Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
244



Waktu perlahan namun pasti berlalu, membuat mataharinya yang tadi gagah menguasai hari, perlahan-lahan harus rela tergeser oleh rembulan, tengelam dilahap ujung lautan, namun sebisa mungkin masih meninggalkan jejak-jejak keindahannya, mewarnai langit yang menjingga karenanya.


"Wah, indah sekali," kata Bella yang melihat Angga baru selesai bekerja, berjalan mendekat ke arahnya, sambil mengelap tangannya agar tidak tercium bau amis, namun tetap saja, seluruh tubuhnya tercium bau khas ikan.


"Ya," kata Angga menatap matahari terbenam itu.


"Kenapa kau tidak pernah mengajakku melihatnya, padahal matahari terbenamnya sangat indah," kata Bella protes, sejak hamil rasanya dia sering sekali protes.


"Aku ingin membawamu dengan anak kita nanti," kata Angga mencari alasan, dia juga tidak pernah memperhatikan matahari terbenam, karena setiap kali selesai bekerja, dia pasti langsung pulang ke rumah untuk bertemu Bella.


"Gombal," kata Bella lagi menjulurkan tangannya agar Angga membantunya untuk bisa berdiri. Angga hanya tersenyum pada Bella.


"Ayo, kita pulang," kata Angga.


"Ehm, Kita jalan saja yuk, tadi siang aku berjalan dari rumah hingga ke sini dan berpikir jika pulang sore hari melewati jalan itu lagi pasti akan menyenangkan, " kata Bella merayu Angga.


"Kau yakin, apa tidak lelah, nanti jika kelelahan kau tidak akan bisa tidur dengan baik nanti malam," kata Angga sedikit cemas.


"Tidak, aku yakin, hari ini tubuhku rasanya penuh energi, dia juga sangat bersemangat dari tadi, benarkan nak?" kata Bella berbicara pada perutnya. "Tuh, tuh, dia nendang, dia bilang iya," kata Bella, Angga menggeleng sambil tertawa tak percaya, salah satu sifat Bella yang tidak bisa di rubah, Keras kepala.


"Eza!" panggil Angga pada Eza yang masih sibuk menghitung data-data yang ada, begitu mendengar teriakan Angga, Eza langsung berlari ke arah Angga.


"Ya, Tuan Devan," Kata Eza.


"Bawa mobil ke rumah, saya akan pulang dengan Nyonya berjalan kaki," kata Angga menjelaskan.


"Baik, Tuan, Tuan dan Nyonya, hati-hati di jalan," kata Eza tersenyum.


"Terima kasih," kata Angga.


Angga dan Bella berjalan perlahan, angin yang kencang menerpa tubuh mereka, memberikan suara gemuruh yang menenangkan, beberapa kali air laut menyapu kaki keduanya, terkadang membuat kaki Angga dan Bella terbenam di pasir, dan saat air laut kembali surut, pasir-pasir di bawah kaki mereka pun ikut menghilang, membuat sensasi geli tersendiri bagi Bella, hingga dia terkadang tertawa kecil.


Tangan Bella tak lepas dari genggaman Angga, menjaga agar Bella tetap bisa berjalan dengan baik, mereka tidak berbicara sama sekali, hanya menikmati kedekatan ini bersama, terkadang ada momen dimana tidak perlu di isi dengan kata-kata, cukup perasaan saja yang tersalurkan, matahari sudah tak terlihat lagi, namun cahayanya masih samar, seolah berusaha untuk tetap ada hingga Angga dan Bella sampai di rumah nantinya.


"Ehm, aku belum pernah mendengarmu menyanyi, "kata Bella tiba-tiba di antara deburan ombak.


"Aku tidak suka menyanyi," kata Angga.


"Benarkah? bagaimana jika aku memintamu menyanyi?" kata Bella melirik ke arah suaminya, Angga hanya tersenyum tak ingin membalas istrinya, karena jika di teruskan Bella pasti memaksanya.


"Aku tidak akan bergerak jika kau tidak menyanyi untukku," kata Bella berhenti, hingga pegangan mereka cukup terentang. Angga mengerutkan dahinya, menatap Bella yang permintaannya aneh.


"Bella … " kata Angga sedikit menegur istrinya.


"Angga … " jawab Bella juga bersikeras.


"Sudah hampir malam, angin sangat kencang, sangat tidak baik untukmu dan bayi kita," kata Angga menyadarkan Bella kalau dia sekarang sedang mengandung 9 bulan.


"Iya aku tahu, tapi ini keinginanku dan anak kita, dia pasti senang sekali mendengar ayahnya menyanyi," kata Bella manja.


"Haha, itu tidak ada, itu hanya keinginanmu. "


"Jadi kalau ini keinginan ku, kau tidak ingin melakukannya, aku tidak akan bergerak, aku yakin kau juga tidak bisa mengendongku sekarang, seret saja aku pulang," kata Bella ngambek.


Angga hanya bisa geleng-geleng kepala dengan permintaan Bella.


"Aku jarang mendengar lagu, lagu apa yang harus aku nyanyikan?" kata Angga pada Bella.


"Entahlah, lagu apapun yang kau pernah dengar, kalau bisa lagu tentang cinta," kata Bella lagi.


Angga hanya melihat Bella dengan gelengan kepala.


"Ini lagu yang sering di nyanyikan ayahku untuk ibuku dulu," kata Angga mau tak mau harus mengalah pada istrinya.


"Benarkah, aku akan suka, ayo nyanyikan sedikit," kata Bella antusias, akhirnya dia bisa mendengar suaminya bernyanyi.


Angga bersiap, sedikit berdehem, lalu memulai menyanyi demi Bella.


Doing things that we love...


Every time your near I feel like I'm in heaven...


Feeling high …


I don't want to let go girl...


I just need you to know girl...


I don't wanna run away...


Baby, your the one I need tonight...


No promises …


Baby, now I need to hold you tight....


I just wanna die in your arms...


Hear tonight… (No Promises - Shayne Ward).


Bella yang mendengar suaminya bernyanyi diiringi suara alam pada malam itu, hanya bisa terkesima tak percaya, kenapa dia tidak menyuruh Angga menyanyi untuknya dari dulu? dibalik diam dan jarangnya Angga bicara, ternyata suaranya sangat merdu.  Bella hanya terdiam, terpana tidak percaya, apa sih kekurangan Angga?.


"Sudah, ayo pulang," kata Angga lagi langsung menarik tangan Bella.


"Kau harus sering bernyanyi untukku dan anak kita nantinya," kata Bella semangat. Angga hanya tersenyum dan mereka melanjutkan perjalanan mereka, hingga mereka sampai di rumah mereka.


"Sudah malam, dan kau belum mandi, duduk lah dulu untuk istirahat, sepertinya Nadia sudah pulang, aku akan menyiapkan air panas untukmu," kata Angga, Bella yang ternyata merasa cukup lelah hanya mengangguk.


Angga lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia lalu menyiapkan air hangat untuk Bella di kamar mandinya, setelah itu dia kembali ke tempat Bella, melihat Bella yang sedang duduk dengan tenang sambil menuntup mata.


"Bella," kata Angga lembut membangunkan istrinya.


"Ha? Kenapa?" kata Bella kaget.


"Tidak apa-apa, tapi jangan tidur sesore ini, air mandimu sudah aku siapkan, ayo, " kata Angga pelan dan lembut melihat wajah Bella yang masih linglung.


"Oh, iya baiklah," kata Bella bangkit di bantu oleh Angga. Dia lalu dituntun Angga sampai ke kamar mandinya, Angga menunggu Bella sampai selesai mandi.


"Kenapa belum mandi? " kata Bella saat melihat suaminya masih menunggunya di depan pintu.


"Hanya tidak ingin terjadi sesuatu  padamu, makanlah duluan, aku sudah memanaskanya, susu juga sudah ada, setelah ini istirhatlah, kau pasti sangat lelah," kata Angga menatap Bella serius, Bella hanya tersenyum manis, merasa perhatian suaminya terlalu berlebih padanya.


"Nanti jika aku hamil anak ke 2, berjanjilah akan tetap seperti ini," kata Bella mencubit hidung suaminya.


"Bahkan jika kau hamil anak ke 10, Aku akan seperti ini terus," kata Angga sedikit tersenyum mengoda Bella.


"Wah, aku tidak mau punya anak 10, kalau kau mau gantian hamil, boleh saja," kata Bella asal.


Angga tertawa mendengarnya, dia lalu segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Bella langsung menuju ke ruang makan, dan ternyata memang benar makanannya sudah tersedia di sana, susu hangat juga sudah ada, bahkan vitamin yang harus di minumnya pun sudah tersedia, suaminya benar-benar memperlakukannya seperti putri sekarang.


Bella duduk di ranjanganya sambil membaca buku tentang mengurus anak, tak lama Angga keluar dari kamar mandinya, dia memang mandi lebih lama sekarang karena dia tidak ingin Bella mual mencium bau amis yang menempel di badannya, jadi dia harus memastikan semuanya tidak lagi tercium.


"Sudah makannya?" kata Angga melihat Bella.


"Ya, Tuan Devan, saya sudah makan makanan yang Anda siapkan, sudah juga minum susu, dan vitaminnya, aku sudah penuh, aku yakin anak kita akan sangat sehat, dia pasti sangat montok," kata Bella sebelum suaminya cerewet bertanya tentang susu dan vitaminnya.


"Baguslah kalau begitu, aku makan dulu," kata Angga.


"Aku akan menemani," kata Bella ingin bangkit.


"Tidak perlu, aku makan sendiri saja, istirahatlah," kata Angga lagi segera berjalan ke luar, Bella hanya tersenyum.


Saat Angga masuk ke dalam kamarnya lagi, benar saja Bella sudah tertidur, mungkin terlalu lelah menemani Angga, Angga lalu mengambil selimut, dan menyelimuti istrinya dengan perlahan, mengulangi ritualnya meletakkan bantal di punggung Bella, setelah itu mematikan lampu dan mulai tiduran di samping Bella, jika sudah berbaring seperti ini tubuhnya baru merasakan lelah yang amat sangat, lelah namun Angga tak akan menukarnya kembali dengan hidupnya dulu, karena kebahagiaan seperti ini, tidak bisa di beli oleh uang.