Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
125



"Judy, apa yang di lakukan Nona saat aku tidak ada?" kata Angga bertanya pada Judy yang berdiri di belakangnya.


"Nona hanya tidur Tuan, tapi seperitnya Nona menangis, dia menutup dirinya sendiri dengan selimut, hingga tertidur. Setelah bangun dia mencari Anda, tapi karena Anda belum pulang, Nona pergi ke kamar mandi, hingga Anda pulang." kata Judy melaporkan keadaan.


Sorot mata Angga suram, sangat suram hingga tak ada lagi terlihat cahaya di sana. Dia sudah membuat Bella menangis, Bella pasti merasa Angga lebih mementingkan Mika dari pada dia, perasaan Angga benar-benar kacau sekarang.


Angga kembali mengetuk pintu ruangan Bella.


"Bella izinkan aku masuk." kata Angga


"Aku ingin tidur, aku ingin sendiri, tidak ingin siapapun ada di sini." saut Bella dari dalam, menahan suaranya agar tak begetar, dia tidak ingin Angga tahu dia masih menangis sampai sekarang.


"Biarkan Judy menjagamu. "kata Angga lemah


"Pergilah, aku akan membiarkan dia masuk jika kau sudah tidak ada disana. "kata Bella lagi, menarik napas panjang, pokoknya Bella tidak ingin melihat wajah Angga, karena setiap kali melihatnya, hati Bella akan semakin terluka, lukanya akan bertambah lebar, dan Bella sungguh-sungguh tak tahan lagi akan sakitnya yang benar-benar mengrogotinya dari dalam.


Angga terdiam, tidak lagi mengetuk pintu, Bella benar-benar tidak ingin dia ada di sana, karena itu dia melihat ke arah Judy, seakan mengerti apa yang harus di lakukannya, Judy hanya mengangguk.


Angga dengan langkah berat pergi dari sana, dia lalu masuk ke kamar sebelah Bella.


" Nona, Tuan Angga sudah pergi." kata Judy.


Bella mendengar itu makin sakit, kenapa waktu dia mendengar kata-kata Judy dia malah merasa Angga tidak memperhatikannya, malah pergi begitu saja? Ah! Bella pun bingung sebenarnya hatinya ingin apa? ingin Angga ada tapi juga mengusirnya.


Bella lalu membuka pintu, langsung membuang muka dan menuju ranjangnya, dia langsung berbaring.


"Aku ingin tidur." kat Bella lagi.


" Tak ingin makan malam Nona?"


"Tidak." jawab Bella tegas, kepalanya pusing, dia hanya menutup matanya yang sembab dan masih basah. Judy tak bisa melakukan apapun.


Angga memasuki kamar yang percis di sebelah ruangan Bella, ruangan itu jauh lebih kecil, bahkan ranjangnya juga hanya pas untuk 1 orang, kalau tidak memikirkan Bella yang ada di samping ruangan itu, seorang Angga tak akan pernah mau tidur di tempat itu.


Dia duduk di ranjangnya, merenung tentang apa yang di katakan oleh Bella, apa mungkin memang semua ini salahnya? Begitu lama mengenal Mika dan Daihan, dia ternyata sama sekali tidak mengenal mereka. Dia terlalu merasa Mika tidak akan kemana-mana, Daihan adalah sahabat baiknya, terlalu terbiasa, lalu menyepelekan. Hingga semua terjadi di belakang Angga. Yah, benar… semua ini salahnya…


Angga tersenyum kecut menerima kesalahannya, tapi sekarang hal itu tidak penting lagi, sekarang pikirannya jatuh pada wanita yang sekarang berada di sampig ruangan itu. Apa yang sekarang Bella sedang lakukan? Bagaimana perasaannya sekarang?, Bagaimana dia harus membuat Bella percaya kalau sekarang wanita yang ingin dijaga, diperjuangkannya hanya Bella.


Tiba-tiba pintu ruangan Angga di ketuk dari luar, membuat semua lamunannya buyar.


"Masuk. " katanya dengan suara beratnya.


Pintu terbuka,  Asisten Jang datang dengan beberapa dokumen di tangannya.


"Ada apa? Aku sedang tidak bisa berpikir, jija ada Client, batalkan saja semuanya." Kata Angga.


Angga mendengar itu langsung menatap  Asisten Jang dengan serius, matanya menemukan kembali cahaya, sepertinya ini caranya agar bisa kembali dekat dengan wanita itu. Dia lalu segera bangkit,  Asisten Jang langsung mendekatinya.


"Kau sudah menemukannya?" kata Angga sedikit tidak percaya.


"Sangat susah untuk mencarinya, karena sebelumnya Nona Bella tidak memiliki data apapun, namun saya menemukan seorang wanita yang dilaporkan memiliki mata yang sama persis dengan Nona Bella. "kata  Asisten Jang menerangkan


Angga menyimak segala perkataan  Asisten Jang dengan serius, dia juga melihat seluruh dokumen yang serahkan oleh  Asisten Jang. Di dalamnya terselip sebuah foto wanita yang mirip dengan Bella namun usianya terlihat jauh lebih tua. Sekilas saja melihatnya, kemungkinan wanita itu adalah ibu Bella.


"Ada di mana dia?"kata Angga serius.


"Di pulau bagian selatan, pulau kecil, saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari informasi tambahan, mereka akan melaporkannya secepatnya." kata  Asisten Jang


"Baiklah, ini akan jadi kabar yang baik untuk Bella." kata Angga sedikit tersenyum


"Baik Tuan." kata  Asisten Jang lagi.


Angga mengambil handphonenya, lalu segera menelepon Judy.


" Halo? Apa yang sedang di lakukan oleh Nona Bella?" kata Angga antusias.


"Nona sedang beristirahat Tuan, sepertinya Nona kelihatan sangat lelah." kata Judy melaporkan keadaan Bella.


Angga terdiam, dia mengigit bibirnya, hatinya jadi sakit mendengarkannya, dia berjanji menjaga Bella, tapi dia malah membuat Bella merasakan sakit seperti ini.


"Baiklah, kabarkan apapun keadaannya nanti padaku." kata Angga


"Baik Tuan." kata Judy


Angga memutuskan panggilan teleponnya. Menatap kepada  Asisten Jang yang masih ada di sana.


"Baiklah. kau sudah bisa istirahat." kata Angga sedikit tersenyum, Asisten Jang melihat itu agak sedikit kaget.


"Terima kasih Tuan, apa Anda ingin makan malam dulu, atau ingin di siapkan sesuatu?" kata  Asisten Jang yang melihat keadaan ruangan Angga yang benar-benar sederhana, bahkan di bawah sederhana.


"Tidak perlu. Istirahatlah." kata Angga


"Baik Tuan. "


Asisten Jang langsung pergi keluar dari sana, Angga kembali duduk di ranjang yang terasa jauh dari empuk, dia menatap beberap file yang tadi berikan oleh  Asisten Jang, dia yakin, esok ketika Bella mendengar kabar ini, dia pasti sangat senang.


Angga tersenyum sedikit namun cukup manis. Dia rasa Tuhan sudah memberikan jalannya untuk bisa kembali merebut hati wanita itu. Angga meletakkan file itu, dan segera merebahkan dirinya, karena telalu lelah dan kurang istirahat, sekejap saja dia sudah tertidur.