
Bella membuka matanya kembali, meraba tempat tidur di sampingnya, kosong.
Bella menatap, memang saja sudah tidak ada Angga di sampingnya, hanya saja wangi tubuh Angga masih tercium membuat Bella jadi malas untuk bangun.
Dia lalu melihat jendela kamarnya, matahari sudah cukup terang, kenapa Angga tak membangunkannya, dia melihat jam, hampir jam 7, Bella langsung kaget dan segera berhambur ke kamar mandinya, di hari pernikahannya dia malah telat bangun.
Dia segera membersihkan dirinya, segera setelah itu dia mengambil gaun berwarna merah shoulder-off dengan bentuk A yang tampak simpel namun juga elegan, untung saja dia sudah mempersiapkam semuanya kemarin, kalau tidak dia pasti kalang kabut.
Pintu kamar di ketuk, Bella langsung membukanya, padahal dia belum memakai riasan wajah ataupun menata rambutnya, saat membuka pintu, untung lah yang datang adalah Judy.
"Selamat pagi Nona, Tuan mengatakan tidak perlu terburu-buru, Tuan akan menunggu," kata Judy.
Mendengar itu Bella sedikit bernapas lega.
"Ada yang bisa saya bantu?" kata Judy melihat Bella belum berdandan.
"Ya, tentu Judy, tolong bantu aku ya," kata Bella lembut.
"Baik Nona," kata Judy.
Bella duduk di kursi riasnya, Judy dengan perlahan menyapukan kuas make-up di wajah Bella yang walau pun tak memakai apa pun sudah secantik mutiara, putih berseri.
Bella menata rambutnya sedikit, membuat tampilannya semakin cantik dan Anggun, bibirnya di poles dengan lipstik merah, membuat dia benar-benar bagaikan pengantin wanita walau pun belum mengunakan gaun pengantin.
Judy menyodorkan high-heel stiletoss berwarna merah dengan aksen permata di bagian belakangnya, menambah indah kaki Bella yang jenjang.
"Terima kasih Judy, bagaimana penampilanku?" kata Bella.
"Selalu indah Nona, selamat atas pernikahannya," kata Judy tersenyum indah.
"Terima kasih Judy, apakah Angga sudah siap?" kata Bella gugup.
"Ya, Tuan sudah siap."
"Baiklah, aku akan keluar," kata Bella.
Judy berjalan duluan, membukakan pintu, Bella langsung terkejut, melihat Angga yang sepertinya ingin mengetuk pintu kamar, Dia sudah terlihat tampan dengan tuxedo formal hitamnya, jauh lebih tampan dari biasanya.
Angga terdiam melihat calon pengantinnya, begitu cantik, membuatnya tak bisa menutupi ke kagumannya, bahkan dia tak bisa berkedip. Memandang Bella yang bagaikan malaikat.
"Apa ada yang salah?" kata Bella melihat Angga yang hanya terdiam memperhatikannya.
"E... Tidak, kau terlihat sangat cantik," kata Angga baru tersadar.
Bella mendengar itu tersipu malu. Hanya bisa tersenyum senang.
"Baiklah, ayo, kita sarapan dulu," kata Angga tak lepas memandang Bella.
"Baiklah," kata Bella berjalan, tak seperti biasa, Angga membiarkan Bella berjalan duluan, dia mengikutinya dari belakang, semerbak bau mawar dapat di rasakan oleh Angga, dia hanya tersenyum manis, wanita di depannya ini, akan menjadi istrinya dalam beberapa jam lagi.
Angga menarik kursi untuk Bella, Bella mengerutkan dahi, menatap Angga.
"Baiklah," kata Bella tersenyum, lebih mirip tawa kecil yang bahagia.
Angga dan Bella makan dengan tenang, Bella tak terlalu makan dengan banyak, hanya sedikit, mungkin karena terlalu gugup melihat jam semakin mendekati pukul 9.
"Sudah selesai?" kata Angga.
"Ya," kata Bella.
"Baiklah, ayo berangkat."
Angga bangkit dari tempat duduknya, menjulurkan tangannya untuk Bella, Bella tersenyum manis, dia ingat pertama kali mereka sarapan bersama, wajah pria ini dingin bagaikan es, datar saja, bahkan meliriknya pun tidak, selesai makan, dia bahkan meninggalkan Bella begitu saja, membuat Bella harus menerka-nerka apa yang mau dilakukannya, tapi beberapa jam lagi dia malah akan menikah dengan pria ini, bagaimana bisa? cinta memang membingungkan.
Mereka segera pergi dari kediaman Angga.
---***---
"Selamat pagi Pangeran, ada yang harus saya sampaikan." Seorang asisten datang tiba-tiba dan terburu-buru pada Aksa saat dia sedang menikmati sarapannya sendirian di istana pangeran.
"Ada apa?" kata Aksa tenang sambil melihat makanannya.
"Saya rasa saya menemukan dokumen-dokumen untuk pernikahan atas nama Angga dan Mika Tuan," kata Asisten itu lagi dengan antusias
Aksa berhenti mengunyah makanannya, menatap tajam pada Asistennya, Angga dan Mika akan menikah?, rencananya terlalu terlambat, pikir Aksa mengertakkan giginya.
"Kau yakin?" kata Aksa.
"Ya, Tuan."
"Kapan mereka akan mendaftarkan pernikahannya?" kata Aksa lagi dengan amarah di matanya, tangannya sudah menggenggam gelas dengan sangat erat.
"Pukul 9 mereka akan menandatangi dan mengambil foto untuk surat pernikahan mereka, Tuan Angga mengunakan kekuasaannya untuk pengurusan yang lebih cepat, bahkan data mereka di masukkan lebih dahulu dari pada yang lain, dengan kata lain, setelah menandatanganinya, mereka akan resmi dan di akui negara," kata Asisten Aksa menerangkan, padahal biasanya data akan masuk ke dalam database negara 3 hari setelah segalanya beres.
Aksa melihat jam, tinggal 10 menit lagi menuju jam 09.00, kurang ajar, tak mungkin bisa terkejar untuk membatalkan pernikahannya, dia seharusnya menghabis Angga secepatnya, namun sekarang juga dia sedang di awasi ketat, karena itu dia harus merancang rencana yang tak tampak dari dirinya.
"Siapkan mobil, segera!" kata Aksa bangkit dan mengambil handphonenya.
"Baik Tuan," kata Asistennya.
Aksa segera menelepon seseorang.
"Lakukan tugas kalian sekarang, mereka sedang ada di kantor catatan pernikahan, ingat, habisi prianya, jangan sampai lukai wanitanya!" kata Aksa dengan mata memerah, tangannya mengepal dengan sangat erat, meremas handphonenya erat.
Kalau tak bisa memisahkan mereka sebelum menikah, tidak apa-apa, asalkan setelahnya Bella akan ada padanya, Aksa tersenyum lucik.
Bella kau akan tahu rasanya karena sudah berani menikah dengan orang lain, dari kecil kau adalah milikku, sampai tubuhmu tak bernyawa pun, kau tetap milikku, Angga tak akan punya hak menyentuhmu!
"Pangeran, mobil Anda telah siap," kata Asisten itu lagi.
Aksa mengambil jas yang di sodorkan oleh pelayan, dengan wajah begis, dia pergi dari sana.