
Jofan mendapat kabar Daihan sudah ada di luar gerbang markas militer, dia langsung menyuruh orang untuk menjemputnya, Jofan langsung berdiri, segera berjalan keluar dari kantor Jendral Indra, 2 orang tentara setia mengikutinya dari belakang. Dia menunggu Daihan di depan rumah sakit militer. Tak lama Daihan sampai di sana.
"Terima kasih sudah menyuruh orang datang menjemputku." kata Daihan menatap Jofan. Tidak ada senyuman hangat yang biasa menghiasi wajahnya, hanya ada kecemasan.
"Tidak masalah. Dia ada di ruang 112, aku akan mengantarmu." kata Jofan.
"Baiklah." kata Daihan.
"Kau sekarang terlalu sibuk ya? Aku sudah jarang melihatmu di sini." kata Jofan mengeluarkan sifat aslinya.
"Ya, keluargaku membuka cabang baru di luar negeri, jadi aku harus terus pergi ke sana." kata Daihan sedikit tersenyum.
"Aku tahu kau dan Angga adalah teman dari kecil, tapi aku ingin tahu, apa hubungannmu dengan Bella?" kata Jofan menatap Daihan serius, karna di pikirannya sudah muncul sebuah spekulasi.
"Aku menyukainya." kata Daihan to the point.
Mendengar itu Jofan terhenti sejenak. Daihan terlambat untuk berhenti, jadi dia berhenti sedikit di depan Jofan.
"Kau serius?" kata Jofan kaget. Padahal dia juga sudah memikirkan itu, Jofan sebenarnya lebih mengenal Daihan sebelum mengenal Angga, dia tahu Daihan bukanlah orang yang sembarangan menyukai seseorang wanita, bahkan selama ini dia tidak pernah menyukai wanita mana pun, Jofan juga tahu bagaimana Mika begitu menyukai Daihan, namun tidak sedikit pun Daihan tergoda padanya, Jofan juga tahu, bahwa bagi Daihan, Angga sudah seperti keluarganya, dari kecil dia mengalah pada Angga, tapi bagaimana ini bisa terjadi?.
"Daihan, kau tahu Bella adalah wanita Angga? " kata Jofan menatap Daihan dengan wajah suram, sekalinya menyukai seseorang, kenapa harus menyukai wanita sahabatnya sendiri, pikir Jofan.
"Apakah mereka sudah bersama?" kata Daihan balik bertanya.
"Aku rasa iya, Bella dan Angga begitu dekat, aku rasa Angga benar-benar menyukainya, dia bahkan tidak bisa duduk tenang semalam, dia bahkan melukai dirinya sendiri karna tidak bisa menyelamatkan Bella." kata Jofan serius.
Daihan terdiam mendengarkan penjelasan Jofan, dia mengigit bibir dalamnya, seperti susah menerima apa yang di katakan oleh Jofan.
"Aku rasa kau harus merelakannya." kata Jofan lagi, karena dia tahu, Daihan pasti akan terluka, bagaimana pun Bella juga menyukai Angga.
"Seandainya semudah itu melakukannya. Aku hanya ingin bertemu dengannya." kata Daihan tersenyum kecut, cinta pertamanya ternyata berakhir pahit.
"Baiklah. Ayo!" kata Jofan.
Mereka kembali berjalan, Daihan tampak suram, dia tidak bisa merelakan Bella dengan Angga, bagaimana pun dia sudah benar-benar jatuh hati pada wanita itu. Jofan juga tampak memutar otak, bagaimana bisa cinta segitiga ini bisa bisa terjadi? Untung saja dia sudah membatasi dirinya untuk tidak terlalu kagum dengan Bella, kalau tidak, bisa-bisa cinta ini menjadi cinta segi 4. Memikirkannya saja Jofan sudah pusing.
Pandangan Jofan tiba-tiba terpaut dengan hal lain, membuat langkahnya yang tegas itu sedikit melambat, dia melihat seorang wanita yang sedang berjalan tak jauh dari mereka, di kawal oleh beberapa tentara yang membantunya pindah, wanita itu tampak berjalan lambat dan sedikit terpincang, melihat itu Jofan jadi tersenyum sendiri.
" Ada apa? " kata Daihan
"Tidak apa-apa, itu kamarnya di sana." kata Jofan lagi.
Jofan lalu segera mengetuk pintu kamar Bella, tak lama Asisten Jang membukakan pintunya, Jofan memberikan gestrus agar pengikutnya menunggu di luar, dia lalu masuk di ikuti oleh Daihan di belakangnya.
Angga langsung melirik, melihat siapa yang datang, begitu melihat Jofan dan Daihan datang, Angga langsung berdiri, dia segera berjalan ke arah Jofan dan Daihan.
"Di mana Bella? " kata Daihan tak kalah dinginnya dari Angga.
"Kami sudah bersama, dia sudah menerimaku, aku rasa kau tahu artinya itu. " kata Angga lagi
Daihan tak menjawab, kesuraman di matanya bertambah, hatinya sakit mendengarkan perkataan Angga, namun begitu dia belum mau mempercayainya, kecuali Bella sendiri yang mengatakan bahwa dia menyukai Angga.
Angga dan Daihan hanya saling menatap dengan tajam dan sinis, Jofan pun hanya bisa terdiam menatap mereka, bingung harus memilih siapa, keduanya teman dekat, keduanya juga sahabat, jadi dia pilih untuk diam saja.
Akhirnya Bella bisa merasakan tubuhnya kembali segar, luka-lukanya sudah dia tutupi dengan celana panjang longgar yang di bawa oleh Judy, dia menata sedikit rambutnya, memakai lipstick tipis, dan juga memakai wewangian, dia tidak mau Angga melihatnya jelek, walaupun dia sedang sakit.
Saat Judy membukakan pintu, Bella langsung melangkahkan kakiknya keluar, saat melihat keadaan, dia langsung sedikit kaget, 3 pria tampan sedang berdiri tak jauh darinya, dan mereka serempak melihat kearah Bella dangan tajam.
Semerbak wangi parfum yang di pakai Bella tercium keluar, Angga memperhatikan Bella yang tampak jauh lebih segar, Daihan pun memperhatikan Bella, tapi yang jadi fokusnya berbeda, melihat perban di dahinya, matanya yang tampak perdarahan di ujungnya membuat pandangan Daihan makin suram, wajahnya sangat cemas. Sedangkan Jofan, terpanah dengan kecantikan Bella sekaligus juga merasa, ini dia akar masalah kedua sahabat yang ada di depannya.
"Bella?" kata Daihan segera mendatangi Bella, dia melihat kembali Bella lekat-lekat, Bella yang kaget itu juga hanya memandangi Daihan.
"Kak Daihan, kapan datang?" kata Bella dengan senyuman manis.
Namun Daihan tidak membalas, dia malah memeluk Bella, Bella tentu kaget, hangat tubuh Daihan dan bau khasnya yang sangat memenangkan itu tercium oleh Bella, tapi Bella bukannya tenang, dia malah berpikir tentang Angga yang sekarang ada di belakang Daihan, apa yang akan terjadi nantinya?.
"Kenapa setiap kali aku menemuimu pasti kau selalu dalam keadaan tidak baik." kata Daihan lirih, mendengar itu Bella terdiam, dia bisa merasakan kekawatiran dan perasaan sedih yang tersalurkan dari pelukan Daihan dan suaranya yang lirih.
Namun Bella hanya diam, tak membalas pelukan Daihan, karna bagaimana pun ada Angga di sana, dan dia tidak ingin Daihan salah paham karena merasa Bella memberikan harapan padanya.
Angga yang melihat Daihan memeluk Bella tentu langsung ingin bertindak, namun tangannya langsung ditarik oleh Jofan.
" Apa yang kau lakukan?" kata Angga kesal bercampur marah melihat Jofan yang menghalangi langkahnya.
"Biarkan dia sebentar saja. Bella juga sudah memilihmu." kata Jofan, mencoba membiarkan Daihan untuk setidaknya punya kesempatan, jika pun nantinya Daihan harus melepaskan Bella,mungkin Daihan akan bisa lebih rela.
"Lepaskan aku atau ku hajar kau." kata Angga yang sudah terbakar api cemburu dan merasa Jofan mengkhianatinya. Jofan ingin bertahan, namun tidak mungkin, Angga bukan orang yang main-main jika berbicara, jika dia katakan akan menghajar orang , dia akan melakukannya tak peduli siapapun orangnya.
"Baiklah, tapi bicara yang baik, ini rumah sakit." kata Jofan melepaskan Angga, namun tetap mengingatkannya agar bisa tetap tenang.
Angga berjalan ke arah Daihan dan segera berhenti di depan Daihan, Daihan menatap Angga yang memandanganya penuh emosi, dia menarik tubuh Bella, karena Daihan hanya memeluknya dengan halus, Bella berhasil di tarik oleh Angga, Angga membawa Bella dalam pelukanya, Bella yang di perlakukan seperti itu jadi sedikit pusing.
"Kau tidak mengerti apa yang tadi aku katakan?" kata Angga begitu dingin menatap Daihan.
"Sudah-sudah ya, aku rasa Bella masih sakit, kalau kalian menari-narik tubuhnya seperti itu, aku rasa keadaanya makin parah. " kata Jofan lagi sekarang mencoba menengahi mereka.
Daihan dan Angga jadi mengalihkan pandangannya pada Jofan, Jofan yang di tatap begitu tajam malah jadi salah tingkah, masa dia salah sih mau menenangkan dua sahabat ini?, pikirnya.