
"Tuan Jofan, kami sudah menyebarkan vidoenya, kita akan melihat reaksinya secepatnya,"kata Ajudan Jofan melaporkan.
"Baguslah," kata Jofan.
"Tuan, Anda ingin makan malam di mana? "kata Ajudan itu lagi bertanya pada Jofan.
Jofan agak kaget, dia lalu melirik ke jam tangannya, sudah pukul 6.45 sore, jika bekerja memang mudah sekali untuk lupa waktu, untungnya dia langsung ingat dia punya janji untuk makan malam bersama Sania.
"Aku sudah punya janji, jika ada perlu apa pun, kau bisa datang menemuiku di kediaman pedana menteri,"kata Jofan lagi.
"Baik Tuan,"kata Ajudannya.
Jofan segera keluar dari ruangannya, dia melangkahkan kakinya segera ke arah kediaman Pedana Menteri, dia segera menekan bel kediaman itu, tak lama Sania membukakan pintunya untuk Jofan, Jofan tersenyum manis melihat Sania yang terlihat sudah siap.
"Maaf, semoga aku tidak terlambat datang ke mari, pekerjaanku benar-benar banyak," kata Jofan lagi.
"Oh, tidak, Anda tidak terlambat Tuan, silakan masuk Tuan,"kata Sania membukakan pintu lebih lebar dan mempersilakan Jofan untuk masuk. Jofan segera masuk dan Sania segera menutup pintunya.
Aroma nikmat masakan langsung tercium hidung Jofan ketika dia memasuki ruang makan, dia merasa kehangatan keluarga di sana. Jofan langsung duduk di salah satu kursi, dia lalu melihat makanan yang begitu banyak sudah terhidang, lobster, daging, ikan, beberapa sayuran sudah terhidang.
"Nona, Sania, kau memasaknnya sendiri? " kata Jofan yang melihat begitu banyak makanan di sana.
"Ya, saya tidak tahu makanan kesukaan Anda, jadi saya memasakan makanan yang menurut saya Anda akan suka,"kata Sania lagi mengambilkan nasi untuk Jofan.
"Kita hanya makan berdua, makan begini banyak aku takut tidak bisa mengahabiskannya," kata Jofan terkesan.
"Tidak apa-apa Tuan, jangan terlalu di paksakan, "kata Sania lagi.
"Kau tidak makan? " kata Jofan lagi melihat Sania masih berdiri di sampingnya.
"Ehm … aku akan makan nanti setelah Anda,"kata Sania sungkan duduk makan berdua dengan Jofan.
"Tidak apa-apa, ayo makan bersama, aku tidak bisa makan semua ini sendirian. "
"Baiklah," Kata Sania perlahan-lahan duduk di depan Jofan, dia mengambil sedikit nasi, dan memperhatikan Jofan, Jofan lalu mengambil seekor lobster yang cukup besar, dengan sangat terampil dia mengeluarkan daging lobter dari cangkangnya, meletakkannya di atas piring, lalu menyerahkannya pada Sania.
"Saya akan membukanya sendiri Tuan, Anda bisa memakannya, "kata Sania kaget Jofan menyerahkan daging Lobster itu pada nya.
Sania melihat ke arah Jofan, dia benar-benar terharu dengan apa yang di lakukan oleh Jofan, bahkan sebelum makan dia malah mengingat untuk mengupas makan untuk Sania, juga mengambilkan makanan untuk Sania, Sania benar-benar merasa sengat tersentuh karenanya.
Jofan mulai makan dan Sania pun mulai memakan makanannya, keduanya senyap, hanya menikmati makan malam mereka, Setelah selesai Sania segera membersihkan meja makan itu, lalu menuangkan sedikit Wine di gelas, Jofan hanya memperhatikannya.
"Anda tidak minum Nona Sania? "kata Jofan mengoyang-goyangkan gelas winenya.
"Tidak Tuan, silakan Anda meminumnya,"kata Sania lagi, dia lalu duduk kembali di depan Jofan.
"Makanan Anda sangat enak Nona Sania, saya tidak tahu Anda begitu pintar memasak," kata Jofan memuji.
Sania melihat gaya Jofan sekarang, cukup familiar dengan gaya ini, sama seperti gaya Aksa jika mengoda wanita, Sania hanya tersenyum tipis, hidupnya tak jauh-jauh dengan pria-pria seperti ini, dia yakin Jofan juga merupakan orang yang sangat populer dikalangan wanita.
"Kenapa Anda tersenyum Nona Sania? "kata Jofan sambil meminum minumannya.
"Tidak apa-apa Tuan, saya rasa jika ada wanita yang melihat saya duduk bersama Anda saat ini, mereka akan sangat iri pada saya,"kata Sania dengan suaranya yang lembut.
"Hahaha … aku sudah tidak punya wanita lagi Nona Sania, seluruh kesibukan ini menyita semua waktuku dan juga aku harus menjaga reputasiku sekarang,"kata Jofan tampak santai sambil bersandar di kursinya, tertawa lepas, menatap Sania, melihat wajahnya yang tertutupi topeng putih itu, mengetahui Jofan sedang menatapnya, Sania segera menundukkan wajahnya.
Jofan yang melihat itu tahu Sania sangat tidak percaya diri dengan keadaannya. Jofan lalu segera berdiri, mengeser kursinya mendekati Sania. Sania yang mengetahui itu lalu memandang Jofan, melihat Jofan yang duduk di sampingnya sekarang, menatap lekat padanya. Sania langsung gugup dan kembali menunduk.
" Jangan menunduk Nona Sania, Anda tak perlu seperti ini, Anda tetap secantik pertama kali aku melihat Anda, "kata Jofan lembut dan sangat serius, memegang dagu Sania agar wanita itu melihat ke arahnya. Mata keduanya terpaut, ternyata 2 bulan ini dia merasa sesuatu yang kurang, ternyata dia merindukan sosok wanita ini.
Jofan tidak pernah merindukan seorang wanita, dia memang sangat mengagumi dan menghargai wanita, dia memperlakukan mereka dengan sangat sopan, namun hal itu pula yang membuatnya tidak bisa membedakan perasaannya pada setiap wanita, hanya ingin mereka senang ada di sampingnya.
Tapi dengan Sania, dia benar-benar ingin melindunginya, dia ingin membuatnya aman, dia ingin membuatnya bahagia, dengan Sania juga bisa merasakan kemarahan dan kecemasan, apa ini artinya dia menyukai Sania? Beginikah rasanya …
Sania terdiam, dia hanya bisa terperangkap dalam pesona mata coklat yang indah milik Jofan, detak jantungnya berdetak sangat kencang, hingga membuat napasnya berat, apa lagi melihat Jofan yang semakin mendekatkan wajahnya pada Sania, hingga hembusan napas Jofan yang hangat itu menerpa wajah Sania, dan entah bagaimana bibir hangat Jofan menyentuh bibir Sania.
Jofan mencium Sania dengan dalam, meletakkan kedua tangannya pada pipi Sania agar Sania tidak pergi darinya, Jofan benar-benar menikmati setiap detik bibir Sania yang terasa sangat manis baginya, mereka berciuman cukup lama, bukan ciuman bernafsu yang mengebu, lebih ke ciuman yang diam namun penuh dengan perasaan, membuat baik Jofan atau pun Sania begitu larut di dalam suasana ini.
Jofan melepaskan ciumannya, Sania bukanlah wanita pertama yang di ciumnya, sudah banyak wanita yang di cium oleh Jofan, namun baru kali ini dia benar-benar merasakan perasaan yang begitu mengebu saat mencium Sania, bukan, ini bukan nafsu, namun benar-benar dari hati.
Sania pun bisa merasakan ketulusan dari Jofan, dia belum pernah mendapatkan ciuman yang benar-benar tenang dan membuatnya nyaman, seolah dengan sebuah ciuman saja, kesedihannya seketika lenyap.
Mata Jofan masih menatap Sania, dan begitu juga Sania, mereka kembali bertatap dengan dalam, Jofan lalu mencoba membuka topeng yang di gunakan oleh Sania, namun Sania segera mencegah tangan Jofan.