
"Jadi Nona Bella, Angga dan Daihan dulu sangat dekat, aku ingin kau juga bisa bersikap dengan baik, aku tidak ingin persahabatan mereka hancur karnamu, aku tahu ini bukan salahmu, tapi bisa kah kau bertindak tegas, seperti Daihan bertindak tegas dengan Mika?, jika memang kau hanya menganggapnya kakak, tegaskan padanya, jangan membuat dia berharap. Biarkan dia patah hati untuk bisa melepasmu. " kata Jofan lagi panjang lebar, Bella mendengar itu dengan seksama, memang seperti dia tidak mungkin lagi membiarkan Angga dan Daihan seperti ini.
"Baiklah, ehm, tapi kau juga tahu tentang Mika menyukai Daihan." kata Bella.
Jofan tertawa kecil.
"Tentu, Mika juga adalah sahabatku dan sahabat adikku, bagaimana mungkin aku tidak tahu? Dia mencoba meminta bantuanku untuk mendekati Daihan, tapi pria itu benar-benar hebat, dia tak menerima Mika sedikit pun. Tapi kami menyembunyikan semuanya dari Angga, itu permintaan Daihan, dia tidak mau persahabatan mereka putus, dan juga kami tidak mau Mika di anggap buruk oleh Angga. ah, cinta mereka memang rumit, " kata Jofan.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku selama ini?" kata Angga tiba-tiba masuk, membuat Jofan dan Bella terkejut, Jofan yang tadinya tampak santai bersandar, tiba-tiba langsung menegapkan posisi duduknya.
"Kenapa kau kembali lagi, aku sudah menyuruhmu untuk istirahat. " kata Jofan tak bisa menutupi kekagetnnya.
"Semua berkas pekerjaanku masih tertinggal. Katakan apa yang kalian sembunyikan dariku?" kata Angga dengan tatapan tajam, wajah dinginnya terlihat, seolah menekan Bella dan Jofan yang sekarang saling melempar pandang.
"Kau tidak ingin mengatakannya padaku?" kata Angga menatap Jofan tajam. Jofan bingung bagaimana mengatakannya.
"Kemarilah." kata Bella begitu lembut, membuat perhatian Angga langsung pada Bella. Ada wajah kesal yang masih terpatri jelas di wajah Angga. Tapi siapa sih yang bisa menolak mendegar suara Bella yang sangat lembut membuai memanggilnya.
Angga mendekati Bella, Bella tersenyum manis sekali, membuat Angga seolah terhipnotis dan hanya menurut.
" Duduk dulu ya." kata Bella lagi. lagi-lagi dia menurut. Jofan melihat itu kagum, kalau bisa dia bertepuk tangan, dia akan bertepuk tangan, seorang Angga, bisa begitu penurut! Wow, Bella sangat hebat, pikirnya, tapi dia sendiri juga kalau di perlakukan begitu oleh Bella pasti juga akan segera luluh.
"Judy, apa kau membawa yang aku berikan padam waktu itu?" kata Bella pada Judy yang hanya memperhatikan mereka. Angga dan Jofan mengerutkan dahi.
"Iya Nona." kata Judy yang langsung mengambil flasdisk itu dari tasnya, dan segera menyerahkannya pada Bella. Bella mengambilnya, lalu menyodorkannya pada Angga.
"Kau ingat sebelum Aksa memaksaku pergi dengannya, aku ingin berbicara padamu, aku ingin berbicara tentang ini padamu, aku menemukannya di kamar Mika, sebenarnya aku masih ragu mengatakannya, tapi… sepertinya kau memang harus tau." kata Bella dengan lembut pada Angga, menjelaskan agar Angga tidak salah paham. Menyodorkan flashdisk itu pada Angga.
Angga mengerutkan dahinya lebih dalam, menerima flashdisk itu dari Bella, melihat ngantungan kunci dengan tulisan Mika.
"Aku rasa kau ingin tahu kenapa Mika meninggalkanmu kan?" kata Bella lagi.
Angga tampak terkejut, Jofan juga sama terkejutnya, kalau soal Mika menyukai Daihan, Jofan tahu, tapi kenapa Mika memilih bunuh diri, Jofan sama sekali tidak tahu, dia jadi penasaran.
Angga langsung beranjak, dia segera duduk kembali ke meja kerjanya, di bukanya laptop dengan tergesa-gesa, Jofan pun tak mau kalah, dia lalu pergi ke belakang Angga, dia sangat ingin tahu bagaimana wanita sesempurna Mika harus bunuh diri.
Di dalam flasdisk itu sekarang tinggal hanya berisi 1 folder, Bella memang sengaja meninggalkan folder itu, bahkan beberapa isi diary yang menurut Bella tak penting pun di pindahkannya, hanya tinggal beberapa bagian dan di urutkannya berdasarkan nomor agar nantinya Angga gampang untuk membacannya.
"Passwordnya, Anyelir merah. " kata Bella yang mengerti Angga sudah membukanya. Angga menatap Bella yang tersenyum.
"Bunga kesukaan Mika." kata Jofan pelan pada Angga.
Angga mengerutkan dahi, bunga kesukaan Mika? bukannya mawar merah. Tapi dia tidak ingin bertanya, dia langsung membuka folder itu.
"Bacalah sesuai urutannya." kata Bella lagi.
Bella mengalihkan pandangannya setelah melihat raut wajah Angga yang tampak kaget tak percaya dengan apa yang di bacanya, pria itu pasti sangat syok mengatahui bahwa tunangannya sendiri ternyata selama ini mencintai sahabatnya.
Bella tidak bisa lama mengalihkan pandangan, seolah ada magnet, dia terus menatap Angga, tangan Angga mulai mengepal, dia tampak menahan amarah, mungkin dia sudah sampai di mana dia tahu Mika mencintai Daihan. Bella menggigit bibir, Angga bisa semarah itu juga pada Mika?.
Bella melanjutkan mengigit bibirnya, napasnya mulai sesak, seharusnya dia tidak menyerahkan flashdisk itu, kalau begini kenangan Mika akan kembali pada Angga. tapi mau bagaimana lagi? Bella pun tidak bisa membiarkan Angga hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang sebenarnya bukan karena dia.
Ya, sudah lah… jika nanti Angga malah mengingat Mika, itu sudah jalannya kan. Yah sudah lah, pikir Bella menatap Angga yang wajahnya tegang membaca semua tulisan yang ada di sana. Mencoba menghibur dirinya sendiri, tapi ternyata tak bisa.
Bella terus menatap Angga, Angga sama sekali tidak melirik Bella, Bella jadi merasa ‘di cuekin' di sana tapi dia tidak bisa apa-apa. dia melihat Judy, Judy hanya tersenyum.
"Aku ingin tidur. " kata Bella sedikit keras, sebenarnya agar Angga sedikit meliriknya, namun tidak, Angga masih fokus, dia jadi kesal sendiri, lalu dia merebahkan dirinya. Karena buru-buru kakinya sakit.
"Aww…. " kata Bella.
"Bella, kau tidak apa-apa?" kata Jofan,
Bella mengerutkan dahi, kenapa malah Jofan yang bertanya?.
"Ya, aku tidak apa-apa. " kata Bella sedikit ketus. Dia lalu mengulung dirinya dengan selimut, kalau masih suka dengan Mika kenapa harus memaksa Bella menjadi wanitanya! Pikir Bella sambil mencoba untuk tidak melihat ekspresi Angga, Tapi entah kenapa dia malah terus saja ingin melihat Angga, dia benar-benar gusar.
Ekspresi Angga dan Jofan masih sama, tegang dan tampak kaget tak percaya, karena tidak bisa tidur, dia lalu segera duduk, kembali hanya memperhatikan Angga.
Tiba-tiba Angga berdiri, ekspresinya penuh amarah, dari tatapannya yang tajam Bella bisa melihat kemarahan yang membara, dengan cepat dia segera meninggalkan ruangan itu, tanpa melihat Bella sedikit pun, Jofan yang masih syok pun kaget melihat Angga.
"Angga! " teriak Jofan yang sesegera mungkin mencoba menghentikan Angga. Bella yang melihat itu hanya bisa kebingungan harus apa? dia tidak menyangka reaksi Angga begitu marah, bukankah itu hanya masa lalu? Mika sudah tidak ada lagi, apa dia masih ingin balas dendam?.
Bella mencoba turun, menahan rasa sakit di kakinya, Judy mencoba untuk membantunya, memapah Bella untuk keluar ruangan.
"Angga!" kata Jofan yang masih mengejar Angga yang berjalan dengan sangat cepat, sesekali terlihat seperti berlari kecil.
"Hentikan dia!"kata Jofan memerintahkan beberapa tentara yang ada di sana. Para tentara itu langsung mencegat Angga. Angga yang terbawa emosi itu langsung ingin memukul tentara yang menghadangnya, untungnya Jofan langsung bisa menghentikannya.
"Angga Stop! " kata Jofan.
Angga tampak tak bisa lagi mengontrol dirinya, napasnya memburu, dadanya terasa penuh dengan amarah, wajahnya merah padam, bahkan matanya pun memerah, dia benar-benar tak lagi bisa menahannya, apa yang tadi dibacanya? bahkan dia sendiri tidak bisa mempercayainya, lebih dari 5 tahun dan mereka menyembunyikan semuanya, seolah semuanya baik-baik saja, 2 tahun... 2 tahun menahan sesal, menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Mika, namun ternyata! Aksa! dia benar-benar akan membunuh bedebah itu!.
Angga sudah tak tahu cara melampiaskan kemarahannya, jadi dia memukul tiang yang ada di dekatnya dengan sangat keras, tangannya yang terperban itu kembali berdarah, merembes di putihnya perban.
Dari ujung lorong, Bella terkejut melihat kemarahan Angga, dia melihat Angga yang melampiaskan kemarahaan dengan memukul tiang itu, Bella bahkan sampai terdiam, sebegitu parahkah dia menahan emosinya, hingga melukai dirinya sendiri lagi?.
"Cari di mana Aksa Sekarang." kata Angga dengan wajah bengis ingin membunuh Aksa.
" Angga, sudah, Mika juga sudah tidak ada, terlambat untuk emosi seperti ini. " kata Jofan menenangkan, takut Angga melakukan hal yang tidak-tidak lagi.