
Kau ini memang curang, kenapa diam-diam menyerang? hingga aku terlambat menyadari, cinta itu sudah mengobrak-abrik sanubari.
___________________________________________
Sania membawa Bella ke suatu tempat khusus di bagian pojok restauran itu, dia melihat menu makannannya, Bella sebenarnya bingung dengan apa yang ada di sana, jadi dia hanya memesan yang dia tahu, setelah melihat minumannya, sepertinya tidak ada minuman yang biasa dia minum, Bella jadi bingung namun tetap saja berusaha percaya diri.
" Apakah tidak ada minuman yang tidak beralkohol di sini? "kata Bella pada pelayan.
" Ehm, mungkin Anda ingin mencoba untuk minum cocktail, Nona, "kata pelayan itu, Bella mengigit bibirnya, rasanya dia salah sudah mengikuti keinginann Sania untuk datang ke sini, kenapa tidak dia saja yang menentukan di mana dia mau pergi?.
"Aku rasa minum sedikit alkohol tidak akan membuat Anda mabuk Nona Mika, jangan bilang Anda belum pernah meminum minuman seperti ini, lagi pula Anda tidak menyetir bukan? "kata Sania
"Maaf, Tuan Angga melarang Nona untuk minum minuman beralkohol, buatkan Nona Mika jus Staweberry, "kata Judy langsung menyela, dia tampak serius menatap pelayan itu.
"Baiklah, "kata pelayan itu tampak terimidasi oleh kelakuan Judy.
Bella sedikit menghembuskan napas lega, setidaknya dia tidak perlu meminum minuman yang tak ingin di minumnnya.
" Wow, pacarmu begitu perhatian hingga mengatur semua makanan dan minumanmu ya," kata Sania melirik Judy dengan tidak senang.
"Ya, dia ingin yang terbaik untukku,"kata Bella seadaanya saja.
"Oh, apakah dia tahu kemarin kau makan siang dengan Aksa? "kata Sania tampak melihat Bella dengan tajam.
"Tentu Nona Sania, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya," kata Bella dengan senyuman membanggakan.
"Begitu, Nona Mika, aku rasa kau sudah keterlaluan, menjerat Aksa seperti itu,"kata Sania lagi
"Aku tidak menjeratnya, dia mengajakku makan siang sebagai permintaan maaf, seperti katamu tadi, tidak sopan menolak ajakan untuk meminta maaf bukan? "kata Bella membalikkan kata-kata Sania, Sania jadi terdiam, menatap wajah Bella yang penuh percaya diri dengan tatapan tajam, seolah ingin segera merobek wajah wanita yang ada di depannya ini, tangannya sampai mengepal dengan kuat.
"Lagi pula, katakan padaku Nona Sania, untuk apa aku mengoda priamu?, jika priaku saja lebih menarik dan kaya, dia juga punya pengaruh yang kuat di negara ini, dia bahkan memperlakukanku bagai putri, lalu apa alasanku untuk tergoda dengan Aksa? "kata Bella angkuh menatap tajam pada wajah Sania yang tampak merah padam menahan emosinya. Sania mengertakan giginya, namun yang dikatakan oleh Mika benar adanya, Angga tidak kalah dengan Aksa, walaupun statusnya bukan lagi keluarga kerajaan, tapi pengaruhnya di negara ini tidak bisa di remehkan.
"Anda terlalu sombong Nona Mika,"kata Sania mengambil handphonenya, mengirim sesuatu, lalu meletakkan handphonenya lagi dengan cepat.
"Aku tidak sombong, namun apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran, lagi pula Anda tak perlu takut, Anda adalah wanita Aksa, walaupun Aksa tidak mengakui Anda, "kata Bella tetap dengan senyumannya yang benar-benar bisa memancing emosi Sania.
"Maksudmu? " Kata Sania terpancing.
"Ya, dia berkata padaku saat makan siang, bahwa kalian hanya berteman, tenang saja, aku mengerti bahwa sekarang kau sedang mencoba merebut hatinya, aku hargai itu, jadi tak perlu takut," kata Bella lembut seolah berempati pada Sania, membuat Sania risih melihat kelakuan Bella yang begitu angkuh, namun dia mencoba menahannya, sebentar lagi, dia akan membuka kedok wanita ini, pikir Sania.
"Ya, baiklah, aku mengerti itu, aku harap Anda bertindak sesuai dengan kata-kata Anda,"kata Sania lagi seolah tidak tahu harus bicara apa, Mika ini pintar berbicara.
"Tentu, namun maafkan aku, bukan salahku jika Aksalah yang mendekatiku, jadi aku minta, jika ingin marah, marahlah pada priamu, kalau dia mendekatiku, itu salahmu karena tidak bisa menjaga priamu dengan baik,"kata Bella lagi, dia mengambil minuman yang baru di antar oleh pelayan.
" Kita lihat saja nanti,"kata Sania memandang Bella yang sedang meminum minumannya.
Bella sedikit merasa aneh dengan minumannya, tidak seperti jus stawberry biasa, minuman ini terasa sedikit pahit, Sania terus memandang Bella, saat Bella ingin menyudahi minumnnya, Sania dengan gayanya menahan gelas Bella, seolah memastikan Bella minum itu cukup banyak. Sayangnya Judy tidak melihat itu, karena dia sedang sibuk melaporkan situasi.
" Minumlah lebih banyak Nona Mika, aku yakin nanti Anda akan ketagihan,"kata Sania dengan tatapan sinis, merasa Bella sudah cukup minum banyak, Sania melepaskannya.
"Apa yang kau lakuan?, "kata Bella sedikit kesal, dia sampai berdiri, namun langsung duduk kembali karena merasa kepalanya mulai pusing, entah apa yang diberikan oleh Sania padanya, hingga dia langsung tidak bisa mengontrol dirinya. Masalahnya Judy sedang ada diluar, karena dia tidak bisa melaporkan keadaan jika dia ada di dalam.
" Tidak ada, itu bukannya sesuai dengan pesananmu? "kata Sania tersenyum.
" Jadi, katakan padaku Bella? Bagaimana kau bisa selamat? "kata Sania mencoba membongkar penyamaran Bella. Bella menatap Bella dengan meyipitkan matanya, untungnya saat itu dia masih cukup sadar, untuk mencerna apa yang dikatakan Sania.
"Bella? Siapa dia? Aku Mika! "kata Bella dengan suaranya yang sudah tidak bisa di kontrolnya, hingga dia hampir berteriak. Sania mengerutkan dahinya, apa cairan yang itu belum bekerja sempurna?
"Jangan main-main denganku Bella, aku tahu kau ini Bella kan? "kata Sania dengan suara mengintimidasinya. Bella kembali mencerna kata-kata Sania, kali ini dia cukup lama untuk bisa mencernanya karena dia benar-benar pusing.
" Apa yang kau bicarakan, namaku Mika, dan aku adalah wanitanya Angga! "kata Bella dengan setengah berteriak, membuat dia menjadi pusat perhatian.
Tiba-tiba seluruh perhatian tampak teralihkan dengan apa yang terjadi di luar, sebuah helicopter mendarat tepat di taman depan café itu, dengan cepat Angga keluar dari helicopter itu dan berjalan menuju café itu, melihat Angga yang datang, Bella tersenyum, dia benar-benar merindukan Angga, itu yang ada di pikirannya sekarang.
Angga masuk ke dalam café itu dengan wajah yang sangat marah, pandangannya sangat tajam bagaikan pisau yang siap menusuk siapapun yang di lihatnya, dia menatap lurus ke arah Sania, Judy dan beberapa penjaga ada di belakangnya, Sania jadi salah tingkah dan kelihatan takut, dia tidak menyangka Angga akan datang kemari, padahal menurut informasinya, Angga sekarang seharusnya ada di luar kota.
" Angga kau sudah datang, aku sangat merindukanmu,"kata Bella tanpa basa basi, langsung memeluk Angga, dia benar-benar sudah tidak bisa mengontrol dirinya, untunglah Angga datang tepat waktunya, Angga melihat Bella yang terlihat mabuk itu langsung memeluknya dengan satu tangan, dia mengambil minuman Bella, mencicipinya sedikit, dan dia langsung tahu minuman itu sudah di campur sesuatu, dia sampai membuang kembali minuman itu.
" Apa yang kau berikan padanya?,"kata Angga dengan sangat marah pada Sania yang hanya bisa terdiam ketakutan, bahkan tubuhnya sampai gemetar hanya dengan melihat tatapan mata merah Angga yang tajam itu, dingin serasa ada badai salju yang sekarang menyelimuti ruangan itu. Semua kegiatan di bar itu berhenti, hanya terfokus dengan mereka.
"Aku memesan jus, dan dia menyuruhku minum lebih banyak, Angga mereka tidak percaya aku wanitamu,"kata Bella tampak meracau dalam pelukan Angga, Angga melihat Bella dengan wajah memerah itu dengan prihatin, pandangannya suram.
Angga tampak sangat marah pada Sania yang sudah membuat Bella seperti itu, amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, tidak ada yang boleh melakukan hal ini pada wanitanya, dia lalu mengambil gelas Bella, dan menyiramkannya ke wajah Sania hingga seluruh wajahnya penuh jus stawberry, membuat Sania kaget, belum selesai sampai di sana, Angga membanting gelas itu di lantai, membuat semua orang di bar itu yang memang dari tadi menatap ke arah mereka, kaget karena perlakuan Angga.
" Aku peringatkan kau sekali lagi! Aku tidak akan segan-segan walaupun kau wanita,"kata Angga dengan emosi yang membara, terlihat sekali di matanya membuat Sania begitu takut dengannya, hingga tidak bisa berbicara apapun, badannya bergetar sangat keras. Angga yang marah benar-benar menakutkan.
"Kepalaku pusing sekali," kata Bella lagi, mendengar itu perhatian Angga teralihkan, Bella sangat lemas, bahkan untuk berjalan saja dia susah, dengan inisiatifnya, Angga kembali mengendong Bella, membawanya keluar dari sana, Bella tampak sudah tertidur di gendongan Angga, Angga memperhatikan wajah Bella yang memerah, seluruh orang di bar itu terus memperhatikan Angga yang membawa Bella keluar, setelah mereka keluar, perhatian jatuh pada Sania yang basah kuyup, dia merasa jauh lebih malu dari yang kemarin, kenapa jadi begini? Seharusnya dia yang mempermalukan Bella, Awas saja! Dia pasti akan melakukan perhitungan pada gadis itu!.
Judy segera membukakan pintu untuk Angga, dia dengan perlahan segera meletakkan Bella di kursi belakang di bantu oleh Judy, Angga masuk dan meletakkan kepala Bella di pangkuannya, agar Bella bisa tidur dengan nyaman, namun bukannya tidur, bella malah terbangun dan langsung terduduk, dia lalu melihat kebelakang, di dalam pandangannya ada Angga yang berbinar, karena itu dia tersenyum sangat bahagia.
" Angga, "katanya sambil memeluk Angga kembali, Angga yang kaget dengan perlakukan Bella hanya diam saja, supir yang tadinya ingin segera mengendari mobil itu, karena melihat Bella memeluk Angga, dia insiatif untuk keluar. Di luar Judy tampak bingung, supir itu hanya mendehem sambil mengelus-ngelus hidungnya, Judy mengerti artinya, mereka lalu berdiri menjauh dari mobil itu, penjaga yang lain pun di suruh menjauh 100 meter dari sana.
"Hei, tidurlah, kepalamu pusing kan? "kata Angga begitu halus dan lembut, Bella mendengar itu langsung menatap Angga. Melihat ke dalam mata Angga yang begitu di sukainya, mata hitam yang bagaikan langit di angkasa pada malam hari, hitam dan cemerlang, Angga pun hanya terdiam, menatap mata indah Bella.
Entah bagaimana, dan pastinya karena benar-benar mabuk, tanpa malu, tanpa gugup, seolah dia sangat kehausan, Bella malah mencium bibir Angga dengan cepat, kelembutan bibir Bella yang menyentuh bibirnya membuat Angga kaget setengah mati, tubuhnya menegang, dia sampai mundur ke belakang ingin melepaskan bibir Bella, namun Bella terus maju, selama 2 tahun ini, Angga tidak pernah mencium siapapun, namun sekarang bibir Bella yang sangat lembut, kenyal dan manis itu terasa, membuat dirinya tadi ingin menolak malah tidak bisa melepaskan dirinya, Bella terus menekan bibirnya pada Angga, membuat Angga pun terpancing, dia malah membalas ciuman Bella hingga tanpa sadarnya dia malah menekan belakang kepala Bella agar Bella tidak melepaskan ciuman itu.
Bella yang memulainya, namun kali ini Angga lah yang ganas mencium bibir Bella yang benar-benar membuatnya kehilangan akal, dia menyusupkan jari-jarinya ke rambut Bella seolah tidak ingin melepaskan ciuaman itu, Angga mulai memasukkan lidahnya menyapu seluruh yang ada di dalam mulut Bella, lidah mereka bermain sesaat, bibir Bella sangat lembut, manisnya, bagaikan permen kapas yang tak habis di lahap Angga, matanya hingga tertutup agar bisa menikmati momen itu lebih dalam.
Angga membuka matanya setelah merasa cukup puas, Angga akhirnya sadar, dia terlalu terbawa perasaan, dia melepaskan ciumannya perlahan, memandang wajah Bella yang bersemu merah, entah karena masih mabuk atau karena ciuman Angga.
Bella terlihat terengah-engah karena memang rasanya seluruh napasnya sudah di ambil oleh Angga, namun Bella tersenyum manis, sepertinya memang dia masih mabuk, dan setelah itu jatuh lagi tertidur, Angga yang kaget langsung mengapai tubuh Bella, dengan hati-hati dia kembali membaringkan kepala Bella di pangkuannya.
Angga masih bingung dengan apa yang di lakukannya, kenapa dia bisa terpancing dengan ciuman Bella?, dia bukan orang yang mudah terpancing dan di tahlukkan, 2 tahun ini walaupun begitu dingin, namun banyak wanita juga yang menggodanya, dan jika mereka bisa menciumnya, dia akan menolakknya dengan keras, bahkan bisa sampai mendorongnya tanpa punya perasaan.
Dan di sini yang mabuk adalah Bella, dia benar-benar sadar dengan apa yang dia lakukan, dia jadi bingung, dan juga perasaan saat mencium Bella benar-benar perasan yang tidak pernah di rasakannya, bahkan saat dulu bersama Mika dia tidak pernah begitu bergairah menciumnya, Angga menatap wajah Bella yang sekarang tertidur di pangkuannya, apa jangan-jangan dia memiliki perasaan pada wanita ini? dia benar-benar bingung dengan perasaannya sekarang, semua sungguh campur aduk.
Setelah cukup lama menenangkan perasaannya, Angga lalu membuka jendela mobilnya.
"Kita pulang,"kata Angga mencoba untuk terlihat biasa saja, namun sebenarnya wajahnya masih terlihat merah, hatinya masih berkecambuk, supir yang melihat itu langsung masuk, Judy juga langsung masuk, mereka pura-pura tidak tahu apa yang tejadi di dalam.
Di sepanjang jalan Angga hanya mempehatikan wajah Bella yang seperti biasa tidur dengan sangat pulas dan damai bagaikan malaikat, wanita ini bagaimana bisa tiba-tiba masuk menyusup ke hati Angga? Bahkan tidak ada dari sifatnya yang merupakan tipe Angga, namun wanita ini pula yang membuat Angga kembali memiliki hasrat.
Angga menggelus halus pipi Bella, Bella sama sekali tidak bergeming, wanita ini ternyata yang berhasil menahlukkan gunung es di hati Angga. Angga tersenyum begitu manis, memikirkan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Bella.