Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
131



Jofan duduk dengan santai di salah satu sofa di sebuah ruang tunggu, menunjukkan aura kepemimpinan yang kuat, wibawanya bahkan bisa ditunjukkan saat dia tampak begitu santai.


Tak lama seorang pria setengah baya datang, dengan 2 penjaganya, tampak juga memiliki aura dan wibawa yang kuat. Melihat dirinya, Jofan langsung berdiri.


"Tuan Presiden. " kata Jofan menjulurkan tangannya. Tuan Winson langsung menyambut tangan Jofan, memandangnya dengan Jofan dengan tatapan yang mantap, Jofan juga menjabat tangannya erat.


"Silakan. " kata Jofan


Tuan Winson langsung duduk setelah duduk dia merapikan sedikit jasnya. Melihat itu Jofan tersenyum, tak sedikit pun tampak gugup walaupun sekarang di sampingnya duduk orang nomor 1 di negara ini.


"Sebelumnya, selamat, aku dengar, kau adalah kandidat terkuat sebagai penggantiku. Aku tak sangka orang yang mengantikanku akan semuda dirimu. " kata Tuan Winson dengan suaranya yang sangat berkharisma.


"Terima Kasih Tuan Presiden, tapi saya rasa ucapan selamat akan lebih baik diberikan setelah saya benar terpilih menjadi pengganti Anda. " kata Jofan lagi dengan penuh percaya diri.


"Aku selalu suka dengan generasi muda sekarang, sangat percaya diri, katakan apa yang membuatku harus bertemu denganmu? "


"Baiklah, aku tahu Anda sangat sibuk, tapi aku yakin, tentang ini Anda tak akan ingin ada orang lain yang mengetahuinya." kata Jofan melirik kepada kedua orang penjaga Tuan Winson, Wajah Tuan Winson berubah, tatapannya yang tajam sedikit di sipitkannya kala melihat Jofan.


Tuan Winson mengeluarkan gestur untuk menyuruh para menjaganya keluar, penjaga yang tahu itu langsung mengerti dan segera keluar dari ruang itu. Melihat itu Jofan langsung tersenyum tipis.


"Baiklah. Apa maumu? " kata Tuan Winson, terlalu terbiasa dengan keadaan seperti ini.


" Ya, aku tidak akan basa-basi lagi Tuan Presiden. Coba lihat ini." kata Jofan menyerahkan sebuah tablet, dan Tuan Winson langsung melihat ke arahnya, memutar video yang sudah ada di sana, dan menatapnya dengan tatapan sedikit kaget.


"Kau ingin mengancamku dengan ini?" kata Tuan Winson sedikit marah dengan Jofan, tatapannya langsung bergitu tajam.


"Bukan, aku di sini tidak mengancam Anda, aku juga tidak akan mengusik kekuasaan Anda sebagai Presiden, bagaimana pun tahun ini adalah tahun terakhir Anda menjabat dan tidak bisa mencalonkan lagi, jadi untuk apa saya bersusah payah menjatuhkan Anda sekarang. " kata Jofan menatap Tuan Winson yang tampak gugup.


"Lalu? Apa mau mu? "


"Anda adalah orang yang mendapatkan dukungan dan mendukung penuh pihak istana, tapi di lihat akhir-akhir ini, istana sedikit kacau. Seharusnya Anda tahu itu bukan? " kata Jofan lagi tersenyum sedikit sinis.


"Ya."


"Jika sampai video ini tersebar, dan Anda masih memberikan dukungan pada pihak kerajaan, apa yang akan di pikirkan oleh masyarakat? Aku tidak bisa menolong Anda saat itu. dan sisa-sisa hari terakhir Anda di istana ini akan menjadi lebih singkat. " kata Jofan melihat ke sekeliling ruang tunggu yang tampak mewah dan megah itu.


Tuan Winson melemparkan tatapannya ke bawah, apa yang di katakan oleh Jofan benar, jika dia masih mendukung pihak kerajaan, apa lagi dengan keadaan seperti ini, bisa-bisa dia langsung di turunkan secara tidak hormat.


"Jadi? Anda sudah tahu harus apa bukan? Sekarang ada seorang yang sangat berpengaruh sedang mengincar pihak istana, saya yakin Anda tidak akan bisa bersaing dengannya, dan bahkan dengan mudah dia bisa langsung membuat Anda turun hari ini. " kata Jofan lagi dan namanya juga akan tercoreng.


Tuan Winson orang yang sangat hati-hati, dia hanya diam dan menatap Jofan yang tampak tersenyum. menunjukkan kepercayadirian yang mengusik bagi Tuan Winson.


"Apa yang di inginkannya? " kata Tuan Winson lagi.


"Itu hal yang mustahil. " kata Tuan Winson


"Aku tidak menyuruh Anda melakukannya, biar nanti aku yang melakukannya, Anda hanya perlu untuk diam dan pada akhirnya menyetujui semuanya. " kata Jofan.


Tuan Winson kembali menyipitkan matanya, menatap Jofan dengan serius.


"Baiklah, aku akan memikirkannya."


"Hati-hati Tuan Presiden, langkah Anda menentukan masa depan Anda, aku tak tahu kapan dia akan bertindak, bahkan kemungkinan nama Anda pun bisa tercemar jika memihak pada sisi yang salah. " kata Jofan lagi


"Anda benar-benar pintar Tuan Jofan. Baiklah, aku harus mengurus banyak hal lain, senang bebicara dengan Anda. " kata Tuan Winson.


"Saya pun begitu. " kata Jofan


Tuan Winson berbalik, lalu meninggalkan Jofan sendiri, Jofan hanya menaikkan sudut bibirnya.


----*****----


Hari sudah menjelang malam, namun cahaya matahari belum sepenuhnya hilang. Jofan berjalan ke dalam markas militer kembali,  dia awalanya mau langsung mengarah ke arah kantor Jendral Indra, namun langkahnya berhenti melihat sebuah Mess yang tampak lengang, entah kenapa rasanya dia terpanggil ke sana.


Jofan selalu percaya dengan intuisinya, makanya dia segera berjalan  menuju mess itu. Entah kena0a dia tersenyum sepanjang jalan ke mess itu, suasana di sana sepi, karena memang banyak tentara di sana sedang melakukan pelatihan di tempat lain.


Angin semilir menerbangkan gorden tipis berawarna hijau pupus di jendela mess itu, hening, seperti mess itu tidak punya penghuni. Jofan lalu mengetuk pintu mess itu, namun tidak ada yang menjawab sama sekali.


Jofan mengerutkan dahi, mencoba sekali lagi mengetuk mess itu, tapi tetap tidak ada jawaban, dia lalu mencoba membuka pintu mess itu, dan tidak terkunci.


Jofan terdidik dari kecil, merasa sungkan untuk masuk ke dalam kediaman orang tanpa izin, jadi dia membiarkan pintu itu terbuka lebar, namun dia tetap berada di ambang pintu.


Begitu pintu terbuka, Jofan langsung kaget melihat tubuh Sania yang sudah tergeletak di tengah ruangan itu, dia langsung saja masuk, mengangkat tubuh Sania yang dingin.


" Nona Sania? " kata Jofan menatap wajah Sania yang penuh bekas luka, dia akhirnya bisa melihat wajah Sania lagi, namun sungguh berbeda dengan yang pernah di lihatnya, selain itu darah tampak sudah mulai mengering yang keluar dari hidungnya, pasti dia sudah lama tergeletak di sana, dan tidak ada orang yang menolongnya.


Dengan cepat Jofan segera mengangkat tubuh Sania, tubuhnya kecil dan kurus, bahkan Jofan sama sekali tidak merasa sedang mengendong seorang gadis, tubuh Sania terkulai lemah, dia langsung membawanya keluar buru-buru, beberapa orang tentara dan asistennya segera mendekati Jofan.


"Sediakan mobil sekarang. " kata Jofan.


"Jam segini keadaan jalanan sangat macet. Saya akan menyiapkan heli untuk Anda. " kata asisten Jofan memberitahukan.


"Ya. " kata Jofan lagi.


Dia lalu segera berjalan menuju helipad di sana, untungnya semuanya sudah stand by, dia memangku tubuh Sania, dan mereka segera pergi dari markas militer itu.