
Angga tak menjawab, dia hanya menaikkan sudut bibirnya. Angga lalu mendorong tubuh Bella agar masuk dalam pelukkannya, beginikah rasanya rindu? Pikir Angga.
Bella merasakan keadamaiannya dalam pelukan, tapi tiba-tiba perasannya teringat sesuatu, padahal selama ini dia tidak pernah memikirkannya.
"Angga… " kata Bella kecil, masih dalam pelukan Angga.
"Hmm?" jawab Angga karna masih terlena memeluk Bella.
"Ehm … janji jangan marah."
"Baiklah, memangnya ada apa?" kata Angga melepas pelukan untuk bisa menatap Bella.
"Apa kau pernah melakukan hal seperti seperti ini dengan Mika?" kata Bella mengutarakan apa yang ada di kepalanya tiba-tiba, mungkin teringat dengan perlakuan Daihan yang katanya hanya piknik dengan Bella.
Angga mendengar pertanyaan itu hanya mengulas sedikit senyuman, dia melepas tangannya dari tubuh Bella, memasukkannya ke dalam kedua saku celananya. Dia melihat sekeliling seolah sedang mengingat, Bella yang penasaran terus menatap Angga, mengikut gerakan kepala Angga, Angga lalu menatap Bella lagi.
"Ehm … coba aku katakan dulu, kami sudah bercama selama 20 tahun, dan menjadi pasangan selama 5 tahun, 3 hari lagi akan menikah, menurutmu apa yang seperti ini sudah pernah kami lakukan atau belum?" kata Angga dengan senyum tipisnya.
Bella mencerna kata-kata Angga, jawaban itu sungguh tidak memuaskan dirinya, ya mana dia tahu apa yang sudah mereka lakukan berdua?, dan jawaban itu sungguh ambigu.
"Jadi maksudmu, Mika juga pernah begini juga? Atau jangan-jangan kalian sudah pernah melakukan hal yang tidak-tidak." Kata Bella berasumsi yang tidak-tidak.
Angga melihat Bella dengan wajah bekerut, tapi setelah itu dia menganggapnya hanya angin lalu, dia segera ingin memeluk Bella lagi, masih belum tuntas rindunya pada Bella. Tapi Bella langsung menekuk lututnya, hingga dia tidak jadi di peluk oleh Angga, Angga hanya memeluk udara kosong.
"Kenapa?" kata Angga bingung.
"Aku tidak ingin di peluk pria mesum." Kata Bella dengan wajah cemberutnya
"Memangnya sekarang apa yang terlintas di pikiranmu tentang aku dan Mika?" kata Angga manaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Ehm, kalian ... " kata Bella sedikit susah dan sungkan mengatakannya, tidak bisa menemukan kata-kata yang pas.
"Kami kenapa?" kata Angga dengan suara beratnya, menatap Bella tajam.
"Ya, kalian, begituan," kata Bella malah dia yang jadi gugup.
"Begituan bagaimana? Selalu saja mengucapkannya dengan tidak jelas," kata Angga.
"Ya, seharusnya kau tahu apa yang di lakukan pria dan wanita jika berpacaran," Kata Bella lagi.
"Kau tahu?"
"Ya tidak, aku kan tidak pernah pacaran."
"Tapi kau sudah menikah, bagaimana dengan mu?"
"Aku menikah, tapi kan tidak pernah melakukan apapun, berciuman dengan Aksa saja aku belum pernah," Kata Bella begitu polos.
Angga mendengar hal itu langsung tersenyum, ada rasa senang mendengar hal itu.
"Jadi aku pria pertama yang menciummu?" kata Angga sedikit bangga.
"Ya, dan kau merebutnya dengan sangat kasar. " kata Bella yang ada diingatannya adalah ciuman pertamanya di kapal waktu itu.
"Siapa bilang itu ciuman pertama kita?" kata Angga lagi.
"Maksudmu?"
"Saat kau diberikan minuman oleh Sania, kau memaksaku menerima ciumanmu, kau sangat agresif saat itu," Kata Angga menjelaskan.
Bella terbengong, benarkah? itu yang sudah di lakukannya saat mabuk dulu? Yang benar? Bella apa yang sudah di lakuannya.
"Kau serius aku menciummu?" Kata Bella masih dengan wajah tercengang.
"Ya," kata Angga sedikit tersenyum kecil, lucu dengan ekspresi Bella yang tampak begitu syok.
"Ya, tetap saja, ehm… tapi kan aku tidak pernah melakukan hal yang lainnya. " kata Bella mencari alasan mengalihkan topiknya.
"Jadi di pikiranmu aku pernah melakukan hal yang lain?" kata Angga dengan tekukkan di dahi.
"Ya, seorang wanita dan pria, hidup bebas, juga berpacaran, dan sudah berhubungan selama 5 tahun, menurutmu?" kata Bella lagi matanya bergulir sambil mencari cara menyampaikannya.
"Otakmu memang tak sepolos pikiranku ya. " kata Angga kembali nyentil dahi Bella. Bella kesal.
"Jangan melakukan itu lagi, sakit tahu." Kata Bella mengelus dahinya.
"Aku bukan pria yang melakukan hal seperti itu sembarangan, jadi jangan berpikir seperti itu lagi. " kata Angga tegas dan menyakinkan dangan wajah yang serius.
"Nggg… iya… "kata Bella sedikit takut melihat respon Angga.
Angga mempertahankan tatapannya, mencoba membuat Bella percaya, dia lalu sedikit memiringkan wajahnya, dan sedikit tersenyum sinis, Bella yang melihat itu jadi bertambah takut.
"Atau kau ingin membuktikannya? " kata Angga
"Ha? " kata Bella terkejut karena Angga langsung mengendong Bella lagi seperti saat dia mengendong Bella saat ia tidak mau makan tadi, Bella yang kaget langsung berontak.
"Hei, kau mau apa, lepaskan, nanti aku akan jatuh. " kata Bella sedikit berteriak-teriak.
"Diamlah, nanti pelayan pikir aku sedang melukaimu, kamar ini tidak kedap suara jika jendelanya terbuka. " kata Angga bahkan seperti perintah.
"Tapi aku mau di bawa kemana? " kata Bella, dia langsung diam berpikir, kedap suara? Angga ingin apa?.
Angga tak menjawab, dia membawa Bella ke ranjang, sedikit menghempaskan tubuh Bella ke ranjang, Bella yang melihat Angga langsung ketakutan, Angga membuka sweater yang di pakainya, Bella langsung terbelalak, apa maksudnya Angga membuka bajunya di depan Bella?, apa dia akan membuka yang lain juga?, hah? kenapa bisa begini?, sebelum Angga membuka yang lain, Bella menutup matanya dengan tangannya.
Angga tertawa kecil melihat tingkah laku Bella yang seperti anak kecil, dia berjalan ke arah lemarinya. Mengambil baju tidurnya. Bella yang membuka sedikit jari-jarinya agar bisa mengintip dari celah jarinya langsung diam, dia menurunkan tangannya.
" Kau ini kenapa?" kata Angga tersenyum sambil mengunakan baju tidurnya.
"Kau tidak… " kata Bella memukul kepalanya sendiri karena sudah berpikir yang tidak-tidak, ternyata di memukulnya cukup keras, hingga dia sendiri kesakitan, kepalanya langsung berdengung.
Angga duduk di pinggir ranjangnya, tersenyum dengan hanya menaikkan sudut bibirnya.
"Mari tidur," kata Angga segera memposisikan dirinya untuk tidur.
"Aku tidur di sini? Aku tidur di kamarku saja, aku tidak bisa tidur tanpa Gaga, "kata Bella mencari alasan.
"Kalau ada yang asli, untuk apa tidur dengan yang palsu." kata Angga memandang Bella yang masih terduduk di ranjang itu.
"eh… itu…"kata Bella bingung mencari alasan lain.
"Tidurlah, lagi pula kita juga sudah pernah tidur bersama atau kau ingin aku memaksamu untuk tidur di sini?" kata Angga
"Oh, tidak, tidak , aku akan tidur, lihat. " kata Bella mau tak mau membaringkan tubuhnya di ranjang, dia tidur di ujung ranjang, benar-benar di ujung, sedikit saja dia salah bergeser, dia akan jatuh.
Angga yang melihat itu menunjukkan wajah malasnya, dia lalu duduk dan menarik tubuh Bella dengan sedikit kasar agar mendekat padanya, dia menaruh tangannya untuk menjadi bantal kepala Bella, lalu Angga mulai memejamkan matanya.
Bella yang sekarang bahkan menempel di tubuh Angga merasa sangat gugup, bagaimana dia bisa tidur jika jantungnya saja sudah seperti suara drum.
"Kau suka tidur memeluk gaga kan?" kata Angga, namun matanya tetap tertutup.
"Ya. " kata Bella seadanya saja.
"Aku Gagamu malam ini."
"Aku tidak ingin memanggilmu Gaga, itu panggilan Mika untukmu, aku akan tetap memanggilmu Angga. "kata Bella, ada rasa tak suka di hatinya dan di nada bicaranya. Angga mendengar itu membuka matanya.
"Kenapa? kau cemburu?" kata Angga.
"Ah, tidak… " kata Bella, dalam hatinya, mungkin memang dia cemburu.
"Oh, lagi pula kita kan tidak pacaran. "kata Angga.
"Kalau tidak pacaran kenapa tidur berdua begini?" kata Bella protes, dia ingin bisa tidur tenang, kalau begini pasti dia tidak akan bisa tidur.
"Kan bukan aku yang tidak ingin pacaran. " kata Angga lagi.
"…"
Angga kembali menutup matanya, dia memeluk Bella lebih erat. Seolah tidak ingin melepaskan wanita yang sekarang ada di dekapannya itu.
"Cepatlah selesaikan apapun masalahmu dengan Aksa, menunggu itu menyakitkan. " kata Angga lagi.
Bella kembali hanya bisa terdiam, sebenarnya jauh dari lubuk hatinya, dia sudah cukup ragu untuk melanjutkan ini semua, tapi tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Dia sudah terlanjur muncul di depan Aksa, jika dia tiba-tiba pergi dari sini, Aksa pasti tetap mengejarnya, apa memang harus Bella pergi saja dan menghilang yang jauh hingga Aksa tidak bisa lagi mengejarnya. Tapi bagaimana dengan Angga? pikirnya.
Bella bangkit bertumpu dengan tangannya, menatap Angga yang tampaknya sudah terlelap, wajahnya terlihat cukup lelah namun terlihat sangat damai. Pertanyaannya berubah, bagaimana dengan Bella jika Bella meninggalkan Angga? sanggupkah?.
Bella kembali merebahkan badannya kembali ke tangan Angga, mencari posisi yang nyaman dalam pelukkannya, menghirup aroma khas Angga yang menenangkannya. Dia lalu mulai mencoba untuk menutup matanya, perasaan sedih karena memikirkan untuk pergi itu ternyata sukses membuatnya tak lama tertidur.