
Jofan segera menekan pedal gas mobilnya, mereka segera berjalan menuju ke rumah sakit.
"Jika anakmu perempuan, kau harus mengizinkanku menikahinya nanti," kata Jofan bercanda.
"Kenapa begitu?" kata Bella yang masih tenang di belakang.
"Karena lihatlah, dia menunggu untuk datang baru dia ingin keluar dari perut ibunya, " kata Jofan tertawa.
"Kalau laki-laki?" kata Bella penasaran.
"Jika laki-laki, kalian harus mengizinkan aku mengajarinya bagaimana menjadi presiden, hey, anak kalian ekskusif sekali, bahkan seorang presiden menjadi supirnya saat dia lahir, hahaha," kata Jofan tertawa, membuat Bella tertawa juga mendengarnya, namun tawa itu langsung menginduksi nyeri di perutnya. Perutnya kembali menegang, nyeri sekali serasa seperti ada yang berputar-putar di sana.
"Aduh, aduh," kata Bella memegangi perutnya, menahan nyeri yang amat sangat di perutnya, Angga melihat itu tampak begitu cemas.
"Apa yang harus aku lakukan?" kata Angga cemas tak tahan melihat wajah Bella yang kesakitan, Jofan yang melihat ke arah Bella dari kaca spion tengah pun jadi panik, dia hanya berusaha membawa mobil itu secepat mungkin.
"Nyanyikan aku lagu yang pernah kau nyanyikan itu, mungkin aku akan lebih tenang," kata Bella pada Angga.
Angga yang tidak berpikir apa pun, langsung mengikuti kata-kata Bella, dia segera menyanyikan lagu itu lagi, awalnya nadanya benar dan terdengar merdu, Jofan aja sampai tak bekedip mendengar Angga menyanyi, dia tidak tahu ternyata suara Angga begitu bagus.
"Bro, kenapa kau tidak jadi artis saja?" kata Jofan masih tidak bisa percaya.
Angga hanya melihat Bella, tak memperdulikan Jofan, namun bukannya mereda, Bella makin tampak ke sakitan, membuat Angga yang sedang menyanyi langsung melenceng nadanya, menjadi sangat lucu, Bella langsung tertawa sambil menahan nyeri di perutnya.
"Hahaha… aduh… itu lucu … perutku sakit," kata Bella lagi antara tertawa dan menahan sakitnya, Angga malah bertambah panik karenanya.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit, Bella langsung di pindahkan ke ruangan untuk pemeriksaan, dokter langsung memeriksa keadaanya.
"Bagaimana Dokter?" kata Angga saat melihat dokternya keluar dari ruangan.
"Nyonya Alena akan segera melahirkan, namun karena ini adalah kelahiran pertama, pembukaannya akan berlangsung lebih lama, kita akan memantau pembukaan dan menunggu hingga pembukaannya sempurna, Nyonya akan segera di pindahkan ke ruangannya dan akan di pantau oleh salah satu bidan yang ada di sini, Anda tenang saja Tuan, kami lakukan yang terbaik," kata Dokter itu lagi.
"Baiklah," kata Angga.
Tak lama Bella didorong keluar oleh beberapa perawat, dan salah satu bidan di sana, bajunya sudah di ganti dengan baju khusus untuk melahirkan, dia tampak sedikit pucat, namun selainnya tampak normal.
Jofan tidak bisa ikut ke dalam ruangan Bella, karena akan sangat aneh jika ada yang mengenalinya, jadi dia putuskan untuk kembali pulang.
Angga menunggu Bella, berjam-jam, mencoba ada di samping Bella jika perut Bella mulai menegang, Bidan yang menjaganya juga terus menerus memeriksa keadaanya. Bella hanya bisa mengatur napasnya dan sesekali mengeluarkan air mata ketika merasakan nyeri yang semakin lama semakin menjadi, semakin cepat dan lama waktunya.
"Sangat nyeri?" kata Angga ketika Bella mengenggam erat tangannya. Bella hanya meringis kesakitan dan hanya bisa mengangguk. Angga mengelus terus kepala Bella, sesekali mencium tangannya, mencoba sebiasa mungkin menenangkan Bella yang sudah berkeringat dingin. " Aku tidak akan minta anak lagi nantinya, " kata Angga yang tidak tega melihat perjuangan Bella, ternyata begitu menyakitkan.
"Jika dia perempuan, dia akan sangat kesepian jadi anak tunggal," balas Bella setelah nyerinya mulai hilang lagi.
"Tidak apa-apa kita bisa mengangkat anak untuk menjadi temannya," kata Angga mencium tangan Bella.
"Tapi aku tidak ingin mereka menjalin hubungan," kata Bella yang ingat bagaimana Angga dan Mika.
"Iya, aku akan melarang mereka berhubungan," kata Angga masih dengan wajah cemasnya.
Bella tertawa kecil, bagaimana Angga melarang anaknya jatuh cinta dengan siapa?, namun karena tawanya, atau memang sudah waktunya, perutnya kembali menegang, perjuangan ini di rasakan Bella cukup lama, saat menjelang fajar, pembukaannya baru lengkap.
"Nyonya, ini saatnya, jika aku katakan dorong, baru Anda mengejan, jika tidak, jangan ya, atur saja napas Anda, mengejan tanpa suara, menekan perut Anda ya," kata Bidan itu dengan sabar memberitahu Bella, Bella hanya mengangguk, tangan Angga tak pernah lepas, kuatnya genggaman Bella membuat Angga tahu bagaimana nyeri yang di rasakan Bella, dia benar-benar tak bisa membayangkannya. Baru kali ini rasanya Angga tak berdaya untuk menolong Bella.
"Baik Nyonya, Dorong!" kata Bidan itu, Dan Bella mulai mengejan, hal itu terus di lakukannya beberapa kali mengikuti instruksi dari Bidannya. "Nyonya, ayo sekali lagi, kali ini harus dengan sangat kuat, Kepalanya sudah tampak, tarik napas dalam, dan dorong," kata Bidan itu memimipin persalinan.
Bella mengejan dengan sangat keras kali ini, benar-benar dengan seluruh tenaganya yang tersisa, nyeri dan sakitnya, tak lagi bisa dia katakan, hanya tampak pucat dan bibir bergetar. Dan tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang mengelegar di seluruh ruangan. Bella tampak lemas, seluruh dunianya serasa hening.
Angga tampak kaget, dia bingung harus apa, melihat bayi merah berlumuran darah yang menangis keras lalu kembali melihat ke arah Bella yang air matanya sudah turun, terharu karena pertama kali mendengar suara anaknya. Angga sungguh bingung, untungnya dia tidak pingsan.
"Selamat Nyonya dan Tuan, Anak Anda lahir sangat sehat, putri Anda cantik sekali," kata bidan itu setelah memotong tali pusar, meletakannya di dada Bella untuk melakukan inisiasi menyusui dini.
Bella melihat wajah anaknya yang di letakkan di dadanya, dia menangis dengan haru, melihat ke arah Angga yang benar-benar masih syok, hanya bisa diam tak bergeming, tak percaya apa yang dia lihat, Bella dan anaknya, dia resmi menjadi ayah sekarang.
Anak Bella terlihat sangat montok, putih dengan rambut yang sangat tebal, bahkan hampir menutupi daun telinganya, matanya masih susah dia buka, mencari – cari perlahan sumber makanannya. Angga melihat anaknya di pelukan Bella benar-benar tidak percaya, anaknya begitu cantik, bibirnya yang merah dan mungil, dengan sekali melihatnya saja, Angga langsung berjanji dalam hati akan melindunginya apapun yang terjadi.
"Terima kasih," kata Angga mencium dahi Bella yang masih penuh dengan keringat, Bella hanya tersenyum dengan segela tenaga yang tersisa, seluruh perjuangan dan rasa sakit itu terbayar dengan bayi cantik mereka.
"Nyonya, saya akan membawa anak Anda untuk di periksa dan di berikan imunisasi, " kata salah satu suster yang ada di sana, dia segera mengambil bayi Bella, Bella sebenarnya tidak ingin dipisahkan dengannya, namun demi kesehatannya anaknya, dia harus merelakannya, namun perasaan cemasnya masih ada, dia mengenggam tangan Angga, tanpa harus mendengar apa yang ingin di katakan oleh Bella, Angga tahu Bella ingin Angga menjaga bayi mereka.
"Aku tinggal dulu, aku akan ke sini segera,"kata Angga.
"Ya,"kata Bella.
Angga langsung segera bergegas keluar, sementara Bella masih di tangani oleh bidan yang tadi, memeriksa jalan lahir, dan menjahit robekan yang ada.