
Jofan mengamati Aksa dari monitor CCTV yang terpasang di ruangan yang terpasang di ruangan Aksa, pria itu hanya diam saja dengan tangannya yang terikat oleh brogol. Jofan benar-benar bisa merasakan betapa mengerikannya pria ini.
"Tuan, Nona Sania sudah datang, " kata Ajudannya.
"Bawa dia ke mari," kata Jofan yang langsung berdiri menunggu Sania. Dia mengingat permintaan Sania yang membuat moodnya rusak sepanjang hati ini, dia tidak boleh menunjukkan perasaannya pada Sania, dan Jofan hanya ingin para penjaga tahu dia melindungi Sania sebatas karena Sania pernah menolong Jofan dan Angga dalam melancarkan rencana mereka.
Sania tak lama masuk diantar oleh Ajudan Jofan, wanita itu terlihat masih sama, dengan topeng yang menutupi hampir separuh wajahnya, senyuman simpul menghiasi wajahnya ketika kedua mata indahnya menatap Jofan. Jofan hanya terdiam tidak membalas dengan ekspersi apa pun.
"Nona Sania, kami sudah menahan Pangeran Aksa, sebelumnya Anda mengatakan pada saya, Anda punya hal yang harus di bicarakan pada pangeran Aksa, apakah Anda masih ingin bertemu dengannya? " kata Jofan menunjukkan Aksa yang ada di dalam monitor itu, memastikan sekali lagi, apakah Sania benar-benar ingin melihat pria yang dulu menyiksanya sangat parah itu?.
Sania melihat Aksa yang hanya duduk diam di dalam ruangan yang sempit, saat ini keadaannya terbalik, dulu Sania lah yang digari dan Aksa dengan gayanya mengejek Sania, sekarang, pria itu tampak tidak berdaya dengan tangan diborgol.
"Ya," kata Sania dengan mata yang tidak lepas dari layar itu, Jofan memperhatikan wajah Sania yang tampak datar, dia tidak tahu apa yang dipikirkan dan di rasakan oleh Sania sekarang. Namun dia cukup tak senang dengan hal ini, wajah kesal Jofan muncul kembali.
"Baiklah, kami berikan waktu 10 menit untuk Anda bertemu dengan Pangeran Aksa," kata Jofan melirik Sania, Sania pun melirik ke arah Jofan. " Aku tidak bisa menemanimu, ajudanku akan memberikan alat komunikasi, tenang saja kami selalu menjagamu di luar dan melalui monitor ini," kata Jofan sedikit pelan pada Sania, walau pun sedang kesal, dia tetap harus menjaga wanita ini di dalam.
Sania menatap Jofan yang tidak meliriknya sama sekali semenjak dia masuk, Sania tahu Jofan sedang marah padanya. Tapi mau apa lagi, hubungan mereka tak mungkin terjadi, bahkan dalam mimpi pun, Jofan bukan orang yang bisa digapai oleh Sania.
"Ya, baiklah," kata Sania lagi.
"Ajudan, berikan alat komunikasi untuk Nona Sania," kata Jofan memerintahkan.
"Baik Tuan," kata Ajudan itu segera memberikan alat komunikasi untuk Sania, dia lalu dipasangi alat-alat yang di rasa perlu untuk Sania. Setelah dia siap, Sania langsung keluar dari sana, hanya melepar tatapan sebentar pada Jofan sebelum menghilang dibalik pintu.
Jofan pun hanya bisa memandang, ternyata jika di luar, jarak antara dia dan Sania benar-benar sangat terasa, perasan Jofan menjadi lebih tidak enak, rasa kesal dan marah itu berubah menjadi cemas saat Jofan melihat Sania yang sudah masuk ke dalam ruangan itu.
Sania masuk, dia melihat sosok pria yang wajahnya penuh dengan lebam, tampak luka yang di perban di sisi dahinya. Aksa tak pernah seberantakan ini, kemejanya sangat berantakan, terlihat dia tidak sempat mengurus dirinya yang biasanya selalu rapi dan berkharisma.
Aksa melirik sedikit siapa yang mendatanginya, melihat lirikan Aksa, Sania hanya berjalan dan duduk di depannya, Sania menatap wajah Aksa yang mengerutkan dahi melihatnya, Sania menatap nanar pada Aksa, dia membuka jumper yang di pakainya, setelah itu Sania lalu membuka topengnya perlahan, dia lalu menunjukkan wajah aslinya, menampakkan bekas luka di tubuh dan wajahnya yang merupakan hasil karya dari Aksa.
Aksa yang melihat seluruh luka bekas jahitan dan juga bekas tembakan di wajah Sania tampak tambah mengerutkan dahinya, mencoba menganalisa dan menganali sosok yang ada di depannya sekarang dan perlahan dia akhirnya tahu siapa wanita ini, dia mengangkat sedikit sudut bibirnya, tak lama dia malah tertawa, tawanya awalnya kecil, namun lama kelamaan tawa itu membesar, membahan di seluruh ruangan. Membuat bulu kuduk merinding jika mendengarnya.
Jofan yang mendengar tawa itu langsung mengerutkan dahi, wajahnya benar-benar tak suka, pria yang sedang ditontonnya ini benar-benar sudah seperti kehilangan akalnya.
Namun sikap Sania berbeda sekali, dia hanya memandang nanar pada Aksa, wajahnya datar, menatap tingkah laku Aksa yang sangat menyeramkan, Aksa lalu bertepuk tangan dengan santai.
"Wah, aku tidak menyangka kau jadi seperti ini, tapi kau sangat hebat, siapa pria yang kau tiduri hingga bisa membawamu ke sini? apa kau tidak memberi tahunya bahwa kau wanita yang sangat kotor?" kata Aksa tertawa renyah.
"Sudah tahu siapa aku?" kata Sania datar, tak ada emosi yang terasa. Aksa masih tertawa mengerikan, dia perlahan menghentikannya, lalu menunjuk Sania dengan wajah mengejeknya.
"Mungkin karena Tuhan masih mengizinkan kami untuk bisa melihat kau menderita,” kata Sania tanpa ekspresi dan nada, sehingga membuat Aksa tak bisa menebak apa yang dipikirkan wanita ini, dia hanya memandang Aksa.
"Kita sudah pernah bersama cukup lama, tidak kah kau tahu, aku bisa melakukan apa pun?" kata Aksa dengan gayanya.
"Ya, tapi lihatlah dirimu sekarang? untuk membersihkan noda di wajahmu saja kau sudah tak bisa," kata Sania santai. Aksa terdiam melihat emosi datar yang di keluarkan oleh Sania.
"Lalu untuk apa lagi kau datang ke sini? kau ingin membunuhku? Benarkah? kalau begitu silakan, tanganku tak akan bisa melakukan apa pun sekarang, " kata Aksa santai, dia menunjukkan kedua tangannya yang terborgol, dia juga tampak santai, bahkan duduk dengan bersender di kursinya dengan posisi malas. Sania tak terpancing sama sekali.
“Aku awalnya ingin sekali membunuhmu, tapi setelah aku memikirkannya, bukankah kematian itu adalah hukuman teringan yang bisa kau dapatkan, karena itu aku memutuskan untuk membiarkan mu hidup, dan melihat aku dan Bella hidup dengan bahagia, kau akan menderita karena itu, kau tidak akan mendapatkan apa pun, kau tidak akan mendapatkan Bella, tidak juga bisa mendapatkan anakmu, kau akan melihat mereka bahagia tanpamu, anakmu akan tumbuh dan besar dengan bahagia bahkan tanpa mengetahui siapa ayahnya sebenarnya, sedangkan Bella, dia akan bahagia dengan Angga, oh ya … bisakah kau bayangkan betapa indahnya rumah tangga mereka nanti dengan anak-anak mereka, sedangkan kau hanya bisa mendekam di dalam ruangan sempit bahkan cahaya saja sulit untuk masuk," kata Sania tenang.
Aksa terdiam mendengar kata-kata Sania, dia tidak suka kata-katanya, dia akan mendapatkan Bella dan anaknya, dia akan menempuh apa pun untuk mimpinya itu.
"Kalau begitu kau benar-benar tidak tahu aku siapa, tidak ada yang bisa menahanku dari mimpiku, bahkan tempat ini juga tak akan mampu menahanku, katakan pada pria yang memberimu nyawa, Aku tidak akan pernah berhenti selamanya," kata Aksa menatap ke arah CCTV, seolah menantang Jofan untuk melakukan genjatan senjata.
"Baiklah, aku hanya ingin mengatakan itu padamu Aksa, aku harap kau bertahan hidup di sini, oh, tenang, aku akan mengirimi surat, memberitahumu kebahagian-kebahagiaan yang kami rasakan tanpamu diluar sana, kebebasan yang sangat indah, " kata Sania, hanya sunggingan senyum tipis yang menghiasi wajahnya, membuat Aksa sedikit merasa tak senang. Sania berdiri, menatap Aksa dengan tatapan kasihan, Aksa benci dengan tatapan itu, dia merasa seperti orang lemah.
"Dasar kau wanita murahan! Wanita menjijikkan, kau wanita kotor! " kata Aksa yang malah terpancing emosinya.
Sania tersenyum sedikit, menampakkan wajahnya yang angkuh, melirik Aksa, Aksa langsung terdiam melihat senyuman dari Sania itu.
"Seharusnya kau mulai berpikir seberapa kotornya dirimu, karena wanita sekotor aku saja tak ingin lagi melihatmu, kau sadar seberapa rendahnya kau di mataku sekarang? tanganku bahkan tidak pantas untuk menyentuhmu, tidak lagi Aksa, kau hanya seseorang yang menyedihkan," kata Sania dengan senyuman yang benar-benar menganggu Aksa, Sania langsung keluar dari sana.
Aksa mengepalkan tangannya, emosi sekali melihat Sania mengejeknya seperti itu, dia merasa harga dirinya benar-benar terinjak di perlakukan seperti ini, jadi dia berteriak dengan keras, berontak ingin melepaskan dirinya.
Sania tahu betapa marahnya Aksa jika dirinya tidak di pandang, dia orang yang suka disanjung, dia orang yang suka disembah, karena itu jika ada yang menginjak harga dirinya, dia pasti marah besar, dan sekarang, seorang Aksa direndahkan oleh wanita yang menurutnya kotor dan cacat pula, dia pasti merasa sangat terhina, dan sekarang dia benar-benar tidak bisa apa-apa, hal itu pasti membuatnya sangat frustasi, Sania senang melihatnya.
Jofan melihat semua dari kamera itu, hanya tersenyum tipis, wanita itu tahu cara membuat luka di mental Aksa, dia memang tidak membuat luka di fisiknya, tapi dia bisa membuat Aksa frustasi, benar-benar cara balas dendam yang baik.
Sania kembali ke ruangan Jofan, Jofan ingin menyambutnya karena merasa Sania benar-benar hebat, rasanya dia ingin memeluk wanita itu, namun Sania buru-buru menunjukkan gestur untuk menghindar, Sania segera melepaskan semua alat komunikasi dan alat-alat yang tertempel di tubuhnya, Sania tahu jika dia terus ada di sana, bisa-bisa Jofan lupa jarak yang harus ada diantara mereka, Jofan yang melihat tingkah Sania langsung sadar, ya, mereka tak memiliki hubungan apapun di depan publik.
"Antarkan Nona Sania pulang ke markas militer," kata Jofan seadanya.
"Baik Tuan," kata Ajudannya.
Sania tidak berbicara apapun, hanya memberikan hormat pada Jofan lalu pergi begitu saja dari sana, perasaan Jofan yang melihat Sania begitu merasa miris, dia tidak bisa menunjukkan perasaannya, ternyata hal ini juga membuat frustasi Jofan, namun dia tidak bisa apa-apa dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.