
Kau secantik bunga camelia putih, merekah dan tampak ceria, warnanya pun melambang kesucian, semua itu ada dalam dirimu.
____________________________________________
"Gaga! Aku merindukanmu!" kata Bella menghambur ke teddy bear besar di kamarnya, dia baru saja sampai di rumah. Dia memeluknya dengan sangat erat, Angga yang memperhatikan itu hanya mengerutkan dahinya.
"Maafkan aku ya, sudah meninggalkanmu sendiri di sini." kata Bella begitu manja pada teddy bearnya.
"Tuan, di mana Anda akan tidur, saya akan meletakkan semua barang-barang Anda." kata Asisten Jang pada Angga, Bella yang mendengar itu langsung melihat ke arah Angga.
"Kau akan tinggal di sini?" kata Bella tak percaya.
"Ya, aku akan menginap di sini malam ini, lagi pula kau yang memilih ingin pulang ke apartemen kan?" kata Angga lagi.
"Ya, tapi aku tidak tahu kau akan menginap."
"Aku akan tidur di mana kau tidur." Kata Angga dengan wajah datarnya sambil melihat handphonenya.
Mendengar itu, wajah Bella bersemu merah, ada pikiran aneh di dalam pikirannya, Angga mau tidur bersamanya?.
"Kau ingin tidur bersama ku? "kata Bella pada Angga. Angga yang mendengar itu langsung menatap Bella dengan wajah berkerut, dia lalu mendekati Bella dengan gayanya yang dingin, memandang Bella dengan tajam.
"Apa maksudmu?" kata Angga memasukkan handphone ke sakunya. Menatap Bella seolah mengintrogasinya.
"Ya, tapi tadi kau bilang kau akan tidur di mana aku tidur. Itu artinya… kau mau tidur bersamaku?" kata Bella hati-hati mengatakannya agar Angga tidak salah paham.
"Kau mengundangku tidur denganmu." kata Angga lagi.
"Bukan.. bukan begitu, duh kenapa malah jadi begini?" kata Bella jadi salah tingkah sendiri karena ulahnya.
"Aku bilang aku akan tidur di mana kau tidur, maksudku jika kau tidur di apartemen aku juga akan tidur di situ, pikiranmu tak sepolos yang aku kira ternyata." Kata Angga lagi sedikit tersenyum sambil kembali menyentil dahi Bella.
Bella mendengar penjelasan Angga jadi malu sendiri, entah kenapa dia malah berpikir yang aneh-aneh, mungkin karena masih rindu dengan sosok Angga.
"Baiklah, bersihkan dirimu, sudah hampir malam, aku juga ingin bersih-bersih." Kata Angga lagi pergi begitu saja sambil kembali sibuk dengan handphonenya.
Bella yang melihat Angga pergi begitu saja sedikit mayun, apa tidak ada cara lebih manis untuk berpisah? Pikir Bella yang sekarang sangat tergantung dengan Angga.
Bella lalu masuk ke kamar mandinya, segera membersihkan dirinya, karena di rumah sakit dia tidak bisa mandi dengan nyaman, dia lalu menumpahkan hobi berendamnya di rumah, menikmati air hangat yang rasanya menentramkan seluruh tubuhnya. Tak di sangka karena terlalu menikmatinya dia malah sedikit ketiduran.
Tiba-tiba pintu kamar mandi di ketuk dari luar membuat Bella yang hampir benar-benar tertidur itu terbangun kaget.
"Hei, apa yang kau lakukan di dalam?" Suara Angga terdengar keras.
"Oh, aku tidak apa-apa." kata Bella menyautinya.
"Jangan buat orang cemas, keluarlah,"
"Aku akan keluar, tapi kau keluar dulu."
Bella mencoba untuk menunggu jawaban Angga, tapi tak ada jawaban sama sekali, apa dia sudah keluar? Pikir Bella. Kenapa dia malah tidak memberikan tanda sama sekali, pikirnya lagi, lalu Bella membuka pintu sedikit. Melihat ke arah dalam kamarnya, semua kosong, dia lalu membuka pintunya dengan lebar, segera mengunci pintunya, takut Angga akan datang lagi.
Setelah mengunakan baju yang cukup santai, dia lalu keluar dan menemukan Angga sedang duduk di ruang tengah dengan baju santainya, kali ini dia benar-benar telihat sangat santai, bahkan rambutnya yang biasa dia rapikan hanya di biarkan terjutai-juntai ke bawah, menyetuh kulit wajahnya.
Saat Bella sampai di sana pun, Angga tidak bergeming dengan posisinya, masih sibuk dengan laptop dan handphonenya yang sepertinya saling bertautan.
"Kau tidak makan?" kata Bella lagi.
"Sudah makan saat kau mandi tadi." Kata Angga seadanya, seolah pertanyaan-pertanyaan Bella itu hanya mengganggunya.
"Ok, aku akan makan." kata Bella berdiri dan mulai ingin berjalan menuju meja makan, namun baru saja dia ingin keluar dari ruang tengah itu, bel apartemennya berbunyi. Bella sedikit penarasan? Siapa malam-malam ini datang ke apartemennya, lagi pula siapa yang tahu dia sudah pulang?.
Bella lalu mengubah langkahnya menuju ruang tamu, ingin melihat siapa yang datang. Judy ternyata sudah membukakan pintunya ketika Bella sampai di sana. Daihan berdiri dengan tampannya di ambang pintu.
" Hai." Kata Daihan melihat kehadiran Bella di ruang tamun itu.
"Kakak? " kata Bella sedikit mengecilkan suaranya, dia ingat ada Angga di dalam, bagaimana ini? pikirnya, dia tidak ingin membuat Daihan pergi dengan mengusirnya. Tapi kalau Angga tahu, yang ada jadi masalah.
" Aku mencarimu di rumah sakit, tapi mereka bilang kau sudah pulang, makanya aku ke mari, ini… " kata Daihan membawakan sebouquet bunga camelia putih untuk Bella. Bella menatapnya dengan senang.
"Wah, terima kasih kak, bunga yang indah." Kata Bella.
"Bunga itu artinya aku mengagumimu." Kata Daihan dengan senyum hangatnya yang merekah.
"Benarkah? aku baru tahu, bunga apa ini?" kata Bella berbinar melihat bouquet bunganya.
"Camelia." Kata Daihan menatap Bella dengan begitu penuh perasaan, Bella tidak memperhatikannya karena lebih tertarik dengan bunganya.
"Wah, namanya saja sudah sangat cantik, jika aku punya anak perempuan, aku akan memerikan namanya Camelia." Kata Bella basa basi.
"Dia akan secantik ibunya nanti." Kata Daihan lembut.
"Bukannya aku sudah menyuruhmu makan?" Suara Angga terdengar berat di belakang Bella. Bella yang mendengar suara itu saja bulu kuduknya langsung begidik ngeri.
Daihan melihat Angga dengan wajah datar. Bella sebenarnya tidak berani melihat wajah Angga yang sekarang percis ada di belakangnya, tapi mau tak mau dia harus melihat ke arah Angga. Angga menatapnya tajam, Bella langsung menunduk.
"Kakak, aku makan dulu ya." Kata Bella tidak melihat Daihan dan langsung pergi saja dari sana.
Daihan hanya menatap lurus pada Angga. Angga pun begitu, menatapnya dengan begitu tajam.
"Ada apa kau di sini?" kata Angga, nadanya tak ramah.
"Aku juga ingin bertanya yang sama." Kata Daihan.
Mereka kembali hanya saling bertatapan, seakan tatapan itu sudah cukup menyapaikan ketidaksukaan mereka berdua.
"Ehm… aku kesepian makan sendiri, ada yang ingin menemaniku? " kata Bella dengan tingkahnya ‘nongol’ di sana tiba-tiba.
"Aku akan menemanimu." Kata Daihan secepatnya, seolah tidak ingin di dahului Angga.
"Ini rumahku, aku yang berhak mengizinkan siapa yang masuk ruang makan." kata Angga yang tak mau kalah.
"Bisakah kalian berdua saja yang menemaniku." Kata Bella lagi.
"Baiklah." Kata Daihan lagi.
Angga mengerutkan dahi, kenapa dia selalu kalah cepat jika berbicara dengan Daihan, apa karena terbiasa tidak berbicara.