
Cinta, izinkan aku tetap ada, hingga nantinya ku menuntup mata, karna hanya kau tujuanku ada di dunia
____________________________________________
Bella duduk di sofa yang di ada di tempat Dorland, dia terlihat gugup, beberapa jam lagi dia harus beraksi di depan Aksa dan juga Sania, dia memengang tangannya sendiri, terasa sedikit dingin di ujung-ujung tangannya.
Angga belum datang, dia masih harus menyelesaikan tugasnya di perusahaan, tak lama menunggu Dorland akhirnya keluar menemuinya.
"Aduh, sorry yah My Princess, tadi aku masih memastikan bahwa gaun yang kau pakai nanti akan begitu menyita perhatian," kata Dorland biasa dengan gayanya yang begitu berlebihan.
"Tidak apa-apa Dorby," kata Bella.
"Kenapa? Kau gugup? " kata Dorland.
"Ya, lumayan gugup sih," kata Bella lagi.
"Sudah, setelah aku dandani pasti kau tidak akan gugup, tenang saja, kau akan menjadi ratu di pesta itu," kata Dorland menarik Bella masuk ke dalam salonnya.
"Baiklah," kata Bella lagi memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Mana si Himalayan bos itu?" kata Dorland
"Oh, dia masih ada pekerjaan."
"Pria itu hidupnya cuma bekerja ya? Benar-benar tidak peka. "
"Haha, biarlah, kita sudah bisa mulai?" kata Bella yang sudah duduk di tempat dia di dandani.
"Tentu, mari membuat keajaiban dengan tangan ibu peri," kata Dorland dengan gayanya.
Angga baru datang setelah hampir 2 jam dari kedatangan Bella, dia segera masuk ke dalam butik itu dan naik ke atas ke tempat khusus, karena Bella mengatakan dia ada di lantai 2, saat dia datang dia langsung duduk di ruang tunggu, menunggu Bella selesai di dandani. Tak berapa lama dia menunggu, Dorland keluar dari ruang ganti.
"Oh, sudah datang ternyata," kata Dorland sedikit menyindir.
"Ya, apa dia sudah siap?" kata Angga yang tidak perduli dengan sindiran Angga.
"Sudah, dia akan keluar sebentar lagi, dan aku yakin kau bahkan tidak mengenalinya, dia benar-benar seorang putri," kata Dorland begitu sangat semangat, dia bediri di samping Angga yang masih tenang duduk memainkan handphonenya.
Pintu ruang ganti terbuka, Bella melangkah dengan angunnya, dengan high heel bertabur swarovski, dia lalu berdiri di depan Angga, awalnya Angga tidak terlalu memperhatikan karena masih fokus dengan apa yang dikerjakannya, namun dia lalu melihat sekilas ke arah Bella, dan dia bahkan lupa segalanya. hanya menatap lurus ke arah Bella, dia cantik sekali, gumamnya dalam hati.
Bella tampak begitu menyita perhatian dengan gaun one-shoulder mermaid berwarna merah wine, dengan aksen bulu merak yang ada di dada dan tanganya, berlanjut hingga ke belakang menampilakan burung merak yang menyerong hingga ke pinggang bawahnya, sehingga menampilkan setengah dari punggungnya yang putih bagaikan porselen, aksen burung merak yang berwarna senada dengan gaunnya, di tambah sedikit taburan swarovski membuat penampilan Bella tambah bersinar, burung merak itu benar-benar menempel di kulitnya hingga telihat begitu menyatu.
Bella sangat sempurna sebagai wanita karena bukan saja wajahnya, bentuk tubuhnya pun sangat bagus, terlihat jelas ketika dia mengunakan gaun ini, proporsi dari bahu, pingang dan pinggulnya benar-benar sempurna, membentuk lekukan yang mengoda, bahkan seorang Angga tak bisa menyembunyikan kekagumannya, hanya bisa terdiam, bahkan handphonenya yang dari tadi berdering, tidak di hiraukannya lagi.
Wajahnya tidak terlalu di rias, karena bagaimanapun wajah Bella sudah begitu indah di lihat, Dorland hanya menonjolkan bagian-bagian yang menurutnya paling indah, rambutnya pun tak terlalu di tata, di biarkan saja tanpa mengubahnya.
"Sempurna bukan?" kata Dorland yang begitu puas melihat ekspresi kagum Angga, baru kali ini dia melihat Angga begitu.
"Ya, cantik," kata Angga yang matanya masih terpaut pada Bella.
"Tentu! Dengan begini, aku yakin Aksa tak akan lepas melihatnya," kata Dorland dengan sangat bangga, apa lagi Angga mengakui kerja kerasnya selama 2 hari ini.
Angga terdiam, melihat ke arah Dorland sebentar, benar… di acara ini Bella harus bisa menarik perhatian Aksa, tapi kenapa sekarang Angga malah tidak rela jika nanti Aksa melihat Bella yang seperti ini?.
"Ha? Jacket, untuk apa?" kata Dorland bingung.
" Di luar udara cukup dingin, dia tidak mungkin keluar seperti itu," kata Angga mencari alasan, dia hanya tak ingin Bella menjadi pusat perhatian saat keluar dari sini, karena di bawah butik itu sedang begitu ramai.
"Fine, baiklah, aku akan mengambilkan jacketnya." kata Dorland yang mengerti apa maksud Angga.
"Apa aku terlihat aneh? " kata Bella menatap dirinya dengan pakaian itu, dia biasa menggunakan gaun, tapi bukan gaun dengan fit body yang menonjolkan seluruh bentuk tubuhnya seperti ini.
"Tidak, ehm… kau cantik," kata Angga akhirnya tidak terlalu gengsi mengakuinya, mendengar itu Bella senang, Angga mengatakan dia cantik.
Tak lama Dorland datang membawakan longline mantel berwarna putih dengan bulu musang tiruan di bagian leher dan ujung lengannya,dia lalu menaruhanya di bahu Bella.
"Begini?" kata Dorland.
"Ya, begitu bagus," kata Angga.
"Hah, baiklah, milikmu sudah ada di ruang ganti, silahkan berganti, " kata Dorland lagi.
"Baiklah," kata Angga masih melirik Bella sesekali sebelum masuk ke dalam ruangan ganti.
Tak berapa lama Angga keluar dengan tuxedo abu-abu gelap lengkap sehingga membuatnya begitu formal, melihat itu Bella sekarang yang terpana, Angga memang sangat tampan, tubuhnya juga sangat proporsional, membuat dia begitu menarik saat mengunakan tuxedo formal itu.
"Baiklah, semua sudah siap, My Princess good luck, tak usah gugup, aku yakin semua mata akan tertuju padamu nanti," kata Dorland memberi semangat pada Bella.
"Ya, terima kasih," kata Bella tersenyum begitu manis pada Dorland.
Angga ingin berjalan duluan, namun dia terhenti, melihat ke arah Bella, membenarkan mantelnya agar menutupi lekuk badan Bella, Angga benar-benar tidak rela jika melihat ada pria yang nanti mengagumi kesempurnaan Bella itu.
Bella yang diperlakukan seperti itu, hanya bisa menatap pada Angga, jantungnya kembali memburu, Angga sedikit tersenyum padanya.
"Baiklah, ayo," kata Angga, Dorland tersenyum pada Bella dan Bella membalasnya sebelum mereka keluar dari ruangan itu.
Saat mereka keluar dan melewati butik itu semua mata langsung tertuju pada mereka, bagaimana tidak, prianya terlihat begitu tampan dan gagah, sedangkan wanitanya terlihat begitu cantik bagai putri, putri yang sangat mengoda, untung saja pengawal Angga tanggap melihat bosnya mereka segera mengawalnya.
Saat sampai di luar, Asisten Jang sudah menunggu mereka, melihat Bella bahkan Asisten Jang tidak bisa berkedip, terkesima.
"Selamat malam Nona," kata Asisten Jang segera membuang pandangannya, kalau lebih lama melihat Bella, bisa-bisa dia kena marah Angga karena menatap Bella dengan tatapan begitu kagum.
"Selamat malam Asisten Jang, terima kasih," kata Bella yang masuk ke dalam mobil, Judy yang ada di sana lalu membantu Bella untuk memasukkan sisa gaunnya yang menjutai panjang. Setelah itu mereka pergi dari sana.
Perjalanan itu Bella hanya terdiam, dia tampak begitu tegang dan gugup, dia tampak mengepalkan tangannya, sesekali menghembuskan napas panjangnya, dia takut apa yang akan terjadi jika dia bertemu dengan Aksa, dia takut dia tidak bisa mengontrol dirinya, sekarang rasanya perutnya tidak karuan gara-gara begitu tegang.
"Hei, jangan begitu tegang," kata Angga menatap Bella yang tampak begitu menyita perhatiannya.
"Ya, terima kasih," kata Bella tersenyum seadanya.
"Kau benar-benar cantik malam ini, jadi jangan takut," kata Angga begitu lembut, baru kali ini Bella mendengar Angga mengatakan hal seperti itu, apa lagi setelah itu dia melihat Angga dengan senyum yang begitu manis, baru kali ini Bella melihatnya, senyuman itu memunculkan lesung pipi Angga yang begitu dalam, dia benar-benar terpana, terdiam melihat wajah Angga.
Angga pun hanya menatap Bella, dia dari tadi bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Bella, benar-benar begitu mengoda mata, membuat Angga tak sanggup menolaknya. Mata mereka seolah terpaut, tidak berkedip, hanya menatap… meninggalkan mereka berdua untuk sesaat.
Mobil mereka berhenti, membuat Angga dan Bella kembali ke dunia, mereka langsung salah tingkah dan melemparkan pandangan masing-masing entah ke mana, ternyata mereka sudah memasuki areal kerajaan, mobil mereka diperintahkan untuk berhenti karena ada pengecekan, supir menunjukkan undangan resmi kerajaan itu, lalu gerbang kerajaan yang begitu megah itu terbuka.