
"Tidak apa-apa,"kata Jofan meyakinkan.
Mendengar suara Jofan yang lembut dan juga ketulusan itu, Sania melepaskan tangan Jofan, Jofan segera membuka topeng Sania, melihat dengan lembut wajah Sania yang sekarang di hiasi bekas luka yang mungkin bagi beberapa orang menyeramkan, namun tidak bagi Jofan, Sania segera menundukkan wajahnya agar Jofan tidak melihatnya lebih lama.
"Aku sudah bilang, kau tetap secantik pertama kali aku melihatmu,"kata Jofan terdengar mengoda, namun itu benar-benar berasal dari hatinya.
Jofan kembali mendekati wajah Sania, dengan sangat lembut dia mencium bekas luka Sania, Sania yang mendapatkan perlakuan itu tentu kaget, sangat-sangat kaget hingga dia membelalakan kedua matanya, namun Jofan tidak peduli, dia mencium satu persatu luka yang ada di wajah Sania, hingga akhirnya kembali mencium bibir Sania yang tak bisa di tolak godaannya.
Tapi kali ini Jofan sudah tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia benar-benar sudah tergila-gila dengan wanita ini, membuat dia mulai ganas mencium Sania, Sania pun yang di perlakukan seperti itu mencoba menerima dan mengimbangi ciuman Jofan, Sania cukup lihai dalam berciuman, sehingga membuat Jofan semakin tertantang dan bersemangat, melahap bibir Sania, hingga keduanya akhirnya kehabisan napas.
Jofan tidak menyia-nyiakan waktu, dia segera mengendong tubuh Sania yang sangat kurus itu, dia segera membawa Sania ke dalam kamar terdekat, perlahan meletakkannya ke atas ranjang, dan langsung mempersiapkan dirinya, membuka jasnya dan kemudian mulai mencium Sania lagi.
Sekarang Jofan sudah ada di atas tubuh Sania, tangannya mulai menyusup liar ke sepanjang tubuh Sania yang tak mulus lagi, namun itu bukan halangan baginya, namun saat tangan Jofan lebih berani lagi menjelajahinya, tangannya langsung di hentikan oleh Sania.
"Tidak, aku bukan wanita yang pantas untukmu, aku wanita yang kotor,"kata Sania pada Jofan, dia ingat tentang pemerkosaan itu, apa lagi dulunya dia adalah wanita Aksa, membayangkan dirinya saja dia sudah jijik. Dia tidak pantas lagi untuk pria mana pun, apalagi seseorang seperti Jofan.
"Aku juga pria yang kotor, akuĀ sudah tidur dengan banyak wanita, bagaimana menurutmu? Apa kau bisa menerimaku? " kata Jofan yang wajahnya tepat di atas wajah Sania, napas mereka saling bersatu, membuat suasana di sana terasa panas bagi keduanya.
Jofan tidak menunggu jawaban Sania, namun dia juga tak memaksa Sania, jika Sania menolak lagi, dia tidak akan memaksanya, namun Sania pun sudah terlalu terbawa suasana, apa lagi kelembutan Jofan yang membuat Sania langsung terbang. Hinga mereka lupa dunia dan merengkuh kenikmatan surga bersama.
Jofan terbangun dengan senyuman, apa lagi mendapati Sania sekarang ada di dekapannya, tubuh mereka saling bersentuhan.
"Selamat pagi,"kata Jofan berbisik pada Sania, Sania melihat ke arah Jofan, dia tersenyum sedikit, melihat senyuman manis Sania, Jofan menjadi gemas, dia langsung buru-buru kembali mencium bibir Sania, Sania kaget namun langsung mengikuti ciuman Jofan.
Tiba-tiba Jofan merasakan ada bau dan rasa anyir dalam ciuman ini, dia lalu melepaskan ciuman dari Sania, melihat noda darah di daerah hidung dan pipi Sania, Sania yang melihat hidung Jofan berdarah, langsung menyentuh hidungnya,dia melihat darah itu, Sania tampak panik, dia langsung keluar dari selimut dan pergi ke kamar mandi, dia segera mencuci wajahnya, hidungnya berdarah lagi, dan seketika kepalanya menjadi sakit, dia mencoba mencari obatnya, namun obatnya ada di celananya di luar.
"Sania, buka pintunya! "kata Jofan yang khawatir, dia ingin masuk namun kamar mandinya terterkunci, Jofan sudah mengunakan celananya.
"Sebentar,"kata Sania yang buru-buru mencuci mukanya, memastikan darah dari hidungnya sudah berhenti, namun darahnya tetap menetes.
Tak lama Sania membuka pintunya, untungnya darahnya sudah tak mengalir lagi. Jofan dengan wajah cemas menatap Sania yang sekarang sudah mengunakan handuk yang melilit tubuh polosnya.
"Maafkan aku, lihat wajahmu, sini aku bersihkan,"kata Sania mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat dari keran, lalu mengusap hidung Jofan yang masih bernoda darahnya, Jofan yang melihat Sania hanya memperhatikannya dengan nanar.
"Ada apa? " kata Sania, seolah tidak ada apa-apa.
"Apa yang terjadi padamu? katakan sebenarnya padaku? " kata Jofan serius.
"Aku tidak apa-apa, ini hanya efek samping dari luka di kepalaku, ini memang sering terjadi," kata Sania yang tersentuh dengan perhatian yang di berikan oleh Jofan. Jofan memegang tangan Sania yang sedang mengelap wajahnya.
"Aku tidak percaya, keadaanmu tidak membaikkan? Aku ingin tahu semuanya, ayo kita ke dokter,"kata Jofan dengan sangat tegas, menatap Sania tajam, seolah kata-katanya tak bisa lagi di bantah.
Sania diam, tak tahu harus berkata apa, apa lagi sekarang Jofan benar-benar menatapnya serius, dia jadi tak enak menolaknya, namun sebenarnya Sania sendiri tak ingin bertemu dokter lagi, dia takut kabar buruk akan di dengarnya, dia cukup nyaman dengan keadaannya sekarang.
Tiba-tiba terdengar suara Bell dark pintu luar, membuat Jofan dan Sania seketika tersadar.
"Aku yakin mereka mencarimu, aku benar-benar tak apa-apa, aku takut jika ada orang yang melihat kita bersama sekarang, akan menjadi hal yang tidak baik untuk semua rencanamu, tenang saja, apa lagi aku setiap hari minum obat darimu, ini sudah sangat berkurang, dulu aku bisa mengalaminya beberapa kali dalam satu hari, percayalah aku tidak apa-apa,"kata Sania menyakinkan dengan senyum indah, mencoba menenangkan Jofan.
Namun Jofan tidak percaya, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sekarang, yang di katakan Sania benar, dan dia ingat kata-kata Ayahnya, dia tidak akan menyeret Sania lagi dalam lingkaran masalah ini, dia tak ingin seseorang memakai Sania untuk menyerangnya, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jadi yang sekarang yang bisa dia lakukan hanya percaya dan berharap apa yang di katakan oleh Sania sekarang benar.
"Baiklah, tapi jika ada sesuatu, aku benar-benar ingin kau menceritakannya padaku,"kata Jofan serius namun juga lembut.
"Baiklah, sekarang, temui mereka dulu, setelah itu bersiap lah, tenang ya, aku tidak apa-apa,"kata Sania lembut mencoba menyakinkan Jofan, Jofan sedikit tersenyum, mengusap rambut Sania, lalu dia segera memakai kemejanya, dan segera keluar dari kamar itu.
Sania langsung mencari obatnya, dan segera meminumnya. Dia tak tahu sebenarnya dia sudah tak apa, atau malah memburuk, tapi dia tidak bisa membuat orang sebaik Jofan cemas padanya, setidaknya dengan rajin meminum obat, mungkin dia masih bisa bertahan.