
Nakesha duduk di ruang tengahnya, dia masih penasaran dengan pria yang tadi siang mengenggam tangannya, kira-kira dia siapa ya? pikirnya.
Nekesha segera melihat ke arah jam, sudah pukul 5 sore, dia lalu melihat handphonenya, tidak ada notifikasi sama sekali, kalau dia menelepon Daihan sekarang, apa Daihan sudah selesai bekerja?. Namun Nakesha bukan lah orang yang bisa menahan perasaannya, sehingga dia tetap saja menelepon Daihan.
"Halo? " suara Daihan terdengar lembut di ujung telepon.
"Oh, halo, kau sedang apa? " kata Nakesha sedikit basa-basi, hanya mendengar suaranya saja Nakesha merasa gugup.
"Masih di kantor Angga, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan, ada apa? kau jarang meneleponku seperti ini? apakah ada sesuatu terjadi pada Archie?" tanya Daihan dengan cecaran pertanyaan, Nakesha tersenyum, hubungan mereka memang hanya sekedar ada Archie di antara mereka.
"Tidak, Archie baik-baik saja, tapi ada hal yang ingin aku bicarakan," kata Nakesha.
Baru saja dia ingin melanjutkan kata-katanya, di seberang sana dia bisa mendengar suara Asisten Yu yang menegur Daihan, mengatakan bahwa rapat mereka akan dilaksanakan sebentar lagi. Nakesha urung mengatakannya.
"Ehm, tadi ada apa? " kata Daihan yang tidak mendegarakan jelas apa kata-kata Nakesha.
"Oh, tidak apa-apa, jika ada waktu aku ingin mengatakan sesuatu, bisakah kau datang?" kata Nakesha lagi.
"Baiklah, nanti aku akan datang jika tidak terlalu malam, dan jika Archie tak apa-apa, aku harus pergi rapat dulu," kata Daihan dari sana.
"Ok," kata Nekesha, Nakesha langsung mematikan panggilan telepon itu, dari pada rasa kesalnya terpancing, lebih baik dia segera mematikan handphone itu. Daihan hanya mengerutkan dahinya melihat handphonenya yang mati.
Nakesha kembali pada rutinitasnya, dia menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Archie, begitu juga pengasuhnya, untuk makanan dia memang tidak pernah mengizinkan orang lain membuatnya, karena dia harus tahu apa yang di gunakan di dalam masakan itu, dia juga suka melakukan hal ini, menghabiskan waktu, terlalu membosankan kalau hanya duduk dan tidak ada pekerjaan sama sekali.
Setelah dia menyiapkan makanan, dia memanggil Archie dan pengasuhnya, mereka lalu segera makan malam bersama, Nakesha menyuapi Archie dengan sabar, dan untungnya Archie anak yang sangat pintar, dia tidak pernah menolak makanan, bahkan terkesan sangat lahap, membuat Nakesha begitu suka momen di mana dia bisa memberikan makan untuk Archie.
"Archie habis mamam, boleh main sebentar, setelah itu harus bobo yah," kata Nakesha pada Archie, keponakannya ini sangat lucu, dengan wajah yang terlihat bulat karena pipinya yang besar, matanya yang indah, bahkan umurnya belum genap 2 tahun, tapi siapapun yang melihatnya, pasti akan yakin, Archie akan menjadi anak yang sangat tampan nantinya.
Archie mengangguk mengemaskan, membuat Nakesha tertawa, begitu juga pengasuh Archie. Saat Nakesha melanjutkan menyuapi Archie, tiba-tiba bell pintunya berbunyi.
Nakesha segera melihat pintu itu, ehm siapa kira-kira malam-malam begini datang?, apa mungkin Daihan, karena tadi dia mengatakan jika ada waktu dia meminta berbicara padanya. Pengasuh Archie segera berdiri, namun Nakesha melarangnya.
"Sudah aku saja, tolong di lanjutkan," kata Nakesha menyerahkan piring makanan Archie pada pengasuhnya.
"Baik Nona," kata Pengasuh itu dengan sigap langsung mengambil piring itu dan mengantikan posisi Nakesha, sedangkan Nakesha yang baru saja bangkit itu, segera membenarkan gaun yang di pakainya, bersiap menyambut Daihan, itu yang ada di dalam pikirannya.
Nakesha melangkah ke arah pintu utama apartemen itu, suara bel sekali lagi terdengar, tumben Daihan tidak sabaran seperti ini, pikir Nakesha, dia segera berjalan dan membuka pintunya, dia langsung terkejut melihat pria yang sekarang berdiri di depannya. Pria yang tadi siang.
Aksa menghentikan para penjaganya sedikit lebih jauh darinya, jadi yang hanya bisa di lihat Nakesha hanya Aksa yang berdiri dengan senyuman mengoda ciri khasnya. Untungnya senyuman itu tidak berpengaruh apa pun pada Nakesha, yang ada di hanya semakin kesal melihat pria ini.
"Selamat malam Nona Nakesha," kata Aksa tersenyum manis, tidak menunjukkan senyum sinisnya yang asli. Wajah Nakesha yang tadinya kesal berubah berhiaskan kerutan di dahinya, dari mana pria ini tahu namanya.
"Siapa kau? " kata Nakesha lagi.
"Pantas kau tidak mengenaliku, aku salah mengenalimu dengan kakakmu," kata Aksa lagi ingin maju untuk masuk, namun Nakesha langsung melarangnnya.
"Jangan berani-beraninya masuk ke dalam, " kata Nakesha mengarahkan telunjuknya pada Aksa. Aksa yang melihat keberanian Nakesha sedikit tersenyum, belum pernah ada wanita yang memperlakukannya sepeti ini saat pertama kali bertemu dengannya.
"Kau tahu Nona Nakesha, walau pun aku hanya mengenal kakakmu sebentar, tapi aku rasa sifat kalian sangat berbeda," kata Aksa, mendengar itu Nakesha merasa bertambah penasaran.
"Siapa kau ini? " kata Nakesha bingung.
"Kau bisa menganggapku teman kakakmu, di mana Archie? Aku sangat ingin bertemu dengannya," kata Aksa mencoba sebaik mungkin pada Nakesha.
"Benarkah? lalu siapa namamu?" kata Nakesha masih tidak percaya.
"Jika aku memberitahu namaku, apa kau bisa mengenal diriku? " kata Aksa.
"Ehm … " Nakesha hanya bergumam, benar juga, jika pria ini mengatakan namanya, belum tentu Nakesha tahu siapa dia, dan dia mengatakan bahwa dia adalah teman kakaknya, tapi tetap saja dia harus tahu siapa nama pria ini. "Tetap saja, aku harus tahu namamu," kata Nakesha lagi dengan wajah seriusnya. Aksa melihat wajah Nakesha itu merasa wanita ini walaupun sifatnya keras, namun itu pula yang membuat Nakesha menarik, dia terlihat imut bahkan dengan wajahnya yang kesal itu.
"Apakah jika aku memberitahu namaku, kau akan izinkan aku bertemu dengan Archie? Baiklah, namaku Luthier, " kata Aksa mengunakan nama tengahnya, dia yakin jika dia mengunakan nama aslinya, Nakesha tahu siapa dirinya.
Nakesha tentu belum pernah mendengar nama Luthier, jadi dia merasa, mungkin saja pria ini memang hanya teman kakaknya yang kaget melihat dirinya, sama kagetnya seperti Angga dan Daihan pertama kali melihatnya.
"Bubu," kata Archie berlari kecil ke arah Nakesha.
Aksa yang melihat anaknya berlari ke arahnya tampak mengikuti arah lari Archie, dia menatap anak itu dalam-dalam, seolah terpesona, apa lagi saat Archie begitu dekat dengan dirinya sekarang yang ada di dalam gendongan Nekesha. Dia melihat wajah Archie dengan seksama, dia tidak menyangka, dia akan melihat anaknya.
"Sudah? Kau sudah melihat Archie bukan? "kata Nakesha lagi.
"Bolehkah aku mengendongnya?" kata Aksa yang masih saja berdiri di ambang pintu. Nakesha masih sedikit ragu, namun dia sedikit menyondongkan tubuh Archie pada Aksa, dan Aksa sudah bersiap untuk mengendong anaknya.
Namun Archie langsung memeluk Nakesha seolah takut pada Aksa, dia langsung merengek untuk tidak diserahkan pada Aksa, Nakesha yang melihat Archie merengek langsung menarik keponakannya itu.
"Sepertinya dia tidak ingin bertemu dengamu," kata Nekesha lagi.