
Mencintaimu dalam diam adalah sebuah kenikmatan, seberapa pun sakitnya nanti, aku akan bertahan.
____________________________________________
Angga baru pulang dari kantornya pukul 9 malam, dia lalu turun dari mobilnya, melihat Judy dan beberapa pelayan sudah menunggunya di sana, tidak terlihat Bella di sana. Angga segera membuka jasnya lalu menyerahkan jasnya pada salah satu pelayannya.
" Di mana Nona Mika? "kata Angga pada Judy.
" Nona tidak keluar dari kamarnya semenjak sampai di sini,"kata Judy.
" Benarkah? Jadi dia belum makan? " kata Angga dengan dahi berkerut
" Belum Tuan,"kata Judy.
" Ehm, apa yang sudah ku pesan, sudah di sediakan? "kata Angga lagi.
" Ya, sudah, Tuan,"kata Judy.
" Baiklah, kalian boleh istirahat," kata Angga.
Angga segera memasuki dalam rumahnya, biasanya dia selalu langsung menuju kamarnya, tapi kali ini dia berjalanan menuju ke kamar Bella, dia awalnya ingin mengetuk kamarnya, namun dia merasa kalau Bella sedang tidur, ketukan itu akan menganggunya, karena itu dia membuka pintunya dengan perlahan, lalu mengintip sedikit dari sana, benar saja, Bella masih tertidur dengan pulas, juga masih mengunakan baju yang di gunakannya tadi siang, melihat itu Angga segera memasuki kamar Bella, dia memperhatikan Bella, melihat wajahnya yang tampak begitu damai tertidur,
Dasar gadis bodoh, kenapa malah tertidur tanpa menganti baju terlebih dahulu? Pikir Angga.
Angga mensejajarkan dirinya agar bisa melihat wajah Bella dengan jelas, Angga lalu membenarkan rambut Bella yang jatuh pada pipi Bella, dia melakukannya dengan tersenyum manis membuat lesung pipinya itu terlihat, seketika mata Bella tiba-tiba terbuka, mungkin karena sentuhan tangan Angga yang sempat menyentuh pipinya, dan mata mereka langsung terpaut, Angga terkejut namun tidak menarik pandangannya, sedangkan Bella sepertinya belum terlalu sadar dengan apa yang di lihatnya, namun tidak berapa lama, dia baru sadar.
"Angga? "kata Bella kaget hingga terduduk, karena kaget dan langsung terduduk, kepalanya langsung pusing, Angga pun terlihat salah tingkah dan segera berdiri.
"Kenapa tidur begitu? " kata Angga salah tingkah.
"Ehm, aku juga tidak tahu, aku ketiduran, apa yang kau lakukan di sini? ,"kata Bella.
"Lain kali jangan tidur seperti itu,"kata Angga tidak menjawabnya karena dia bingung mencari alasan untuk Bella.
"Baiklah, kau sudah pulang? Jam berapa ini? "kata Bella
"Iya, aku baru pulang, ini sudah jam 9"
"Wah, sudah malam sekali"
"Iya, mandilah, aku juga ingin membersihkan diri dulu,"kata Angga segera berjalan keluar.
Bella menatap kepergian Angga, dia lalu menekuk wajahnya, dia baru ingat sebelum dia tertidur, dia sangat kesal dengan Angga, tapi tadi begitu membuka matanya, rasa kesal di hatinya bahkan tidak tersisa sedikitpun, kenapa hanya dengan melihat wajahnya saja membuat Bella langsung luluh? tidak bisa, tidak boleh, dia tidak boleh lagi terjebak, yang ada nanti dia akan sedih lagi dan kecewa lagi.
Tiba-tiba pintu di ketuk, Bella langsung melihat pintu itu, dengan wajah yang masih begitu kesal dia lalu membukanya, ingin memarahi siapapun yang menganggunya.
Namun amarahnya langsung turun melihat Angga berdiri di depan pintu itu dengan baju santainya, rambutnya yang biasa tertata tampak di biarkan jatuh natural, wajahnya yang tadi siang itu sangat tidak enak di lihat, terlihat lembut menatap Bella, dan Bella langsung terdiam melihatnya, seluruh amarah, kesalnya entah meluap kemana. Seketika hanya menatap wajah tampan Angga yang ada di depannya.
" Belum makan kan? Aku sudah menyuruh pelayan untuk memanasi makan untukmu, ayo makan, akan ku temani,"kata Angga datar namun terasa lebih lembut dari biasanya.
Bella tercengang, seolah tak percaya. Terus saja memandangi Angga dengan heran, sepertinya pria yang di depannya ini berubah 180 derajat dari tadi siang, apa jangan-jangan Angga ini berubah sesuai waktu siang dan malam, jika siang dia jadi iblis, sedangkan kalau malam dia berubah jadi malaikat, Bella menyipitkan matanya menatap Angga curiga, jangan-jangan dia ingin menyalurkan hobinya lagi, yaitu membuat Bella senang lalu menghempaskannya jauh ke tanah, kali ini Bella tidak akan tertipu, pikir Bella dalam hati.
"Kenapa menatapku seperti itu? "kata Angga yang bingung Bella menatapnya dengan aneh.
"Tidak, baiklah aku akan makan,"kata Bella seolah acuh, dia setuju karena memang sekarang dia sedang lapar, Bella lalu berjalan duluan, seperti yang biasa di lakukan oleh Angga, melihat tingkah Bella, Angga jadi tertawa kecil sambil mengelengkan kepala, gadis ini lucu juga, pikirnya.
Angga benar-benar menemani Bella makan, padahal dia sendiri tidak makan, dia hanya memandangi Bella yang makan, awalnya Bella ingin bersikap acuh tak acuh, tapi karena Angga terus menemaninya, sesekali meliriknya saat makan, dia malah gugup, Bella heran… bukannya aktingnya sangat bagus, bahkan di depan Aksa dia bisa menutup semuanya, tapi kenapa di depan Angga dia langsung kehilangan kemampuan itu.
"Makanlah dengan perlahan, lain kali jangan tertidur sore begitu, jam makan malammu jadi terganggu,"kata Angga lagi, terdengar cukup perhatian bagi Bella, namun sekali lagi dia berusaha untuk tidak baper karena itu, dia harus bisa menolak perasaan yang diberikan Angga.
"Iya, Aku sudah kenyang,"kata Bella lagi, dia meletakkan sendok dan garpunya dengan rapi, tak lama pelayan membersihkan piring-piring kotor yang ada di depannya.
" Apakah sudah bisa di keluarkan Tuan? "kata kepala pelayan pada Angga, Angga mengangguk, Bella yang sedang minum menatap Angga dan kepala pelayan itu dengan tatapan heran, mengeluarkan apa? Pikirknya.
Tak lama kepala pelayan itu keluar, dia membawakan Peanut butter chocolate yang tadi siang sangat ingin di makannya, namun harus di tolaknya karena dia sedang berperan menjadi Mika, melihat itu mata Bella langsung berbinar, wajahnya langsung sumringah, tersenyum sangat lebar, hancur sudah pertahanan Bella yang dari tadi ditunjukkannya pada Angga, muka acuhnya lenyap sudah.
"Makanlah,"kata Angga dengan suara beratnya, ada sedikit senyum di wajahnya ketika melihat Bella begitu kegirangan.
"Kau serius, ini untukku? Semua? "kata Bella begitu girang.
"Iya, kata Judy kau tampak begitu ingin makan ini tadi siang, tapi kau tidak bisa, makanya aku menyuruhnya untuk membeli ini agar kau bisa memakannya, ini untukmu semua, tapi jangan makan semuanya malam ini, nanti kau akan susah tidur karena terlalu banyak makan manis,"kata Angga begitu lembut.
Bella menatap Angga, begitu terharu dengan apa yang di katakan Angga, dia jadi tersentuh, bahkan lupa akan ketakutannya bila sewaktu-waktu Angga akan mengecewakannya lagi. Bella lalu memotong pencuci mulut itu secukupnya, lalu meletakkanya di piring.
"Ini,"kata Bella menyerahkan pencuci mulut itu pada Angga, Angga tampak sedikit terkejut.
"Aku tidak suka makanan manis,"kata Angga.
"Makanlah, temani aku memakannya, tidak enak melihatmu hanya menatap aku makan, seperti aku orang yang serakah,"kata Bella tersenyum manis, wajahnya penuh kebahagiaan, Angga melihat itu lalu tersenyum sangat manis, sangat manis bahkan bisa membuat semua wanita meleleh, seandainya wajah Angga bisa setiap hari begitu, ah… Bella hanya bisa mimpi.
"Baiklah, aku akan makan untuku, tapi lain kali jangan memberiku makanan manis lagi,"kata Angga lagi.
"Siap Tuan, aku akan patuh,"kata Bella mengambil sedikit pencuci mulut itu untuknya, dan rasanya benar-benar enak, ah… sangat enak hingga membuat Bella terus tersenyum senang, melihat senyuman Bella yang sudah lama tidak di lihatnya, hati Angga pun begitu senang, hingga bisa membuatnya berulang kali tersenyum.