Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
106



Aksa menatap Bella dengan tatapan sangat bergairah, seolah yang di lihatnya hanya Bella, dia lalu membuka jasnya, mengendurkan  dasinya dengan kasar, membuka beberapa kancing atas kemejanya, walau di sana terasa dingin, tapi Aksa cukup kegerahan memperhatikan gadis di depannya, Bella sudah merenggut perhatiannya, dia sudah membuat Aksa tidak bisa berhenti menginginkannya, saat tau Mika adalah Bella, hatinya sangat senang, setidaknya Bella adalah miliknya, istri sahnya. Aksa lalu segera mendekati Bella.


Bella duduk dan mundur ketika Aksa mulai mendekatinya, mencoba tertatih menjaga jarak dengan Aksa, ketakutan, kengerian, membuat air matanya mulai turun lagi, Bella melempar apapun yang bisa digenggamnya, tapi yang dia bisa lemparkan cuma bantal yang sama sekali tidak ada efeknya untuk Aksa, Aksa memberikan gerakan tiba-tiba menarik kaki Bella mendekat dirinya membuat Bella terseret di ranjang itu, Aksa sekarang ada tepat di atas Bella, menindih tubuh Bella.


Bella yang baru menyadari itu segera berontak, memukul tubuh Aksa, menendang, namun tetap saja kekuatan Bella sama sekali tidak ada rasanya oleh Aksa, tangan Aksa segera mencekik leher Bella, menekannya kuat hingga Bella kesusahan untuk bernapas, Bella mengelepar menahan sakit di lehernya dan mencoba bernapas, untungnya Aksa tidak terlalu lama mencekiknya, dia mengendurkan tekanan pada leher Bella, tapi tidak memindahkan tangannya, dia tetap membuat wajah Bella menghadap wajahnya.


Dengusan Angga terasa menerpa wajah Bella, menyapu wajahnya, Aksa menatapnya dengan seksama, melihat seluruh wajah cantik Bella, bahkan seperti tidak ingin melepaskannya, gadis ini yang sudah coba-coba mempermainkan perasaannya, dan sialnya di dalam perasaannya memang sekarang ada Bella. Aksa memperhatikan mata Bella yang coklat yang hanya memancarkan ketakutan, kesal, dan marah.


"Kenapa kau harus menutupi matamu yang indah itu? " kata Aksa, Bella hanya menatap Aksa dengan tatapan kesal dan marah, tangan Aksa segera membuka mata kiri Bella, Bella terus berontak, refleks Bella menutup matanya, namun Aksa memaksa mata Bella untuk terbuka, tangan yang satu langsung mengambil kontak lens yang di pakai oleh Bella, mata Bella bergerak-gerak, melihat tangan Aksa yang mendekati matanya dengan kengerian.


"Akhhh! " Teriak Bella ketika tangan Aksa nyentuh matanya dengan kasar mencabut kontak lensnya.


Aksa segera melepaskan kontak lens itu, melihat mata biru Bella yang sangat indah, mata itu menatap Aksa dengan kengerian, air mata Bella mengumpul di matanya, bagian putih matanya memerah, pembuluh darahnya terlihat menjalar di matanya, Aksa segera melepaskannya tangannya dari mata Bella, Bella langsung menutup matanya, mencoba untuk menahan nyeri yang sangat di matanya, dia menangis pilu, bukan karna hanya semata-mata sakit yang dia rasakan, tapi meratapi nasibnya yang buruk, baru saja bebas, namun kembali lagi ke siksaan yang sama. Apakah memang harus seperti ini nasibnya? Apa salah Bella hingga dia harus di siksa seperti ini?, tak bolehkah dia merasakan cinta?, semua itu membuat Bella menangis dengan lirih.


Aksa tidak lepaskan dirinya, hanya melihat Bella yang menangis tersedu-sedu, menebak penyiksaan apa lagi yang akan di berikan oleh Aksa.


Tangan Aksa kembali memegang dagu Bella, membuat wajah Bella agar tidak bisa bergerak, Aksa kembali melihat Bella dengan sangat bernafsu, dia mengusap bibir Bella yang tampak sedikit lebam di ujung bibirnya karena bekas tamparan Angga tadi.


Aksa yang sudah sangat haus akan Bella, langsung mencium bibir Bella yang dengan ganas, dia menekan bibirnya pada Bella, Bella yang menerima ciuman itu kaget, dia mengatupkan kedua bibirnya agar Aksa tidak bisa menciumnya, berusaha sekuat tenaga agar bibirnya tetap tertutup, bahkan rasanya sekarang bibirnya jadi mati rasa.


Saat Aksa ingin melakukan hal lebih, tiba-tiba pintu kamar itu di ketuk dengan sangat keras, Aksa yang mendengar itu sebenarnya tidak ingin peduli dan melanjutkan aksinya. Tapi ketukan di pintu itu sama sekali tidak berhenti.


"Pangeran, Pangeran! " kata Pengawal itu tampak sangat panik.


Mendengar itu, mau tak mau Aksa segera menyudahi aksinya, dia melepaskan Bella yang langsung menjauh dari Aksa, menutup tubuh bagian atasnya yang sudah terlihat karena kemejanya sudah tersobek setengah dengan bantal yang ada di sana, dia gemetar, menahan takut, air matanya terus mengalir, suara tangisan lirihnya terdengar. Dia tidak percaya nasibnya separah ini jadinya, jika seperti ini rasanya dia lebih baik mati, matanya pun terasa sangat perih, di sudut matanya tampak perdarahan.


Aksa perlahan berjalan ke pintu itu dengan penuh rasa kesal, ketukan itu sudah merusak kesenangannya, Aksa lalu membuka pintu itu, penjaga langsung menyampaikan sesuatu, wajah Aksa tampak sedikit berubah, wajahnya tampak kaget dan kesal. Dia melirik ke Bella yang masih meringkuk ketakutan.


"Kunci dia, jangan biarkan dia pergi! " kata Aksa lalu pergi keluar dari kamar itu, Bella yang melihat Aksa pergi tampak sedikit bernapas lega, dia lalu segera memastikan Aksa benar-benar pergi, namun pintunya juga terkunci, Bella mencoba untuk membukanya, namun sama sekali tidak bisa, Bella langsung mencari cara untuk keluar dari sana, ruangan itu sama sekali tidak punya jendela, hanya punya ventilasi yang sangat kecil, Bella lalu mencari cara lain, di ujung ruangan terdapat sebuah pintu, Bella langsung mencoba untuk membukanya, waktu membukanya, pintu itu ternyata menuju kamar mandi, kamar mandinya tampak juga sudah di ubah lebih modern, tapi  saat Bella mencari celah di sana, sama sekali tidak ada tempat di mana dia bisa kabur. Melihat itu semua Bella tampak lemas, dia kesal, dia marah, kenapa sih hidupnya harus seperti ini!.


Kalau saja saat dia di temukan dulu, dia tidak punya hasrat untuk membalas dendam, pasti hidupnya sekarang akan lebih baik, setelah di pikir-pikir, untuk apa dulu Bella ingin membalas dendam? karena Aksa membunuhnya? Karena Aksa mencampakkannya? karena apa? Bella pun sekarang tak tahu, Bodoh! Bella seharusnya tahu, hidupnya sama sekali tidak akan baik jika berhubungan dengang Aksa, BODOH!!! pekik Bella dalam hati, hah... penyesalan memang datang selalu terlambat.


Bella duduk meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin, bahkan bajunya yang compang camping pun tak lagi menjadi masalah untuknya, dia melihat pintu kamar mandi itu, di dalamnya terdapat kunci, otaknya berputar, tempat ini bisa jadi tempat pertahannya, jika Aksa datang, dia bisa langsung masuk ke sini dan mengunci diri, Bella melihat ke arah kunci pintu itu, cukup kuat.


Bella segera mengambil beberapa bantal, selimut tebal, beberapa baju ganti yang sudah di sediakan oleh Aksa, beberapa barang yang menurutnya penting untuk di sana, lalu memasukkannya semua ke dalam kamar mandi, dia mengelar selimut itu di dalam bath up, memasukkan menaruh barang-barangnya di sana,  dia tidak mau tiba-tiba saat malam, Aksa datang dan menyerangnya saat dia tiidur, lebih baik dia sadar jika Aksa nantinya datang, bahkan kalaupun dia mati terkurung, dia tidak ingin mayatnya tersentuh oleh Aksa, pikirnya.