Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
226



Angga mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah dia keluar dari kamar mandi, melihat Bella yang masih bermalas-malasan sambil sedikit memakan roti yang disediakan dari tadi, dia tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Aku selalu lapar," kata Bella lagi melihat senyum mengejek dari suaminya.


Makanlah yang banyak, kata Angga dengan bahasa isyarat.


"Iya," kata Bella sambil menyuapkan roti itu lagi. Angga segera duduk di meja kerjanya, tak lama handphonenya berdering. Dia melihat handphonenya, nama Jofan terpampang jelas di sana.


"Halo? " Kata Angga.


"Nyalakan TVmu, cari siaran berita nasional, sebentar lagi aku akan meneleponmu lagi," kata Jofan terdengar sangat serius. Angga yang menangkap nada suara itu langsung mengerutkan dahi. Jofan segera mematikan sambungan teleponnya.


Angga segera mengambil remote TV yang ada di dekatnya, menghidupkan Tvnya lalu berjalan hingga mendekati TV itu, dia segera mencari siaran berita nasional yang di maksud Jofan, Bella yang melihat itu tampak bingung, kenapa tiba-tiba Angga begitu serius. Berdiri memperhatikan TV itu dengan seksama.


"Ada apa? "kata Bella.


"Srrtt! " kata Angga berbalik dan menunjukkan gestur agar Bella diam, Bella yang melihat itu hanya manyun saja, masa dia di suruh diam, dia kan sedang penasaran, gak baik loh orang hamil di buat penasaran, gerutunya dalam hati, tak berani mengeluarkan suara pada Angga.


Siaran itu langsung memberitakan tentang kematian Raja Leonal, Angga melihat itu langsung kaget, begitu juga Bella yang tadinya kembali bersandar malas, langsung menenggakkan cara duduknya, dia juga kaget, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Bella langsung keluar dari tempat tidurnya. Dan berdiri di samping Angga yang begitu fokus melihat berita itu.


Di sana terlihat Aksa sedang mengumumkan tentang berita kematian ayahnya, Angga terus saja mengerutkan dahinya, kematian Raja Leonal terlalu mendadak jika memang di sebabkan penyakit keturunan sesuai pengakuan Aksa di TV.


"Kemarin Raja Leonal dipukul oleh Ratu Ayana, apakah dia meninggal karena itu? " kata Bella berkata pada Angga, Angga segera melihat ke arah Bella. Tidak berkata apa pun, hanya menuntut jawab.


"Kemarin yang menculikku adalah Raja Leonal, aku di sekap di tempat Ratu Ayana, saat itu Raja Leonal datang dan mencoba untuk menyerangku, dan tiba-tiba Ratu Ayana memukulnya dengan sebatang besi, dan Raja Leonal langsung pingsan, saat aku keluar, Ratu Ayana sedang memukul tubuh Raja Leonal," kata Bella menjelaskan apa yang dia lihat semalam.


Kita belum tahu kenapa Raja Leonal meninggal, aku curiga ini ada hubungannya dengan Aksa, dia mengatakan kematiannya karena Penyakit keturunan, kata Angga dengan mengunakan bahasa isyaratnya.


"Baiklah, jadi apa yang akan kalian lakukan?" kata Bella lagi.


Aku sedang menunggu telepon dari Jofan, kau mandi dan istirahatlah, aku akan ada di ruang kerja, barang dan keperluanmu sudah sampai, mereka akan menyiapkannya di sini nanti, kata Angga lagi mengerakkan tangannya.


"Baiklah, aku akan menyuruh Shella untuk membantuku, selamat bekerja ya," kata Bella mencium pipi Angga sekejap sebelum pergi melangkah ke kamar mandi, Angga yang mendapatkan ciuman itu sedikit kaget, Bella tak pernah melakukan hal spontan seperti ini dulu, namun hal itu cukup membuat moodnya membaik, dia segera mengambil handphonenya dan berjalan keluar.


Saat dia keluar, dia melihat seorang wanita yang sudah berdiri di dengan setia di depan kamar mereka, dia ingat Bella menyebutnya Shella, dia juga membawa pakaian dan juga beberapa barang yang sepertinya obat-obatan.


Shella kaget melihat Angga keluar dari kamar tidurnya, menatap memperhatikan, Pria ini benar-benar tampan dan dingin, tapi memang itulah yang membuatnya tertarik, bagaimana Nyonyanya bisa dikerumuni oleh pria-pria tampan seperti ini, sangat beruntung setidaknya pernah melihat karya-karya terbaik ciptaan Tuhan.


"Permisi Tuan, saya membawa beberapa keperluan Nyonya, Nyonya harus minum Vitamin ini setiap hari, kemarin Nyonya tidak meminumnya, saya minta izin untuk membawanya masuk," kata Shella menjelaskan, tidak terlalu berani menatap Angga langsung, terlalu tampan hingga membuatnya takut.


"Silakan," kata Angga seadanya saja, toh dia juga sulit berbicara panjang lebar.


"Terima kasih Tuan," kata Shella lagi.


"Halo? "kata Angga.


"Kau sudah melihat kabar itu? "kata Jofan


"Ya. "


"Aku mendapatkan kabarnya dini hari tadi, nanti siang setelah aku selesai bertemu dengan utusan dari Negara tetangga, aku akan pergi ke sana, bagaimana menurutmu keadaan saat ini?" kata Jofan.


Angga tak menjawab, dia masuk ke dalam ruang kerjanya, dia lalu segera duduk dan tampak berpikir.


"Waktu … tepat," kata Angga lagi.


Jofan tersenyum, ternyata pemikirannya dan pemikiran Angga sama, ini adalah waktu yang tepat untuk menundukkan istana sebelum Aksa dilantik menjadi raja, waktu yang tepat untuk mencabut hak istimewa kerajaan.


"Baiklah, aku akan segera menyusun rencana, aku rasa pekerjaan kita yang tertunda akan segera selesai," kata Jofan tersenyum sinis.


"Ya," kata Angga lagi.


"Kau ingin melihat keadaan di sana, aku bisa membuatmu menjadi salah satu pengawalku, kita akan melakukan sedikit penyamaran untukmu, mungkin dengan begitu kita bisa merencanakan langkah selanjutnya," kata Jofan, Angga tampak diam sejenak, tangannya membolak-balikkan pena, tampak berpikir.


"Baiklah," kata Angga lagi, dia merasa perlu untuk bertemu dengan Aksa, dia ingin memastikan, bagaimana dia harus bertindak selanjutnya pada Aksa, jika dia benar-benar menjadi raja, dan dia masih saja merupakan ancaman, maka rencana mereka harus segera di jalankan, agar Aksa tidak lagi bisa macam-macam dengan mereka.


Angga lalu berdiri, segera keluar dari kantornya, seorang tentara yang sekarang menjadi  Asisten Angga segera mendekatinya.


"Tuan, Sarapan untuk Anda dan Nyonya sudah di siapkan di ruang makan,"kata Asisten Edward pada Angga.


Angga mengangguk, dia lalu segera melangkah ke arah kamarnya,  Asisten Edward segera mengikutinya.


"Tuan peralatan dan dokter yang Anda minta sudah ada, mereka sedang memasang alatnya di ruang perawatan Anda dulu, kita sudah bisa melakukan pemeriksaanya siang ini, " kata Asisten Edward pada Angga lagi untuk melaporkan semuanya.


"Baiklah," kata Angga seadanya, dia lalu segera masuk ke dalam kamarnya, Asisten Edward segera berdiri di depan pintu kamar Angga.


Angga melihat Bella yang sedang bersiap meminum vitaminnya, Bella yang melihat Angga masuk lagi tentu terkejut, bukannya dia ada kerajaan tadi?.


"Sudah bekerjanya?" kata Bella lagi.


"Makan … dulu," kata Angga mencoba berbicara terus menerus pada Bella.


"Baiklah," kata Bella, Bella segera meminum vitaminnya, setelah itu dia berdiri, Angga seperti biasa berjalan duluan, dan Bella segera berjalan mengikutinya, dan mereka masuk ke dalam suatu ruangan dengan makanan yang sudah di siapkan, Bella yang melihat itu tampak senang. Dia segera duduk di kursi sebelah Angga dan mereka mereka langsung makan bersama.