata, Angga lalu memeluk tubuh Bella yang terlihat gemetaran, dia memeluknya dengan sangat lembut, tak ingin membuat Bella tambah sesak, Bella masih tak menyadari bahwa dia sudah di dalam pelukan Angga, masih merasa gemetar dan takut.


"Sudah, tidak apa-apa, kau aman, aku di sini, jangan takut ya," kata Angga begitu lembut berbisik pada Bella, Angga mengelus kepala Bella perlahan-lahan, sangat lembut untuk menenangkannya.


Hangat tubuh Angga perlahan menjalar pada tubuh Bella, lembut perlakuannya pada Bella membuat Bella sedikit demi sedikit menjadi tenang, deg…deg…deg… Bella dapat mendengar suara jantung Angga yang bagaikan irama yang menenangkan.


Mereka berpelukan cukup lama, hanya berpelukan, diam-diam Angga pun menikmati memeluk tubuh Bella, mencium wangi mawar yang lembut masuk ke dalam hidungnya, tak di sangka, wangi itu membuatnya ketagihan.


Cukup lama, Bella baru sadar apa yang terjadi, dia baru sadar ada dalam dekapan Angga, dengan seketika dia jadi kaget, karena itu dia langsung melepaskan diri dari pelukan Angga. Angga yang mendapat perlakuan itu sedikit kaget dengan reaksi Bella.


"Ehm… terima kasih sudah menenangkan ku,"kata Bella tampak sungkan.


"Oh, iya tidak apa-apa, "kata Angga pun baru sadar apa yang dia lakukan, mereka sama-sama tampak salah tingkah.


"Kita masuk, anginnya mulai kencang,"kata Angga lagi.


"Ya, aku lapar,"kata Bella mencari alasan.


"Ya, mari makan malam,"kata Angga lagi.


Angga dan Bella seolah bingung apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, padahal mereka tinggal masuk aja ke dalam, Bella lalu memulai langkah, Angga berjalan di belakangnya.


Mereka masuk, di meja makan yang ada di sana, sudah tersedia makan yang cukup banyak untuk mereka, lalu mereka makan dengan tenang,