
Hai, Cinta! Aku ingin bercerita, kau tahu cemburu itu benar-benar menyiksa, rasanya menggerogoti seluruh raga, membuat pikiran pun tak tentu arah,
hanya satu masalahnya, kau bahkan tak tahu aku mengalaminya, adilkah ini cinta?
__________________________________________
" Nona, saya sudah melaporkan semuanya kepada Tuan Angga, setelah ini Anda ingin ke mana? "kata Judy pada Bella yang sedang duduk menikmati perjalanannya.
"Apakah hari ini aku harus berbicara lagi dengan Angga tentang pertemuan ini? "kata Bella.
"Tuan Angga belum memberi tanggapan, saya rasa mungkin nanti malam Tuan Angga akan meminta Anda bertemu dengannya,"kata Judy menjelaskan
"Kalau begitu, kita kembali saja dulu ke apartemen, aku ingin mengambil beberapa barang keperluanku,"kata Bella lagi.
"Baiklah Nona,"kata Judy.
Mobil mereka melaju menuju apartemen Mika, karena hari mulai sore, mall yang ada di bawah apartemen Mika cukup ramai, jalan masuk ke sana jadi macet, setelah menunggu 10 menit, Bella memutuskan untuk jalan saja, toh sudah dekat, pikirnya.
"Judy, aku jalan saja masuk dari mall, jika menunggu terus akan memakan waktu,"kata Bella lagi, dia segera membuka pintu, Judy tidak menjawab langsung mengikuti langkah Bella.
Bella berjalan menuju arah masuk mall, dia memutuskan untuk masuk dari sana menuju ke apartemennya, namun belum sampai dia ke pintu masuk mall, tiba-tiba seseorang menutup kedua matanya dari belakang, membuat Bella terkejut dan langsung terhenti langkahnya, apakah ini penculik? Tapi masa ada penculik yang ingin menculiknya di tempat begini ramai?, dia lalu memegang tangan yang menutupi kedua matanya.
" Selamat Sore Nona Mika, " suara itu berbisik dekat telinga Bella, membuat dia merasa geli, Bella menganalisa suara yang tak asing itu, dia lalu tersenyum lebar…
" Kak Daihan! "katanya dengan nada senang, setelah dia mengucapkan itu, matanya di buka, dia lalu berbalik, menangkap sosok Daihan dengan senyum manisnya.
" Apa kabarmu? " kata Daihan begitu lembut.
" Baik Kak, kapan kakak pulang?, " kata Bella begitu senang.
" Aku baru saja mendarat, menanyakan kabarmu pada Judy, dan langsung ke sini,"kata Daihan, senyumannya benar-benar mempesona, membuat Bella terpana, selain itu kata-kata yang di lontarkan oleh Daihan kembali berhasil membuat Bella tersentuh, pria ini baru saja melintasi samudra dan benua, namun begitu menginjakkan tanah di sini, orang yang pertama kali ingin di temuinya adalah Bella, benar-benar sangat romantis.
" Kakak langsung ke sini begitu dari bandara? "kata Bella yang sekali lagi mencoba memperjelas, dia takut ke 'ge-eran'.
"Ya, karena orang yang sangat ingin aku temui di sini hanya kau, lagi pula aku sangat merindukanmu, kalau menahannya lebih lama, aku pasti merasa sangat tersiksa, " kata Daihan menatap lekat-lekat mata Bella, membuat Bella begitu salah tingkah karena kelakuan Daihan.
"Apakah tidak lelah? "kata Bella lagi menutupi kegugupannya.
Bella kaget, sangat kaget, dia bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saja dia sudah ada di dalam pelukan Daihan, kehangatan tubuh Daihan menyelimuti seluruh tubuhnya, Bella dapat mencium lembutnya wangi tubuh Daihan, baunya bagaikan wangi musim semi yang menenangkan jiwa. Daihan benar-benar memeluknya dengan sangat erat, bahkan sekarang Bella kesusahan untuk bernapas, terlalu sesak bercampur dengan perasaannya yang tak karuan sekarang.
Bella cukup malu, dia sempat melihat beberapa orang yang menatap mereka, ada yang melihat dengan senyum, ada juga yang tampak iri melihat mereka berpelukan di depan umum, Daihan benar-benar tidak malu memeluk Bella di depan begitu banyak orang. Dia mengelus lembut kepala Bella. Semua orang yang melihat itu pasti mengira mereka sepasang kekasih.
Daihan sangat menyukai Bella, selama di luar negeri, senyuman Bella lah yang paling di rindukannya, membuatnya ingin cepat-cepat pulang, dia tidak bisa melepaskan bayang-bayang wanita itu dari pikirannya, karena itu, dia bertekat akan menjaga dan membuat bahagia Bella bagaimanapun caranya, lagi pula Bella bukan milik siapa-siapa? jadi tidak apa-apa kan dia menyukainya dan ingin memilikinya?.
"Kak, banyak orang yang melihat kita loh,"kata Bella
Daihan tersenyum, dia lalu melepaskan Bella dari dekapannya, melihat wajah Bella yang tampak bersemu merah, menambah imut dan cantik wajah Bella, Daihan malah semakin gemas melihatnya. Ingin memeluknya lagi namun Bella langsung menolaknya.
"Kakak, di sini sangat ramai,"kata Bella lagi dengan nada sungkan.
"Haha, baiklah, kalau begitu, ayo temani aku makan, aku sangat lapar," kata Daihan mengenggam tangan Bella tanpa meminta izin, membuat Bella tambah bingung, dia hanya bisa mengikuti Daihan saja, tidak mungkin berontak apa lagi begitu banyak orang di sana. Daihan berjalan perlahan, Bella yang berada di sampingnya tampak sedikit menunduk malu, wajahnya yang cantik bersemu merah, menambah manis dirinya, Daihan melihat itu tersenyum lembut, membuat ketampanannya bertambah.
Angga sedang duduk di ruang rapat yang sebentar lagi akan dipimpinnya, dia cukup puas dengan laporan tentang yang di lakukan oleh Bella, karena itu moodnya sebenarnya lumayan bagus hari ini, dia duduk di kursinya, sesekali tampak tersenyum sedikit, para pegawai yang melihat itu sedikit bernapas lega, setidaknya mereka tak perlu setegang biasanya.
Asisten Jang datang dengan cepat, buru-buru seolah ada yang sangat penting untuk di bicarakan pada Angga, Angga langsung menanggapi Asisten Jang.
"Ada apa? "kata Angga dengan wajah dinginnya pada Asisten Jang.
" Tuan, ini,"kata Asisten Jang menunjukkan beberapa foto pada tabletnya, Angga menatap itu dengan tatapan tajam, wajahnya yang tadinya tampak lumayan bersahabat langsung berubah menjadi sangat dingin dan kejam, dia benar-benar tidak suka dengan apa yang di lihatnya.
Di sana terlihat foto Bella dengan Daihan, bahkan ada foto di mana Daihan memeluk Bella, mengandeng tangannya pergi, dan foto mereka saling bertatapan, Angga benar-benar tidak menyukainya, apa yang di pikirkan Bella hingga dia berpelukan dengan Daihan di depan banyak orang?, apa yang akan di katakan oleh Aksa jika dia melihat hal ini?, sekarang statusnya adalah pacar Angga, dengan begini tentu saja Bella mencoreng wajah Angga secara tidak langsung. Dengan tatapan yang begitu tak enak di lihat, dia berdiri dan sedikit 'mengeprak' meja, membuat para karyawan dengan cepat langsung duduk tegak dengan postur tubuh sempurna dan wajah mereka menjadi tegang.
"Sediakan mobil sekarang juga,"kata Angga segera menatap Asisten Jang dengan sangat tajam, membuat Asisten Jang jadi bingung, tapi tak berani bertanya, dia lalu segera pergi menyiapkan apa yang di katakan oleh Angga.
Karyawan di sana benar-benar terdiam, suasananya sangat senyap, entah kenapa Angga merasa sangat kegerahan sekarang, seolah semua ac di ruangan itu mati, apa hubungan Daihan dan Bella? Apa yang mereka lakukan di belakangnya?, apa lagi Bella sama sekali tidak melaporkannya, kenapa setiap Bella pergi dengan Daihan dia selalu tidak memberi tahu apapun? Apa yang mereka sembunyikan?, pikir Angga, dia lalu segera pergi dari sana. Melihat Angga yang pergi dari ruangan rapat itu, para karyawan saling bertatapan, mereka heran dan binggung, Angga tak pernah meninggalkan rapat jika dia sudah masuk ke dalam ruang rapat, kalau sekarang Angga pergi dari rapat, ini artinya mereka harus lembur lagi dong?. Muka para karyawan yang ada di sana langsung lemas.
Angga berjalan sangat cepat menuju ke arah mobilnya dan langsung masuk ke dalamnya, mobil itu segera melaju, tanpa komandonya, Asisten Jang sudah tahu ke mana Angga ingin pergi. Perjalanan ke sana cukup cepat, karena supir Angga membawanya dengan sangat cepat, namun masih seperti tadi, jalan masuk ke dalam areal mall dan apartemen itu macet, sehingga mobil mereka mau tak mau berhenti.
Angga tak sabar melihat kemacetan yang ada di depannya, dia lalu segera membuka pintunya, berjalan dengan cepat namun tetap berwibawa masuk ke dalam areal mall itu, Asisten Jang berjalan di belakangnya, berusaha sekuat tenaga mengikuti langkah Angga.
"Di mana mereka? "kata Angga.