
Jofan langsung duduk di salah satu sofa yang ada di sana, Daihan pun duduk dengan serius di depannya, Jofan lalu menyerahkan setumpuk berkas pada Daihan. Daihan mengerutkan dahinya.
"Seperti yang aku katakan, Angga orang yang menyiapkan segalanya, jadi dia sudah menyiapkan sebuah protokol yang akan di aktifkan jika dia tidak bisa melakukan apa pun atau pun dia meninggal, dia menyuruhku untuk mengaktifkan tempat ini, melakukan apa pun yang aku bisa untuk menangani kasusnya, dan untukmu, dia menyerahkan ini semua. " kata Jofan melirik berkas-berkas itu, Daihan segera membuka salah satu berkas yang ada di paling atas, dan mulai membacanya, saat membacanya dia langsung kaget.
"Apa ini? " kata Daihan tak percaya.
"Pemindahan seluruh aset dan perusahaan Angga menjadi atas namamu, dia ingin kau mengurus semua perusahaannya, " kata Jofan serius.
"Kau gila, aku tidak bisa menerimanya, Angga belum mati,"kata Daihan kaget.
"Untuk saat ini, aku sudah mengumumkan bahwa Angga sudah meninggal dunia, hal itu harus aku lakukan, kalau tidak, mereka akan tetap mengejarnya,"kata Jofan memandang Daihan. " Dan jika kau tidak mau mengambil alih perusahaannya, maka seluruh perusahaannya akan kacau, semua hal yang sudah dilakukannya akan sia-sia, dan juga akan membuat kecurigaan pihak istana, karena aku yakin mereka masih memantau semua keadaan."
Daihan terdiam, hatinya sebenarnya berat, dia tidak mungkin mengambil semua yang di miliki oleh Angga, namun yang di katakan oleh Jofan juga benar.
"Baiklah,"kata Daihan menatap Jofan.
"Besok ada rapat di perusahaan Angga, datanglah ke sana sebagai pengganti Angga, di sana juga kau akan menandatangani pemindahan aset Angga," kata Jofan memberitahukan pada Daihan.
"Baik, aku akan melakukan semuanya, "kata Daihan lagi.
"Ya, Baiklah, kita memang harus melanjutkan semuanya, aku butuh dukunganmu untuk tetap bisa maju ke pemilihan presiden nanti, dengan begitu aku bisa tetap mendapatkan kekuasaan untuk menguak semua perbuatan dari pihak kerajaan,"kata Jofan dengan sangat serius.
"Ya, Aku minta kau menjaga Nakesha dan Archie di sini,"kata Diahan.
"Baiklah, " kata Jofan lagi.
"Bagaimana dengan Bella? Kau benar-benar tidak mendapatkan apa pun? " kata Daihan kembali teringat akan Bella.
"Tidak, aku tidak menemukan apa pun, dia di bawa oleh 3 orang tentara yang berkhianat, aku tidak tahu dari mereka bisa meniru lencanaku, jadi mereka membawa Bella dan Judy, dan mereka bagai hilang di telan bumi, "kata Jofan.
"Bukannya kau bisa melacak di mana keberadaan Aksa? "kata Daihan.
"Masalahnya itu, Aksa tak kemana-mana, dia hanya pergi keluar sebentar, namun sekarang di sudah ada di istananya kembali, " kata Jofan menatap Daihan.
"Tidak ada yang tahu, dia pergi saat semua perhatian tertuju pada kecelakaan Angga, saat kami kembali fokus padanya, dia sudah ada di istananya, jadi kami kehilangan kesempatan untuk tahu di mana Bella sekarang," kata Jofan lagi.
"Kau harus secepatnya mencarinya, lakukan apa pun yang kau bisa, aku yakin Angga pun ingin kau melakukan itu," kata Daihan dengan wajahnya yang penuh emosi, cemas dan panik.
"Pasti aku lakukan dengan baik, namun aku juga manusia, saat ini, fokusku terbagi, Angga dan Bella, saat ini aku akan tetap lebih fokus menyadarkan Angga, " kata Jofan, Daihan menatap Jofan yang tampak kacau.
"Baiklah, terima kasih, "kata Daihan pada Jofan, Jofan melirik Daihan, dia lalu sedikit tersenyum dan mulai menyandarkan dirinya ke sofa, sebuah kata terima kasih cukup membuatnya merasa nyaman.
Namun kenyamannya tak berlangsung lama, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka oleh seorang dengan baju dokter.
"Ada apa? "kata Jofan langsung menegakkan badannya.
"Tuan Angga dalam keadaan kritis," kata Dokter itu.
Mendengar itu Jofan dan Daihan langsung berdiri dan keluar dari ruangan itu, mereka langsung menuju ke ruangan Angga, namun mereka hanya bisa melihat keadaan dari luar ruang kaca, dari sana mereka melihat tubuh Angga kembali kejang, para dokter yang ada di sana langsung menaganinya, ke adaan di dalam itu telihat panik.
"DC Syok 350 Joule," terdengar suara dari dalam, beberapa orang menyiapkan peralatan DC syok yang ada di sana. "Clear! " Dan tubuh Angga segera dikejutkan oleh alat itu, setelah melihat tidak ada respon yang baik, mereka kembali mengulanginya, Tubuh Angga terhentak lagi karena kejutan listrik yang di buat oleh pada doker.
Daihan dan Jofan melihat tubuh Angga yang di perlakukan seperti itu merasa miris dan kasihan, tapi mereka tidak tahu lagi harus bagaimana, tidak mungkin membiarkan Angga meninggal begitu saja.
"Responsif, " kata dokter yang lain, dan mereka segera melakukan hal lain untuk menstabilkan keadaan Angga.
Jofan dan Daihan hanya bisa melihat mereka yang menangani tubuh Angga, setelah Angga cukup stabil salah satu dari dokter itu keluar untuk melaporkan keadaan Angga.
"Keadaan Tuan Angga sangat kritis, harapan hidupnya tipis, selain itu dari sampel darahnya di dapatkan bahwa Tuan Angga sudah di suntikkan sejenis kimia yang cocok dengan label yang kita temukan di pakaian Tuan Angga, zat kimia itu sangat berbahaya, saya takut, walau pun nantinya Tuan Angga bisa bertahan, kemungkinan besar, dia akan mengalami masalah otak,"kata dokter itu menjelaskan pada Jofan dan Daihan.
Jofan menarik napas panjang, Daihan pun begitu, mereka tidak menyangka siapa pun yang menculik Angga, mereka tidak punya perasaan sama sekali.
"Lakukan yang terbaik, "kata Jofan, hanya itu yang bisa dia katakan, dia melirik tubuh Angga yang berbaring lemah, penuh dengan alat-alat penunjang kehidupan.
"Tentu Tuan, saya permisi,"kata Dokter itu.