Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
200



Bella membuka matanya, melihat lampu kristal megah di atas pandangannya, kepalanya sangat pusing, dia ingat kemarin dia di jemput dan tiba-tiba mereka membekapnya dan dia tak sadar apa pun setelah itu, Bella langsung sadar, melihat ke ruangan besar, ranjangnya juga tampak sangat mewah dengan begitu banyak ukiran, ruangan itu sebenarnya sangat bagus, namun melihat ini Bella malah ke takutan.


"Sudah sadar? " Suara yang paling tidak ingin di dengar oleh Bella bergema di ruangan  itu, dia baru sadar Aksa duduk di salah satu kursi di sana, dengan gayanya yang santai membaca buku, dia menutup bukunya, lalu menatap dalam pada Bella, Bella yang melihat Aksa langsung memundurkan tubuhnya yang sebenarnya sudah bersandar di dinding. Tapi untuk apa dia takut dengan pria ini? dia tidak boleh takut dengannya, semakin dia takut, semakin senang pria ini.


"Kenapa Aku ada di sini? "kata Bella menaikkan dagunya, mencoba untuk melawan rasa takutnya, dan membuat Aksa melihat dia tidak lagi takut padanya.


"Kenapa? tak bolehkah aku menjemput Putriku? " kata Aksa mendekati sosok Bella yang sekarang menatapnya.


Bella melihat Aksa yang mendekat, pria ini punya auranya sendiri, tak akan ada wanita di dunia ini yang akan mengatakannya tidak menarik, pantas saja wanita bisa dengan gampang dia dapatkan, namun jika sudah tahu sifat iblisnya ini, hanya wanita bodoh yang akan mau tetap berasamanya.


"Aku bukan putrimu, Maaf aku sudah menikah,"kata Bella segera berdiri, turun dari ranjangnya itu, Aksa terus mendekat padanya, namun Bella berusaha teguh, dia menatap terus ke arah wajah Aksa agar Aksa tidak merasa dia takut padanya.


"Kau sangat berubah Bella, kenapa kau tidak bersamaku saja,"kata Aksa lembut, mengelus pipi halus Bella dengan pungung jari telunjuk kanannnya. Mata Bella memperhatikan jari itu yang turun dari pipinya. " Jangan takut, aku tidak akan menyiksamu lagi, aku akan memperlakukanmu dengan lembut, sehingga kau bisa lupa dengan Angga. "


"Kata-katamu konyol Pangeran Aksa, aku tidak akan pernah melupakan suamiku sendiri, selembut apa pun kau memperlakukan aku," kata Bella ketus, Aksa yang mendengar itu langsung mencengkram dagu Bella, namun Bella tak bergeming, dia hanya menatap wajah Aksa yang begis itu.


"Sampai mati pun dia tidak akan pernah lagi menemukamu, Bella, kau hanya tidak tahu sekarang kau ada di mana, " kata  Aksa melepaskan cengkramannya. Bella lalu teringat terakhir kali dia membaca berita tentang penembakan Angga, apa Angga baik-baik saja?.


"Apa yang kau lakukan pada Angga? apa dia baik-baik saja?! " kata Bella pada Aksa dengan suara yang khawatir, namun Aksa hanya memperhatikannya.


"Kau mematahkan hatiku, aku ada di depanmu, tapi kau malah membicarakan orang lain, "kata Aksa lagi dengan gayanya yang menyebalkan.


"Dia suamiku! Katakan apa yang kau lakukan pada Angga?"kata Bella.


"Pikirkan hal yang terburuk yang bisa terjadi padanya, itu yang sudah aku lakukan padanya, "kata Aksa dingin.


Bella terdiam, dia menatap wajah Aksa, dari pelupuk matanya bulir-bulir air mata sebening kristal mulai membasahi, membuat pandangannya kabur seketika, dan mengalir bebas tak terbendung, apa benar?


"Kenapa kau begitu kejam! Aksa kenapa kau hanya bisa menghancurkan kehabahagiaan orang!” kata Bella berteriak histeris dengan air mata yang tidak bisa terbendung, dia menangis dengan sangat lirih, suara tangisnya mengisi seluruh ruangan itu, namun sama sekali tidak menyentuh hati Aksa.


"Itu yang akan terjadi jika seseorang sudah berani mengambil milikku, "kata Aksa dingin, bahkan dia sama sekali tidak merasa kesihan melihat suara sedih Bella.


"Aku bukan milikmu, sampai mati pun aku tidak akan jadi milikmu, "kata Bella dengan seluruh emosi yang dia miliki.


"Cinta? Tahu apa kau tentang cinta? Aku lebih memilih mati dari pada harus menerima cinta dari mu! " kata Bella.


Aksa geram mendengar kata-kata Bella, tanpa sadarnya dia langsung menjambak rambut Bella, di tariknya erat hingga Bella segera mengadah, namun diantara matanya yang basah dan sembab itu, Bella berusaha tetap menatap Aksa, tatapan yang penuh kebencian.


Aksa yang melihat wajah Bella begitu langsung sadar, saat Bella di bawa kemari, dia sudah berjanji akan memperlakukan Bella dengan sangat baik, dia akan memperlakukan wanita ini dengan sepenuh hatinya, namun siapa yang tidak akan emosi jika terus di lawan seperti ini? Apalagi seorang Aksa yang memiliki kesabaran yang tipis.


Dia lalu melepaskan rambut Bella, lalu segera memperbaiki rambut Bella, dia mengelus kepala Bella dengan penuh perasaan, hal ini malah membuat Bella makin takut padanya, namun di berusaha untuk tetap tegak melihat Aksa.


"Angga pasti sangat merindukamu, sayangnya dia tidak akan pernah lagi bisa menyentuh dirimu lagi, Aku sudah membunuhnya, sama seperti aku membunuh asisten wanita mu itu," kata Aksa pelan menatap mata Bella, Bella terdiam, matanya membesar, napasnya tercekat kembali, dia baru ingat, kemarin dia pergi dengan Judy, apakah benar Judy juga sudah tidak ada? apa Aksa benar-benar membunuhnya juga?.


"Kau memang pembunuh! Aku benar-benar membencimu Aksa! Kau ********! Pria tidak punya perasaan! " Teriak Bella penuh kebencian di antara tangisan.


Aksa hanya memandangnya dingin, tak peduli sumpah serapah yang di keluarkan oleh Bella, yang penting wanita ini sekarang miliknya.


Aksa lalu berjalan, mengambil remot yang ada di salah satu meja, dia segera menyalakan televisi yang ada di sana, dia lalu mencari sesuatu, Bella hanya bisa melihat ke arah TV itu, ingin tahu apa yang di cari Aksa. Aksa berhenti di salah satu program berita.


"Kecelakaan tragis terjadi di jalan utama bagian barat, sebuah mobil yang berisikan 3 orang terguling dan terseret berberapa meter setelah di tabrak oleh mobil lain, 3 orang dalam mobil tersebut tewas seketika, menurut kabar yang kami dapatkan, mobil ini adalah milik pengusaha muda sukses, Tuan Angga Xavier ... " terdengar reporter menyampaikan berita bersama dengan penayangan mobil Angga yang hancur lebur, Aksa langsung mematikan Tvnya.


Bella kaget, matanya yang sembab itu kembali membesar, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak ingin percaya, namun,  itu benar-benar mobil Angga, dan ... semua orang di mobil itu tewas.


"Sudah percaya, aku akan berikan video pemakamannya jika kau mau,"kata Aksa lagi tanpa ada belas kasih.


Bella bahkan tidak bisa lagi bernapas, rasanya benar-benar seluruh dunianya berputar, dia tidak bisa menerima kalau suaminya sekarang sudah tidak ada, rasanya seperti kehilangan separuh jiwa dan raganya, tubuhnya rasanya lemah, sekarang bagaikan mimpi, seluruh sendi-sendinya bahkan serasa tak bertenaga, yang bisa dia lakukan hanya menangis dan jatuh, Namun Aksa yang melihat itu langsung menangkap tubuh Bella, Bella tetap menangis walaupun terlihat pingsan.


Melihat keadaan Bella yang begitu tertekan seperti ini, Aksa merasa sedikit tersentuh, karena itu dia langsung mengangkat Bella ke ranjangnya lagi, membiarkan Bella berbaring, Bella langsung membelakangi Aksa, menangis sejadi-jadinya. Aksa hanya bisa melihat Bella, sedingin apa pun hatinya, ternyata dia juga merasa tidak tega jika wanita yang ada di hatinya ini menangis seperti itu, dia langsung keluar dari sana.


Bella menangis terus menerus, sejadi-jadinya, tubuhnya terasa lemah dan lemas sekali, hatinya seperti tercabik, bahkan sekarang kosong, hampa, namun tetap saja rasanya benar-benar sakit, sesekali tangisnya berhenti, berganti tatapan kosong, sekosong hati dan pikirannya sekarang, namun di detik lain, dia menangis lagi, terus saja seperti itu hingga seluruh badannya terasa dingin, mengigil karena emosi yang tak bisa di lukiskan.


Di kamar tidur yang indah ini, dia hanya sendiri … cintanya sudah pergi, apa lagi yang membuatnya bisa hidup kali ini.