
Daihan menatap Nakesha, lalu tersenyum tipis namun manis, dia memainkan gelas kristal yang sudah tertata rapi di depan mejanya.
"Ya, sayangnya kau bukan Bella," kata Daihan lagi.
Nakesha terdiam, dia juga melihat gelas kristal yang ada di depannya yang memantulkan wajahnya yang cantik.
Lantunan suara melodi sexophone yang terdengar membuat suasana di sana makin sendu, Daihan dan Nakesha tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Handphone Daihan bergetar, dia melihat pesan yang muncul di handphonenya.
"Angga dan Bella meminta maaf karena tidak bisa bergabung, Angga harus kembali ke perusahaan,"Kata Daihan berat, sedikit kecewa karena kesempatannya untuk kembali melihat Bella hilang. Nakesha memperhatikan mimik wajah Daihan yang walau pun dia tutupi dengan senyuman hangat itu, tampak begitu kecewa.
Tak lama makanan mereka datang,
"Ayo Makan, jam makan siangku hampir habis," kata Daihan.
"Baiklah," kata Nakesha, makan dengan canggung, dia belum pernah makan di restauran begini, melihat makanannya saja sudah membuatnya pusing, kenapa hanya ada sayuran dan ikan?. Makanan orang kaya memang beda, pikir Nakesha.
Sesekali dia menatap Daihan yang sedang menikmati makan siangnya, tampak begitu anggun dengan gayanya, sungguh sosok seorang yang sempurna, dan seketika saja Nakesha merasa kagum.
Setelah beberapa menit, mereka selesai menyantap semua makanan di sana, Daihan hanya diam saja, semenjak Angga dan Bella memutuskan tidak datang, aura dari diri Daihan berubah, dia jadi lebih sedikit pendiam.
Lantunan lagu yang terdengar sendu membuat suasana di sana makin canggung bagi Nakesha.
"Apa yang kau suka dari Kak Bella?" kata Nakesha memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Ehm ... ntahlah, menurutmu apa seseorang perlu alasan untuk menyukai seseorang? " kata Daihan.
"Ya, menurutku harus, tak mungkin kau menyukai seseorang tanpa ada yang rasa tertarik sebelumnya, menyukai seseorang tanpa alasan cukup klise buat ku, hanya terdengar seperti rayuan gombal yang murahan, jika kau menyukai sesuatu, harus ada alasan kenapa kau menyukainya? bahkan membenci pun harus ada alasannya, kenapa menyukai tak harus punya alasan? itu saja," kata Nakesha tegas.
Daihan mendengar itu cukup terkejut, dia tak pernah berpikir tentang itu, baginya tak ada alasan kenapa dia harus menyukai Bella, tapi pernyataan Nakesha menurutnya ada benarnya, tak mungkin menyukai tanpa ada sesuatu yang di sukai, Daihan tahu, Nakesha wanita yang lebih mengunakan logikanya, wanita begini tak mudah untuk dirayu.
"Baiklah, sejauh yang aku rasakan, dia wanita yang ingin aku lindungi, saat pertama kali menemuinya, dia penuh dengan kesedihan, namun dia tetap bisa tersenyum, sejak saat itu aku menyukainya, bertekat membuatnya tetap tersenyum, karena aku menyukai senyumannya," kata Daihan dengan tutur katanya yang lembut.
Nakesha hanya memandang Daihan yang menjelaskan padanya tentang kenapa dia menyukai Bella.
"Kalau begitu kau tak menyukainya, kau hanya kasihan padanya," kata Nakesha lagi, dia melipat tangannya di meja.
Wajah Daihan langsung berkerut, menatap Nakesha dengan wajah bertanya dan tak setuju.
"Ya, kau tak menyukai Kak Bella, kau hanya kasihan padanya, kau bilang saat kau bertemu pertama kali dengannya, kesan yang kau dapat adalah kesedihannya, itu yang membuat hatimu yang lembut itu tersentuh, jadi di dalam pikiranmu, bagaimana cara membuat wanita cantik yang sedang bersedih ini tertawa, saat dia tersenyum padamu, kau merasa candu akan senyumannya, karena memang misimu adalah membuatnya tertawa, dengan kata lain, kau hanya kasihan padanya," kata Nakesha panjang lebar, dia lalu meminum air di gelas kristalnya.
Daihan masih tak bisa menerima penjelasan Nakesha.
"Bukannya esensi menyukai seseorang adalah membuat orang itu bahagia?" kata Daihan.
"Ya, makanya terkadang menyukai dan kasihan itu hanya beda tipis, tapi ada juga perbedaan yang besar yang membedakan mereka berdua," kata Nakesha serius
"Apa itu?" kata Daihan juga tambah serius.
"Saat kau kasihan, kau akan merasa yang bisa membuatnya bahagia, hanya kau, kalau bukan kau, orang lain tak bisa, karena itu kau terus memaksakan perasaanmu," kata Nakesha, berhenti sesaat agar Daihan mengerti kata-kata dan maksudnya.
"Namun jika kau menyukainya dan mencintainya, kau rela, kau rela dia bisa bahagia dengan yang lain, kau bahagia juga walau pun kau tahu yang membuatnya bahagia bukanlah kau, Yang bisa membuat Bella bahagia cuma Angga, bahkan di saat mereka tak punya apa-apa, Angga lah yang bisa membuat dia bahagia, kau harus sadar itu, " kata Nakesha menatap lurus ke mata Daihan.
Daihan terdiam, dia cukup tertampar dengan kata-kata Nakesha, apakah benar perasaanya hanya sebatas kasihan?, tapi ....
"Aku rasa aku tahu apa perasaanku pada Bella," kata Daihan masih tak bisa menerima perkataan Nakesha.
Nakesha sedikit tersenyum, biarlah memang susah untuk tersadar. Keheningan kembali menyergap, Nakesha kembali menatap wajah tampan di depannya, yang membuat jantungnya dari tadi tak karuan.
"Tidak," kata Daihan menatap Nakesha.
"Benarkah? walau pun sedikit? kau kan merawatnya sampai berbulan-bulan," kata Nakesha.
"Aku menerimanya, tapi tak memiliki rasa padanya."
"Mendengar seperti ini kenapa aku merasa kau cukup kejam, tak bisa membuka hatimu padanya, padahal dia sangat mencintaimu, dan sekarang malah menyukai wanita sahabatmu sendiri."
"Aku tak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta," kata Daihan.
"Sebenarnya kau bisa, hanya saja kau tak mau," kata Nakesha tersenyum lirih, entah kenapa jadi dia yang merasa sakit, suaranya pelan merendah.
"Nakesha," kata Daihan lembut berbalut tegas.
"Ya," kata Nakesha.
"Jangan menyukaiku," kata Daihan lansung, Nakesha sedikit kaget mendengar itu, rasa nyeri di dadanya tiba-tiba bertambah, apakah ini tandanya dia memang menyukai Daihan.
"Apa pun perasaan yang ada di dalam dirimu tentang aku, aku harap kau tak menyukaiku, karena aku tahu, biasanya saudara kembar memiliki Twintuition, di mana ikatan batin mereka memiliki ikatan yang kuat untuk menyukai hal yang sama," kata Daihan, sudah dari awal dia ingin mengatakan ini pada Naskesha, mempertegas batas antara dirinya dengan Nakesha.
Nakesha tersenyum manis sekali, mencoba menutupi nyeri di dadanya yang semakin menjadi, rasanya benar, dia sudah tertarik dengan Daihan, namun segampang itu pula Daihan langsung mematikan perasaannya.
"Tenang saja, kami kembar, namun sudah terpisah lama, bahkan kau bilang, aku sangat berbeda dengannya," kata Nakesha.
Daihan menatap Nakesha, dia takut akan terjadi lagi hal yang sama seperti Mika, karena apa pun yang di katakan Nakesha tadi, Daihan tahu di hatinya hanya Bella seorang. Jika Nakesha menyukainya, sejarah akan kembali terulang.
"Haha, sudah jam berapa? bukannya jam makan siangmu sudah habis?" kata Nakesha tertawa pada Daihan.
Daihan menatap tawa Nakesha, entah kenapa malah merasa itu tawa penuh luka, dan Daihan merasa ada hal yang salah.
"Hei, kenapa malah bengong, kau mau di pecat bosmu? nanti kau bilang alasan kau terlambat gara-gara aku, dan nanti bosmu akan marah pada ku, aku kan jadi di tuduh macam-macam," kata Nakesha lagi, sudah seperti biasa saja, tak lagi menunjukkan kesedihannya.
"Baiklah," kata Daihan berdiri.
"Ya," kata Nakesha.
Mereka segera keluar dari tempat khusus itu, Maneger mengantar mereka hingga mereka sampai ke depan mobil Daihan.
"Kau tidak membayar dulu? nanti kita di kejar loh," kata Nakesha bingung, kok malah main keluar aja.
"Tidak akan ada yang mengejar kita, lagi pula untuk apa aku membayar, restoran ini milikku," kata Daihan tersenyum sambil masuk ke dalam mobilnya, Nakesha mendengar itu tercengang, restoran sebesar dan semewah ini milik Daihan?.
Nakesha segera masuk, menatap Daihan dengan tatapan sinis.
"Kenapa kau menatap aku seperti itu?" kata Daihan sedikit tersenyum risih.
"Kau mempermainkan aku ya, sebenarnya kau ini bosnya kan? kau sama kayanya dengan Angga," kata Nakesha kesal.
"Haha, yah, bisa di bilang begitu, sudah, aku akan mengantarmu pulang."
"Baiklah, tapi lain kali kau harus meneraktir aku es krim, karena aku merasa di bohongi." kata Nakesha dengan wajah masih kesal. Daihan melihat tingkah Nakesha hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Aku tak bohong, kau saja yang berpikir aku punya bos, baiklah, aku akan meneraktirmu es krim lain kali," kata Daihan tanpa sadar tertawa manis.
"Baiklah, dan teruslah tertawa seperti itu, aku yakin jodohmu nanti sangat ingin kau terus tertawa seperti itu, " kata Nakesha.
Daihan terdiam, menatap Nakesha, Aneh, kenapa dia malah merasa tersentuh dengan kata-kata Nakesha?. Melihat Nakesha yang diam menatap jalanan, Daihan pun diam saja, mengantar Nakesha hingga ke apartemenya.