Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
207



Malam itu kelam, lebih kelam dari pada malam kecelakaan Angga, guntur dan petir bersautan di luar, untungnya mereka berada jauh di dalam tanah, sehingga suasana di sana tetap sepi, alat penunjang kehidupan Angga kembali  bereaksi dengan cepat dan bersuara lebih keras, membuat perhatian para dokter yang kebetulan lewat langsung melihat ke arah Angga, mereka masuk, dan tak percaya apa yang di lihat mereka, mata Angga terbuka.


Angga membuka matanya. Menatap gelisah pada ruangan itu, seluruh badannya terasa berat dan bebarapa mati rasa jadi dia hanya bisa mengerakkan tangan kirinya, dia segera ingin mengerakan semuanya, namun tidak bisa, semua terasa begitu kaku, dia hanya bisa melihat tim medis mulai memeriksanya, yang bisa dengan lancar di gerakkannya hanya bola matanya.


Jofan sedang sibuk dengan urusannya karena besok dia harus bertemu dengan Jendral Indra dan juga ayahnya, dia harus menyiapkan semua hal dengan matang, karena rencananya kali ini bukan hal yang main-main.


Dia terlihat sangat serius melihat beberapa data tentang Presiden kali ini, dia sedikit tersenyum, kali ini dia pasti bisa naik menjadi presiden secepatnya. Saat dia sedang menyusun semua hal di laptopnya, tiba-tiba pintunya di ketuk dengan keras dan buru-buru, Jofan yang mendapat ketukan itu sedikit kaget dan terganggu.


Jofan segera membuka pintu ruangannya, lalu dia melihat ajudannya tampak cemas, dia mengerutkan dahinya.


"Ada apa? " kata Jofan langsung memiliki perasaan ini ada hubungannya dengan Angga.


"Tuan Angga sudah sadar! " kata Ajudan Jofan buru-buru, Wajah Jofan langsung berubah, dia segera menutup pintu ruang kerjanya dan menguncinya, tidak ingin gegabah karena di dalam ruangan itu  ada data – data  yang sangat rahasia.


Dia segera berjalan menuju ke ruangan Angga, dia bisa melihat dokter masih menangani Angga, namun dia bisa melihat jelas mata Angga sudah terbuka, seorang dokter melihat ke datangan Jofan, Dia segera keluar.


"Bagaimana keadaannya? " kata Jofan buru-buru.


"Keajaiban , benar-benar keajaiban, Tuan Angga sadar, dia bahkan sudah bisa bernapas mengunakan paru-parunya sendiri, tapi … " kata Dokter itu ragu.


"Tapi kenapa? " kata Jofan lagi.


"Tuan Angga belum bisa berbicara, dia hanya bisa mengangguk dan mengeleng, tangan kanannya belum bisa bergerak sama sekali, kedua kakinya hanya punya kekuatan untuk mengeserkan saja saat ini, tangan kirinya bisa dia angkat, saya kira ini efek samping dari obat yang di suntikan ke dalam tubuhnya,"kata Dokter itu menjelaskan pada Jofan.


"Apa hal ini akan menetap?  " kata Jofan lagi.


"Tidak ada yang tahu, kita harus memantau dan melatih terus menerus tubuhnya, ini semua tergantung kekuatan dan semangat Tuan Angga untuk sehat," kata Dokter lagi, Jofan sedikit merasa miris mendengarnya, namun Angga sadar itu juga sudah merupakan mukjizat.


"Boleh aku masuk sekarang,"kata Jofan lagi dengan semangat.


"Boleh, silakan Tuan,"kata Dokter itu.


Mendengarkan itu, Jofan langsung masuk ke dalam ruangan Angga, beberapa dokter yang ada di sana langsung keluar setelah mereka melakukan permeriksaan pada Angga.


Mata Angga menangkap sosok Jofan yang mendekat, Jofan yang melihat bola mata Angga yang menatapnya sedikit terharu, akhirnya sahabatnya bisa bangun, dia sudah berpikir dengan keadaan Angga seperti tadi, kemungkinan Angga untuk selamat sangat kecil, namun melihat mata sahabatnya itu sekarang menatapnya, dia benar-benar tidak percaya dan terharu.


"Hai, kau mengingatku? " kata Jofan pada Angga, Angga melihat Jofan, mengamatinya dengan dalam, tak lama dia mengangguk pelan. Melihat respon Angga, Jofan tambah senang, dia berpikir bisa saja Angga sadar namun karena ada masalah dengan otaknya, dia melupakan beberapa hal, namun ternyata tidak.


"Bagaimana caranya agar dia bisa berkomunikasi? " kata Jofan pada mereka.


"Coba mengunakan huruf-huruf, tangan kiri Tuan Angga bisa bergerak dan di angkat, dia bisa menunjukkannya," kata salah satu dokter di sana, dia lalu mengambil tablet yang cukup besar, lalu mencari aplikasi yang menunjukkan angka dan huruf.


"Berikan padaku,"kata Jofan buru-buru, dan dokter itu segera menyerahkan tablet itu pada Jofan, dan segera saja Jofan membawa tablet itu pada Angga.


"Angga kau ingin mengatakan sesuatu? Kau bisa menunjukkannya padaku,"kata Jofan lagi menjelaskan pada Angga, Angga melihat itu segera mengangguk, Jofan segera mendekatkan tabet itu pada Angga dan juga mendekatkannya pada tangan kiri Angga, Angga perlahan nunjuk satu persatu huruf yang ada di tablet itu.


Perlahan-lahan Angga menunjukkan huruf B.E.L.L.A, melihat hal itu Jofan terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Angga tentang Bella, dia belum tahu apa yang harus di katakannya, tapi membohongi Angga dia rasa bukan hal yang baik.


"Ehm, kita akan segera menemukannya, aku sudah menyusun rencana agar bisa menemukannya di pulau Albaris, Angga sembuhlah dulu, aku janji aku akan membantu mu terus menerus untuk menemukan Bella, " kata Jofan pada Angga tegas.


Angga memandang Jofan, wajahnya datar, tidak ada sedikit pun kerutan di wajahnya hingga Jofan tidak bisa menebak emosi apa yang sekarang Angga rasakan, dia hanya mengangguk saja.


"Dokter mengatakan keadaanmu merupakan keajaiban, aku yakin kau juga akan membaik dengan cepat, kau harus semangat, aku akan selalu memberitahukan mu tentang perkembangan Bella,"kata Jofan.


Angga kembali menganggukan kepalanya, melihat itu Jofan hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus senang atau bagaimana, karena walau pun sekarang Angga sudah sadar, namun dia terperangkap dalam tubuh yang sama sekali tidak bisa bergerak, Jofan tidak tahu apakah Angga bisa kembali lagi atau tidak, dia hanya bisa menyamangati Angga saja.


"Aku tahu kau sudah tidur lama, tapi sekarang hampir tengah malam, tidur lah, aku juga harus istirahat, aku akan tidur di sampingmu, jangan takut,"kata Jofan lembut pada Angga, Angga ingin tersenyum, namun sama sekali tidak ada ekspersi apa pun yang muncul, dia langsung mengangguk. Jofan meninggalkan Angga sebentar untuk menyiapkan keperluannya agar bisa tidur di ruangan Angga.


Angga menatap langit-langit kamarnya, selama ini dia selalu bermimpi tentang Bella, dia selalu memimpikan bahwa Bella memintanya untuk menjemputnya di sebuah pulau di tengah laut, dia tampak begitu sedih, Bella selalu mengatakan, dia menunggu Angga untuk datang, begitu terus menerus, tidak pernah berhenti.


Namun malam ini, Angga bermimpi hal lain, dia melihat Bella yang kesakitan, dia melihat Bella yang merintih, lalu Angga melihat Bella penuh dengan luka, dia berteriak agar Angga menolongnya, namun saat Angga ingin menolongnya dan mengejarnya, Bella terus berteriak meminta Angga menolongnya, namun semakin Angga berusaha mengapai Bella, semakin jauh pula Bella terasa, hingga Akhirnya tersentak dan tersadar di ruangan ini.


Bella, tunggu  aku …


-------------------------------------------


kakak2 tercinta ...


dari kemarin ide ceritanya bercabang dan punya jalan cerita sendiri ... walau pun dari tadi malam udah semedi, menyendiri dan mencoba mencari2 yang mana harus di pilih. tetep aja ampe pagi ini bingung,


so, doain saya hari ini saya udah bisa ambil kesimpulan, sabar ya untuk up selanjutnya kakak2 ku tercinta... please jangan males bacanya ya.. walau lagi penuh masalah... hehehe, pasti ada pelangi sehabis hujan kok...