Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
78



Aku tak ingin lagi ada yang menyentuhmu,


Kau hanya milik aku...


Biarlah dikatakan aku orang yang egois...


Biar saja, karna ku tak tahan deritanya...


____________________________________________


"Jofan, ini Mika, Mika ini Jofan," kata Angga memperkenalkan.


"Seriously? Dia juga bernama Mika? " kata Jofan tidak percaya, memandang Bella dengan wajah yang sangat terkejut, tapi hal itu tidak mengurangi ke tampanannya.


"Akan aku jelaskan nanti, bagaimana kabarmu?" kata Angga.


"Well, aku baik, baru pulang dari Ibiza bersama Nora," kata Jofan terlihat bangga.


"Siapa lagi wanita yang kau rusak?" kata Angga meminum anggur yang di tuangkan oleh pelayan.


"Hahaha… itu bukan merusak, simbiosis mutualisme, kami hanya bersenang-senang." Kata Jofan juga menyeruput winenya, hanya Bella yang minum jusnya di sana. Diam tak berbicara.


" So, Nona Mika, sudah berapa lama kau dengan The Himalayan Boss ini?" kata Jofan perhatiannya berpindah ke Bella, Bella yang sedang menyedot jus strawberry itu hanya melirik ke Jofan, Jofan lalu memandang Bella dengan lebih seksama.


"Ehm… beberapa bulan,"kata Bella tidak terlalu ingat kapan tepatnya mereka sudah bersama.


"Wow, Nona Mika, apakah pernah ada yang bilang bahwa matamu sungguh indah?" kata Jofan dengan senyuman dan gaya mengodanya. Bella yang memperhatikan itu langsung menatapnya heran, sepertinya pria ini juga pria yang suka dikelillingi wanita, pikir Bella.


"Dia wanita di pantai itu." Kata Angga lagi.


"Dia? Kau serius? Bagaimana mungkin? Wah… aku jadi berharap aku yang menemukanmu waktu itu." kata Jofan lagi dengan senyum merekah hampir seperti tawa kecil, namun ada sisi mengodanya. Bella yang melihat tingkah Jofan itu hanya mengerutkan dahinya.


"Kau tahu, kau punya kecantikan tersendiri, sayang kau terlalu polos, jika di poles sedikit… " kata Jofan ingin menyentuh pipi Bella, Bella yang melihat itu segera memundurkan badannya, sedangkan Angga langsung menangkap tangan Jofan. Jofan yang melihat itu langsung kaget dan melihat ke arah Angga, Angga menatapnya tajam dan dingin.


"Wow, hold on, hold on, tenang saja, aku tidak akan mengoda wanita kepunyaan temanku, seberapa pun cantiknya aku tidak akan tergoda, itu sudah menjadi komitmenku. Lagi pula, maaf Nona kau bukan tipeku. Kau kurang glamor." kata Jofan lagi, mendengar itu Angga baru melepaskan tangannya, namun tetap memandangnya tajam.


"Kapan kau ada waktu?, aku ingin berbicara padamu." kata Angga lagi serius.


"Kapan saja, nanti aku akan datang ke rumahmu." kata Jofan, sesekali melirik Bella.


"Baiklah, beri tahu aku nanti."


Jofan hanya mengangguk.


"Ayahmu tadi mengajakku untuk bergabung dalam jamuannya." Kata Angga lagi, Bella mendengar itu langsung kaget.


"Kau anak Pedana Menteri?" kata Bella yang tidak bisa menutupi ke kagetannya.


"Ya, Nona, ada apa? kau mulai tertarik padaku?" kata Jofan yang menanggapi kekagetan Bella, Bella yang mendapatkan jawaban itu langsung menarik dirinya lagi, menatap Angga yang meliriknya tajam.


"Tidak." Kata Bella, dia lalu menunduk, memainkan sedotan minumannya, pantas saja Angga begitu berhati-hati berbicara dengan pria ini, dia adalah anak Pedana Menteri, wah, lingkungan Angga benar-benar di kelilingi oleh orang-orang yang penting.


Jofan yang melihat reaksi Bella itu hanya tersenyum kecil, wanita ini lucu juga. Pikirnya.


"Jamuan makan siang itu membosankan, kau tahu kan apa yang terjadi jika ayah dan ibuku ada dalam satu ruangan, canggung, hahaha... mereka sedang menyambut kepulangan Medeline. Untung saja kau memanggilku, jadi aku punya alasan untuk kabur." kata Jofan mengoyang-goyangkan gelas winenya.


"Medeline sudah pulang?" tanya Angga lagi.


Mendengar itu Bella ada rasa tak enak muncul di hati Bella, dia memandang Angga, Angga tampak tenang saja, seolah tidak mendegar perkataan Jofan.


Tak lama makanan mereka datang, di mulai dari hidangan pembuka yang tampak begitu menyelerakan, hidangan utama yang sangat lezat, dan terakhir mereka sedang menunggu hidangan penutup.


"Kakak, di sini kau rupanya?" suara seorang wanita dari belakang Bella. Bella mendegar suaranya yang terdengar sangat lembut. Jofan dan Angga langsung melirik ke arah suara tersebut berasal.


Bella bisa merasakan wanita itu mendekat, dan dia tahu itu pasti Medeline, adiknya Jofan, wangi parfumnya yang halus dan manis tercium oleh Bella, namun Bella tak berminat untuk melihat ke belakang, ya tentu, dia sudah tahu pasti wanita di belakangnya itu pasti terlihat sangat cantik dan anggun, di lihat dari keturunannya saja sudah di pastikan wajahnya menawan, sama seperti kakaknya dan sialnya kenapa mereka bertemu saat Bella bahkan tak memakai apapun, parfum pun dia tidak gunakan, baunya saja seperti bau rumah sakit. Bella pura-pura tak mendengar wanita itu, mencoba sibuk dengan handphonenya.


"Ya, sudah selesai perjamuannya?" kata Jofan santai.


"Ya, Kak Angga!, sudah lama tidak bertemu dengan kakak." Terdengar suara Medeline ceria, sepertinya dia sangat senang bertemu dengan Angga, Bella hanya menunduk, sedikit merasa terganggu dengan semerbak wangi Medeline yang sekarang berdiri tepat di sampingnya, Medeline lalu berpindah ke sebelah Jofan dan Angga.


"Ya." Kata Angga singkat padat dan jelas, seolah tidak punya minat untuk melanjutkan pembicaraan dengan Medeline. Medeline tampak biasa saja, mungkin karena sudah terbiasa mengetahui sifat Angga yang dari dulu dingin seperti ini. Dia lalu melihat ke arah Bella, mengerutkan dahinya, apa lagi melihat dandanan Bella yang seperti itu.


"Siapa dia kak?" kata Medeline pada Jofan yang hanya diam dan tetap mengoyang-goyangkan gelas winenya.


"Ehm, dia… "kata Jofan, namun terpotong karena pelayan menyuguhkan 3 piring pencuci mulut, sebuah moss with machta sorbet, dengan tampilan elegan khas hidangan kelas atas.


Melihat pencuci mulut itu terhidang, Bella mau tak mau mengangkat wajahnya, sebenarnya sama sekali tidak ingin melihat Angga, Jofan, apa lagi Medeline, tapi ya, mau tak mau dia melihat mereka, kali ini dia benar-benar merasa terbully oleh kelakuan Angga, tapi dia hanya bisa mengulum senyumnya.


Medeline memperhatikan Bella, memperhatikannya lekat-lekat hingga di memiringkan wajahnya, tak dia kenal sedikitpun.


Bella juga melihat Medeline sekilas, gadis itu tinggi, dan benar perkiraan Bella, wajahnya sangat cantik, sebelas dua belas dengan kakaknya, tubuhnya kurus, hingga terkesan lurus. Mengunakan gaun hitam dengan satu tali polos yang tampak cocok di pakainya, kulitnya bersih, dan rambutnya di biarkan jatuh bergelombang panjang. Dia berdiri masih mengamati Bella. Bella yang mencoba tidak peduli lalu ingin mengambil hidangan penutupnya. Namun baru saja dia ingin mengambil matcha sorbet itu, Angga langsung mengambil piringnya. Bella kaget, semua yang di sana juga kaget.


Bella lalu menatap Angga yang wajahnya terlihat datar dan dingin itu, Angga memindakan piring itu menjauh dari Bella. Bella menatapnya seolah bertanya kenapa?.


"Kau baru pulang dari rumah sakit, jangan makan yang dingin, tidak baik untuk tubuh." Kata Angga dengan sedikit perhatian dari nadanya.


Hal itu membuat Medeline dan Jofan yang ada di sana tampak terkejut, mereka tidak pernah melihat Angga menampakkan perhatian seperti itu, walaupun sedikit, itu benar-benar momen sangat langka, bukan sangat langka, ini baru pertama kalinya Angga seperti itu pada wanita.


Bella tak  ingin menjawab apa kata-kata Angga, dia hanya sedikit mayun malas, lalu mulai memainkan handphonenya lagi, tidak peduli dengan tatapan sinis Medeline padanya.


Jofan yang melihat adiknya berwajah sinis dan tak enak di lihat, langsung berdiri, tak ingin melanjutkan situasi yang sedikit mulai tak enak ini.


"Baiklah, sampai bertemu di rumahmu,  ayo, dik… kita kembali." kata Jofan menarik adiknya dengan cara memeluk bahu Medeline yang kecil, bahkan sampai Jofan menariknya pun, Medeline terus menatap Bella dengan sangat sinis.


Bella tak ingin menatap Medeline, dia hanya pura-pura sibuk dengan handphonenya, Angga hanya memperhatikan sikap Bella yang tampak tidak percaya diri, dia hanya tersenyum sedikit, merasa tingkah Bella sekarang malah lucu baginya.


"Kenapa harus menunduk begitu?" kata Angga membuka pembicaraan, Bella yang mendengarkan hanya melirik Angga dengan sinis, dia benar-benar keterlaluan.


"Kau sengaja ya ingin membuatku malu?" kata Bella cemberut.


"Kenapa?" kata Angga merasa tidak bersalah.


"Ya, kan sudah aku bilang aku tidak ingin turun, bagaimana coba pikiran teman-temanmu melihat aku?." kata Bella lagi dengan wajah sangat kesal, dia menyalurkannya dengan menekan-nekan handphonenya dengan keras.


Angga hanya memperhatikan Bella, melihat tingkah Bella yang malah memberinya kesan manja, dia menaikkan sedikit bibirnya, mencondongkan badannya ke arah Bella, matanya memancarkan kelembutan yang membuat kesal Bella hilang, berganti ketertarikan.


"Aku tidak ingin lagi menambah sainganku, apa lagi bersaing dengan sabahatku sendiri, sudah cukup dengan 1 orang sahabatku saja. Kalau Jofan melihatmu seperti biasanya kau berdandan, aku yakin dia tak akan melepaskanmu. Kalau soal Medeline, itu di luar dugaanku." Kata Angga berbisik lembut dan perlahan pada Bella yang jadinya terpaku, setelah mengucapkan itu Angga tersenyum begitu manis, menampakkan lesung pipinya yang indah.


"Aku harus bertemu dengannya hari ini, tapi aku khawatir jika kau tidak dalam pandanganku, karena itu aku ingin kau tetap di sini, dan ingin agar Jofan tidak tertarik padamu." Kata Angga lagi, Bella yang mendengar itu langsung tersipu, deg…deg…deg… jantungnya bahkan lebih keras dari suara alunan piano dan biola yang terdengar di sana. Mata mereka beradu, membuat suasana di sana tiba-tiba terasa romantis, hanya berpandangan saja, dan rasanya sangat manis bagi Bella.


"Baiklah, ayo pulang," kata Angga menyudahi momen itu seperti itu saja, dia segera berdiri dari sana. Seperti biasa mulai berjalan tanpa menunggu Bella. Bella yang baru sadar akan keterpanaannya langsung mengejarnya. Bella sekali lagi dengan tertunduk berjalan di belakang Angga.