Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
233



Aksa duduk di salah satu restoran di sebuah mall, restoran itu bahkan ditutup untuk umum karena dia ingin makan di sana, padahal dia hanya makan sendiri.


Dia sendiri sebenarnya tidak terlalu bernafsu untuk makan, hingga makanannya dingin pun dia tidak menyentuhnya sama sekali, hanya bebarapa kali meminum minumannya.


Matanya jauh menatap pemandangan kota yang terlihat dari jendela di sampingnya, namun sebenarnya pikirannya pergi lebih jauh dari ini, terbang ke Bella.


Sebentar lagi dia akan di mahkotai sebagai Raja, karena itu dia ingin sekali menjemput ratunya, namun seakan menghilang lenyap, ratunya tak pernah dia temukan, dan itu membuatnya frustasi hingga saat ini.


"Selamat siang Pangeran, " kata Seseorang tiba-tiba datang dan menganggu lamunan Aksa.


"Sudah kau dapatkan?" kata Aksa yang melirik tajam pada pria yang merupakan  Asisten pribadinya, tak suka lamunannya terganggu.


"Belum Tuan, Putri Bella benar-benar tidak bisa di temukan, bahkan saat saya mengunakan identitasnya yang baru pun, jejaknya tidak bisa di temukan, saya rasa Putri dan Tuan Angga … " kata  Asistennya gugup.


Begitu Aksa mendengar kata-kata Angga, emosinya langsung tersulut, hatinya langsung terbakar, dia tidak ingin lagi mendengar nama Angga, dia benar-benar berpikir Angga sudah meninggal, hingga dia rela melakukan apa pun untuk Bella, dia benar-benar tulus ingin merawat dan mengakui anak Bella sebagai anaknya, asalkan Bella bisa menerimanya, dan asalkan Angga tak ada lagi di dunia ini. Padahal dia sudah sangat yakin, dia pasti akan kembali mendapatkan hati wanita itu.


"Jangan pernah menemuiku lagi jika kau tidak menemukan kabarnya! Kau tidak berguna!" kata Aksa marah, dia lalu pergi begitu saja meninggalkan  Asistennya yang sudah berkeringat dingin.


Aksa keluar dari sana, berjalan turun ingin menuju ke mobilnya, para penjaga langsung mengikutinya dari belakang.


Wajah Aksa terus terlihat sangat dingin dan kejam, bahkan auranya yang terpancar membuat semua orang menghindarinya. Seolah ada aura mengancam yang sedang di terbarkannya di sana.


Namun dia tiba-tiba berhenti, setelah melihat seorang wanita berlari begitu saja melewatinya, wajahnya langsung berkerut, dan dia segera memalingkan wajahnya ke arah wanita itu, dia yakin mengenali wanita itu, bukannya dia sudah meninggal?.


---***---


Nakesha sedang membawa Archie untuk pergi jalan-jalan di sebuah Mall dengan pengasuhnya.


"Bubu," kata Archie yang berlari tak sabar karena dia melihat balon yang sedang di jual di sana. Langkah kecilnya terlihat mengemaskan.


"Archie tunggu ibu," kata Nekesha, dia langsung mengejar Archie yang terus berlari ke arah Balon itu, Nakesha terus lari melewati segerombolan orang, hingga dia tidak memperhatikan siapa orang yang dia lewati.


Nakesha akhirnya bisa mengejar Archie, namun tidak menghentikan langkah kecil Archie, dia hanya mengikutinya dari belakang, merasa senang melihat Archie sangat bahagia ingin mengambil balon di sana, namun tiba-tiba tangan Nakesha digenggam seseorang, mambuat dia kaget setengah mati, apa lagi setelah melihat yang mengenggamnya itu adalah seorang pria yang tidak dikenalnya, pria itu hanya menatapnya dengan sangat tajam. Matanya seolah menusuk Nakesha, dia yakin dia tidak pernah melihat pria ini sebelumnya.


"Kau!" kata Aksa tampak sedikit meninggi dan terkejut.


Nakesha menatapnya dengan kerutan dalam di antara alisnya, menatap wajah pria ini, tampan tapi cukup menakutkan buat Nakesha.


"Kau siapa? Pegang-pegang orang sembarangan, hei, bung! Lepaskan aku!" kata Nakesha kesal karena di perlakukan seperti ini, Dia tidak kenal siapa pria ini, kenapa dia sok-sokan kenal denganku, pikir Nakesha lagi menatap Aksa dengan tatapannya yang tak pernah takut pada siapa pun.


"Bagaimana kau masih hidup?" kata Aksa lagi bingung, wanita yang bahkan dia tidak ingin tahu namanya ini, bagaimana dia bisa masih hidup? Bukannya dia sudah mendapatkan kabar bahwa wanita ini sudah bunuh diri?. Wanita ini memberikannya surat yang mengatakan bahwa dia mengandung anak Aksa, namun saat Aksa ingin mencarinya, yang Aksa dapatkan adalah kabar bahwa wanita ini sudah tewas karena bunuh diri.


"Tuan, sepertinya kau salah orang, tentu aku masih hidup, kalau aku sudah mati, ya aku tidak mungkin ada di sini, kalau kau menganggap aku sudah mati, masa yang kau pegang dan sedang jalan-jalan di mall ini hantu, apa kau gila? Lepaskan tangan ku!" kata Nakesha lagi berontak, namun genggaman Aksa begitu kuat, dia terus menatap wajah manis Nakesha, tidak, dia rasa dia tak salah, walau pun hanya berjumpa dengan wanita ini sekali, Aksa tak akan pernah melupakan wanita yang pernah dia berikan obat penenang, karena hanya dia yang Aksa berikan obat itu.


"Bubu! " kata Archie yang kembali berlari ke arah Nakesha, dia sudah membawa balon yang ternyata sudah di belikan oleh pengasuhnya, dengan senyuman ceria Archie berlari ke arah Nakesha. Nekesha yang melihat anaknya ingin datang, tentu ingin mendekati anaknya, namun pria aneh ini terus saja memengang tangannya.


"Archie, sebentar ya nak," kata Nakesha pada Archie, Pengasuhnya yang melihat keadaan Nakesha langung menarik Archie agar tidak mendekat pada Nakesha, dia langsung mengendongnya, padahal Archie sedang semangatnya berjalan ke arah Nakesha, Archie yang di gendong itu hanya bisa diam melihat Ibunya.


Aksa yang melihat seorang anak laki-laki yang berjalan dan di gendong oleh pengasuh itu terdiam, kaget, apa lagi mendengar kata-kata Nakesha, Anak? Jangan-jangan … tatapannya berpindah ke Nakesha dengan cepat.


"Katakan! Apa dia anak yang kau katakan padaku?" kata Aksa menarik tangan Nakesha, mengetatkan genggaman tangannya, dari matanya terlihat keseriusan yang sangat dalam.


Nakesha yang melihat tingkah Aksa itu semakin melihatnya aneh, anak apa maksudnya? pikir Nakesha yang belum juga sadar, pria yang di depannya ini adalah Aksa.


"Kau ini apa-apaan sih? Kalau kau tidak melepaskan tanganku! Aku akan …!! " kata Nakesha, Nakesha lalu menarik tangan Aksa, dia segera mengigit pergelangan tangan Aksa yang tak sempat mengelak karena Nakesha melakukanya dengan sangat cepat, gigitan Nakesha sangat kuat, hingga Aksa pun kesakitan dan kaget, bahkan para pengawalnya tidak sempat menahannya, begitu tangannya di lepaskan, Nakesha segera lari, dia segera mengambil Archie dari gendongan pengasuhnya, dan berlari sekuat tenaga, menjauh dari pria yang menurutnya gila itu.


"Pangeran apa kita perlu mengajarnya?" kata Penjaga Aksa yang sudah bersiap.


"Tidak perlu, tapi cari semua tentang dia dan anak itu," kata Aksa melihat bekas gigitan Nakesha yang memerah di pergelangan tangannya, tampak sangat memerah, rasanya pasti sakit, namun Aksa malah tersenyum sinis melihat bekas lukanya itu. Dia lalu pergi dari sana.