
Angga dan Daihan berdiri canggug, tak satu pun dari mereka berniat membuka pembicaraan, hanya menatap ke arah Nakesha, Bella dan ibu mereka.
"Sudah menikah?" kata Daihan akhirnya mengalah, tak mungkin selamanya hanya perang dingin dengan Angga, karena bagaimana pun mereka juga dulunya adalah sahabat.
"Ya, sudah, 2 hari yang lalu," kata Angga menanggapi kata-kata Daihan, namun nadanya masih datar dan dingin.
Mendengar kata-kata itu hati Daihan terpukul, padahal dia pikir dia sudah siap mendenganrnya, namun tetap saja nyeri dan perih itu terasa, ternyata Daihan tak pernah bisa menerimanya.
"Jaga dan bahagiakan lah dia, kalau ..." kata Daihan sedikit tecekat oleh kepedihan yang dia rasakan.
"Aku pastikan tidak ada kata 'kalau', Aku akan menjaga dia tak peduli dari siapa pun," kata Angga menatap Daihan tajam, Daihan tak membalas tatapan Angga. Dia hanya diam, mencoba menatap Bella lebih lama, apakah ini akhirnya?, apakah saat ini dia harus menyerah dengan perasaannya?. Daihan terus menatap Bella yang tampak bahagia, sekarang sedang menyuapi ibunya.
"Berhentilah menatap istriku seperti itu, kau membuatku tak bisa menahan emosiku," kata Angga ketus pada Daihan yang menatap istrinya, padahal dari tadi dia sudah berkompromi dengan dirinya sendiri agar membiarkan Daihan tetap di sini.
"Aku memang tidak akan memaksakan perasaanku lagi pada Bella, tapi aku tidak punya rencana untuk menghapus perasaanku padanya," kata Daihan menatap Angga tajam.
Angga menatap Daihan, itu artinya dia tetap tak bisa percaya pada Daihan.
"Baiklah, itu pilihanmu, karena bagaimana pun dia sudah jadi milikku seutuhnya," kata Angga lagi menegaskan pada Daihan.
"Baiklah," kata Daihan.
Bella menyuapi suapan terakhir untuk ibunya, dia sangat senang ibunya lahap memakannya.
"Wah, sudah habis, besok aku akan membawa makanan lagi ya ma," kata Nakesha senang, dia lalu mencium pipi ibunya, Bella menatapnya dengan senyuman tipis, Bella mengambil tisu, menepuk perlahan pada bibir ibunya dengan kasih sayang, Nakesha membawakan air minum, perlahan-lahan dia menyuapi air itu pada ibunya, Bella kembali mengelap air yang tumpah, Nakesha menatap Bella, menyenangkan juga memiliki saudara, pikirnya lagi.
Angga mendekati Bella, menaruhkan tangannya ke pundak Bella, Bella menatap Angga, Angga hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Ma, aku dan Angga sudah menikah, Maaf tidak memberitahumu sebelumnya," kata Bella memengang tangan ibunya.
Nakesha yang mendengar itu sedikit terkejut.
"Jadi kalian benar-benar menikah? jahat sekali tak mengundangku," kata Nakesha, dia melirik Daihan yang tampak diam dengan wajahnya yang sayu, pantas saja wajahnya begitu, pasti sangat patah hati, pikir Nakesha.
"Masih menikah secara negara," kata Bella lembut pada Nakesha.
"Kapan akan melangsungkan resepsinya?" kata Nakesha.
"Secepatnya," jawab Angga yang memang mengaggap hal itu perlu agar semua orang tahu mereka sudah menikah, jadi tidak, akan ada yang akan menganggu mereka lagi.
Bella mengerutkan dahi, Angga tidak pernah bercerita akan melakukan resepsi secepatnya.
"Baiklah, kalian harus mengundang aku, kalau tidak aku akan marah-marah lagi dengan kalian,"kata Nakesha dengan nada mengancam, namun malah membuat Bella tertawa kecil.
"Wah, ini sudah jam berapa? nanti waktu makan siangmu akan habis, ayo pergi makan siang bersama-sama," kata Nakesha merangkul tangan Bella.
"Tapi kami baru saja makan," kata Bella.
"Yah, padahal kan semakin banyak orangnya, akan semakin seru," kata Nakesha sedikit cemberut.
"Baiklah, ehm, kau tidak punya rencana lain kan?" kata Bella pada Angga.
"Tidak," kata Angga.
"Kak Daihan, kami boleh bergabung?" kata Bella pada Daihan, Daihan yang tadinya hanya diam, langsung tersenyum.
"Tentu," katanya, Angga menangkap perubahan warna wajah Daihan, langsung berwajah dingin.
"Ma, kami pergi dulu, nanti malam aku akan datang lagi ya," kata Nakesha.
Mereka segera keluar lalu segera turun, sebelum menuju mobil masing-masing, Daihan mengatakan tujuan mereka makan, sebuah restauran milik Daihan, Angga mengiyakan dan segera pergi dari sana.
Saat sampai di sana, Nakesha dan Daihan tiba duluan, pintu mobil Nakesha dibukakan langsung oleh pelayan yang sudah tahu bahwa yang datang ke sana adalah Daihan.
"Selamat datang Tuan dan Nona," kata Manager langsung menyambut Daihan dan Nakesha.
"Aku ingin makan siang untuk 4 orang, bisakah menyiapkan tempat biasa?" kata Daihan.
"Tentu Tuan," kata Manager itu segera.
Daihan melihat Nakesha yang memandang restoran itu dengan takjub, dia bahkan mendongakkan kepalanya menatap suruh arsitektur restauran yang mewah. wah ... dari luarnya saja begitu indah, di dalamnya bagaimana? pikir Nakesha.
"Ayo, masuk," kata Daihan membimbing Nakesha masuk.
Nakesha melihat ramainya restauran itu dengan orang-orang yang tampak berkelas, membuat Nakesha sedikit minder.
"Bisakah kita makan di tempat lain?" bisik Nakesha pada Daihan.
"Memang kenapa?" kata Daihan.
"Aku merasa kurang nyaman," kata Nakesha.
"Kurang nyaman kenapa?"
"Hanya sedikit merasa seharusnya aku tak di sini."
"Tuan Daihan, tempat Anda sudah selesai," kata Manager lagi.
"Baiklah, ayo, tak enak kalau pergi karena sudah di siapkan," kata Daihan lagi.
"Hah, baiklah," kata Nakesha mengikuti Daihan, Daihan menatap Nakesha, dia tahu sepertinya Nakesha tak nyaman ada di ruangan ini, jadi Daihan mencoba untuk berjalan di sampingnya.
Melihat perlakuan Daihan, Nakesha menatapnya.
"Kau seharusnya jalan duluan," kata Nakesha.
"Kenapa? kau kan datang bersamaku," kata Daihan memandang lembut ke arah Nakesha.
"Iya, tapi aku aku akan membuatmu malu," kata Nakesha menatap setiap pasang mata yang memperhatikan mereka lalu menatap dirinya yang hanya memakai kaos bisa dan jeans, di mana semua wanita di sana rata-rata memakai pakaian berkelas.
"Biarkan saja mereka, setelah mereka makan dan membayar, mereka akan pergi, jadi untuk apa malu, toh kita juga membayar di sini," kata Daihan tersenyum begitu manis, saking manisnya membuat Nakesha tersipu dan lupa akan perasaan gugupnya.
Daihan mengarah ke sebuah ruangan eksklusif, ruangan itu bahkan lebih indah dari pada yang ada di luar, di dekorasi senyaman mungkin, mirip dengan ruang makan rumahan.
"Wow, tempat ini keren sekali, kau yakin mengajak semua makan di sini, pasti akan sangat mahal," kata Nakesha takjub, bahkan tempat duduknya saja terlihat sangat mahal.
"Ya, duduk lah, Angga dan Bella pasti sebentar lagi sampai," kata Daihan sudah duduk.
"Pasti sakit ya?" kata Nakesha yang langsung duduk di depan Daihan, menaruh tangan kanannya, menopang dagu. wajahnya yany cantik itu langsung jelas terlihat, tadinya sedikit tertutup topi.
Daihan memperhatikan Nakesha, kembali mengingatkannya tentang Mika.
"Apanya yang sakit?" kata Daihan melepas topi Nakesha, membuat rambut hitamnya yang indah lepas begitu saja, melihat secara lebih jelas wajah Nakesha dengan rambut mempesonanya.
" Hatimu, eh! Kenapa membukanya?" kata Nakesha dengan wajah di buat-buat kesal.
"Begini tampak lebih manis, lagi pula tak etis memakai topi dalam ruangan," kata Daihan tersenyum, melirik Nakesha sebentar lalu kembali ke buku menu yang ada di depannya, tak menanggapi perkataan Nakesha tentang hatinya, tak perlu di ungkapkan, sakitnya bahkan seperti kehingan setengah jiwa, namun Daihan berusaha bertahan tetap tersenyum, namun sorot matanya benar-benar suram.
Nakesha terpaku menatap senyuman manis Daihan, perlakuan lembutnya, dan kata-katanya yang dewasa, sekarang dia tahu kenapa kakaknya lebih memilih Daihan dari pada Angga.
Tanpa bisa dia kontrol, jantung Nakesha berdegup kencang, pipinya yang putih bersemu merah, ah ... kenapa dia malah jadi malu menatap sosok tampan di depannya.
Daihan melirik Nakesha, melihat wanita itu hanya memandangnya, Daihan baru sadar, mata Nakesha begitu indah, bahkan lebih indah dari mata Mika, dia menatap Nakesha, melihat semuan merah pipinya.
"Apakah kau merasa panas?" kata Daihan.
"Oh tidak, Ah ke mana Angga membawa kakakku? kenapa lama sekali," kata Nakesha salah tingkah, kalau terus berdua begini, Nakesha akan pingsan.
"Mungkin Angga sedang mengurus sesuatu, dia bukan orang yang suka terlambat jika tidak punya hal yang lebih penting," kata Daihan.
"Ehm, bolehkan aku minta tolong sesuatu?" kata Nakesha sedikit bebisik karena di sudut ruangan berdiri seorang pelayan.
"Ya?" kata Daihan lembut menanggapi.
"Ehm, bisakah kau saja yang memesan makanan untukku? aku dari tadi membaca menu, dan tak ada 1 pun yang aku tahu," kata Nakesha jujur.
Daihan menatap Nakesha, dia lalu tersenyum manis.
"Baiklah, pelayan, buatkan makanan yang biasa aku pesan, " kata Daihan pada pelayan khusus yang ada di dalam.
"Baik Tuan," kata pelayan itu, dia segera keluar.
Nakesha tersenyum lega, dia lalu menatap Daihan lagi.
"Ah, aku tak tahu kenapa Kak Bella bisa jatuh cinta pada Angga, kalau aku Bella, aku pasti akan menerimamu," kata Nakesha asal keluar saja.