Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
113



Tembakan itu di arahkan di samping kepala Angga, benar-benar sangat dekat, salah sedikit saja, kepala Angga akan pecah karena peluru itu, Angga berhenti, telinganya berdengung cukup keras,  namun dia berusaha tidak bergeming. Berdiri tegak menopang Bella yang tampak terkulai lemah.


"Aku juga tidak main-main denganmu, berikan istriku sekarang." kata Aksa dengan amarah memuncak.


"Dia bukan istrimu, bukannya istrimu sudah mati? Kau yang membunuhnya bukan?" kata Angga bergitu tenang. Mengusik Aksa.


"Tapi dia juga bukan Mikamu, dia juga sudah meninggal bukan?" kata Aksa membalas perkataan Angga. Angga memandang sinis Aksa.


"Dia Mika, seluruh dokumen negara menunjukkan dia adalah Mika, bukan Bella. Dia tunanganku." kata Angga lagi, tak sedikit pun memutuskan eye contact pada Aksa.


"Aku tidak sedang berdebat tetang siapa dia, jika kau mau dia, kau harus membayarnya dengan nyawamu. "


"Apa ayahmu tahu? Kalau aku mati, kalian juga akan cepat mati. "


"Cih, penyakit bawaan itu? aku tidak peduli."


"Aku rasa ayahmu peduli. Membunuhku, sama saja membunuh seluruh keturunan kalian."


Aksa melihat Angga dengan tajam, senyuman licik terlihat tipis di bibirnya yang tampak terpahat sempurna itu. Sejujurnya, dia memang tidak peduli harus mati karena penyakit itu atau tidak. Yang dia pedulikan saat ini, detik ini adalah agar Bella tidak lagi bersama Angga, dia ingin wanita itu kembali dalam pelukannya.


"Kau benar-benar ingin mati ternyata." kata Aksa perlahan menarik pelatuk pistol yang mengarah tepat di dahi Angga. Angga tak bergeming, seolah siap menerima timah panas itu, asalkan tidak menyerahkan Bella pada Aksa.


Belum sempat dia ingin menekannya, titik laser merah tampak berkumpul di dahi Aksa yang berasal dari belakang Angga, ada 6 titik laser yang tampak berkumpul di sana.


Aksa tampak tenang, walapun laser itu tepat di dahinya dan di belakangnya Jendral Indra sudah dengan sangat siap menodongkan pistol itu pada kepalanya.


"Kalian tahu aku siapa? Ini adalah wilayah kekuasaanku." kata Aksa dengan suara marah.


"Kami tahu ini daerah kekuasaan kerajaan, tapi melihat Anda mengunakan kekuasaan Anda untuk mengancam warga sipil, kami tidak akan tinggal diam, itu sudah jadi tugas kami melindungi warga sipil. " kata Jendral Indra tak gentar.


"Dia istriku. Dia seorang putri." kata Aksa lagi


"Namun menurut negera dia adalah nona Mika, bukan seorang putri, dia hanya warga sipil, kami harus melindunginya." kata Jendral Indra dengan suara tegas khas tentara.


Aksa menatap kembali Angga dengan sangat tajam, Angga pun menatapnya, perlahan dengan pasti, Aksa menurunkan senjatanya, dari belakang Jendral Indra menyergap Aksa, hingga pistolnya jatuh dari tangannya, 6 orang pasukan khusus dari belakang Angga pun segera mengamankan Aksa.


Sementara Angga yang melihat itu tidak lagi menyia-nyiakan waktu, tanpa menatap Aksa, dia langsung membawa Bella yang dari tadi ada ditangannya untuk segera di bawa ke rumah sakit.


Beberapa tentara mengikutinya dari belakang, bersiap jika ada sesuatu yang tidak diinginkan lagi.


Angga dengan secepat mungkin namun juga hati-hati segera membawa Bella menuju mobil yang terparkir di dekat tenda, begitu dia sampai, pintu segera di bukakan oleh tentara yang berjaga di sana, semua segera melakukan tugas mereka dengan cekatan.


Angga meletakkan tubuh Bella di jok belakang dengan sangat hati-hati, dia lalu duduk dan memposisikan kepala Bella agar ada di pangkuannya, tanpa aba-aba para tentara itu segera membawa mobil itu keluar dari areal hutan, menuju rumah sakit terdekat, di depan dan di belakang mereka di kawal pula oleh para tentara sehingga perjalanan mereka cukup singkat untuk tiba di rumah sakit.


Angga terus memengang tangan Bella yang dingin, dia mengusap wajah Bella yang berlumur darah. Wajahnya sangat cemas. walaupun perjalan itu cepat, tapi rasanya begitu lama. Bertahan lah, sebentar lagi saja, kata hati Angga.