Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
175



Sania terus menahan nyeri di dagunya, darah hangat terasa membasahi leher putihnya yang jenjang, Aksa menikmati darah yang keluar begitu banyak, luka itu menganga dengan jelas, sangat dalam hingga dagingnya terlihat dengan jelas.


Aksa memanggil kedua penjaganya, mereka segera tahu harus apa, mereka memengang kedua tangan Sania agar dia tidak bisa bergerak apalagi melawan. Seseorang di antara mereka menyumpal mulut Sania dengan kain yang mereka bawa.


"Kau dulu wanita favoritku, wajahmu yang cantik!" kata Aksa dengan emosi sambil mengayunkam pisau itu, membeset pipi sania, hingga darah kembali mengalir dari pipinya, Sania hanya bisa teriak tertahan namun tak satu pun yang datang membantunya


"Kau dulu wanita yang patuh, kenapa sekarang begitu membantah?" kata Aksa, kembali mengiris bagian lengan Sania, Sania kembali berteriak di dalam, menangis memahan semua yang di lakukan oleh Aksa, darah segar mengalir dan menetes ke ubin sel yang terasa dingin. Aksa menarik penutup mulutnya, merasa tidak puas karena tidak bisa mendengar suara teriakan Sania.


"Aksa bunuh saja aku, sudah! bunuh saja aku!" teriak Sania penuh kebencian.


"Membunuhmu, tak semudah itu Nona Sania, aku harus menikmati kesakitanmu dahulu, kalian, bersenang-senanglah, sebelum aku membuatnya tampak lebih tidak menarik," kata Aksa mengelap pisaunya yang berlumur darah dengan sapu tangan putihnya, wajahnya tenang bahkan bagai tak melakukan hal keji.


Kedua penjaga itu menyeringai penuh nafsu pada Sania, mereka langsung melancarkan aksinya, awalnya sebisa mungkin Sania melawan mereka, mendorong, memukul, bahkan mengigit mereka, namun tenaga Sania tak sebanding dengan mereka, belum lagi dia harus menahan nyeri karena luka-luka yang di buat Aksa.


Hingga di satu titik, Sania tidak bisa melawan lagi, matanya nanar menatap Aksa yang hanya menontonnya digagahi oleh 2 orang penjaga, air matanya pun tak lagi mengalir, nyeri di seluruh tubuhnya benar-benar tak bisa di lukiskan, malam itu jiwa Sania sudah di bunuh duluan oleh Aksa.


Aksa seolah menikmati semua pemandangan mengerikan yang telah di buatnya, para penjaga itu bukan saja memaksa Sania menjadi pemuas nafsu mereka, mereka juga memukul, menampar Sania hingga dia tak lagi bisa melawan.


Setelah hal keji itu selesai, Sania kembali di tahan oleh kedua penjaga itu, tubuh Sania sudah lunglai, seluruh tubuhnya nyeri hingga seperti seluruh tulangnya ingin copot, Aksa mendekati Sania, memyeringai dengan seram.


"Sekarang kau hanya seorang wanita sampah!" kata Aksa.


"Sudah puas?" kata Sania menatap Aksa.


"Aku akan beritahu kapan aku bisa puas," kata Aksa kembali melayangkan pisaunya ke seluruh tubuh Sania, Sania pasrah, berdoa mudah-mudahan segala luka yang di buat oleh Aksa membuatnya cepat meninggalkan dunia ini.


Setelah membabi buta membuat luka goresan di hampir suluruh tubuh Sania, Aksa memanggil penjaga di sana.


"Eksekusi dia malam ini! lakukan secepatnya!" kata Aksa penuh emosi, padahal dia baru saja melepaskan semua emosinya.


"Baik Pangeran," kata Penjaga penjara itu.


Sebuah pistol di todongkan ke arah kepala Sania, suara pistol yang memuntahkan timah panas itu mengelegar memekikkan telinga, masuk langsung menembus ke kepala Sania, itulah suara terakhir yang bisa di ingat Sania, semua hening setelahnya, dia hanya bisa melihat Aksa yang pergi meninggalkannya sebelum tubuhnya menghantam ubin tak berdaya.


Sania tersentak kaget, mengembalikan dia ke ruangan ini sekarang, suasana masih gelap dengan sambaran petir yang megelegar, dia tersadar dari lamunannya yang membawa traumanya itu kembali, sesuatu yang bergetar terasa di bawah bantalnya, dia segera melihatnya, sebuah panggilan telepon.


Sania memang sengaja menyimpan Handphonenya di bawah bantalnya karena salah satu syarat agar dia bisa menjadi pelayan khusus adalah tidak di perbolehkan mengunakan alat komunikasi apa pun, bahkan kamarnya pun bersebelahan dengan tempat kurungan Ratu. Sania langsung mengangkat teleponnya.


"Halo?" kata Sania.


"Selamat malam Nona Sania, maaf aku menganggumu, apa kau sudah tidur?" Suara ramah Jofan terdengar di sana, namun Sania masih ragu, tak mungkin orang yang punya kedudukan seperti Jofan mempunyai waktu untuk meneleponnya.


"Siapa ini?" kata Sania yang tak mau terjebak nantinya.


"Tuan Jofan?" kata Sania sedikit berbisik, takut tiba-tiba ada yang mendengarnya.


"Ya, Nona Sania, maafkan aku jika membangunkanmu, aku hanya ingin menyampaikan, semua hal yang telah kau sampaikan sudah aku diskusikan pada Angga juga," kata Jofan.


"Ehm ... baiklah," kata Sania lagi.


"Obat yang kau berikan kemarin adalah obat bius, dia bisa membuat mental seseorang itu terganggu, karena itu yang di katakan obat itu sebenarnya racun," kata Jofan mulai serius.


"Jadi benar obat itu adalah obat yang sering Aksa gunakan untuk menjerat wanita-wanita," Kata Sania lagi.


"Jadi Aksa sering menggunakannya?" kata Jofan kaget.


"Hanya untuk wanita yang dia incar namun tak ingin dengannya."


Jofan terdiam sejenak, jadi benar yang membuat Mika tidur dengannya karena obat itu, pikir Jofan mengerti sekarang, Pria itu benar-benar seperti binatang, tak cukup dengan merayu wanita, namun juga memaksa mereka jika mereka tak mau, Jofan tak habis pikir, setidaknya walau pun dia sudah bersama dengan banyak wanita, dia tak pernah memaksa apalagi mengunakan cara licik untuk menjebak mereka.


"Tuan Jofan?" tanya Sania lagi.


"Oh, ya Maaf, beberapa hari lagi kami akan mengirimkan obat yang benar untuk Ratu, tolong kau mengantikanya dengan obat itu, lalu jika dia sudah menunjukkan perkembangan, gali informasi apa pun yang bisa kau dapatkan," kata Jofan lagi.


"Baiklah," kata Sania.


"Bagaimana kabarmu Nona Sania?" kata Jofan dengan suara hangat mengutarakan pertanyaan yang dari tadi tergiang di kepalanya.


"Baik Tuan," kata Sania seadanya, rasanya jiwanya sudah mati untuk merasakan perasaan cinta, bahkan suara Jofan yang hangat dan penuh perhatian itu, terdengar biasa baginya.


"Jagalah kesehatanmu, aku akan menunggu kabar darimu."


Sania terdiam sesaat, hal seperti ini seharusnya tak langsung dia kabarkan pada Jofan, bahkan kemarin saja dia melapor pada ajudan Jofan.


"Terimakasih Tuan," kata Sania tak ingin berpikir macam-macam.


"Baiklah, istirahatlah, selamat malam," kata Jofan lalu segera menutup panggilannya.


Sania menutup panggilan teleponnya, cairan hangat terasa mengalir dari hidungnya, setetes jatuh ke tangannya. Sania langsung sadar, dia langsung turun dari ranjangnya, dan segera keluar dari kamar mandinya yang memang ada di luar, terpisah dari kamarnya.


Penyakitnya makin parah, bahkan tanpa tanda-tanda darah bisa keluar dari mana saja. Dia segera masuk, dan mencuci wajahnya yang terasa kasar, penuh dengan bekas luka.


Tak akan ku sia-siakan kesempatan kedua ku ini, aku pasti akan menarikmu ke neraka, akan aku nikmati detik-detik kau merenggang nyawa, Aksa! kau pasti mati!.