Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
168



Bella duduk di ruang tengah kediaman itu, hanya menonton tv membuatnya bosan, apa lagi dia tidak bisa membaca novel kesayangannya lagi, padahal dia sudah cukup penasaran dengan kelanjutan novel 'Marrige Order' dan 'Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot' yang biasanya dia bisa dia baca terus menerus sepanjang hari dari aplikasi Noveltoon, tapi gara- gara kemarin handphonenya ada di mobil Angga, sudah pasti handphonenya terbakar habis, hah ... dia harus merelakan lagi handphonenya, mungkin dia memang tidak berjodoh memakai handphone.


"Judy, kalau hanya keluar dari sini, boleh kan?" kata Bella.


"Tuan hanya mengatakan jangan keluar dari area markas militer, " kata Judy yang setia menemani Bella.


"Baiklah, aku keluar ingin menghirup udara segar dan terkena matahari," kata Bella.


Dia segera berdiri, berjalan ke arah pintu utama, Judy dengan sigap mendahului Bella dan membukakan pintu untuknya.


"Terima kasih Judy," kata Bella tersenyum manis.


Bella keluar, matanya agak silau melihat matahari yang lumayan sudah terik ternyata, karena kaca kediaman ini dibuat sedemikian rupa agar tak tembus telihat dari luar, dan sinar matahari juga tak telalu masuk ke dalam, Bella baru tahu ternyata di luar sudah sangat terang.


Bella menatap ke area markas militer itu, di depannya terdapat lapangan hijau yang luas, Bella melihat beberapa prajurit berlatih lari dan berjalan mendekatinya, pemandangan yang tak biasa bagi Bella.


"Selamat Pagi Nyonya!" kata mereka serempak memberikan hormat kepada Bella, suara mereka yang lantang dan gestur mereka yang memberikan hormat membuat Bella terkagum sekaligus malu.


"Eh, iya, selamat pagi," kata Bella bingung ingin merespon apa, secara serempak pula setelah mendengar itu, mereka kembali berlari kecil, melanjutkan latihan mereka.


Bella hanya tersenyum-senyum sendiri melihat hal ini, lucu juga pikir Bella.


"Jam berapa Angga akan pulang?" kata Bella yang cukup merindukan suaminya, padahal dia baru saja pergi.


"Asisten Jang mengatakan Jadwal Tuan hingga pukul 1 nanti siang Nyonya," kata Judy.


"Baiklah, " kata Bella mencoba mengerti dan tenang, karena dia ingat saat pengejaran kemarin, mereka sepertinya benar-benar mengincar Angga.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" kata Medeline tiba-tiba datang dengan nada dan wajah yang tak ramah.


"Madeline?" kata Bella kaget dan heran, kenapa dia datang dan langsung marah.


Madeline melirik tangan Bella, sebuah cincin berlian melingkar dengan manis di jari manis Bella yang lentik, namun melihat itu Madeline makin emosi, jadi benar wanita murahan ini sudah menikah dengan Kak. Angga? pikirnya.


Madeline memang wanita terdidik dengan baik sedari kecil, namun saat ini dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya lagi, bahkan seorang putri pun bisa marah bukan?.


Madeline mendekati Bella dengan cepat, dia mengambil tangan Bella dengan kasar, lalu menarik cincin itu dengan kasar, namun karena Bella segera mengepalkan tangannya, cincin itu tak bisa keluar.


"Madeline apa yang kau lakukan?" kata Bella menarik tangannya yang tetap di tahan oleh Madeline, Judy pun coba melerai mereka. sesaat terjadi tarik menarik di antara mereka.


Madeline terus menarik cincin itu keluar, karena terus di paksa, akhirnya cincin itu keluar juga, Madeline tersenyum sinis.


"Kau tak pantas menikah dengan Kak Angga," kata Madeline


Madeline lalu melempar cincin itu ke tengah lapangan yang berumput itu, Bella melihat itu tercengang, itu cincin pernikahan dia dan Angga.


" Apa yang kau lakukan?!"kata Bella marah pada Madeline, menatap wajah Madeline yang penuh emosi.


Madeline tak menjawab, dia hanya melayangkan tamparan keras pada wajah Bella, terasa pedas hingga ke tulang.


Semua orang di sana terkejut, Judy langsung mengamankan Madeline, Bella hanya bisa memegangi pipinya, ingin membalas, namun tak bisa karena Madeline sudah di tarik mundur oleh Judy dan beberapa tentara.


"Madeline!" kata Jofan tegas. berjalan terburu menuju adiknya yang sudah membuat onar.


"Apa yang sudah kau lakukan? kau membuat onar di sini, sekarang pulang lah!" kata Jofan dengan nada tinggi dan wajah serius, Madeline menatap kakaknya, kakaknya tak pernah memarahinya, lalu kenapa kakaknya malah membela wanita murahan ini?.


"Kak! kenapa kau malah memarahiku?! kau seharusnya membelaku," kata Madeline kesal.


Ajudan Jofan segera membawa Madeline untuk keluar, Madeline menatap Bella dengan sorot mata ingin membunuh, Bella pun menatap balik mata Madeline, seakan tak takut dengannya.


"Jangan berani-beraninya menyentuh ku!" kata Madeline pada Ajudan yang mulai mengiringnya.


Jofan menatap Bella, pipi mulus dan putihnya memerah, Jofan segera mendekatinya.


"Kau tak apa-apa? Maafkan tingkah adikku yang keterlaluan," kata Jofan.


"Ya, tapi aku harus mencari sesuatu," kata Bella segera meninggalkan Jofan, menuju ke lapangan rumput, Bella mencari di daerah mana kira-kira cincin itu jatuh, Bella langsung berjongkok mencarinya, dia harus menemukannya, cincin itu sangat penting baginya.


"Judy cari di sebelah sana," perintah Bella, Judy langsung mencarinya.


Jofan yang melihat itu memasang wajah herannya, dia langsung mendekati Bella.


"Apa yang kau cari?" kata Jofan.


"Cincin pernikahanku, Madeline tadi mencabutnya dan membuangnya ke sini," kata Bella sibuk mencari.


"Benarkah? Hei, kalian, bantu Nyonya Bella mencari cincin pernikahannya," teriak Jofan, dia pun mengikuti mencari di sekelilingnya.


Medeline dari jauh memperhatikan apa yang sedang di lakukan Bella, dia tersenyum sinis.


Carilah sampai mati, kau memang tak pantas memakai cincin ini, hanya aku yang pantas. kata Madeline dalam hati,


Dia mengenggam cincin pernikahan Angga dan Bella yang ternyata tak di buangnya, memasangkannya ke jari manisnya, dan melihat kilaunya yang indah, walau pun sebenarnya cincin itu longgar untuk jari manisnya yang kurus, dia segera pergi dari sana.


Matahari makin terik, panas menyengat, menimpa tubuh Bella yang mulai berkeringat mencari cincinnya, kulitnya yang biasa putih sekarang tampak memerah, Setelah mencari hampir 1 jam, Bella belum juga menemukan cincinnya, semakin lama dia mencarinya, semakin putus asa Bella dan semakin sedih dia, bahkan yang menbantunya juga sudah mulai menyerah, karena mereka sudah menyisir semuanya namun tak menemukan apa pun.


"Bella, sepertinya lebih baik kau beristirahat, biarkan para tentara mencarinya," kata Jofan membujuk Bella yang masih mencari di terik matahari.


"Tidak bisa, aku tak bisa tenang kalau tidak menemukannya, cincin itu pernikahanku," kata Bella menatap Jofan tegas namun matanya berkaca-kaca.


"Bella!" kata Angga yang berjalan menuju ke arah Bella dengan tegas dan cepat. Bella melihat Angga dia langsung berdiri, dia sedih, Angga pulang pasti karena dia lagi.


"Angga, aku kehilangan cincin pernikahan kita," kata Bella dengan wajah sedih pada Angga yang sudah ada di depannya.


Angga menatap Bella yang wajahnya tampak sedih, badan dan wajah penuh dengan keringat, memerah terkena terik matahari, Angga tahu bahwa Bella sudah mencari cukup lama di bawah terik matahari.


"Aku akan membelinya lagi," kata Angga lembut, prihatin melihat istrinya.


"Tidak mau, itu kan cincin pernikahan kita, aku tak mau yang baru, cincin itu punya kenangan tersendiri," kata Bella bersikeras. Angga menatap Jofan.


"Kami sudah mencarinya, namun tidak menemukan apa pun," kata Jofan.


"Di mana Madeline?" kata Angga tampak kesal dan marah.


"Dia di rumahku sekarang, Angga, kau ingin apa?" kata Jofan yang menangkap kekesalan di wajah Angga.


"Aku ingin menemuinya," kata Angga merangkul tubuh Bella dan membawa Bella berjalan.


"Angga, dia adikku," kata Jofan.


Angga menatap Jofan dalam dan tajam, Jofan terdiam, Angga melanjutkan jalannya mengarah keluar. Jofan langsung mengikuti Angga.