
Bella bermain dengan Archie dan Nakesha hingga hampir siang, dia benar-benar senang bisa bermain dengan mereka, dari pada harus terus mendekam di rumah, Nakesha pun sudah melupakan perasaannya yang tadi sempat tak enak, dia juga dengan tulus bermain dengan Bella dan Archie.
Sedangkan Daihan hanya melihat mereka, cukup memperhatikan, tidak ingin mengacaukan pemandangan bahagia di depannya ini.
"Ah, Aku ingin beli minuman dingin dulu ya, " kata Bella yang merasa terngorokannya sedikit kering karena terlalu banyak tertawa, Bella segera turun dari ranjang Archie, Nakesha mengangguk dan melanjutkan mainnya dengan Archie. Ketika Bella ingin melangkah, Daihan segera berdiri.
"Aku akan menemanimu, "kata Daihan langsung, Nakesha yang melihat dan mendengar itu hanya bisa melirik Daihan, diam-diam memperhatikan.
"Ah, tidak perlu kak, ada Judy di luar, "kata Bella, sebenarnya tidak ingin Daihan ikut, karena pasti akan menjadi sangat canggung.
"Tidak, aku tidak melihat penjagaan di luar, aku tidak terjadi apa-apa padamu, apalagi Angga tidak ada di sini, "kata Daihan penuh perhatian, Bella jadi tidak enak untuk menolaknya, Nakesha yang mendengar itu hanya bisa merasa masam, dia jadi tak fokus bermain bersama Archie. Bella melirik Nakesha yang tak menoleh sama sekali.
Bella tidak mengiyakan, namun tidak pula menolak, jadi dia hanya melanjutkan langkahnya, Daihan mengikutinya dari belakang. Judy yang melihat Bella keluar segera memasang sikap sempurnanya.
"Aku ingin beli minuman di vanding machine itu sebentar, kak Daihan akan menjagaku, sebantar ya, "kata Bella menjelaskan pada Judy, Judy yang melihat Vanding Machine yang ditunjuk Bella, merasa masih dalam pandangannya itu, jadi Judi hanya mengangguk.
Bella mulai berjalan, Daihan berjalan di sampingnya, Vanding Machine itu tidak terlalu jauh dari sana, tapi karena suasana ini, Bella yang canggung jadi merasa perjalan ke sana cukup lama.
"Bagaimana kabarmu? " kata Daihan memecah sunyi di antara mereka.
"Eh, Baik kak, kakak kan bisa melihat aku dari tadi tertawa dengan Archie, "kata Bella tersenyum merasa Daihan hanya basa basi.
"Kau bahagia setelah menikah? " kata Daihan lagi, kali ini suaranya sedikit serius.
"Ya, tentu."
"Apa Angga memperlakukanmu dengan baik? " kata Daihan lagi, itu sebenarnya ada di dalam pikirannya, dia sangat ingin tahu bagaimana Angga memperlakukan Bella.
"Ya, dia sudah banyak berubah, tidak terlalu kaku lagi, "kata Bella sambil tertawa kecil, mengigat banyaknya tingkah lucu Angga sekarang. Daihan menatap wajah Bella yang tampak senang, hatinya langsung tak nyaman. Dia langsung menatap depan dengan wajahnya yang diam. Sepertinya Bella benar-benar bahagia, sayangnya bukan dia yang membuatnya seperti itu, hatinya jadi merasa miris.
"Kak, aku boleh minta sesuatu? " kata Bella berhenti sejenak.
"Ya? ada apa? " kata Daihan lagi, wajahnya masih datar, tak ada wajah ramah yang biasa dia tunjukkan.
Daihan terdiam, hanya bisa menatap Bella dengan nanar, dari matanya terpancar kekecewaan dan kesedihan, suara Bella memang lembut terdengar, namun segera menusuk hatinya hingga mecekat napasnya, dia mengigit bibir dalamnya.
"Aku yakin pria sepertimu akan mendapatkan wanita lain yang lebih pantas daripada aku, berbahagialah, kalau kau seperti ini kau akan membuatku sedih, karena kau begini gara-gara aku, kau selalu bilang akan membuatku bahagia bukan, maka lepaskanlah perasaanmu padaku dan lihatlah wanita yang begitu peduli padamu, kau tak perlu mencarinya jauh-jauh, kadang ternyata yang kita cari ada di sekitar kita, " kata Bella menjelaskan.
Daihan hanya diam dan kembali melanjutkan jalannya.
Bella memperhatikan wajah Daihan, dia jadi mengerti perasaan Daihan. Akhirnya Mereka sampai di depan mesin minuman itu.
"Ingin minum apa? " kata Daihan tanpa melihat Bella, terlihat dia menghindari menatap Bella.
"Ini saja, " kata Bella menunjuk sebuah minuman kaleng berisi kopi. Daihan segera mengambilkan minuman itu.
"Aku yang tahu perasaanku bagaimana, jadi Bella, maafkan aku, kalau aku hanya bisa mencintaimu, "kata Daihan sambil menelus kepala Bella, suara Daihan yang penuh perasaan itu membuat Bella hanya bisa menatap wajahnya yang sayu. Walaupun dengan senyuman manisnya, tapi Bella merasa ada luka di dalamnya, lagi-lagi Bella yang membat pria ini harus menahan sakit. Nyeri karna cinta tak sampai, Bella cukup tahu rasanya.
"Tuan Daihan, jauhkan tanganmu dari istriku, " Suara Angga memenuhi lorong, rumah sakit itu, lorong itu berbentuk T, Bella dan Daihan ada di ujungnya, Angga datang langsung menuju ke arah mereka berjalan dengan tegas bersama para penjaganya danĀ Asisten Jang, wajah Angga tampak dingin, bahkan lebih dingin dari biasanya, matanya tajam penuh kemarahan menatap apa yang dia lihat sekarang, Angga dengan cepat mendatangi Bella, Bella yang melihat suaminya hanya bisa menatapnya, tahu percis peringainya jika marah, Daihan segera menarik tangannya, namun matanya menatap mata Angga seolah balik menqntangnya, tak ingin mengalah.
Tangan Angga langsung dilingkarkannya pada pinggang kecil Bella, Angga memandang Bella dengan tatapan marah, Bella ingin menjelaskannya, namun Angga seoalah tidak ingin melanjutnya di sini, dia segera membuang mukanya pada Daihan, sorot matanya benar-benar tajam, seolah jika di perbolehkan Angga akan membunuh Daihan di sana.
"Aku tegaskan sekali lagi Tuan Daihan, Bella sudah menjadi istriku, dan aku tidak suka jika kau berdekatan dengannya, karena itu jauhi dia, atau kau akan menyesal, " kata Angga dengan sangat tegas, sorot matanya yang tajam seolah mengaskan dia tidak main-main dengan kata-katanya, Daihan hanya menatap Angga, seolah tidak takut dengan apa yang dikatakan oleh Angga.
Angga tidak ingin berlama-lama di sana, dia segera menarik Bella secepatnya, dia berjalan dengan cepat, hingga bella kesusahan untuk mengikutinya, namun dia tidak bisa berhenti karena tangan Angga melingkar kuat di pinggangnya. Angga terus menatap ke depan, tidak melihat bagaimana susah Bella mengatur jalannya mengikuti Angga.
Daihan yang melihat kepergian Angga dan Bella itu hanya bisa tesenyum kecut, dia lalu kembali menuju ke ruang rawat Archie, sebelum dia masuk, dia melihat Nakesha yang sudah ada di depan pintu itu. Daihan mencoba tersenyum, namun tampak sekali senyumannya itu sangat terpaksa.
"Ingin minum? " kata Daihan menyodorkan minuman yang seharusnya dia berikan pada Bella.
Nakesha memandang Daihan lalu melihat minuman yang ada di tangannya, Nakesga hanya tersenyum tipis.
"Pertama, aku tidak bisa minum kopi, ke dua, maaf Tuan Daihan, jangan pernah memberiku apa pun yang awalnya bukan untukku, "kata Nakesha dengan tegas pada Daihan, Nakesha segera masuk ke dalam ruang rawat Archie, membuat Daihan terdiam, perasaannya tambah kacau sekarang.