
Dia mendekati dokter yang baru selesai memasukkan obat anti kejang pada Archie.
"Apa diagnosanya? " kata Angga.
"Belum di pastikan, bahkan hasil darahnya sama sekali belum pernah saya temui seperti itu, "kata dokter itu sambil terus mengamati keadaan Archie yang perlahan-lahan mulai membaik dan tenang.
"Di bagian arsip, ada catatan medis tentang penelitian darahku, penyakit ini hanya bisa di sembuhkan dengan darahku, cari dan buatlah obat itu lagi, mereka berhasil mengobati ayahku, jadi kemungkinan Archie juga bisa sembuh," kata Angga menjelaskan, dia lalu melihat ke arah Daihan yang juga langsung menatapnya.
Dokter itu yang mendegar penjelasan Angga sedikit tak percaya, namun dia tidak bisa membantah apa yang di katakan oleh Angga.
"Baik Tuan, saya akan mencari dan segera melaporkannya pada Anda, "kata Dokter itu.
"Baiklah, urus dulu keadaannya,"kata Angga lagi, dia melihat keadaan Archie, dia ingat bagaimana keadaanya dulu, namun naasnya bagi Archie, penyakit itu timbul saat umurnya begitu muda.
Angga tidak lagi menganggu dokter dan perawat yang masih menangani Archie dengan memberikan beberapa obat dan membersihkan pendarahan yang keluar dari hidungnya, Angga mundur hingga berada di samping Bella.
"Bagaimana? " kata Bella pada Angga.
"Mereka akan memeriksa dan mempelajari bagaimana cara membuat obat dari darahku untuk Archie setelah keadaannya stabil, "kata Angga pada Bella.
"Baiklah, "kata Bella yang masih mencoba menenangkan Nakesha yang masih terlihat begitu cemas, dan untungnya tak berapa lama Archie tampak sudah tenang, walau pun sekarang dia harus mengunakan selang oksigen untuk bernapas.
"Keadaan Tuan muda Archie untuk saat ini stabil, Tuan kami akan segera mempelajarinya," kata Dokter itu. Mendengar itu Bella sedikit bernapas lega, Nakesha langsung mendekati Archie, begitu pula Daihan.
"Ambil saja dulu darahku, jika sudah mengerti kalian langsung bisa membuat obatnya, dan hal ini tak boleh sampai bocor pada siapa pun," kata Angga pada Dokter itu serius.
"Baiklah Tuan, silakan ikuti saya untuk pengambilan darah," kata Dokter.
"Ya, Bella … "kata Angga menatap Bella, Bella tahu Angga pasti tidak mengizinkan dia tinggal di ruangan ini karena kejadian tadi. Bella hanya bisa mengangguk, toh kalau pun dia ada di sana, tidak akan bisa membantu apa pun, dan dari pada saat pengambilan darah di sana Angga malah tak tenang, jadi dia putuskan ikut dengan Angga.
Mereka langsung di arahkan ke bagian laboratorium untuk mengambil darah, setelah pengecekan sederhana untuk tekanan darah dan kadar Hemaglobin dalam darah, akhirnya mereka mengambil darah Angga.
"Ambil saja darahku sebanyak yang di perbolehkan, jika kalian bisa membuatnya, buatlah untuk beberapa penawar, mungkin kita membutuhkannya pada saat aku tidak bisa memberikannya, namun simpan darah ini baik-baik, jangan sampai masalah ini di ketahui oleh orang lain," kata Angga lagi.
"Baik Tuan, " kata Doker di laboratorium itu, semua alat segera di persiapkan, Angga dipersilakan untuk berbaring di kursi khusus untuk pengambilan darah, dokter mempersiapkan tempat dia akan mengambil darah yaitu di lipatan tangannya, jarum yang di tusukkan di lipatan tangan itu lebih besar dari pada jarum biasa, begitu jarum itu masuk, rasa pegal segera menyergap tangan Angga, darah Angga segera keluar menuju ke kantung penampungan darah, Tangan Angga yang satunya lagi mengenggam erat tangan Bella, sebenarnya Angga cukup takut dan trauma akan jarum akibat dulunya dia selalu di suntik untuk mengobati penyakitnya, namun karena ini permintaan Bella, dia mencoba menyanggupinya.
Bella yang melihat jarum besar itu menusuk kulit Angga merasakan ngilunya, dia sampai meringis sendiri, dia lalu melihat Angga yang menahan sakit, Bella mencoba tersenyum agar Angga tidak terlalu tegang.
Darah yang di ambil dari tubuh Angga setara dengan orang mendonorkan darahnya, juga beberapa di masukkan ke dalam tabung sampel, setelah selesai Angga duduk di tempat tidur khusus itu sebentar.
"Tidak, hanya pegal, "kata Angga pada Bella yang tampak cemas.
"Apa perlu makan obat penahan sakit? "kata Bella lagi mendengar keluhan Angga.
"Tidak perlu, hanya seperti ini, sebentar lagi tidak akan sakit, sepertinya aku ingin sering-sering sakit kalau begini, "kata Angga menatap mata istrinya.
"Kenapa? kau suka membuatku khawatir? "kata Bella dengan kerutan jelas di dahinya.
"Aku suka diperhatikan lebih seperti ini, "kata Angga tersenyum manis, dia memang haus akan kasih sayang dan perhatian karna sejak kecil dia hanya di asuh oleh pengasuhnya.
Bella tertawa kecil melihat tingkah laku suaminya, dia lalu mencubit hidung Angga, mengoyangkannya ke kanan dan kiri.
"Kalau begitu setiap kali kau sakit, aku akan memarahimu, agar kau tidak ingin lagi sakit, "kata Bella, Angga hanya melanjutkan tawanya.
Setelah cukup beristirahat, Angga dan Bella kembali ke kamar rawat Archie, Bella membuka pintu itu sedikit, mengintip bagaimana keadaan di dalam, ternyata terlihat sudah tenang, Nakesha dan Daihan hanya duduk diam di samping ranjang Archie yang tampak tidur dengan lelap sepertinya karena efek obat anti-kejang itu.
Saat mereka masuk, Nakesha dan Daihan segera menatap mereka, Daihan segera berdiri, menatap pada Angga, seolah tatapannya menutut penjelasan dari Angga.
"Aku sudah menyerahkan darahku, mereka akan membuat obatnya segera, "kata Angga pada Daihan, namun wajahnya masih tampak dingin.
"Terima kasih banyak, "kata Daihan pada Angga, dari suaranya, kecemasan itu masih ada.
"Sebenarnya Archie kenapa? kenapa obatnya hanya dari darahmu? " kata Nakesha yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, bahkan dokter saja tidak tahu Archie kenapa?.
" Setiap keturunan keluarga Huxley memiliki semacam penyakit bawaan yang bisa muncul kapan saja, bisa semuda Archie, atau saat berumur 80 tahun dan rata-rata berakhir sangat fatal, "kata Angga menjelaskan pada Nakesha dan Daihan agar mereka tahu.
"Angga sudah mengalami penyakit ini saat dia berumur 7 tahun dan dia sembuh dari penyakit ini, lalu mereka menemukan bahwa darahnya malah bisa menjadi obat untuk penyakit keturunan ini, "kata Bella melanjutkan penjelasaan suaminya.
"Jadi kau dan Archie? Bukannya ayahnya Aksa? tapi kenapa dia mendapatkan penyakit keturunan itu juga? " kata Nakesha bingung, apa hubungan Angga dengan Aksa?, belum ada yang menceritakan ini padanya.
"Angga dan Aksa adalah sepupu, mereka dari satu keturunan yang sama, "kata Daihan yang sekarang mengambil alih untuk menjelaskan pada Nakesha.
Nakesha mendengar itu sedikit kaget, kemarin dia pikir hubungan kakaknya sudah rumit, sekarang mendengar Aksa adalah sepupu Angga, hubungan ini makin bertambah rumit.
"Jadi, kakakku dulu adalah tunangan kak Angga, namun dia mencintai kak Daihan, entah bagaimana dia malah hamil anak Aksa, dan ternyata Aksa adalah sepupu kak Angga, sekarang kak Angga menikah dengan kak Bella yang mana dulunya mantan istri Aksa, Benar? " kata Nakesha menghubungkan semua hubungan rumit ini, dan dia makin bingung.
"Ya seperti itu lah, "kata Angga yang sebenarnya tidak begitu mengerti apa yang di katakan oleh Nakesha tadi.