Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
37



Salahkah jika seseorang menjadi begitu pembenci jika orang yang dia cintai menyakitinya berkali-kali?


___________________________________________


Suara Sania cukup keras, membuat beberapa orang yang ada di sana pun melihat ke arahanya, Bella juga pura-pura kaget, dia melihat ke arah Sania dengan wajah heran, karena Sania terus menatapnya dengan tatapan kagetnya, Bella berpura-pura langsung melihat kanan kirinya, seolah mencari orang yang di panggil Sania tadi, dia terus memasang wajah herannya, lalu dia kembali berpura-pura membaca bukunya.


Sania terus memandang Bella, walaupun wajahnya sangat mirip, wanita di depan ini juga sangat berbeda, Bella bukan wanita dengan dandanan seperti itu , dia wanita yang selalu memakai gaun-gaun kunonya, bahkan gayanya sangat membosankan, tapi wanita ini, dia punya gaya yang modern, selain itu yang paling utama, dia tidak punya mata cacat seperti Bella. Tapi tetap saja, apa ada orang yang begitu mirip hingga seperti cermin seperti itu?.


Pelayan membawakan minuman untuk Bella, Bella lalu menyambutnya dengan senyuman yang begitu ceria, Sania memperhatikan itu, wanita ini juga sangat ceria, beda dengan Bella yang selalu terlihat suram, siapa sebenarnya dia?.


"Mika! OMG, aku tidak sangka bisa bertemu denganmu di sini!” kata Dorland yang tiba-tiba muncul di sana, Bella saja sampai kaget, namun sebisa mungkin tetap memainkan perannya seperti Mika, dia langsung tersenyum dengan hangat menyambut Dorland.


"Dorby, aku juga tidak menyangkanya," kata Bella, dia sekilas melihat ke arah Judy, Judy memberikan kode Ok, Bella tertawa, ternyata ulah Judy.


"Iya, nih… aku dengar kau baru saja pulang dari luar negeri kan?" kata Dorland lagi sambil duduk di samping Bella dengan gayanya yang biasa.


"Haha, iya, aku akan bawakan oleh-oleh untukmu nanti ya, " kata Bella lagi yang hanya mengikuti alur bicara Dorland


Sania yang dari tadi terus memperhatikan Bella mulai terlihat ragu, gadis ini memang terlihat begitu berbeda, tapi dia harus menunjukkan ini pada Aksa, dia lalu mengambil handphonenya lalu mencoba untuk memfoto Bella, namun baru saja dia ingin melihat hasil fotonya, tiba-tiba handphonenya langsung di ambil penjaga Bella.


" Hei, kembalikan! Itu handphoneku!” kata Sania yang kaget handphonenya di ambil oleh penjaga Bella, karena keributan itu semua perhatian langsung jatuh ke Sania.


" Anda tidak boleh mengambil foto Nona Mika secara diam-diam, " kata Penjaga yang bertubuh kekar dan suara beratnya, membuat siapapun tidak ingin berurusan dengan mereka.


" Apa maksudmu! Kembalikan! Atau aku akan melaporkan kalian!  " kata Sania terlihat kesal dan panik


" Ada apa ini?  " kata Bella yang ternyata sudah ada di belakang penjaganya. Sania tambah gugup melihat wajah Bella yang sekarang begitu dekat dengannya, berbeda namun sama.


" Nona, Nona ini mengambil foto Anda secara diam-diam, " kata salah satu penjaga,  penjaga itu memberikan handphone Sania pada Bella, Bella lalu melihat ke arah handphone itu, memang benar ada fotonya, Bella lalu melihat kearah Sania yang benar-benar terlihat kesal, menatapnya dengan tajam.


" Benarkah? Nona, kenapa kau mengambil fotoku?  " kata Bella dengan wajah heran, seolah bingung dengan apa yang di lakukan oleh Sania.


" Kau! Kau Bella kan?  " kata Sania bergetar


" Bella? Maaf Nona, aku bukan Bella, namaku Mika, dan lain kali jangan mengambil foto siapapun diam-diam, " kata Bella mengatakan itu dengan sangat tenang sambil menghapus fotonya.


" Mana mungkin, kau begitu mirip dengannya, kau pasti Bella! Kau ingin membalas dendam padaku kan! " kata Sania bahkan hampir histeris membuat semua perhatian ke arahnya, semua orang memandang Sania dengan wajah heran.


" Hey, Nona, sudah di bilang dia bukan Bella, dia ini Mika, dari dia kecil namanya sudah Mika, " kata Dorland tampak juga begitu kesal pada Sania.


" Pastikan fotoku sudah tidak ada di handphonenya sama sekali, " kata Bella memberikan handphone Sania pada penjaganya, penjaga itu langsung memastikannya, setelah semua terhapus dia mengembalikannya pada Sania, Sania mengambilnya dengan begitu kesal.


" Maaf, ada apa ini?  " kata seorang Pria yang mendatangi mereka, di kemejanya tersemat tulisan Manager.


" Wanita ini membuat keonaran,  " kata Dorland lagi.


" Oh, Maaf, ternyata Nona Mika sedang berkunjung, maaf atas ketidakanyamanannya Nona, saya akan mengurusnya," kata Manager itu dengan sangat sopan pada Bella, membuat Sania heran, kenapa semua orang di sini mengenal wanita ini, siapa dia?


" Tidak apa-apa, " kata Bella tersenyum manis. Dia lalu berjalan meninggalkan Sania yang menatapnya sangat kesal, Dorland mengikutinya, penjaga pun pergi dari sana.


Sania yang di perlakukan seperti itu semakin kesal, dia mengambil tasnya dengan kasar, dia lalu berjalan keluar di kawal oleh manager café tersebut, di sepanjang perjalanan dia keluar, banyak orang yang menatapnya dengan aneh, membuatnya merasa sangat malu, sepertinya martabatnya sudah jatuh.


" Sudah, jangan mengikuti aku lagi!, " kata Sania setelah dia keluar dari café itu, melihat dengan kesal ke arah Bella yang tampak berbicang dengan Dorland, tertawa ceria.


" Baiklah Nona,  " kata Manager itu dengan sopan.


" Siapa dia?  " kata Bella lagi pada Manager itu.


" Anda tidak mengenalnya? Dia Nona Mika, kekasih pemilik seluruh gedung ini, " kata Manager itu lagi.


Sania mengerutkan dahinya, kekasih pemilik seluruh gedung ini? pantas saja semua orang mengenalnya.


" Sejak kapan kau mengenalnya?  " kata Sania lagi.


" Sejak saya bekerja di sini, kira-kira 5 tahun yang lalu,  " kata Mananger itu mengerutkan dahinya.


5 tahun yang lalu? Tidak, 5 tahun yang lalu, Bella masih terkurung di kastil itu, tidak mungkin manager ini mengenal Bella kalau Bella masih ada di pengunungan utara, pikir Sania.


" Baiklah Nona, saya kembali bekerja dulu, " kata Manager itu lagi.


Sania tidak menjawab, hanya kembali memperhatikan Bella yang ada di dalam, siapa dia sebenarnya? Begitu mirip, namun juga begitu asing.


Sania langsung memutuskan untuk pulang, dia berjalan menuju parkiran mobilnya, setelah masuk ke dalam mobil, dia memutuskan untuk menelepon Aksa. Dia harus memberitahukan ini pada Aksa, walaupun dia tahu Aksa tak mungkin mempercayainya.


" Halo?  " kata Aksa


" Halo, aku bertemu dengan orang yang mirip sekali dengan Bella,   " kata Sania dengan suara masih menahan emosinya, takut, cemas, kesal, malu jadi satu.


" Ehm… kau hanya salah lihat, " kata Aksa lagi yang tahu bahwa selama ini Sania cukup ketakutan setelah mereka membunuh Bella.


" Benar, dia sangat mirip, hanya tak punya mata yang berbeda,  " kata Bella lagi dengan nada kesal, Aksa tidak percaya padanya


" Kita sudah membunuhnya di laut, kita juga sudah menunggunya hingga pagi, dia sudah mati, " kata Aksa mencoba sabar menanggapi Sania yang terdengar panik


" Bagaimana kalau dia masih hidup dan ingin membalas dendamnya pada kita?  " kata Sania lagi


" Apa kau becanda, kalau pun dia masih hidup, dia tidak akan berani membalas dendam padaku, kau tahu aku siapa kan?  " kata Aksa tersenyum sinis, begitu percaya diri, siapa yang berani membalas dendam dengannya, dia seorang pangeran mahkota, bahkan pemerintahan saja bisa dia pengaruhi, bagaimana seorang Bella yang menyedihkan itu bisa balas dendam padanya.


" Baiklah, kalau begitu aku akan menemuimu nanti siang, " kata Sania lagi.


" Datanglah malam nanti, aku ada urusan yang harus aku lakukan siang ini, " kata Aksa dengan senyum percaya dirinya.


" Urusan apa? Apa kau ingin makan siang dengan wanita lain?  " kata Sania yang tahu sifat Aksa.


" Itu bukan urusanmu, kau bukan istriku, tidak bisa melarangku,  " kata Aksa lagi, dia lalu memutuskan panggilan teleponnya. Sania kesal, dia lalu membuang handphonenya ke kursi sebalahnya, dia memukul stir mobilnya dengan keras, seakan hari ini adalah hari terburuknya, dia dipermalukan dan sekarang Aksa malah begitu padanya.