
Sania berjalan mengikuti seorang wanita bertubuh gempal yang merupakan kepala pelayan kerjaan, keadaanya sudah jauh dari kemarin, bahkan cara jalannya sebisa mungkin dia tunjukkan normal, hanya saja dia tetap mengunakan topeng kecil menutupi luka di wajahnya.
"Awalnya aku tak tahu kenapa kau bisa mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan khusus, tapi melihat keadaanmu, aku jadi mengerti, mereka pasti mempekerjakanmu agar kau tidak bisa kabur dan membocorkan rahasia ini," kata kepala Pelayan itu dengan sedikit ketus.
Sania tidak menjawab, hanya menunduk, mencoba tak banyak bicara, dia lalu menatap jauh ke arah istana pangeran, tempat itu adalah tempat yang sering dia masuki, bahkan sudah seperti rumahnya sendiri, sekarang tempat itu bahkan terasa asing baginya.
"Itu istana Pangeran, Pangeran Aksa tidak suka ada orang yang sembarangan masuk ke sana, jadi kalau kau mau ke sana, harus ada izin darinya," kata Kepala Pelayan itu lagi, berhenti sebentar karena melihat Sania menatap istana itu.
"Baik Nyonya," kata Sania menurut, mereka kembali berjalan, Mereka masuk ke istana utama namun dari pintu samping, hanya keluarga kerajaan dan tamu kerjaan yang boleh masuk dari pintu utama.
Sania melewati ruang tengah istana utama itu lagi, menatap sekilas, melihat Raja Leonal sedang mencium ganas seorang wanita, Sania terhenti, dia kenal pria itu, bahkan tingkat kejahatannya berkali-kali lipat di atas Aksa, benar-benar bukan panutan yang baik, hanya saja sayangnya Aksa tak bisa menolak darah yang mengalir di tubuhnya, buah tak jatuh jauh dari pohonnya.
Kepala pelayan yang melihat Sania terhenti menatap Raja Leonal, langsung buru-buru menarik tangan Sania dan pergi dari sana.
"Apa yang kau lakukan? kau ingin di penggal di hari ke 2 kau masuk istana, jika kau melihat Raja seperti itu, atau siapa saja keluarga kerajaan seperti itu, lebih baik kau secepatnya pergi, apa lagi dengan keadaanmu seperti ini, mereka tak punya belas kasih sama sekali," kata Kepala Pelanyan itu mengoceh panjang lebar.
"Baik Nyonya," kata Sania memandang Kepala Pelayan yang menatapnya dengan kesal, dulu Sania bahkan bisa menyuruhnya untuk melakukan apa pun, sekarang dia malah menjadi bawahannya yang harus patuh. Roda kehidupan memang tak bisa di tebak, sesaat kau di atas dunia, selanjutnya kau ada di bawah sekali,
Kepala Pelayan itu kembali mengamati Sania, dia cukup bersimpati melihat keadaan Sania, tak habis pikir kenapa dia bisa masuk ke kerajaan gila ini.
Mereka kembali menyusuri lorong-lorong tua dan menyuram hingga akhirnya hanya ada satu pintu di ujungnya, Sania mengerutkan dahi, dia tak tahu ada tempat seperti ini di dalam istana yang megah dan mewah.
"Tugasmu mulai sekarang di sini, Pelayan yang dulu anggap saja melarikan diri karena tak sanggup melayani Ratu, dia sedikit 'kurang waras'" kata Kepala Pelayan itu dengan sedikit berbisik saat mengatakan kurang waras, Sania mengerutkan dahi, dia yakin pelayan itu tidak mungkin melarikan diri, sekali masuk dalam kerajaan ini, walau pun kau melarikan diri, kau akan dikejar sampai mati, melarikan diri hanya bahasa halus untuk mengatikan kata 'dimusnahkan'.
Kepala Pelayan itu membukakan pintunya dengan kunci yang bahkan lebih tua dari umur kepala Pelayan itu, saat pintu terbuka, bau jamur dan lembab menyeruak, membuat sedikit sesak, bahkan kepala pelayan itu sendiri terbatuk.
Sania menatap ke dalam ruangan yang kecil dan hanya dengan saluran udara yang sedikit.
"Ratu ada di dalam, dia yang sedang duduk menatap tembok itu," kata kepala pelayan menjelaskan lagi.
Sania terkejut, tadi dia kira dia hanya salah mendengar, Ratu? berarti itu ibunya Aksa? Aksa mengatakan ibunya sudah meninggal, lalu kenapa dia malah ada di sini? jadi selama ini dia terkurung?.
Sania berjalan masuk, ruangan itu cukup rapi, bahkan nyaris tak ada apa pun di sana, hanya ranjang tua bergaya Viktoria, dengan kelambu putih menjuntai, bersih hanya bau apek karna memang ruangannya sangat lembab.
"Saya pelayan baru Anda, Yang Mulia Ratu," kata Sania.
Ayana hanya menatap Sania, tak lama kembali menatap tembok kosong yang suram.
"Mana obatnya?" kata Ayana lembut, suaranya bahkan mengetarkan hati Sania.
Sania bingung, menatap kepala pelayan itu segera, Kepala pelayan itu langsung mengeluarkan gestur untuk memanggil Sania, Sania segera menurutinya.
"Ayo, akan ku tunjukkan di mana kau bisa mengambil obat Ratu, " kata kepala pelayan itu lagi.
"Baik, Nyonya," kata Sania.
Mereka kembali menyusuri lorong panjang hingga mereka sampai di areal dapur ke rajaan, di ujung dapur ada sebuah lemari kecil.
"Setiap pagi, kau bisa mengambil obat dari sini, setiap hari, dokter istana akan memberikan obatnya beberapa butir di sini, Ratu akan memakannya 3 kali sehari, dan tugasmu adalah memastikan dia memakannya setelah makan, jika tidak dia akan mengamuk," kata Kepala Pelayan itu.
Sania mengangguk, Kepala pelayan itu membuka lemari kacanya, mengambil 1 butir obat berwarna merah muda, Sania menatap pil itu, serasa dia pernah melihatnya, tapi di mana?.
"Ini bawa, kau harus membawa minumnya juga, obatnya letakkan di wadah ini, ini obat khusus, jangan sampai kehilangan bahkan 1 butir pun," kata Kepala Pelayan itu sambil menyodorkan nampan berisi air putih dan tempat obat dari porselen putih.
Sania mengangguk mengambil nampan itu dari tangan Kepala Pelayan, Kepala pelayan itu tersenyum, gadis penurut, masih muda, namun sayang, dia cacat, jika saja tidak, mungkin akan banyak yang menyukainya, karna dari perawakan tubuhnya yang tinggi semampai, di cocok jadi model, pikir Kepala Pelayan itu lagi.
Sania kembali mengikuti Kepala Pelayan itu lagi, saat mereka keluar dan ingin masuk ke lorong utama, langkah mereka terhenti, Pangeran Aksa melewati mereka, Melihat Aksa berjalan dengan angkuhnya, mata Sania mendelik penuh kebencian, tangannya memegang nampan itu dengan erat, bahkan bergetar, membuat air di dalam gelas beriak.
"Jangan berani menatap Pangeran Aksa begitu, dia sangat tidak suka, jangan sampai bermasalah dengan mereka, wanita di kerajaan ini tak pernah bertahan lama, entah melarikan diri, gila, atau parahnya mati," kata Kepala Pelayan itu sedikit berbisik.
Sania tahu betul tentang itu karena dia adalah wanita yang di singkirkan dari Aksa, seketika seluruh tubuhnya nyeri, bekas sayatan- sayatan di tubuhnya rasanya kembali terbuka, traumanya kembali muncul, bagaimana malam itu dia di siksa hingga ke tulang, bagaimana Aksa dengan kejam menyayat tubuhnya, bahkan membiarkannya di perkosa di depan matanya sendiri sebelum paginya dia di eksekusi.
Aksa, walau aku mati, kau akan ku seret ke nereka, pikir Sania menatap punggung Aksa yang menjauh pergi.
Tapi Sania cukup heran, belum ada yang mengantikannya? bukannya Aksa adalah pria dengan begitu banyak wanita?, Ehm, Wanita? Sania langsung kembali melihat obat yang ada di nampan itu, wajahnya berkerut, Jangan-jangan ....