
Pintu kamar di ketuk, Angga langsung membuka pintu, Asisten Jang dan beberapa orang perawat membawakan makanan untuk Bella, mereka segera meletakkan makanan itu di atas meja untuk Bella makan, ada sup, nasi dan beberapa lauk pauk.
Bella melihat makanan itu, perutnya perih dan terasa tidak enak, mungkin karena kemarin dia makan dengan tidak baik, jadinya sekarang benar-benar tidak bernafsu makan. tiba-tiba dia teringat, kemarin sebenarnya dia makan apa ya?, mengingat itu Bella jadi tambah mual.
Setelah menghidangkan makanan itu, Asisten Jang undur diri dari sana, Angga memperhatikan Bella yang menatap makanannya dengan tatapan tidak berselera.
"Kenapa? " kata Angga dengan lembut
"Aku tidak bisa makan ini, perutku rasanya tidak enak." kata Bella
"Makanlah sedikit, atau ada makanan yang kau ingin makan? "
"Aku ingin makan kepiting." kata Bella lagi
"Kepiting sifatnya dingin, jangan makan itu jika kau belum sehat, makan saja sup ini sedikit, dia akan membuatmu lebih sehat." kata Angga mengambil sendok lalu mencoba menyuapi Bella, tapi rasanya perut Bella bergejolak bahkan ketika mencium baunya.
"Aku mual menciumnya." kata Bella lagi dengan manja.
"Atau ingin ku suapi dengan mulutku?" kata Angga memakan sup itu lalu mendekatkan diri ke arah Bella. Bella langsung mendorongnya.
"Tidak, itu menjijikkan." kata Bella
"Aku kira itu romantis." kata Angga menelan supnya
"Dari segi mana itu terlihat romantis. Baik lah, aku akan makan sekarang, tapi jangan paksa aku makan semuanya."
"Baiklah, cepat makan, nanti jadi dingin. " kata Angga.
Bella mulai mencicipi satu per satu makanan di sana, rasanya terasa cukup hambar, membuatnya makin tidak bernafsu makan, tapi saat melihat Angga yang menatapnya dengan serius, mau tak mau dia makan beberapa suap, mungkin hanya 5 suap, dan perutnya terasa sudah penuh.
" Aku sudah tidak sanggup lagi." kata Bella.
"Baiklah," kata Angga, dia lalu memanggil Asisten Jang untuk memindahkan sisa makanan Bella. Melihat Asisten Jang Bella jadi teringat oleh Judy.
"Di mana Judy? Apa dia tidak apa-apa? " kata Bella yang dari tadi tidak melihatnya.
"Judy sedang istirahat di rumah, sejak kejadian itu, dia lumayan syok, mungkin nanti siang dia sudah bisa di sini. " kata Angga mengambil beberapa bungkusan obat yang ada di samping tempat duduk Bella, dia lalu memberikan beberapa butir obat untuk Bella.
"Minum lah." perintah Angga.
Bella menurut dan meminum obatnya, ang segera memberikan air pada Bella, Bella menahan pahitnya obat yang sudah masuk duluan ke mulutnya, segera dia mengambil air itu dan meminumnya.
"Pahit." kata Bella dengan ekspresinya.
"Tentu, Itu kan bukan permen." kata Angga lagi dengan gayanya, Bella kembali melirik Angga, dia memang merindukan Angga yang dingin, tapi masa Bella sakit pun dia masih bisa bersikap seperti ini. Bella kembali teringat obrolan mereka sebelumnya.
"Apa Judy menyerahkan sesuatu padamu?" kata Bella
"Menyerahkan apa? " kata Angga sedikit terpaku dengan handphonenya, sifatnya yang ini kembali kumat. Belum sempat Bella menjawab, pintu ruangan Bella terbuka, Jofan masuk bersama Jendral Indra.
"Nona Bella, Anda sudah siuman?" kata Jofan tersenyum.
Angga berdiri menyambut temannya dan Jendral Indra.
Mendengar itu Bella mencoba tersenyum begitu manis, walaupun sudut bibirnya tetap merasakan nyeri.
"Terima kasih sudah menolong saya. Tuan Jofan dan Jendral Indra." kata Bella sungkan. Gara-gara dia pasti mereka sangat sibuk semalam.
Jendral Indra hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, sedangkan Jofan tampak melihat mengamati wajah Bella, dia merasa ada yang berbeda.
"Wow, Nona aku tidak tahu bahwa matamu, ehm… sangat indah." kata Jofan mendekat pada Bella, mencoba mengamati mata Bella yang baru pertama kali di lihatnya, walaupun matanya sedikit bengkak, bibirnya membiru, dahinya terperban, tapi kecantikan Bella tidak bisa tertutupi. Tentu hal itu membuat Jofan selalu ingin melihatnya.
Melihat itu Angga langsung menyerobot, berdiri di antara Bella dan Jofan, sehingga menutupi pandangan Jofan pada Bella.
"Wah, Nona, aku tidak tahu pacarmu ini posesif sekali ternyata, baru kali ini dia seperti ini pada wanita, dulu dengan Mika dia tidak pernah seposesif ini." kata Jofan
Bella hanya tersenyum manis, tidak menanggapi apa perkataan Jofan. Bella ingat, haruskah sekarang dia mengatakan pada Angga soal Mika? ehm... dia ingin menunggu Judy dulu.
"Baiklah, aku tidak akan menganggu kalian lagi, lanjutkanlah, aku harus mengurus sesuatu dengan Jendral Indra." kata Jofan tersenyum pada Angga dan Bella.
"Baiklah, terima kasih." kata Angga menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Jofan. Jofan lalu membalas tangan Angga, sambil memiringkan wajahnya, tampak kerutan pula di dahinya.
" Bella, bagaimana caramu merubah The himalayan boss ini jadi begini? Seumur hidup aku kenal dia, dia tidak pernah berterima kasih padaku." kata Jofan heran dengan tawa kecil. Bella juga jadi tertawa kecil mendengar kata-kata Jofan.
"Sudahlah, uruslah keperluanmu sekarang." kata Angga
"Baiklah, penjagaan di sini jangan di khawatirkan, di sini wilayah militer, bahkan Aksa pun tak punya wewenang apapun di sini. Jadi kau bisa sedikit tenang, wajahmu sangat tegang dari kemarin, kau tahu Nona Bella, kekasihmu ini bahkan tidak bisa duduk memikirkanmu kemarin." kata Jofan masih mencoba mengoda Angga.
"Benarkah?" kata Bella sedikit tidak percaya, secemas itu kah Angga? hati Bella seketika hangat, dia tersenyum tipis karnanya.
Angga hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, tidak ingin melanjutkan perkataan Jofan.
Melihat hal itu, Jofan dan Jendral Indra keluar saja dari ruangan itu. Mereka langsung berjalan menuju kantor Jendral Indra.
"Apakah semua data sudah di dapat." kata Jofan dengan wajah seriusnya, jika dia serius wajahnya langsung berubah, dia tampak begitu berwibawa dan memiliki kharismanya tersendiri.
"Sudah Tuan, semua data sedang di kerjakan, apakah ini akan di sebarkan lagi?" tanya Jendral Indra
"Tidak, kita akan memperlihatkannya pada Presiden, mau tak mau dia akan mengabulkan apa yang kita inginkan. " kata Jofan tersenyum sedikit sinis.
"Siap Tuan. " kata Jendral Indra.
"Beritahu aku jika sudah selesai, aku harus melakukan hal ini secepatnya sebelum Presiden pergi ke Australia."
"Siap Tuan."
"Ehm, bagaimana dengan keadaan wanita yang satunya lagi? " kata Jofan sedikit menghentikan langkahnya yang pasti itu.
"Sudah sangat membaik, dia sudah sering melakukan aktifitas sendiri, dia kami tempatkan di salah satu asrama di bagian belakang." kata Jendral Indra melaporkannya.
"Baiklah, aku ingin bertemu dengannya." kata Jofan lagi
"Siap Tuan. "