Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
55



Ada kisah sedih yang ingin ku ceritakan, tentang sebuah rasa suka yang terpaksa dipatahkan, sebelum berganti menjadi cinta yang tak tertahankan.


____________________________________________


Begitu sampai di rumah, Angga langsung mengendong tubuh Bella yang masih tertidur itu ke ranjangnya, wajahnya masih memerah, entah apa yang di berikan oleh Sania hingga Bella benar-benar mabuk seperti ini, dia lalu menyibakkan rambut Bella, lalu menyelimutinya, Angga ingin keluar bertemu Judy, meminta tolong Judy untuk membantu Bella menganti bajunya, namun baru saja dia ingin keluar.


"Hei! Gaga! Kau ingin ke mana? "kata Bella memanggil Angga, Angga yang mendengar itu langsung melihat ke arah belakang, dia menatap Bella yang sekarang masih setengah sadar terduduk di ranjangnnya. Angga dengan sabar mendatangi Bella, Bella tampak begitu cemberut.


" Kau sedang mabuk, istirahatlah, aku akan menyuruh pelayan membawakan minuman untuk penawar mabuk,"kata Angga lembut melihat wajah Bella yang memerah dan setengah sadar itu.


"Tidak mau! Aku mau kau di sini, kau tahu aku kesepian di apartemen ini,"kata Bella, ternyata dia merasa Gaga yang ini adalah boneka Teddy Bearnya, dia juga bingung kenapa bonekanya sekarang bisa berbicara.


Angga terdiam melihat ke arah Bella, Bella yang tidak ditanggapi itu jadi kesal, karena terlalu mabuk, rasanya badannya sangat gerah.


"Aduh kenapa sekarang panas sekali sih, aku ingin buka baju,"kata Bella membuka kancing kemejanya dengan sangat cepat, dia sudah membuka 2 kancingnya.


" Hei, apa yang kau lakukan? " kata Angga yang kaget dengan apa yang di lakukan oleh Bella, dia langsung memengang tangan Bella, mencegahnya untuk tidak membuka lebih banyak kancing, Angga sekarang terdiam, melihat bra putih Bella dan kulit putih Bella yang tampak dengan jelas di depan matanya.


Angga menarik napasnya dalam, mencoba mengatur emosinya, bagaimana pun dia adalah pria normal, melihat seperti itu pasti nafsunya terpancing, namun dia tetap mencoba menahannya, dia lalu segera memasang kembali kancing yang sudah di buka oleh Bella, Bella yang melihat hal itu hanya diam saja, dia memandangi Angga dalam-dalam.


" Ayo, tidur lah, biar besok kau merasa baikan,"kata Angga lagi, mengarahkan Bella ke tempat tidurnya.


"Baiklah, jangan pergi Gaga, tinggallah di sini,"kata Bella lagi, dia kembali meringkuk, dan tak lama kembali hilang kesadaran, Angga tersenyum, lalu menutup kembali tubuh Bella dengan selimut, wanita ini jika mabuk ternyata sangat berbahaya, pikir Angga geleng-geleng kepala sambil berjalan keluar dari kamar Bella.


____________________________________________


Bella bangun pukul 4 pagi, dia langsung melihat kesekitarnya, kenapa dia ada di kamarnya sekarang?


Bella lalu terduduk, memegangi kepalanya yang masih terasa sangat berat dan pusing, dia tidak ingat apa-apa, yang dia ingat hanya dia pergi dengan Sania, lalu meminum jus strawberry yang pahit, dan Sania memaksanya minum begitu banyak, lalu semua tiba-tiba berputar dan gelap, saat dia bangun, dia sudah ada di kamar ini. Apa yang sudah dia lewatkan ya? Pikir Bella.


Bella berusaha turun dari ranjangnya, saat dia ingin berdiri tegak, dia malah sempoyongan, minuman itu benar-benar sangat hebat efeknya, Bella benar-benar belum penah minum minuman seperti itu, dan dia tidak akan ingin minum lagi, dia berjalan terhuyung menuju kamar mandinya, lalu mencuci mukanya agar terasa lebih segar.


Setelah dia mencuci wajahnya, dia baru sadar bahwa bajunya sudah bertukar dengan baju tidur, dia tidak ingat dia menggantinya, siapa yang menggantikannya ya? Tidak mungkin Angga kan? Pikir Bella yang tiba-tiba jadi memerah wajahnya memikirkan itu. Tidak-tidak, mana mungkin dia, pikir Bella lagi.


Dia lalu keluar dari kamar mandi dan menuju keluar, dia lalu melihat ruangan yang sepi dan remang-remang, Angga pasti sedang tidur sekarang, masih jam 4 pagi. Dia lalu memutuskan untuk duduk di ruang tengah, mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Tiba-tiba teleponnya berdering, ada deretan nomor yang tidak dikenal oleh Bella, dia lalu ingat, mungkin itu adalah kak Daihan, dia  ingin mengangkatnya, namun panggilan itu langsung mati. Dia mencoba meneleponnya lagi. Panggilan itu langsung di jawab.


"Halo? "kata Bella pelan karena takut salah mengira, hening… tidak ada yang menjawabnya. Dia menunggu sebentar, namun masih hening. baru saja ingin menutupnya,


"Maafkan aku, aku sangat merindukanmu," suara Daihan begitu lemah, membuat Bella terdiam, tertegun, hatinya langsung tak enak.


"Kak Daihan? "kata Bella lagi memastikan.


"Maaf, meneleponmu begitu pagi,"kata Daihan lagi.


"Kakak, aku sungguh minta maaf sudah membuatmu seperti itu kemarin, aku ingin menghubungimu, tapi aku tidak bisa karena…. "kata Bella terputus, dia tidak mungkin mengadu pada Daihan bahwa Angga menghapus kontaknya, bisa-bisa hubungan Angga dengan Daihan akan lebih buruk nanti.


"Karena apa? "kata Daihan


"Hanphoneku rusak, dan saat dia hidup semua nomor handphone hilang, makanya aku tidak bisa menghubungimu kak, maafkan aku ya,"kata Bella lagi mencari alasan.


"Tidak apa-apa, kenapa bangun terlalu pagi? "kata Daihan lagi.


"Benar, ini juga bukan salahmu, tapi yang aku katakan kemarin benar-benar serius, Bella jika suatu saat kau merasa ingin berhenti, datanglah padaku, aku akan selalu menerimamu, aku akan menunggumu, hinga kau bisa menerimaku,"kata Daihan begitu lembut, membuat Bella terdiam, perasaaannya makin tidak enak.


"Aku janji aku akan memberikan kebahagian untukmu, hanya untukmu, untuk Bella, bukan Mika, Bukan juga putri, "kata Daihan begitu dalam, kembali menyentuh hati Bella, namun Bella tak bisa mengatakan apapun, hatinya memang tersentuh, tapi tidak ada rasa yang muncul.


"Kakak, terima kasih atas semuanya, tapi aku masih belum bisa merelakan sakit hatiku, maafkan aku,"kata Bella lagi.


Daihan terdiam di sana, dia bingung harus mengatakan apa.


"Kakak? Kau masih di sana? "kata Bella.


"Ya,"kata daihan


"Kakak, kita jadi kakak adik saja ya, perlakuan aku seperti kau melakukan pada Mika,"kata Bella lembut.


"Aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti aku lakukan pada Mika padamu, jika begitu aku yang akan tersiksa, aku tidak bisa menghindarimu, " kata Daihan lagi


"Kenapa? "kata Bella bingung, bukannya Daihan dan Mika dekat dulu? Bella kira selama ini apa yang di lakukan Daihan padanya sama dengan yang dia lakukan pada Mika.


"Kalau begitu izinkan aku menjagamu,"kata Daihan tak menjawab pertanyaan Bella membuat Bella makin penasaran, namun dia tidak bisa memaksa Daihan, jadi dia hanya diam saja.


"Baiklah,"kata Bella lagi.


"Tidurlah, masih terlalu pagi untuk melakukan sesuatu,"kata Daihan


"Iya, aku akan tidur, kakak, sekali lagi aku minta maaf,"kata Bella masih sungkan


"Jangan begitu, aku merasa tak enak nantinya, aku ingin kau tetap semanis yang aku ingat,"kata Daihan lagi.


"Baiklah, kapan-kapan mari bertemu lagi,"kata Bella tersenyum


"Pasti,"kata Daihan lagi.


"Aku tutup teleponnya ya,"kata Bella


"Iya, "kata Daihan singkat, Bella melihat layar handphonenya, sedikit ragu untuk menutup teleponnya, sekarang Bella benar-benar bingung, apa yang di sembunyikan Mika dan Daihan? Kenapa Daihan harus menghindari Mika?, apa jangan-jangan Daihan juga menyukai Mika? itu bisa saja terjadi bukan?. Kalau itu terjadi berarti Daihan sangat kasihan, 2 kali menyukai orang yang dua-duanya dekat dengan sahabatnya.


Bella lalu tertegun, merasa kasihan pada Daihan, tapi bagaimana lagi?, dia tidak mungkin memberikan harapan untuk Daihan. Selain itu dia juga dia seharusnya tidak memiliki atau memberi perasaan apapun pada siapapun, mengingat Daihan membuatnya ingat tentang Angga, membuat Bella sadar apa alasan awal dia ada di antara mereka, alasan awalnya adalah untuk membalaskan dendam untuk Aksa dan Sania.


Bella ingat perasaanya akhir-akhir ini pada Angga, rasa berdebar, rasa gugup, rasa bahagia, rasa cemas, rasa takut, itu sangat menyenangkan, hanya Angga yang bisa memberikannya perasaan itu.


Bella tiba-tiba ingat wajah Angga, dia tersenyum manis, dia bahkan masih ingat aroma tubuh Angga yang begitu khas, tatapannya yang dingin, tajam, namun ada juga ada kelembutan, dan senyumannya yang manis, terkadang menjengkelkan namun kadang dia bisa melakukan hal yang membuat Bella terkejut dan tersentuh.


Deg… jantung Bella berdebar kencang, Bella memegangi dadanya yang berdebar begitu keras, di saat itu Bella baru sadar… sepertinya dia mulai memiliki perasaan dengan Angga, tapi bagaimana bisa?


Bella meraba dadanya yang terasa bergetar karena detak jantungnya yang memburu, kalau dia jatuh cinta pada Angga, yang ada akan sakit hati semata, karena yang di cintai pria itu hanya gadis yang fotonya terpajang besar di ruang tengah itu, Bella menatap foto Mika dengan nanar…


Bella itu siapa? Hanya gadis yang punya sisa keberuntungan dengan bertemu Angga, lagi pula bagaimana pun dia juga sudah menikah, hahaha… lucu ya, dia lupa kalau sebenarnya Aksa adalah suaminya.


Suatu saat jika Mika kembali, dia bukan siapa-siapa, lagi pula mungkin perasaannya dengan Angga hanya sementara, hanya karena seringnya bersama, karena sama-sama punya kesedihan dan kesepian, karena merasa memiliki teman dan jadi merasa nyaman, dan ya… mungkin hanya karena itu, tidak akan lebih dan bertahan.


" Kau sedang apa? "kata Angga yang tiba-tiba malah sudah ada di samping Bella, dia tidak sadar saat Angga mendekatinya