Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
193



Jofan baru sampai di rumah Angga, Angga langsung menyambutnya, Bella juga ada di sana, Jofan yang tampak begitu cemas lalu melihat Bella, tidak mungkin mengatakannya di depan Bella, dia pasti akan sangat cemas.


"Bisakah kita bicara berdua? "kata Jofan menatap Angga lalu menatap Bella lagi, Angga melihat Bella. Bella mengerti dengan hal itu.


"Aku akan menunggu di kamar ku yang lama, kalian bicaralah di ruang kerja, "kata Bella.


"Baiklah, ayo kita ke ruang kerja, "kata Angga.


Angga memimpin jalan ke arah ruang kerjanya, mereka segera masuk dan duduk di ruang kerja Angga.


"Ada apa? " kata Angga.


Jofan tidak bicara, dia hanya menyerahkan pesan yang dikirim oleh Sania, Angga membacanya dengan seksama, setelah membaca itu dia segera meletakkan kembali handphone Jofan di meja kerjanya, menatap Jofan dengan serius, dari wajahnya dia tampak berpikir.


"Jangan pergi ke sana, "kata Jofan menatap Angga.


"Kalau aku tidak datang, Aksa akan meresa curiga ada mata-mata dan dia akan mencari orang-orang yang ada di dekatnya, hal itu bisa membuat Sania berada di posisi yang berbahaya dan kita juga tidak bisa membahayakan Ibunda Ratu, aku yakin Aksa tahu betul siapa yang akan di curigainya pertama kali jika aku tiba- tiba tidak datang,"kata Angga tampak tenang namun juga wajahnya tampak berpikir.


"Benar juga, tapi tidak mungkin kau datang ke sana, kau akan mati seketika jika penembak jitu melihatmu, bagaimana jika kau mengubah waktu dan hari kedatanganmu,"kata Jofan.


"Aku rasa Aksa akan tetap mengetahui hal itu, aku curiga orang yang akan aku temui adalah orang suruhan Aksa," kata Angga lagi memutar otaknya.


"Jadi mereka bisa juga melakukan sesuatu padamu bahkan jika kau lolos dari para penembak jitu itu? "kata Jofan meletakkan tangannya pada kepalanya, cukup pusing memikirkannya.


"Kita masih belum tahu, satu-satunya cara hanya aku tetap datang ke sana, namun aku butuh pengawalan ketat, agar para penembak jitu itu tidak bisa membidikku, di dalam sana pun aku harus punya banyak penjaga, satu lagi, restauran itu sangat terkanal dan ramai, aku rasa tidak akan mungkin segampang itu mereka memicu kerusuhan, warga sipil juga harus di perhatikan, aku tidak tahu apa rencana Aksa hingga nekat menyerangku di tengah kota seperti itu," kata Angga masih dengan wajah yang serius.


"Aku sudah mengirimkan pesan ini pada Jendral Indra, dia mengatakan akan melakukan  operasi khusus, aku rasa itu akan bisa membantu, penyusuran dan  menyergap para penembak jitu, juga penjagaan  hingga beberapa kilometer dari tempatmu, dia juga akan memasangkan alat dan juga rompi anti peluru untukmu, jadi yang harus kita khawatirkan adalah pertemuan mu nanti, soal warga sipil, sepertinya mereka akan menanganinya,"kata Jofan membaca pesan yang dikirimkan oleh Jendral Indra.


"Ya, tapi itu harus di lakukan sehalus mungkin, jika para penembak jitu itu mengetahuinya, akan lebih bahaya, satu lagi, tolong jangan beri tahu apa pun pada Bella,"kata Angga.


"Pasti, aku yakin mereka lebih tahu apa yang harus mereka lakukan, dan untuk Bella, aku juga tidak ingin membuatnya cemas, " kata Jofan.


"Baiklah, " kata Angga.


" Oh, progres Ratu sangat baik, Sania mengatakan  dia bahkan sudah tampak sangat normal, sepertinya dia mau membantu kita. "


"Benarkah? "


"Ya, aku rasa rencana kita akan segera sukses segera, selamat Angga, tujuanmu akan segera tercapai, " kata Jofan lagi tersenyum puas.


"Ya, baguslah, tapi kita tidak bisa senang dulu, Raja Leonal dan Aksa pasti punya sesuatu yang tidak bisa kita duga, mereka orang yang benar-benar licik, 1 lagi, bisakah kau mantau dari jauh anak yang sekarang di rawat Daihan? "kata Angga lagi.


"Bukan, dia anak Mika dan Aksa, ternyata Mika sempat melahirkan sebelum dia kembali bunuh diri. "


"What? Jadi selama ini Daihan menyembunyikan Mika hingga dia melahirkan? Aku benar-benar tidak bisa percaya siapa pun sekarang, "kata Jofan tak habis pikir, memang benar kata orang, lautan yang paling tenanglah yang paling menghayutkan, selama ini dia kira dia mengenal Daihan dengan baik, namun sekarang dia bahkan seperti baru mengenalnya.


"Jadi anak itu sudah terkena penyakit keturunan kami, aku baru memberikan darahku untuknya, aku rasa keadaannya sudah membaik, jadi dia juga akan memiliki darah yang di butuhkan Raja Leonal dan Aksa, aku ingin kau menjaganya, kalau sempat mereka mendapatkan dia, aku yakin anak itu akan mati, umurnya masih terlalu muda untuk di ambil darahnya, "kata Angga serius menatap Jofan.


"Baiklah, aku akan menyeruh orang untuk menjaga mereka, pihak kerajaan ini memang harus di hentikan, mereka terlalu berbahaya,"kata Jofan lagi.


"Jofan," kata Angga, bibirnya berkata-kata namun matanya tampak menerawang, tidak melihat ke arah Jofan sama sekali.


"Ya. " kata Jofan.


Angga melirik Jofan, matanya tajam namun ada kesedihan di dalam matanya.


"Kau masih ingat protokolnya? " kata Angga terdengar sedikit lirih, Jofan mendengar itu sedikit terkejut, hatinya merasa tak enak.


"Aku rasa kita tidak perlu melakukan protokol itu," kata Jofan geleng-geleng kepala.


"Kau harus mengingatnya, kita tidak tahu apa yang terjadi di depannya, "kata Angga lagi sangat serius.


"Berhentilah, jangan membuat orang takut, kau bukan seperti dirimu jika begini, lagi pula ingatlah … kau sudah punya alasan untuk pulang, " kata Jofan marah.


Angga menarik sudut bibirnya, membuat sebuah senyum yang malah tampak seperti senyum putus asa. Jofan tak suka senyum itu.


"Aku harus pergi, kami akan segerA mengurus semua keperluanmu untuk besok, " kata Jofan mengertakkan giginya, lalu berdiri dan segera berjalan keluar.


"Baiklah, "kata Angga juga berdiri dan mengikuti Jofan keluar dari ruang kerja itu, mereka langsung melangkah turun dari lantai 2 rumah Angga. Bella yang sedang duduk di ruang tengah itu bisa melihat suaminya dan Jofan turun.


"Sudah selesai? "kata Bella dengan senyum manis menyambut Jofan dan Angga ketika mereka sampai di lantai 1.


"Yah, pembicaraan pekerjaan yang alot, aku sampai pusing memikirkannya, "kata Jofan geleng-geleng kepala. Angga mendekati Bella, berdiri di sampingnya.


"Apa seserius itu? "kata Bella yang melihat wajah Jofan penuh dengan tekanan, pasti masalah pekerjaannya juga berat sekali, Bella melirik Angga, Angga hanya tersenyum sedikit.


"Ya, tapi sudah terpecahkan, mudah-mudahan berjalan sesuai rencana, doa kan saja," kata Jofan lagi.


"Baiklah aku akan mendoakannya, "kata Bella.


"Ya, itu yang terbaik, baiklah aku akan pulang sekarang, selamat siang Nona Bella, "kata Jofan dengan senyum ciri khasnya, Bella hanya mengangguk dengan senyuman, merasa Jofan orang yang cukup easy going.